
Di pagi hari yang sangat cerah. Anisa memutuskan untuk berjalan-jalan, dan berencana mengajak suaminya. Siapa tahu Dirga mau karena hari ini memang kebetulan hari minggu.
Saat ini, Dirga yang sedang membaca koran dengan ditemani secangkir teh. Namun, tiba-tiba saja dikagetkan dengan kedatangan Anisa yang secara tiba-tiba.
"An, kamu ngagetin Mas saja sih!" Dirga sedikit kesal karena Anisa mengambil koran ditangannya.
"Maaf Mas, abisnya kamu serius amat sampai anggurin aku?" kata Anisa dengan sedikit nada menggoda.
"Maaf sayang, bukan niat Mas mengabaikan kamu!" ucap Dirga dengan wajah menatap sang istri.
"Mumpung hari ini Weekend kita jalan-jalan. Sudah lama sepertinya kita tidak jalan berdua," ajak Anisa dan berharap jika lelakinya itu mau.
"Tidak sayang, karena aku ada tugas negara yang harus segera diselesaikan." Dirga menolak dan mengatakan jika ada kerjaan yang lebih penting, tapi anehnya lelaki itu tidak menjelaskan pekerjaan macam apa. Bukannya Dirga setiap hari sudah bekerja? Lantas kenapa yang seharusnya waktu libur untuk keluarganya. Malah dihabiskan untuk bekerja lagi, apa sampai segitunya dan takut miskin jika tidak bekerja sejam saja.
Melihat wajah murung Anisa, Dirga mengedipkan satu matanya. Membuat Anisa terbelalak saat suaminya sengaja menggodanya.
"Oh ayolah, kita pergi ke atas dan ... melakukan senam siang," ujar Dirga dengan nada menggoda, dan hal itu membuat Anisa tersipu malu.
Tanpa menunggu persetujuan Anisa, membuat Dirga langsung menggendong ala Bridal style.
Saat keduanya sudah tengah asik memadu kasih, tapi tiba-tiba saja sebuah dering ponsel menghentikan aktifitas Dirga yang masih dalam rangka pemanasan.
"Sayang, aku angkat telepon sebentar ya. Siapa tahu penting," ucap Dirga meminta izin.
"Angkatlah, siapa tahu memang penting." Jawab Anisa dengan seulas senyuman. Meski terganggu tapi ia tidak boleh egois.
Sesaat kemudian.
"Sayang, kita tunda dulu ya. Ada masalah darurat. Mas diminta untuk segera datang," ucap Dirga dengan buru-buru mengenakan pakaiannya lagi.
"Mas, ini kan hari libur. Tidak harus datang untuk mengurusnya, kan!" dengan nada merajuk Anisa berkata, seolah tidak mau jika Dirga meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Tolong mengertilah sayang, lain kali aku pastikan jika tidak ada yang mengganggu." Dirga mencoba menyakinkan Anisa, dan membuat sang istri percaya bahwa masalah yang sedang dihadapinya memang darurat.
"Pergilah." Hanya itu yang terucap dibibir Anisa, meski keluh tetap saja ia harus merelakannya.
"Terimakasih sayang, aku akan segera berangkat."
Kepergian Dirga yang meninggalkan Anisa, layaknya seorang pela*ur. Membuat air matanya jatuh seketika bersamaan perginya sang suami dari kamar.
"Apa caramu seperti ini Mas, akan memperlakukan aku? Aku butuh kamu, aku butuh perhatian kamu tapi nyatanya apa? Kamu pergi seperti lelaki hidung belang yang sedang menyewa seorang wanita." Dalam kemarahan, Anisa yang tanpa sehelai benang pun. Harus menelan kekecewaannya pada Dirga, yang tak mengerti akan rasa sakit yang menggerogoti hati Anisa secara perlahan.
Anisa lantas bergegas menuju ke kamar mandi dengan menggunakan selimut sebagai penutup.
Di bawah air, Anisa meluapkan segala isi hatinya. Meski dirinya belum melakukan hubungan suami istri, tetaplah harus junub. Air yang tengah membasahi seluruh tubuhnya. Cukup membuat isi kepalanya sedikit mereda dari rasa denyutan yang tiba-tiba menyerang.
