Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
50. Akhir dari penderitaan dan menuju bahagia


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan dari Yuda, Anisa pun kembali menatap Dirga lalu berlutut di depannya dan mengutarakan semuanya.


"Mas, aku sudah memaafkan kamu. Aku tidak pernah dendam meski kamu pernah membunuhku dengan sebilah pisau yang kamu tancapkan di sini. Sakit Mas, tapi aku berusaha kuat dan tegar karena ternyata Tuhan punya rencana lain." Tidak ada respon yang diberikan oleh Dirga karena ia tetap seperti orang tidak waras. Hanya diam dan melamun lalu tertawa lagi dan seperti itulah keadaannya sekarang.


"Mas, sembuh lah demi aku . Apa kamu tidak ingin melihatku hidup bahagia? Aku lelah jika harus berada di posisi salah meski aku sudah berulang kali mengatakan. Aku tidak dendam padamu, tolong sembuh lah dan cari kebahagian lagi. Aku yakin jika suatu hari ada sosok yang mau menerima kamu apa adanya," terang Anisa yang terus mendorong Dirga agar bisa sadar dan membuka lembaran baru.


Ada tatapan yang tak biasa yang terjadi pada Dirga, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya tidak sanggup untuk melakukannya.


"Menangislah karena hal itu akan membuatmu merasa puas, kamu tahu Mas, sebentar lagi aku akan menikah dan apakah kamu tidak ingin datang menghadiri pesta pernikahanku dengan menggandeng wanita?" kata Anisa dengan menampilkan senyuman tipis, mencoba bersikap ramah agar Dirga bisa menerima ucapan dari mantan istrinya itu.


"Aku masih mencintai kamu An, aku masih butuh sosok seperti kamu." Dengan tiba-tiba bibir Dirga berucap dan membuat Anisa menggelengkan kepala.


"Tidak Mas, itu bukan perasaan cinta yang kamu miliki sekarang, tapi sebuah obsesi yang kamu kejar. Ingat kita sudah bercerai lebih dari enam bulan, di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi. Sembuh lah dan rawat dirimu karena aku yakin di luar sana ada wanita yang tulus mencintai kamu!" cercah Anisa karena tidak tahu lagi, bagaimana caranya untuk menyakinkan Dirga, memintanya untuk melupakannya itu adalah jalan yang terbaik.


"Maaf."


Hanya kata maaf yang terus dilontarkan oleh Dirga, berharap jika semua ini berakhir dan masing-masing hidup bahagia. Tidak ada lagi dendam, yang ada hanya kebahagiaan dimasa yang akan datang, maupun di esok hari.


"Berjuanglah dan tata hidup kamu Mas, jadikan semua ini menjadi pelajaran agar kamu tidak terjebak ke dalam duniawi. Kamu adalah orang yang mengerti dan aku harap kamu paham dari sini," kata Anisa lagi.


"Pak, Aku mau pamit pulang karena ini sudah malam." Pak Yoga pun mengangguk saat Anisa berpamitan untuk pulang bersama dengan Yuda.


"Mas, aku pulang. Temui aku saat kamu sudah sembuh dan datanglah ke acara pernikahanku dengan membawa seorang wanita yang benar-benar tulus padamu," kata Anisa pada sosok Dirga yang kini sedang terjebak di dalam bayang-bayang rasa bersalah, tatapannya kosong dan entah jiwanya sekarang berada di mana.


Pukul delapan malam. Anisa dan Yuda sudah berada di rumah, lalu Anisa pun langsung bersih-bersih untuk segera menjalankan sholat isya yang belum terlaksana karena adanya kendala sewaktu tadi.


Setelah sholat Anisa yang hendak turun, tapi tiba-tiba dipanggil olah Yuda. "An, sini duduk."


Anisa langsung menuju ruang tengah di mana Yuda berada. "Tumben, mau ngobrol. Biasanya juga jam segini udah gak bisa di ganggu," kata Anisa pada Yuda.


"Iya, ada yang mau Kakak bahas." Anisa mengernyitkan keningnya, entah apa yang ingin Yuda bahas karena terlihat sedikit serius dan dari raut wajahnya sudah dapat di tebak.


"Bagaimana dengan usaha kamu?" tanya Yuda dengan menatap wajah sang adik.


"Alhamdulillah Kak, selama ini lancar dan bersyukurnya masih ada Arum yang selalu membantuku." Jawab Anisa.


"Bagus kalau begitu, kakak ingin membahas soal panti." Anisa kembali menatap wajah Yuda hingga tidak berkedip.


"Memangnya ada apa dengan panti?" Anisa lantas bertanya soal panti, bukannya selama ini pantinya baik-baik saja.


"Jangan menatap kakak seperti itu, di sini kakak cuma mau bilang bahwa panti asuhan sudah direnovasi." Seketika wajah Anisa berubah dan terlihat begitu girang .

__ADS_1


"Kenapa Kakak gak bilang kalau mau direnovasi," ujar Anisa.


"Lupa, jadi ada beberapa lahan kosong di sana dan rencananya kakak mau membuatkan sekolah gratis juga." Sontak saja Anisa memeluk erat Yuda, tidak menyangka bahwa apa yang ia impikan akan terwujud.


