
Tiga hari lepas pembicaraan tersebut. Gelagat Dirga semakin aneh, dan rasa asing perlahan terlihat karena Anisa kerap diabaikan. Perlahan Anisa ingin mencari tahu akan suaminya kerap meninggalkannya, dan mengabaikannya juga.
"Aku harus mencari tahu tentang Mas Dirga, karena semakin hari sikapnya terasa asing untukku?" gumam Anisa dengan menatap langit yang lumayan cerah, tapi tidak untuknya. Langit yang dilihat selalu mendung dan awan putih. Telah tertutup oleh hitamnya langit yang mulai terlihat.
Anisa pun sudah bertekad bahwa akan mengusut tuntas, kenapa dengan Dirga, ada apa dengan lelaki yang telah menemaninya selama lima tahun ini.
Agar tidak timbul rasa curiga yang semakin besar, Anisa memutuskan untuk membuntuti suaminya nanti. Pada saat akan berangkat kerja, siapa tahu ada petunjuk di sana.
"An, kenapa kamu diam saja dari tadi, Mas panggil-panggil gak denger!" tegur Dirga pada Anisa yang tengah merenung di halaman belakang. Menatap kosong ke arah awan, dan pikirannya hanya dipenuhi oleh kecurigaan.
"Eh Mas, maaf. Aku hanya rindu Ibu panti karena sudah lama tidak berkunjung," ujar Anisa terpaksa berbohong untuk menutupi akan pikirannya yang tengah dilanda kegelisahan.
"Kenapa tidak ke sana saja jika rindu," timpal Dirga, dan disinilah kesempatan untuk Anisa, karena bisa leluasa mengintai suaminya. Kalau-kalau ada yang tidak beres, sedikit berbohong tidak apa-apa. Apalagi masalah rumah tangganya yang sudah tidak sehat lagi.
"An, apa kamu memaafkan Mas, jika melakukan kesalahan fatal?" Anisa mengerutkan keningnya, saat suaminya berbicara yang tidak dimengerti olehnya.
"Apa maksudnya ini Mas, aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataan kamu!" kata Anisa menatap lekat wajah Dirga.
"Aku butuh jawaban kamu, jawablah." Dirga masih memaksa Anisa untuk menjawab akan ucapannya.
"Fatal dari segi apa dulu? Semua itu memiliki makna yang berbeda." Jawab Anisa yang semakin bingung akan pertanyaan dari Dirga.
"Semisal aku selingkuh, atau menikah lagi?" saat itu juga Anisa menoleh dan menatap wajah suaminya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dan hal itu membuat Anisa sedikit tertarik dengan sebuah cerita, yang didapat dari suaminya.
"Nis, ini teman Mas, bukannya Mas yang ingin menikah atau selingkuh." Dengan nada gugup Dirga berkata, dan temannya lah yang ia bicarakan pada sang istri.
__ADS_1
"Untuk selingkuh mungkin aku masih bisa memaafkannya Mas, dangan syarat mau berubah, tapi ... untuk sebuah poligami sepertinya aku tidak bisa, karena aku bukan istri Rasulullah dan aku hanya manusia biasa." Jawab Anisa dengan senyuman yang menyimpan sejuta pertanyaan.
"Bukankah poligami itu tidak apa-apa, asal adil, dan tidak ada larangan?" ujar Dirga yang mana masih ingin melanjutkan percakapan tersebut, dan entah awalnya seperti apa karena Dirga hanya sekedar membahas, tapi sekarang justru lelaki itulah yang penasaran dengan jawaban dari Anisa.
"Boleh, dan tidak ada larangan dalam agama kita. Berpoligami bisa dilakukan atas izin istri pertama, atas keikhlasannya mencari Ridho nya. Namun, kamu tahu tidak isi hatinya seperti apa? Tidak kan Mas, meski ikhlas terkadang hatinya menyimpan rasa iri." Jawab Anisa panjang lebar.
Dirga diam, sebelum memutuskan untuk berbicara lagi, dan Anisa bisa melihat wajah gelisah dari suaminya kini.
"Temanku bilang bahwa akan adil dalam segala hal," ujar Dirga yang masih penasaran.
