Suamiku Pelit Bin Medit

Suamiku Pelit Bin Medit
Bab 99


__ADS_3

saya jug nggak tau dek" jawab Shela


"yuk kak kita keruangan yang dimaksudkan oleh kak shila" ucap Arka dan menyebutkan nomor kamar yang disebutkan shila


"Ayok " ucap Shela


mereka pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat inap wahyu


"sebenarnya ada apa ya ,kok jantungku tiba-tiba berdebar kencang " ucap Arka pelan sambil 8memegang dadanya yang berdebar tak menentu bukan karena jatuh cinta namun Arka sendiri tidak tahu apa sebabnya


"kenapa dek?" tanya Ardhit yang berjalan disisi kiri Arka


Shela pun menoleh memperhatikan adiknya itu


"ini kak jantungku tiba-tiba berdebar kencang saya nggak tahu kenapa, mungkin saya ga periksakan diri " ucap Arka pada kedua adiknya


"bukan cuma kamu saja dek,kakak juga merasakan debaran jantungku tiba-tiba berdebar kencang tidak seperti biasanya " ucap Shela mengatakan hal yang sama


" kakak dan Arka merasakan jantung kakak memompa lebih kencang ? mungkin ada sesuatu pada kak shila tapi kok saya tidak merasakan itu biasany kalau kak shila,kak shela,Arka , Della dan Adrian sedang sakit atau sedang cemas berlebihan saya juga akan merasakannya tapi sekarang kok saya tidak merasakan apa-apa ?!" ucap Ardhit heran kedua saudaranya merasakan hal yang sama jantung mereka berdebar kencang sedangkan dia biasa saja


"semoga, semua baik-baik saja" ucap Shela menenangkan kedua adiknya


" iya kak,aamiin" ucap Arka dan Ardhit bersamaan


kini mereka telah sampai di depan sebuah ruang perawatan jantung Shela dan Arka kembali berdetak kali ini lebih kencang dari sebelumnya sehingga kaki shela terasa lemas,shela hampir saja jatuh namun Ardhit cepat menangkap tubuh sang kakak


Ardhit dan Arka tumbuh Menjadi pemuda tampan berbadan kekar


jadi dengan mudah Ardhit menopang tubuh sang kakak yang bertubuh langsing


"kakak baik-baik saja ?" tanya Ardhit khawatir


"iya dek kakak baik-baik saja " ucap Shela cepat


"kita duduk disitu dulu ya kak, nanti setelah perasaan kakak enakan baru kita masuk" ucap Arka yang juga merasakan seperti yang kakaknya rasakan


kini mereka bertiga duduk dikursi tunggu diluar ruangan tak berapa lama Nadia datang bersama Arman suaminya


Namun ketiga anaknya tidak menyadari kedatangan mereka


"shela, Ardhit,arka ?! kalian kenapa sayang ?" panggil Nadia


ketiga anaknya mendongakkan kepalanya menatap wajah teduh ibu kesayangan mereka


"bunda papi" ucap mereka saat orang tuanya berdiri didepannya lalu mencium punggung tangan mereka bergantian


Adrian pun datang dengan tergesa-gesa khawatir salah satu keluarganya mengalami sesuatu


"bunda,papi,kakak" panggil Adrian dengan nafas ngos-ngosan

__ADS_1


"duduk dulu sayang" ucap Nadia pada putra bungsunya


"siapa yang sakit bunda? apa kak Della dan kak shila baik-baik saja ? "tanya Adrian dengan wajahnya yang penuh kekhwatiran


"semua baik-baik saja sayang" ucap nadia menenangkan putranya itu


Ardhit merangkul pundak sang adik dan mengelusnya pelan mencoba memberikan ketenangan


Nafas Adrian mulai kembali normal


mereka lama duduk dikursi tunggu untuk menetralkan perasaan Arka yang dirangkul oleh sang Papi sedangan Shela mencari ketenangan dalam pelukan hangat sang bunda


lama mereka duduk akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam ruangan


Ardhit melangkah lebih dulu lalu membuka pintu dan masuk


setelah pintu terbuka mereka masuk satu persatu


di dalam kamar ada tiga brankar pasien dan satu diantaranya masih kosong, di dua brankar itu ada yang menempati ada pria dan wanita


pasien pria tidur membelakangi sehingga wajahnya tidak dapat mereka lihat sedang dibrangkar yang satu disana tidur seorang anak gadis yang mereka sangat kenali


mereka berjalan cepat mendekati brankar itu, Nadia sudah menangis menyangka putrinya sedang tidak baik-baik saja


Della yang sedari tadi tiduran dibrangkar itu sambil bermain game di ponselnya ternyata tertidur pulas sedangkan Shila sedang berada di dalam kamar mandi


sl


Della langsung duduk dan tersenyum kearah semua orang,Nadia pangsung saja memeluk tubuh mungil putrinya itu


tanpa memberikan kesempatan kepada Della untuk bicara


Nadia terus saja menangis, Arman yang berada disamping istrinya itu terus mencoba memberikan ketenangan