Sedangkan di lain tempat.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan yang aku mau, kalaupun masih belum. Bersiaplah untuk menerima hukuman," ancam Samuel pada Yuda.
"Enak saja, aku sehat dan tidak penyakitan!" sungut Samuel tidak terima jika dirinya dibilang penyakitan.
"Tidak menutup kemungkinan kan, hal itu akan terjadi jika kamu terus-terusan marah." Jawab Yuda dengan diiringi sebuah tawa.
"Sialan, dasar asisten laknat kamu. Bisa-bisanya doain seperti itu," ujar Samuel menatap sinis ke arah Yuda.
"Ini data yang kamu mau, aku harap kamu bisa berpikir ulang untuk menjadi seorang pembinor." Yuda pun memberikan selembar kertas yang berisikan informasi, akan perempuan yang ia suka.
"Nama, Anisa Dwi Saputri. Umur 27 tahun, istri dari Dirga Mahendro Arsitek di dan bergabung di PT Megatika." Samuel membaca dengan teliti akan info yang yang didapatkan dari Yuda.
Namun, ada sebuah tulisan yang menarik. Sehingga membuat Samuel menyunggingkan senyuman.
"Kerja bagus, dan bulan ini aku akan memberikan tips atas kerja kerasmu selama ini." Samuel tersenyum saat berbicara pada Yuda, dan dengan pikiran liciknya. Ia berjanji akan merebut wanita itu ke pelukannya. Tidak perduli meski Anisa telah bersuami, nyatanya jika Nisa tetaplah diabaikan dan kerap dituntut menjadi apa yang dimau oleh keluarganya.
__ADS_1
Samuel bagaikan tertimpa durian runtuh. Sekarang dirinya semakin semangat untuk merebut Anisa dari suaminya, dan pada saat dirinya berbicara. Sebuah nomer tengah menghubunginya lalu Samuel pun tersenyum karena ia yakin. Bahwa nomor tersebut adalah milik wanita yang ia inginkan.
"Sepertinya Tuhan tengah merestui Yuda, nyatanya wanita itu sekarang tengah mengirim pesan dan ingin bertemu denganku." Samuel menatap Yuda dan memberikan sebuah senyuman.
"Maksud kamu apa? Aku sungguh tidak mengerti," ucap Yuda dengan wajah yang bingung.
"Nisa mengajakku bertemu," jawab Samuel.
"Kamu serius, atau hanya berpura-pura." Yuda seakan tidak percaya dengan pengakuan Samuel, apalagi pada saat bicara. Tersirat sebuah senyuman yang membuat lelaki tersebut semakin tidak percaya.
"Terserah jika kamu tidak percaya," ujar Samuel, lalu ia pun lantas pergi meninggalkan Yuda diruang kerja, milik bosnya itu.
.........
Pukul dua siang, seorang wanita tengah gelisah. Menunggu kedatangan seseorang yang baru saja ia kirimi pesan singkat.
Di cafe yang lumayan rame. Membuat Anisa harus extra teliti, untuk melihat kedatangan samuel.
Anisa yang saat ini sedang melihat seseorang bersama pasangan masing-masing. Ada sedikit rasa iri di hatinya, karena selama ini Anisa sudah kehilangan keromantisan bersama sang suami. Namun, ada satu meja yang tidak terlalu jauh dari mejanya.
Sesosok lelaki dengan perempuan, tengah asik menikmati obrolan dengan ditemani makanan dan minuman. Lalu sedikit candaan membuat keduanya semakin terlihat akrab. Sampai-sampai sebuah suara yang tengah memanggilnya tak dihiraukan.
"Kenapa kamu tidak bisa seperti itu padaku, Mas." Hati Anisa sebetulnya tengah menahan desiran panas di hatinya.
Apakah ini yang dinamakan darurat? Bertemu dengan seorang perempuan dan sesekali bercanda gurau.
Sedangkan Samuel terus saja berpikir jika antara Nisa dan lelaki tersebut. mempunyai sebuah hubungan dan saling kenal.
Samuel masih menatap lekat dan meletakkan wajahnya di dalam otaknya. Agar selalu ingat bahwa lelaki yang sekarang tengah bercanda, telah menyakiti sosok perempuan yang ia cintai.
"Apa kamu kenal orang itu?"
__ADS_1