Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
82. Anisa Menjenguk Pak Pram


__ADS_3

"Apa ini, kenapa hatiku begitu sangat tersiksa? Sebenarnya siapa Samuel dan kenapa bisa membuat hatiku diporak-porandakan olehnya." Di dalam hati Anisa terus memikirkan akan kata-kata yang telah ucapkan oleh Samuel, Anisa juga tidak menyangka jika Arum berbuat nekat dengan menghubungi Samuel dan secara otomatis semua pembicaraannya sudah didengar oleh lelaki yang sudah menghilang setahun lalu.


"Apa yang kamu rasakan setelah mendengar kata terakhir dari Samuel untuk kamu?" sengaja Arum menekankan kata-kata tersebut pada Anisa, yang kini tengah menatapnya. Tidak ada respon dari Anisa dan ia pun hanya bisa bungkam, karena tidak tahu harus berkata apa.


"Sekarang pilihan ada di tangan kamu," ucap Yuda ikut menimpali karena sudah lelah dengan sikap Anisa yang tak bisa percaya dengan adanya sebuah kejujuran.


"Aku tetap akan menikah dengan Ferdy." Sebuah jawaban yang telah membuat Yuda dan Arum menyerah, karena merasa sudah kehabisan kata-kata untuk menyakinkan Anisa hingga detik ini pun tidak ada sedikitpun terbesit di hatinya akak sosok Samuel.


"Kak, tolong beri restu kita." Anisa merengek berharap jika Yuda mau menerima kehadiran Ferdy yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Hanya menikah di bawah tangan, iya, atau tidak sama sekali." Saat itu juga Yuda berdiri dan berbicara pada Arumi.


"Rum, kita pergi!" Ajak Yuda dengan hati yang dongkol.


Anisa masih tidak habis pikir, kenapa Yuda memintanya hanya menikah sirih bukannya sah. Untuk Anisa sendiri cukup merasa lega meski pernikahannya tidak ada di catatan sipil.


Seminggu sudah, setelah pertengkaran dengan Yuda, kini keduanya berbicara jika ada keperluan saja. Entah Yuda yang masih memang marah atau hanya perasaan Anisa saja. Di mana sikap sang kakak tidak seperti sebelum-sebelumnya.


Ada perubahan dan tidak sehangat dulu, entah apa ini ada hubungannya dengan minggu lalu. Yang mana saat dirinya meminta restu pada Yuda.


"Kak, dari mana?" Anisa sengaja basa-basi untuk sekedar bertanya.


"Memangnya jam segini dari mana sampai kamu bertanya." Jawab Yuda sekenanya karena memang saat ini jam lima, pastilah Yuda sehabis pulang dari bekerja.


"Oh iya, maaf lupa." Dengan sedikit diiringi tawa kecil, saat Anisa menjawab dan ia lupa hal itu karena mungkin banyak yang ia pikirkan akhir-akhir.


Malam telah tiba di mana kini keduanya sudah berada di meja makan, mereka berdua masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Keadaan sedikit canggung, tapi tetap saja Anisa harus membuka percakapan lebih dulu, agar suasana tidak seperti dua orang yang sedang bermusuhan.


"Kak!"


"Hmmm."


"Aku nanti akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ayahnya Ferdy," ucap Anisa.


"Terserah, kenapa harus bertanya padaku." Jawab Yuda terkesan dingin.

__ADS_1


"Kamu Kakakku, jadi wajar kalau aku mengatakan hal ini padamu!" pekik Anisa karena merasa memang Yuda sudah tidak peduli padanya lagi.


"Pergilah, apa pun yang menyangkut kebahagiaanmu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Sejatinya di sini kakak sudah tidak dibutuhkan, lalu untuk apa kamu masih bertanya!" Anisa diam, entah mengapa semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Ferdy, Yuda semakin tidak peduli padanya.


"Kak, bukan begitu aku cuma ingin menjatuhkan pilihan karena memang aku mencintai Ferdy."


"Pergilah dan kejar cintamu. Kamu sudah dewasa lalu untuk sekarang kamu pun bisa menentukan mana yang terbaik bukan, jadi kakak sudah tidak ada hak untuk berkomentar apa pun itu."


Setelah itu Yuda beranjak dari tempat duduknya, karena merasa jika mood nya untuk makan sudah hilang. Semua itu disebabkan karena pertanyaan Anisa, yang terus saja membahas soal cintanya pada Ferdy.


"Kak, apa makanannya tidak enak. Sampai meninggalkan meja makan dengan keadaan makanan utuh?" Saat itu juga Yuda menoleh pada Anisa yang masih duduk dan menjawab ucapan adiknya.