Shila keluar dari kamar mandi dan mengira bundanya dan saudaranya yang lain tidak ingin bertemu dengan Ayahnya


"Bunda,papi" panggil Shila semua yang sedari tadi fokus pada Della kini mereka menoleh dan menatap shilla


"shil,kenapa dengan adikmu?!" ucap Nadia yang masih terisak


Shila mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan ucapan wanita yang telah melahirkannya


"adik siapa bund?" shila tidak menjawab pertanyaan bundanya malah balik bertanya karena masih bingung


"kamu ini ditanya malah balik bertanya " ucap Nadia kesal


"loh iya,adikku kan Ada lima bund trus semuanya pada sehat jadi saya tanya adik siapa?" ucap Shila


wahyu yang sedang tertidur merasa terusik dengan suara gaduh orang berbicara,wahyu membuka matanya dan melihat banyak orang disana wahyu belum bisa mengenali semuanya jadi wahyu hanya diam memperhatikan mereka dari tempat tidurnya

__ADS_1


"ini Della lagi sakit kan? kenapa Adikmu kamarnya di gabung sama pasien laki-laki " ucap Nadia


"hahahahhahahaha" shila dan Della tertawa mendengar ucapan bundanya sedangkan yang lain melongo melihat keduanya


" Bundaku tersayang dan tercinta,saya itu tidak apa-apa,saya itu sehat walafiat" ucap Della menangkup wajah Nadia dengan kedua tangannya lalu mencium pipi Nadia gemas


" tidak apa-apa bagaimana sedangkan kamu tadi tertidur dengan pulas di sini" ucap Nadia


" hahahaha, bunda tadi itu adek lagi pegel seharian belum istirahat jadi tempat tidur ini kan kosong jadi adek numpang rebahan sambil main hp na tanpa sadar ternyata saya itu ketiduran " ucap Della menjelaskan kesalah pahaman yang membuat keluarganya shok


"trus kenapa kamu memanggil kami kemari Shila " ucap Nadia kini menatap putri sulungnya


begitu pun yang lain memandang shila seolah berkata "ada apa sebenarnya "


"shila memanggil kalian karena shila ingin mempertemukan kalian dengan seseorang " ucap shila lalu berjalan kearah tempat tidur wahyu


saat mereka menatap wajah pria paruh baya yang sedang bersandar dikepala ranjang semua menutup mulutnya karena terkejut kecuali Della


Shela dan Arka berlari menyongsong pria itu lalu memeluk tubuh kurus itu


"Ayah" ucap mereka


"ayah kemana saja? Adek mencari ayah kemana-mana tapi tidak menemukan ayah hiks hiks hiks" ucap Arka menangis dalam pelukan ayahnya


"iya ayah kemana saja,apa tidak merindukan kami? " kini Shela yang bertanya


wahyu menangis sejadi-jadinya karena tidak pernah menyangka bahwa Anak-anaknya masih peduli kepadanya


Nadia yang melihat itu ikut manangis dalam pelukan sang suami


"Maafkan Ayah sayang,ayah sengaja tidak pernah lagi muncul dihadapan kalian karena ayah takut,ayah membuat kesalahan lagi" ucap wahyu dalam tangisnya


"ayah juga mengira kalian sudah tidak menginginkan ayah lagi karena ayah banyak salah pada kalian " ucap wahyu lagi semakin terisak


"maaf kan Shela ayah, karena pernah membentak dan berbicara kasar pada ayah " ucap shela masih memeluk ayahnya


"dede' juga yah, dede'minta maaf karena pernah juga berkata kasar pada ayah " ucap Arka


"iya nak,Ayah sudah memadkan kalian jauh sebelum kalian meminta maaf, ayah juga banyak salah pada kalian terlebih pada bunda kalian" ucap wahyu lalu menatap Nadia yang masih dipeluk oleh sang suami


wahyu senang melihat Nadia bahagia bersama mantan kakak iparnya dan kini menjadi suaminya


wahyu juga merasa lega karena apa yang ditakutkan nya selama ini tidaklah terjadi


saat mereka asyik bercengkerama Bersama tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan disana terlihat seorang pria dan wanita yang wajahnya sudah mulai banyak keriputnya dan basah dengan air mata melangkah tertatih mendekati mereka


wahyu melepaskan pelukannya dari sang putri lalu Segera turun dari ranjang tempat tidurnya dengan terburu-buru sampai-sampai wahyu lupa ditangannya masih ada jarum infus dan itu membuatnya meringis merasakan sakit Semua anaknya memekik menahannya namun sudah terlambat wahyu sudah lebih dulu turun dari tempat tidur


shila segera berlari kearah ayahnya dan memegang tangan ayahnya yang bercucuran darah karena jarum infusnya tercabut paksa

__ADS_1


__ADS_2