
"An, kenapa?" Saat Arum ikut turun juga. Ia melihat gelagat aneh dari Anisa, hingga memutuskan untuk bertanya karena pandangannya fokus ke arah samping.
"Lelaki itu, siapa? Kenapa ada di makam Ameera?" Arum pun langsung mengarahkan pandangannya di mana letak makam Ameera dan kebetulan Anisa juga menatapnya dengan seksama.
"Tidak mungkin kalau Yuda, apa jangan-jangan …." Arum menjeda kalimatnya dan Anisa pun kini menatap Arum dengan begitu dalam seakan meminta jawaban akan ucapannya yang tak berlanjut.
"Rum …." Ucapan itu menggantung seakan kalimatnya adalah sebuah isyarat dan Arum pun mengangguk. Entah nanti apa yang terjadi, tapi untuk saat ini ia mencoba berpikir positif.
Sleeep.
Sebuah pelukan dari belakang mengagetkan lelaki yang kini masih setia berdiri di samping gundukan tanah, yang bertuliskan Ameera.
"Jangan pergi, aku mohon." Di saat itulah pria yang kini melepaskan kacamatanya terhanyut oleh sebuah suara yang sangat familiar.
Lelaki tersebut langsung membalikkan badan dan alangkah terkejutnya ketika mendapati perempuan yang kini tengah menangis tersedu-sedu di dalam dekapannya.
"Aku tahu kalau kamu akan datang ke makam anak kita, firasatku mengatakan jika kamu berada di tempat ini." Anisa terus memeluk tubuh tegap lelaki yang kini masih terdiam dan enggan untuk membalas pelukannya.
"Jawab Mas, kenapa kamu meninggalkan aku!" ucap Anisa dengan suara isakan.
"Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi sebaliknya. Ketika hati sudah lelah maka jalan satu-satunya adalah pergi dan mencari tempat untuk memulai sesuatu yang baru, bukankah kamu juga seperti itu."
"Maaf, karena aku sudah bodoh dan begitu ceroboh."
Ada yang aneh di setiap kata-kata yang diucapkan oleh Anisa dan hal itu tidak luput dari pendengaran Samuel, yah. Lelaki itu adalah Samuel dan kepulangannya kali ini karena merindukan Ameera, jadilah memutuskan pergi ke makam. Namun, siapa sangka jika saat ini takdir telah mempertemukannya dengan sosok wanita yang selalu ia rindukan disepanjang hari.
"Pergilah dan raihlah kebahagiaanmu," ucap Samuel.
"Tidak ada kebahagiaan selain kamu, Samuel lihat dan tatap mataku." Akhirnya dengan terpaksa Samuel menatap wajah ayu Anisa yang tak pernah berubah, justru semakin terlihat rona di wajahnya.
"Aku Anisa, Anisa yang dulu dan sekarang tatap aku, lihat mata ini!" Anisa semakin terisak karena rasa bersalah yang begitu besar. Hingga membuat Samuel mengabaikannya sekarang.
__ADS_1
"Apa ini benar Anisa? Anisa-ku yang dulu dan sosok perempuan yang aku perjuangkan." Samuel memegang kedua pipi Anisa, memastikan jika yang dilihatnya adalah benar.
"Iya ini aku, istrimu yang bernama Anisa."
"Allahuakbar," ucap Samuel dan kembali memeluk Anisa dengan begitu erat, rasa bahagia tidak bisa lagi ia bendung.
Di tempat Ameera beristirahat, dua manusia saling melepas rindu yang selama ini tidak dirasakannya lagi. Makam buah hati mereka yang kini telah menjadi saksi pertemuan antara orang tuanya. Mungkin saat ini Ameera sedang menatap ayah dan ibunya di atas sana. Merasakan kebahagiaan karena dua cinta yang pernah terpisah kini disatukan lagi.
"Nis, bukanya kamu–."
"Kita bahas nanti, lebih baik kita berdoa untuk Ameera." Anisa melepaskan pelukannya karena ia ingin berdoa untuk anaknya yang kini sedang bersama Tuhan.
Keduanya telah berdoa dengan diiringi sebuah tangis, tangis kebahagiaan karena Tuhan masih berbaik dan melepaskan hukumannya dan sekarang, alam telah menjadi saksi akan cinta mereka yang kembali dipertemukan.
Sedangkan di belakang Arum ikut menangis karena begitu terharu. Berminggu-minggu mencari keberadaan Samuel tak kunjung ditemukan tapi sekarang, justru sosok lelaki itu telah kembali dengan caranya yang berbeda.
