
Alhamdulillah "ucapku dalam hati ada rasa bahagia berkecamuk dalam dada
ibu masuk kedalam kamar tempatku berada
ibu menuntunku melangkah menghampiri lelaki penolongku yang kini telah sah menjadi suami dan ayah putraku
acara pernikahan kami telah selesai semua tamu telah kembali kerumah masing-masing
seminggu kemudian saya ,ibu dan wahyu diboyong kekota dimana selama ini mas sardi mengadu nasib
rumah yang didesa ibu jual dan membeli beberapa tanah untuk dititipkan kepada keluarganya yang selama ini ibu percaya untuk mengelola sawah2 dan kebun2nya
πBack toπ
wahyu yang mendengar cerita ibunya hanya bisa menangis
sedangkan marni tanpa malu merebahkan tubuhnya diranjang ibu Rahma
wulan yang melihatnya sangat geram tapi dia hanya diam saja memperhatikannya
" ibu dan bapak tidak punya uang untuk membantumu tapi kamu bisa menjual gelang dan cincin emas ibu yang diambil istrimu itu"ucap bu Rahma dengan suara paraunya karena banyak menangis menunjuk Marni yang langsung terduduk mendengar perkataan ibu rahma
"jangan sembarangan menuduh ya bu kapan saya ambil emas ibu"ucap marni mengelak
"kamu tidak usah mengelak marni,kamu mengambil gelang dan cincin emasku dari bawah lipatan baju ini "ucap bu Rahma yang sudah berdiri didekat lemari pakaian dan mengangkat baju tempat nya menyimpan emas yang baru dibelinya
wahyu juga kaget mendengar perkataan ibunya
"ibu jangan sembarangan menuduh istriku, walaupun ibu tidak menyukai nya "ucap wahyu tidak terima mendengar istrinya dituduh mencuri
"kalau kamu tidak percaya kamu bisa memeriksa saku bajunya "ucap bu Rahma lagi
"sembarangan ibu kalau ngomong,tidak ada apa-apa dalam saku bajuku"ucap marni membela diri
"kenapa kamu takut ketahuan mencuri ?"ucap wulan meledek
wahyu mendekati marni untuk memeriksa saku baju marni
saat Wahyu akan memeriksa saku baju marni
dengan cepat marni menepus tangan wahyu
wahyu jadi curiga karena reaksi marni seperti itu
wahyu terus memaksa marni untuk bisa memeriksa saku bajunya akhirnya wahyu dapat merongoh saku baju marni dan betapa terkejutnya wahyu karena menemukan apa yang dikatakan ibunya
"apa ini marni"ucap wahyu merasa malu pada keluarganya
"i-itu punyaku bang"ucap marni gugup
"benarkan wahyu,itu gelang ibu yang baru ibu beli kemarin kamu dan bisa menjualnya untuk membayar hutang istri tercintamu itu jadi sekarang pergilah dari rumah kami ini bawa istri memalukanmu ini dan jangan pernah kembali lagi kemari karena mulai hari ini kmu bukan putraku lagi
saya tidak Sudi memiliki menantu seorang pencuri seperti dia
jadi sekarang angkat kaki kalian dari rumah suamiku
semoga kalian bisa bahagia"
Ucap ibu dengan suara lantang
__ADS_1
"baiklah bu saya akan pergi dari sini dan kalian semua akan menyesal memperlakukan kami seperti ini"ucap wahyu dan berlalu keluar dari kamar tidur ibu Rahma di ikuti Marni
saat marni melewati Wulan
marni mengepalkan tangannya
"awas kamu "ucap marni dan belalu
mobil online yang dipesan wahyu tadi setelah keluar dari rumah kini sudah datang
wahyu masuk kedalam mobil di ikuti marni
selama dalam perjalanan wahyu hanya diam dan tak mempedulikan marni yang terus mengoceh entah apa Wahyu tidak peduli
wahyu merasa sangat malu pada keluarganya dengan apa yang dilakukan oleh marni mencuri emas milik ibunya
wahyu juga masih belum bisa percaya bahwa laki-laki yang disayanginya dan selalu menuruti semua keinginannya layaknya seorang ayah kandung pada anaknya ternyata hanya seorang ayah tiri tapi itu tidak merubah perasaan Wahyu kepada Pak sardi karena Wahyu hanya tau kalau pak Sardi itu adalah ayahnya
wahyu mengusap dan menyugar rambutnya prustasi dengan semua ini masalah datang bertubi-tubi tanpa memberikan jeda barang sedikit pun untuk membiarkannya bernafas lega
sesampainya di rumah kontrakan yang selama beberapa bulan mereka tempati wahyu meminta emas ibunya yang telah diambi marni
walaupun dengan drama penolakan dari marni akhirnya marni menyerahkan emas itu pada Wahyu
"ayah,ibu,wulan maafkan saya,ibu suatu hari nanti pasti akan kukembalikan semua ini agap saya sedang meminjamnya "ucap Wahyu dalam hati tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya
"Nadia maafkan abang" ucap wahyu tiba-tiba mengingat Nadia
