
Saat Anisa mulai mengeluarkan keringat yang terus membasahi pelipisnya. Tiba-tiba suara tawa terdengar kencang hingga Samuel terus menahan perutnya.
Anisa pun akhirnya sadar jika dirinya sedang dipermainkan oleh suaminya, hingga bibirnya mengerucut ke depan karena kesal.
"Mas, kamu sengaja melakukan ini ya!" seru Anisa dengan hati yang dongkol.
Sedangkan Samuel tetap tidak bisa berhenti tertawa karena wajah Anisa begitu menggemaskan saat ketakutan.
"Maaf, Sayang."
Anisa mencabik kesal, karena sudah jantungan ternyata suaminya sengaja menjebaknya. "Sudah ya Sayang, jangan marah. Sekarang mandilah dan aku akan turun untuk bicara sama Mama, jika setelah ini kita pulang ke istana kita sendiri."
"Beneran!" ucap Anisa.
Cup.
"Tentu, sekarang mandilah."
Setelah memberikan sebuah kecupan, Samuel meninggalkan kamar dan akan ke bawah untuk berpamitan pada bu Susi.
Sedangkan di bawah, bu Susi dan mbak Wati tengah berada di dapur. Memasak untuk anak-anaknya karena keduanya sudah melewatkan makan siangnya.
"Sam." Melihat Samuel berjalan ke arahnya, bu Susi pun menegur sang anak.
"Iya Ma, ada yang pengen aku omongin."
"Soal apa?"
"Aku dan Anisa akan pulang ke rumah, karena aku sudah merindukan kenangan itu." Dengan wajah memelas, Samuel meminta izin untuk pulang ke rumahnya sendiri, karena biar bagaimanapun. Dari semenjak menikah telah memiliki rumah sendiri.
Sedangkan bu Susi sendiri tidak banyak menuntut karena ia yakin jika anak-anaknya mampu berpikir secara dewasa.
"Jika itu mau kamu. Mama hanya bisa mendoakan agar kalian tidak lagi bersikap kekanak-kanakan," ucap bu Susi memberi nasehat pada Samuel.
"Iya Ma, aku sudah cukup tersiksa karena hukuman yang Tuhan berikan." Bu Susi menepuk bahu Samuel dan berusaha untuk tetap bersabar, akan setiap ujian yang Tuhan beri.
__ADS_1
Cukup lama mereka mengobrol, terlihat Anisa sudah jauh lebih segar dibanding tadi. "Ma, masak apa? Harumnya sampai ke atas," ucap Anisa.
"Tentu kesukaan kalian berdua dong, Sayang." Jawab bu Susi begitu antusias.
"Ya sudah, sekarang kita makan, karena kalian sudah melewatkan acara makan siang." Bu Susi lantas mengajak Anisa dan Samuel untuk segera makan.
Waktu telah berlalu dan begitu sangat cepat. Sekarang Anisa dan Samuel sudah berada di kediamannya sendiri. Memulai kehidupan baru, setelah ujian yang telah mereka lewati dengan begitu menyedihkan.
Saat ini, Anisa sudah menyiapkan makanan dan tidak lupa membuat kue, karena hari ini Yuda dan Arumi akan datang berkunjung. Untuk melihat keadaan Samuel yang sudah lama tak berkabar dan tiba-tiba pulang dengan sendirinya.
"Sayang, kamu sedang membuat apa?" tanya Samuel setelah menutup laptopnya dan melihat Anisa dengan menggunakan celemek.
"Kasih tau gak ya," ujar Anisa dengan seulas senyuman.
"Harus dong, masa kamu tega." Dengan nada menggoda Samuel menjawab.
Sesaat kemudian, Samuel terus mendekati tubuh Anisa dan langsung melingkarkan kedua tangannya di perut. Meletakkan kepalanya di pundak Anisa dengan deru nafas yang yang memburu sampai membuat Anisa sedikit geli karena nafas itu begitu terasa di kulitnya.
"Sayang, kita akan memulai awal kehidupan baru. Aku berharap Tuhan akan selalu memberikan kebahagiaan untuk kita," ucap Samuel dengan suara lirihnya.
"Iya Mas, aku berharap ke depannya kita akan terus bersama apa pun yang terjadi."
"Apa ini serius?" ucap Anisa dengan menatap Samuel dengan sangat lekat.