"Eits, jangan berterima kasih pada kakak saja. Semua ini ide Samuel juga dan calon suamimu itu kini menjadi donatur tetap, harusnya kakak tidak bilang karena permintaan dari Sam, tapi sebaiknya kamu perlu tahu juga." Anisa tidak menyangka bahwa Samuel juga rela menjadi donatur tetap dan kini bebannya sedikit berkurang, berkat bantuan dari Kakak dan calon suaminya.


Setelah lama berbincang-bincang dengan Yuda, Anisa tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Benar saja, tanpa terasa bahwa sekarang sudah jam 11 malam.


Akhirnya keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing untuk segera istirahat, berharap hari esok masih bisa dipertemukan kembali.


Satu bulan telah berlalu dan sekarang Anisa berada di dalam kamar, kamar yang nantinya akan menjadi saksi kisah cinta antara Samuel dan juga Anisa.


"Sempurna." Kata MUA( atau makeup artis) yang di sewa untuk merias Anisa.


"Nona sangat cantik meski hanya mengenakan bedak tipis-tipis," ujar perias lagi.


Yah, tepat hari ini Samuel dan Anisa akan dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan. Tidak dipungkiri bahwa Anisa merasakan grogi, meski ini bukan yang pertama baginya. Namun, tetap saja perasaan tidak karuan terus saja memenuhi hatinya.


"Mbak, jangan pernah memuji sebuah kecantikan." Anisa menimpali dengan sebuah senyuman.


"Mbak sudah cantik dari sananya, saat di poles sedikit saja maka aura kecantikan Mbak semakin bertambah." Jawab perias yang terus memberikan pujian pada Anisa.


"Makasih ya Mbak, berarti Mbak juga sangat bagus dalam merias wajah saya." Anisa berbalik memuji periasnya, tanpanya Anisa tidak akan berubah secantik itu.


Sedangkan Di luar Arum yang sedari tadi menunggu, tapi Anisa tidak kunjung keluar. Jadilah dengan terpaksa Arum masuk untuk memanggilnya, karena penghulu sudah siap dan acara akan segera di selenggarakan.


"An, penghulu sudah datang kita keluar, yuk." Arum pun mengajak Anisa untuk secepatnya keluar karena hari sudah semakin siang.


"Iya Rum, yuk." Anisa kembali mengajak Arum.


Sejenak mata memandang, dengan begitu kagum. Arum terus memuji kecantikan Anisa karena kali ini Anisa benar-benar sangat cantik.


Dengan gaun putih yang menjuntai, perlahan Anisa turun dan melewati anak tangga satu persatu. Hingga semua mata terus menatap sang pengantin yang di tuntun oleh Arum.


Saat Anisa sudah di bawah.


Sosok mata yang tidak bisa berhenti untuk memandangnya.


"Cantik." Pujinya tanpa sadar.


"Lap itu bibir, awas jigong kamu netes di meja!" sungut Yuda saat melihat Anisa tanpa berkedip.

__ADS_1


Ekhem.


"Bisa kita mulai prosesi ijab qobul nya?" pak penghulu pun langsung bertanya sudah siap atau belum karena hari pun sudah lumayan siang.


"Sudah, Pak." Jawab bu Susi dengan begitu semangat untuk segera melihat sang anak mengikrarkan janji suci di depan penghulu.


Nampak terlihat jelas saat penghulu memberi contoh sebuah kalimat. Samuel nampak gugup dan keringat dingin pun sudah membasahi pelipisnya.


"Yud, kenapa aku jadi gugup?" Samuel pun mencoba berbagi keluh kesah pada Yuda, tapi jawaban yang tidak sesuai harapan membuatnya sedikit kesal.


"Sudahlah, jangan lebay. Sekarang mengeluh karena grogi padaku, nanti pada saat malam perta kamu seperti orang bisu." Yuda pun membalas dengan cara berbisik, karena menurutnya semua itu sangat berlebihan.


"Lihat saja kalau kamu nanti menikah, di saat kamu cerita aku tidak akan peduli!" sungut Samuel berbisik pada Yuda.


"Sekarang, coba Mas Samuel tiru kan saya."


"Untuk Mas Yuda siap ya, sebagai wali dari saudari Anisa?" tutur penghulu.


"Saudara Samuel Dolkan, saya nikahkan dan kawin kan engkau, dengan saudari Anisa Binti Mahmud dengan mas kawin uang senilai 100 juta, di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa binti Mamud dengan mas kawin tersebut tunai."


"Bagaimana para saksi?"


Sah.


Sah.


Sah.


Suara riuh kebahagiaan terdengar di telinga dua pasangan yang baru saja sah, menjadi suami istri.


"Selamat buat kalian telah sah menjadi pasangan suami istri. Semoga hubungan kalian Sakinah Mawaddah Warohmah," ucap pak penghulu memberikan selamat pada pengantin baru.


"Selamat ya An, kamu telah menjadi seorang istri." Yuda memeluk Anisa adik satu-satunya yang sekarang telah berganti status.


"Sam, jaga Anisa dan jangan pernah menyakitinya." Kini Yuda beralih pada Samuel dan keduanya saling berpelukan.


"Sayang, terima kasih ya. Sudah mau menjadi suami Samuel?" peluk Bu Susi.


Semua orang telah mengucapkan selamat, kini Anisa menunggu sosok yang selama ini ia harapkan untuk datang. Netra Anisa terus mencari-cari siapa tahu memang sengaja telat untuk datang, tapi tak sekalipun sosok itu terlihat.

__ADS_1


"Mungkin saja memang tidak ingi datang," batin Anisa dengan perasaan sedih.


__ADS_2