π₯π₯π₯
Dirumah Nadia
nadia baru saja pulang dari bandara mengantarkan sang kakak untuk pulang ketempat dimana nindi dan keluarganya mengadu nasib
dibandara
"Kakak berangkat ya dek ,kamu disini dan anak-anak hati-hati kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya dek" ucap nindi setelah pemberitahuan keberangkatan pesawat yang akan ditumpanginya bersama anak-anaknya
"iya kak ,kakak juga baik-baik disana ya kabari nadia setelah kakak sampai "ucap nadia menangis dalam pelukan sang kakak
Nadia mengambil della dari gendongan Shilla yang sedari tadi tak hentinya mendapatkan ciuman dari kakak-kakaknya
nadia terus menciumi wajah gembul Della della yg mendapat ciuman seperti itu tergelak
setelah Nindi mengambil della dari gendongan Nadia kini nadia beralih ke Ardhit
Nadia tak hentinya menciumi seluruh wajah ponakan tampannya itu
"sayang bunda titip mama dan adik ya kamu jaga mereka jangan nakal ya sayang,bunda pasti rindu pada kalian "ucap Nadia dan Ardhit hanya mengangguk
akhirnya nindi dan anak-anaknya berjalan kedalam namun Ardhit tiba-tiba datang dan memeluk erat nadia sambil menangis terisak-isak
"hiks hiks hiks bunda dan kakak-kakak juga dedek baik-baik ya bunda jangan sedih-sedih lagi Ardhit janji jika Ardhit sudah besar nanti Ardhit akan buat bunda selalu tersenyum
kakak dedek jaga bunda ya jangan buat bunda bersedih " ucap Ardhit tulus
sikembar dan arka mengangguk-anggukkan kepalanya
sedangkan Nadia mendengar Itu langsung memeluk dan mencium Pucuk kepala ponakan kesayangannya
__ADS_1
"terimakasih sayang"ucap Nadia disela tangisannya
setelah Nadia melepaskan pelukannya Ardhit membalikkan badannya dan berlari kecil kearah ibunya dan sesekali menoleh ke belakang melambaikan tangannya
πback toπ
"Bunda.....bunda..... itu ada nyariin "ucap Arka membuyarkan lamunan Nadia
"iya sayang, siapa? sekarang orangnya dimana?" tanya Nadia
"nggak tau bunda, dedek belum pernah liat mereka dedek suruh duduk dikursi teras dulu sambil menunggu bunda"jawab arka mengangkat bahunya
"ya sudah, makasih ya sayang sekarang dedek bobo siang ya"ucap Nadia mengelus lembut kepala putranya
"iya bunda "ucap arka dan berlalu kedalam kamarnya
Nadia melangkah cepat keteras depan rumah karena penasaran dengan tamunya
sesampainya diteras dan melihat siapa tamunya nadia langsung tersenyum
"assalamualaikum mas Athar,mbak Kinara "ucap Nadia menyapa tamunya
"Wa'alaikumsalam mbak Nadia "jawab mereka barengan
"maaf mas mbak lama nunggu "ucap Nadia merasa tidak enak hati
"tidak apa-apa mbak Nadia ,yang tadi niti putra mbak Nadia ya ?"tanya Kinara
"iya mbak itu Arka sibungsu "Jawab Nadia
"kita besanan yuk mbak, soalnya saya sudah jatuh cinta sama anak mbak masih kecil sudah sangat sopan dan santun juga hormat pada orang yang lebih tua walaupun belum tau siapa kami juga tujuan kami datang kemari apakah jahat atau baik tapi tetap menghormati kami
tanpa disuruh langsung meminta tangan kami untuk diciumnya walaupun mencium punggung tangan kami dengan keningnya
masih kecil sudah bijak dan tingkat waspadanya tinggi" ujar Kinara menceritakan bagaimana Arka menyambut mereka
π flash back kinara
"Assalamualaikum "ucap Kinaraku dan mas Athar mengucapkan salam
"Wa'alaikumsalam "JawabArka yang sedang bermain di teras rumah
"cari siapa om tante "tanya Arka
"Bunda Nadia ada Sayang ?"tanyaku
"Ada tante,tapi maaf ya Tante om bukanya dedek tidak sopan tapi kalau boleh tau om dan tante cari bunda ada perlu apa?"tanya Arka penuh kewaspadaan
saya dan mas Athar merasa kagum pada anak kecil ini karena berlaku sopan dan tetap waspada
"kami temannya bunda nak dan om ini sepupunya Tante Desi kamu kenalkan sama Tante Desi? "jawab mas Athar lembut
"oh..... Aunty Desi? dedek kenal karena Aunty Desi sahabat bunda " jawab Arka
"ya sudah dedek buka dulu kunci pagarnya ya om tante "ujar Arka lalu terdengar suara kunci pagar besi dibuka
"silahkan masuk om tante," ucap Arka sopan dan meminta tangan kami lalu menempelkannya di dahinya
"om dan tante duduk dulu ya dedek panggilkan bunda dulu"ujar Arka
__ADS_1
. Namun tiba-tiba Arka memanggil seseorang
"om Wandi " suara arka memanggil seseorang yang berdiri dekat sebuah bangunan mirip sebuah toko