
Anisa berhenti dan menoleh ke belakang untuk melihat Samuel.
"Ada apa lagi? Bukankah tujuan kamu ke sini untuk mencari Kakakku. Lantas kenapa masih menggangguku," dengus Anisa yang merasa tidak suka dengan Samuel.
"Maaf, aku hanya mau menawarkan jasa yang ingin mengantarmu. Apa kamu bersedia?"
Tidak ada jawaban dari Anisa justru wanita itu tanpa kata langsung meninggalkannya.
"Nis, apa aku boleh mengantarmu!" kata Samuel lagi dengan suara sedikit kencang.
"Maaf, kita bukan muhrim, jadi jangan menggangguku lagi!" tegas Anisa.
Sedangkan Samuel merasa marah dan sangat kesal. Bukankah dirinya suami dari Anisa, kenapa bisa wanita itu mengatakan jika bukan muhrim.
Setelah meredakan emosinya, Samuel masuk ke dalam rumah untuk menemui Kakak iparnya dan ingin meminta solusi. Satu bulan sudah ia berpisah dengan Anisa dan tidak hidup seatap, hal itulah yang membuatnya semakin tersiksa dan terluka.
Sekitar 35 menit, Anisa sudah sampai di pasar dan pada saat hendak membayar. Sebuah dompet di rebut paksa dan preman itu pun berhasil mengambil dompet yang ada di genggaman dari pemiliknya, hingga semua orang berteriak termasuk dirinya.
"Tolong … copet, tolong!" teriak Anisa yang mencoba berlari untuk mengejar dan sayang tidak mampu menyaingi kemampuan dua preman tersebut.
Meski sedikit jauh, Anisa dapat melihat seorang pria yang tengah menghadang preman tersebut. Hingga kekuatan Anisa kembali lagi dan segera menghampiri mereka semua.
Sesaat.
"Berikan dompet itu padaku!" perintah lelaki yang kini sudah memasang badan.
"Jangan ikut campur jika ingin selamat dariku, maka pergilah." Lelaki itu tidak mengindahkan preman tersebut dan langsung menghajarnya agar merasa jera.
Bugh.
Bugh.
Pukulan bertubi-tubi diberikan oleh pria tersebut dan dengan keahlian yang ia miliki. Kini satu preman tepar dan tinggal satu lagi yang harus dibereskan.
"Apa kamu mau seperti temanmu ini juga? Jika iya, maka sekarang serang aku!"
Sssst.
Sepertinya nyali preman itu terlaku kecil. Hingga tidak berani melawan dan langsung membuang dompet milik Anisa, setelah itu dua preman kabur dengan terbirit-birit.
Lelaki itu berjongkok untuk mengambil dan akan memberikannya pada yang punya. Sedangkan Anisa berdiri di samping pohon menatap lelaki yang terus berjalan ke arahnya.
"Lihat dan periksa. Siapa tahu uang yang ada di dalam dompetmu berkurang," kata lelaki tersebut dengan menyodorkan dompet miliknya.
Anisa pun menurutinya dan langsung memeriksa. Dirasa uang itu tidak berkurang sedikitpun lantas Anisa menutup kembali dompetnya dan tidak lupa mengucapkan kata terima kasih. "Terima kasih untuk pertolongannya, maaf karena saya sudah membuat anda terluka. Sekali lagi terima kasih karena sudah mendapatkan dompet saya kembali," ucap Anisa dengan sopan.
__ADS_1
Sesaat lelaki itu merasa jika dirinya beruntung karena sudah menolong wanita yang ada di depannya. Ia merasa jika paginya telah sempurna saat melihat bidadari di pagi hari.
"Mas, apa ada yang terluka?" tanya Anisa lagi, karena sadari tadi lelaki itu tidak meresponnya.
"Ah, iya, maaf."
"Kamu tadi ke pasar dengan siapa?" tanya lelaki berbasa-basi.
"Sendiri naik angkot." Jawab Anisa.
"Jika berkenan saya akan mengantarkan kamu. Takutnya kalau nanti dua preman itu dendam sama kamu disaat di jalan bertemu," ucap lelaki tersebut dan alasannya kini telah membawanya menuju ke dalam sebuah perasaan, karena lelaki yang bernama Ferdy telah jatuh hati pada sosok Anisa.
"Apa saya tidak merepotkan kamu?" bukan berniat untuk mencari perhatian. Hanya saja Anisa takut seperti yang diucapkan laki-laki itu jika nanti bertemu dengan preman yang tadi.
"Tentu tidak dan dengan senang hati aku akan mengantarmu," timpal Ferdy dengan hati yang sangat gembira.
"Baiklah Nona cantik, siapa nama kamu?"
Ferdy sengaja bersalaman dan Anisa pun menghindar dengan cara,mengungkapkan kedua tangannya. "Anisa," ucapnya pada lelaki tersebut.