"Adil yang mana? Terkadang seorang istri tidak hanya membutuhkan materi saja Mas, kita menikah untuk saling melengkapi, saling memahami dan akan selalu ada untuk pasangan kita! Apa Mas kira dengan memberi materi yang lebih akan membuat wanita bahagia? Aku rasa tidak."
"Jika menjaga satu hati saja tidak bisa, apa kelak bisa menjaga dua hati?" lanjut Anisa dengan senyuman tipis, seakan menjawab akan isi hatinya yang selama ini dipendam.
Dirga diam, seakan ucapan Anisa adalah cambuk untuknya, karena selama ini memang sering mengabaikan istrinya. Tidak peduli bahwa hatinya apakah baik-baik saja, dan apakah sudah bahagia atau tidak. Dirga tidak tahu karena di dalam hatinya, memberikan material sudah lebih dari cukup, dan di tambah dirinya dan Anisa belum mempunyai momongan.
"Ingat Mas, hatiku buatan Tuhan, dan bukan buatan manusia. Kalau seandainya terjadi denganmu, maka aku tidak bisa menerima itu dan memilih pergi, karena hatiku terlalu lemah untuk menerima kenyataan."
Seketika wajah Dirga pucat, saat mendengar kalimat terakhir dari perkataan Anisa, dan Dirga yang berusaha menelan ludahnya dengan kasar. Ucapan Anisa sangat lembut, tapi menyakitkan juga.
"Mas akan berusaha setia An, dan tidak menyakiti kamu seperti teman Mas yang menikah diam-diam."
"Bagus dong Mas, dan pertahankan untuk tetap menjaga iman kamu dari godaan wanita lain." Jawab Anisa, lalu ia pun lantas berdiri pergi meninggalkan Dirga
Untuk sejenak Anisa menoleh dan menatap punggung sang suami, tersenyum saat melihat Dirga bicara dengan suara gugup. "Semoga itu bukan kamu orangnya, Mas."
__ADS_1
Anisa membatin seolah hati dan pikirannya tengah berkata jika orang itu adalah suaminya sendiri, dan mengatas namakan teman. Untuk Dirga mencari tahu seberapa besar jawaban dari Anisa.
............
Dirga yang ingin pulang selesai dari kantornya. Memutuskan untuk pergi ke kedai martabak kesukaan Anisa. Ia sengaja membelikannya sebagai ucapan permintaan maaf, karena akhir-akhir ini dirinya bersalah dalam mengabaikan Anisa.
"Semoga Anisa suka dengan martabak yang aku beli," gumamnya karena Dirga ingin memperbaiki hubungannya dengan Anisa.
Sedangkan tanpa disadari oleh Dirga, seorang wanita tengah menatapnya dengan tajam. Aura kebencian tengah merasuki hati dan jiwanya.
"Ada saatnya Anisa tahu tentang keburukanmu, Dirga!" lirih wanita tersebut dengan langkah yang terus mendekati Dirga, dan akan memberikan peringatan pada lelaki tersebut.
"Tunggu!" wanita itu lantas menghentikan Dirga yang sudah siap untuk masuk ke dalam mobil. Namun, saat orang tengah mencegahnya Dirga pun lantas mengurungkan niatnya.
"Kamu!" terkejut pasti, tidak menyangka jika dirinya sekarang tengah bertemu dian wanita. Yang tahu akan kelakuannya yang selama ini ia simpan rapat.
"Mau apa kamu? Kita tidak ada urusan kan, jadi pergilah." Dirga pun menyuruh wanita itu untuk pergi. Lucunya lagi, wanita itu tidak pergi dan terus berjalan hingga sampai dan keduanya saling tatap.
"Lepaskan sahabatku, jika kamu tidak mampu menjaga hatinya?" pinta wanita itu pada Dirga.
"Jangan mimpi. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkannya," terang Dirga.
"Apa kamu tidak punya rasa salah sedikitpun pada sahabatku. Apa menunggu dia yang akan meninggalkan kamu!" kata wanita itu dengan senyuman liciknya.
"Jaga bicaramu! Jika hal ini sampai terdengar di telinga istriku, aku yakin jika kamulah orangnya yang sudah memberitahu."
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengatakannya, jika istrimu sendiri mulai curiga. Ingat, semua akan ada balasannya karena sahabatku sudah mulai tidak nyaman dengan sikap kamu," ucap Anisa.