Suamiku Pelit Bin Medit

Suamiku Pelit Bin Medit
Bab 76


__ADS_3

iya dek,abang mengikut saja,abang sebenarnya beberapa hari ini merasa sangat cemas abang juga pernah bermimpi Nindi datang pada abang untuk meminta abang dan wandi selalu menjaga kalian


abang tidak pernah cerita kekamu karena abang takut kamu semakin khawatir "ucap Tora


Nadia kembali menangis entah mengapa perasaannya selalu ingin menangis diperlukan hangat sang kakak


mata Tora pun berkaca-kaca dan segera menyekanya Tora tidka tidak ingin Nadia melihat air matanya Tora takut nadia semakin sedih


"ya sudah abang akan segera berkemas dan juga abang akan ketoko memberi tau semua Anak-anak "ucap Tora


"iya bang, terimakasih banyak ya bang selalu ada untuk kami "ujar Nadia tulus


"iya dek sama-sama " jawab Tora lalu keluar dari rumah Nadia dan menuju ketoko seperti yang dikatakannya Tora sudah mengatakan pada karyawan yang ada ditoko dirumah Nadia kini diapun melajukan mobil Nadia kedua toko kue Nadia untuk memberi tahukan kepada sarah sang calon istri dan lisa juga Andre dan gilang yang termasuk orang kepercayaan Nadia


Tora juga mendatangi toko ketiga nadia yang ditangani oleh Sikembar jaka dan jeni yang berada didekat rumah sakit umum


Tora memang ditakuti oleh semua karyawan Nadia karena Tora tidak pernah main-main dengan ucapannya


setelah semua selesai Tora kembali kerumahnya untuk mengemasi apa saja yang akan dibawanya


begitu pun Nadia dan anak2nya sudah selesai mengemasi perlengkapan yang akan dibawanya


Nadia sangat tidak sabar menanti hari esok


Nadia sudah ingin segera bertemu dan melihat keadaan sang kakak


Nadia merasa waktu berjalan sangat lambat


Nadia tak henti hentinya berzikir memohon pertolongan kepada sang pencipta untuk memberinya ketabahan apapun yang akan terjadi nanti kepada kakak ataupun keluarga kakakya


Nadia juga selalu memohon agar kakaknya selalu diberikan kesehatan


malam menjelang Nadia segera menyuruh anak-anaknya untuk segera beristirahat karena besok mereka akan melakukan perjalanan jauh untuk pertama kalinya


Nadia sudah memberitahu kakaknya bahwa dia mengambil penerbangan siang dan alasannya mengapa tidak berangkat pagi


Nindi hanya mengiyakan apa yang diputuskan adiknya yang terpenting baginya adiknya datang menemuinya


setelah menempuh perjalanan udara kini Nadia sampai kekota J


sampai dibandara kota J Arman sudah menunggu mereka


Nadia heran melihat wajah kakak iparnya yang terlihat kusut tidak seperti biasanya


" Mas baik-baik saja ? kak Nindi kenapa mas?" tanya Nadia pada Arman


"Nanti kamu akan tau sendiri dek" Jawab Arman

__ADS_1


"Apa kabar mas?!" tanya Tora menjabat tangan suami kakak sepupunya


"Alhamdulillah,baik Ra


kamu sendiri apa kabar?!" tanya balik Arman


"Alhamdulillah sehat mas" jawab Tora


"ya sudah ayuk kita temui kakakmu pasti dia sudah tidak sabar menunggu kalian " ujar Arman dan melangkah menuju parkiran dimana mobilnya berada


Tora , Nadia dan anak2nya mengikuti langkah Arman menuju mobilnya


kini mereka berada diatas mobilnya Arman


Arman menjalankan mobilnya meninggalkan bandara menuju tempat dimana Nindi sang istri berada


Nadia yang berada di kursi penumpang dibagian belakang Hanya diam


Nadia terus berfikir apa yang sebenarnya terjadi kepada kakaknya


Nadia terus merafalkan do'a dalam hatinya semoga tidak ada yang terjadi kepada kakak satu-satunya yang dimilikinya