"Salam kenal, An." Ferdy yang merasa malu buru-buru mengelap tangannya karena sosok Anisa yang cantik dengan balutan hijab. Bukan hanya sopan dan lugu, tetapi wanita yang bisa menjaga agar tidak bersentuhan dengan laki-laki lain. Hal itu semakin membuat Ferdy jatuh cinta.
"Mari."
Di dalam mobil keduanya hanya diam. Anisa yang bersikap biasa membuat Ferdy merasakan kecanggungan. Lelaki itu tidak tahu harus memulai dari mana karena ia benar-benar dilema dengan perasaannya sendiri.
"Eum … apa kamu pertama kalinya ke pasar?" mungkin sekaranglah Ferdy membuat kecanggungan itu hilang dengan cara mengajak Anisa bicara.
"Dua kali." Jawab Anisa singkat. Yah, ini kali kedua Anisa berada di pasar tradisonal setelah minggu lalu diajak oleh Yuda.
"Sudah sampai, yang mana rumah kamu?" tanya Ferdy yang kini sudah berada di kediaman Anisa.
Ferdy tidak menyangka bahwa Anisa berada di kalangan dengan sosial mewah. Bagaimana tidak, perumahan yang sekarang di tempatnya dengan Yuda, hanya orang yang benar-benar kaya bisa membeli dan Ferdy dibuat tercengang, saat Anisa dimintai alamat.
Tepat, pada saat mobil yang mengantar Anisa sampai, terlihat dua orang yang hendak masuk ke dalam mobil seketika urung karena melihat mobil tersebut berhenti di depan rumahnya.
Saat Samuel dan Yuda saling bertanya, tiba-tiba Anisa turun dari mobil dan diikuti oleh Ferdy, sontak saja Samuel ingin menghampiri. Namun, Yuda berusaha untuk mencegahnya sebelum tahu siapa laki-laki yang bersama dengan adiknya.
"Terima kasih, Mas …." Ucapan itu menggantung karena Anisa belum tahu siapa nama lelaki yang sudah berbaik hati kepadanya.
"Ferdy, panggil Ferdy." Ferdy langsung menyahut karena memang tadi tidak sempat untuk memperkenalkan namanya.
"An, kenapa kamu baru kembali?" sorot mata tajam menghujani Anisa, sehingga wanita itu pun dibuat bersalah.
"Apa pria itu suaminya? Karena terlihat bagaimana dia menatap," gumam Ferdy dalam hati.
__ADS_1
"Maaf, tadi ada sedikit—."
"Lain kali bawa mobil dan jangan satu mobil dengan pria lain."
"Benar, dia suaminya. Aku kira Anisa masih sendiri ternyata aku telah salah sempat memuja istri orang," batin Ferdy lagi.
"Kak, dengarkan aku dulu."
"Apa 'Kak' siapa sih dua laki-laki ini, lalu kenapa lelaki yang satunya terlihat begitu cemburu?" Dalam hati Ferdy bertanya-tanya soal hubungannya dengan dua pria yang saat ini berada di samping mobil.
"Apa!" seru Yuda dengan perasaan tidak sabar.
"Aku tadi hampir kecopetan."
"Apa!" teriak Samuel saat saat mendengar bahwa Anisa baru saja kecopetan.
"Terus bagaimana keadaan kamu Nis, apa ada yang terluka?" cerocos Samuel dan semua itu tidak luput dari penglihatan Ferdy.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Beruntungnya juga ada Ferdy yang menolong makanya kenapa bisa saya dengannya," ujar Anisa yang menjelaskan bagaimana dirinya bisa pulang dengan seorang laki-laki.
Yuda dan Samuel merasa lega karena semua itu tidak harus ditakutkan, tapi yang jadi masalah. Jika lelaki itu terus memperhatikan adiknya yang mana suatu hari pasti rasa suka pasti ada.
"Ya sudah, hari ini kita ke rumah sakit. Jadi, segeralah siap-siap karena kita sudah ada jadwal jam sepuluh."
"Iya." Hanya itu yang keluar dari bibir Anisa.
Anisa sudah berada di dalam dan kini hanya tersisa tiga pria di luar.
"Jauhi Anisa," ucap Samuel pada pria yang kini berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa? Bukankah Anisa tidak punya suami," balas balik Ferdy.
"Saya suaminya!"
Uhuk.
Uhuk.
Seketika Ferdy tersedak ludahnya sendiri, sedangkan Yuda hanya bisa dian dan cukup menyimak apa yang mereka bahas.
"Maaf, jika saya sudah lancang, saya juda tidak bermaksud untuk menganggu Anisa." Sebuah jawaban dari Ferdy dan tepat, saat keduanya tengah berbincang. Anisa sudah siap dengan tasnya.
"Kak, aku sudah siap." Mendengar hal itu, Yuda pun langsung masuk ke dalam mobil.
"Jika benar laki-laki ini suaminya, kenapa yang jadi supir Kakaknya bukan pria ini?" Ferdy pun dibuat bertanya-tanya dengan apa yang baru ia lihat. Sungguh pemandangan yang aneh pikirnya, karena ucapannya tidak sesuai yang terlihat.
__ADS_1