Arum sengaja berdehem untuk memecah suasana yang begitu tidak tepat pada tempatnya.
"An, Sam, apa kalian menjadi layaknya Teletubbies?" Seketika Anisa tersadar dan merasa malu jika sekarang berada di tempat yang salah.
"Diamlah, karena kamu itu sedikit iri pada kebahagiaan kita." Samuel menyahut dengan tatapan mengejek pada Arum.
"Jika sudah tahu begitu, maka kalian segeralah pulang dan selesaikan salah paham ini. Agar aku bisa menikah dan berbahagia juga," ujar Arum dengan memberikan ucapan menohok pada pasangan yang baru saja bertemu.
"Dasar, semua ini kan karena mereka. Makanya aku gak nikah-nikah, enak saja mau bahagia di atas nasibku." Arum bergumam seraya langkahnya masuk ke dalam mobil dan dengan segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Rum, kenapa kamu ninggalin aku!" teriak Anisa.
"Kamu udah ada sopirnya, sekarang giliranku senang-senang sama kakak kamu." Arum pun membalas dengan menjalankan mobil tersebut.
Setelah sekian lama tidak bertemu, keduanya merasakan kecanggungan yang begitu besar. Mengingat ketika dulu Anisa selalu memusuhinya dan sempat membencinya, hanya karena Samuel terus memperhatikan layaknya seperti buronan. Itulah yang dirasakan Anisa ketika dulu, tapi ternyata semuanya salah hanya karena hilang sebuah kepercayaan, semua lebur hanya dengan satu kedipan.
__ADS_1
"Sekarang kita pulang!" ajak Samuel dan Anisa hanya mengangguk.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, Anisa sedari tadi terus menatap wajah Samuel hingga lelaki itu menepikan mobilnya, agar disaat berbicara jauh lebih tenang.
"Kenapa?" tanya Samuel dengan memutar posisi duduknya hingga sekarang keduanya saling berhadapan.
"Aku … aku merasa tidak pantas menjadi seorang istri karena sudah berbuat salah sama kamu, aku gagal dan–."
Ssssttt.
Samuel langsung meletakkan telunjuknya di bibir Anisa, ia tidak mau wanita yang sekarang tengah berada di depan matanya, terus meminta maaf. Nyatanya semua ini juga berawal dari kesalahannya waktu itu. Jika saja Samuel tidak salah paham dan menuduh Anisa yang bukan-bukan, mungkin semua itu tidak akan terjadi .
"Jika waktu itu aku tidak menuduhmu, mungkin hal ini tidak terjadi. Dibalik masalah yang kita hadapi ada salah satu dari kita yang berbuat salah dan inilah cara Tuhan menegur kita," ucap Samuel dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Anisa terdiam dan tidak mengatakan apa pun. Ingatannya kini berputar pada satu tahun lalu. Di mana Samuel yang menuduhnya jika ada permainan antara dirinya dan Dirga, sang mantan yang sudah sejak lama berpisah.
"Kita ke rumah Mama, sekarang jalankan mobilnya!" ucap Anisa yang menyuruh untuk segera menjalankan mobilnya.
Samuel pun langsung menjalankan mobilnya dengan pikiran tak karuan, yang sekarang tengah menari-nari di atas kepalanya.
"Apa Nisa marah setelah mengingat peristiwa di mana aku menuduhnya berselingkuh?" batin Samuel bertanya-tanya.
Di dalam mobil pun keduanya bagai orang tak saling kenal karena Anisa juga hanya diam, dengan menatap ke arah samping dan wajah menatap jendela.
"Aku marah dan kecewa, tapi kesalahanku juga terlalu besar. Jadi, aku pun tidak bisa menghakiminya," ucap Anisa di dalam hati yang mana sekarang tengah bergelut dengan hati dan pikirannya.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Ibu Susi yang kini tengah termenung menatap kolam. Pikiran yang dipenuhi oleh sosok anaknya yang selalu dirindukan.
"Sam, kamu di mana? Kenapa setiap mama hubungi nomor kamu gak bisa." Dengan hati yang gundah gulana bu Susi terus menyebut nama Samuel.
Lelah memikirkan Samuel yang tak kunjung pulang, akhirnya bu Susi memilih untuk menemui Anisa untuk melepaskan rasa rindu untuk sejenak.
__ADS_1
Saat ini jam menunjukkan sudah di angka 10, dengan segera bu Susi bersiap-siap untuk berangkat. Dirasa sudah selesai dan hendak membuka pintu. Tiba-tiba saja terdengar suara bel dari arah luar.
"Siapa yang ada di depan?" tanya bu Susi dalam hati.