Arman sesekali melirik adik iparnya dari kaca spion


Arman tau Nadia sangatlah penasaran tapi arman tidak mau menceritakan bagaimana keadaan istrinya


Arman ingin Adik iparnya itu yang melihatnya sendiri


Dia juga tidak menelpon Nadia karena perintah sang istri


Arman juga tidak tau bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Nadia tentang bagaimana keadaan Nindi sekarang ini


Tora yang berada disamping Arman hanya memperhatikan tingkah suami kakak sepupunya yang sedang gelisah


"apa sebenarnya yang telah terjadi kepada kak Nindi ?! "tanya Tora dalam hati


"Ya Allah semoga kak Nindi baik-baik saja, mengapa perasaanku mengatakan sudah terjadi hal buruk pada kak Nindi "ucapnya lagi dalam hati


Saat mobil yang dikendarai oleh mereka masuk keparkiran sebuah rumah sakit jantung Nadia,Tora dan anak-anak berdetak kencang mereka takut telah terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Nindi seperti yang ada dalam fikiran mereka


Arman turun terlebih dahulu dari dalam mobil disusul oleh semua


"kenapa kita kesini mas?" tanya Tora


"kita masuk aja dulu nanti kalian akan tau,ayuk"jawab Arman dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit besar itu


Nadia masih saja diam mulutnya terasa seperti ada yang mengelemnya tenggorokannya terasa kering Matanya berkaca-kaca

__ADS_1


begitu pun Anak-anak tak ada seorang pun dari mereka yang bersuara


Shila merasakan berdetak sangat kencang seperti Baru saja melakukan lari maraton


mereka telah sampai didepan sebuah ruang perawatan


air mata Nadia sudah berjatuhan Nadia tidak bisa lagi membendungnya lebih lama


Arman menoleh kearah adik iparnya mata Arman juga sudah berkaca-kaca


Tora mencoba menenangkan adik sepupu kesayangannya


"tenang dek, hapus air matamu kita belum melihat bagaimana keadaan kak Nindi jadi jangan memperlihatkan wajah sedihmu kita harus kuat apapun dan bagaimanapun keadaan kak Nindi kita harus terlihat kuat agar kak Nindi juga bisa kuat menjalani semua !" ucap tora


bisakan dek?" tanya Tora lagi dan diangguki oleh Nadia


"benar yang Tora katakan dek kita harus terlihat kuat didepan kakakmu" ujar Arman membenarkan ucapan Tora


Anak-anak yang berada di belakang mereka ikut menyeka air matanya


benar kata paman mereka, mereka harus terlihat kuat didepan maminya jangan memasang wajah sedih


Arman mengangguk kepada mereka dan mulai membuka pintu kamar rawat Nindi


"Assalamualaikum " ucap Arman saat pintu kamar rawat Nindi terbuka


"wa'alaikumsalam"jawab Orang-orang yang ada didalam kamar rawat Nindi


Nadia heran kenapa kamar rawat kakaknya banyak orang


"Apa mereka teman-teman kak Nindi ?" tanya Nadia dalam hati


Nadia masuk dan dapat melihat wajah pucat sang kakak yang mencoba tersenyum kepadanya


Nadia langsung berlari kearah kakaknya yang sedang terbaring di brankar rumah sakit


"kakak sakit apa?kok nggak pernah kasi tau saya sih kak!? Kenapa baru sekarang kakak menyuruhku datang! saya kan bisa merawat kakak disini" ucap Nadia tanpa jeda lalu memeluk tubuh sang kakak yang terlihat lebih kurus


"maafkan kakak dek " ucap Nindi dengan mata berkaca-kaca dan suaranya yang sangat lemah


air mata Nadia semakin deras membasahi pipinya


"dek kakak ingin meminta satu hal pada kamu, kakak Sangat berharap kamu tidak menolak nya" ucap Nindi dengan suara bergetar


"katakan kakak apa yang kakak inginkan " jawab Nadia juga dengan suara bergetar karena tangisnya


Nindi memegang tangan adiknya lalu membawa tangan itu untuk diciumnya

__ADS_1


Nadia semakin menangis mendapat perlakuan seperti itu dari sang kakak


Orang -orang yang berbeda disanapun tak dapat membendung air matanya


__ADS_2