"Kakak sudah kenyang, kamu makanlah dan segera lekas istirahat." Terasa dingin saat Yuda berbicara, membuat Anisa semakin tidak nyaman dengan sikap Yuda.


"Apa aku salah karena sebuah keputusan? Apa aku memang tidak boleh bahagia dengan pilihanku sendiri?" sebuah pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di pikiran Anisa untuk saat ini.


Keesokan paginya.


Anisa dengan gamis berwarna biru laut dan dipadukan dengan jilbab yang senada, membuat aura kecantikannya semakin terlihat. Yah, Anisa sekarang tengah menunggu jemputan karena rencana hari ini akan berkunjung ke rumah sakit, bersama dengan Ferdy untuk menjenguk orang tua dari kekasihnya itu.


"Tentu, memangnya aku di sini sedari tadi nunggu siapa caba!" Anisa mendengus kesal karena bisa-bisanya Ferdy bertanya seperti itu.


Ferdy pun yang melihat Anisa terkekeh kecil, karena wajahnya begitu menggemaskan.


"Baiklah, saya minta maaf. Yuk sekarang berangkat," ajak Ferdy pada Anisa.


Sesampainya di rumah sakit, dengan perlahan keduanya melangkah ke arah ruangan di mana orang tua dari Ferdy di rawat.


"Yah, apa Ayah tidak ingin bangun. Ini lihatlah ada menantu Ayah di sini," ucap Ferdy yang tengah membangunkan sang ayah.


Dengan perlahan Pak Pram membuka matanya dan menatap ke arah sosok wanita yang berada di dekatnya. "Om," sapa Anisa dengan sopan.


"Cantik, seperti yang sudah dikatakan oleh Ferdy." Anisa tersipu malu karena menurutnya hal itu sangatlah berlebihan.


"Kenapa Ayah mengatakannya, itu sangat menyebalkan." Ternyata percakapan antara dirinya dan ayahnya, yang mengatakan bahwa Anisa sangat cantik. Tidak menyangka jika diungkapkan pada sosok orangnya yang sekarang ada di sini.

__ADS_1


"Itu kan sebuah kejujuran, jadi tidak apa-apa. Toh memang kekasihmu ini memanglah sangat cantik," ungkap pak Pram yang tengah tersenyum menatap wajah Anisa dengan wajah cantik alaminya.


"Tentu dong Ayah, berarti anakmu ini pintar dalam mencari kekasih sekaligus calon istri." Jawab Ferdy dengan sedikit malu-malu.


"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?" Saat ini pak Pram tengah menatap satu per-satu wajah seseorang yang ada di sampingnya. Yang tidak lain adalah Ferdy dan Anisa.


"Secepatnya Yah, kalau aku sih sudah oke, tapi tidak tahu dengan Anisa sudah siap atau tidak." Ferdy berujar dengan sesekali melirik Anisa yang kini mulai merasa canggung.


"Apa kamu sudah siap Nak, dengan menjadi istri dari anakku?" sekarang pak Pram beralih menatap Anisa, menanti sebuah jawaban dari sosok wanita tersebut.


"Insya Allah Om, saya siap." Jawaban Anisa membuat dua lelaki dengan beda usia itu pun merasa bahagia, karena Anisa sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya.


"Alhamdulillah." Ferdy dan pak Pram pun tidak lupa mengucap hamdalah karena bersyukur. Kalau Anisa mau menerima kekurangan dari Ferdy.


Tidak terasa keberadaan Anisa di rumah sakit sudah memakan dua jam lamanya. Sehingga wanita tersebut meminta izin untuk pulang karena waktu juga sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Om, saya izin pamit ya. Semoga Om juga lekas sembuh dan bisa segera pulang," tutur Anisa pada Pak Pramana dengan hati-hati.


"Makasih ya Anisa, karena kamu mau menjenguk saya di sini." Dengan seulas senyuman pak Pram berkata.


"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pulang."


Anisa dan Ferdy pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Siapa sangka pada saat keduanya berada di lobby. Anisa bertemu dengan Laras bersama dengan Dirga.


"Mbak Laras," panggil Laras dan Anisa pun menoleh.


"Eh kamu, istrinya Dirga kan?" tanya Anisa dengan wajah datarnya.


"Iya, kenapa Mbak Anisa ada di sini. Terus itu siapa?" tanya Laras dengan rasa penasaran yang begitu besar.


"Ke mana Samuel?" Dirga pun tidak mau ketinggalan dengan memberikan pertanyaan yang menohok pada Anisa, sedangkan Ferdy terlihat gelagapan saat sebuah kata telah lolos di bibir Dirga.


"Samuel ya … itu Samuel–,"


"Ke mana?"

__ADS_1


__ADS_2