"Tentu, sekalian kita akan membuat penerus harta kita." Saat Samuel membisikkan kalimat tersebut, Anisa langsung menelan ludahnya dengan kasar karena setelah lama tidak berjumpa, Samuel semakin pintar merayu.
"Aku pasti akan menyukai tempatnya, ini makanlah." Dengan hati tidak karuan, Anisa berusaha untuk tetap tenang dan meminta Samuel untuk mencicipinya kue yang ia bikin. Untuk menjamu kakaknya yang akan datang ke sini.
"Apa pun itu, jika istriku yang membuat. Pasti semuanya nikmat," puji Samuel dan terus memakan kue buatan Anisa dengan begitu lahap.
"Gombal," kata Anisa.
"Serius," ujar Samuel.
"Ya Allah, terima kasih atas kehendakmu yang sudi mempertemukan kami lagi." Di dalam hati Anisa terus mengucapkan kata syukur kepada Sang Pencipta, karena Tuhan masih menyatukan cinta Anisa dan Samuel. Berharap antara keduanya hanya kematianlah yang nantinya akan memisahkan mereka.
__ADS_1
Pada saat Samuel masih asyik menikmati kue tersebut. Tiba-tiba terdengar suara bel membuatnya buru-buru minum dan tidak ingin sampai tersedak, jadi membiarkan suara tersebut terus menerus bunyi. Hingga Anisa yang risih memilih langsung turun untuk bertanya pada Samuel.
"Mas, itu kenapa dibiarin?" tanya Anisa dengan wajah kesal.
"Bentar Sayang, ini aku masih minum. Memangnya kamu mau aku mati hanya karena tersedak kue," sahut Samuel dengan santai.
Ckckck.
Anisa berdecak, bisa-bisanya dari tadi mulutnya tidak berhenti makan dan hampir menghabiskan separuh lingkaran.
"Tinggal cari lagi kenapa mesti bingung." Seketika mata Samuel mendelik saat Anisa menyahutinya dengan enteng.
"Awas saja kalau kamu berani, maka aku akan menghantuinya setiap hari bahkan setiap waktu." Jawaban Samuel sontak saja membuat Anisa ingin tertawa, tapi ia tahan dan tidak memedulikan ocehan Samuel.
Baru saja Anisa membuka pintu. Sebuah ocehan langsung memekik gendang telinga hingga membuatnya langsung menutup kedua pendengarannya.
"Kamu ini dari mana saja sih, di sini kita berdua sampai jenggotan nunggu pintu dibuka! Apa kalian sengaja ingin membuat aku dan calon istriku seperti orang gila!" Yuda terus mengoceh hingga dua wanita terpaksa menutup telinganya.
"Apa sudah ngomelnya. Datang-datang bukannya ucap salam ini malah nyerocos mirip beo," sungut Anisa dengan wajah jengah nya.
"Iya maaf, habisnya kamu lagi apa, atau jangan-jangan …." Yuda mengantungkan kalimatnya karena Arum menyikut lengannya.
"Jangan-jangan apa? Dasar Kakak gak ada akhlak. Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, Kak. Sayangnya tuduhanmu itu salah," ujar Anisa karena ia tahu apa yang ingin disampaikan oleh Yuda, karena terlihat dari pergerakan tubuhnya.
"Daripada kalian berdebat tidak jelas, mending kita masuk." Arum yang sudah lelah melihat tingkah dua bersaudara itu, memilih untuk mengajaknya masuk.
Akhirnya mereka bertiga masuk dan di dalam Yuda tengah melihat Samuel layaknya kucing yang sedang tertidur pulas.
"An, itu suami kamu kenapa?" panggil Yuda untuk memperlihat Anisa jika suaminya sedang pulas di sofa.
"Dia mabuk kue sepertinya, karena tadi satu loyang bolu yang baru jadi. Udah di embat dan habis separuh lingkaran," ujar Anisa menerangkan.
"Serius!" ucap Yuda tidak percaya karena Samuel sanggup menghabiskan kue sebanyaknya itu.
"Tuh makanya teler," tunjuk Anisa.
__ADS_1
"Sepertinya ada ide," batin Yuda dan sejenak melirik Arum dengan senyuman licik.
"Kenapa Yuda menatapku dengan begitu, memangnya apa yang ingin dilakukan olehnya?" dalam hati Arum bertanya-tanya karena gerak-gerik Yuda yang mencurigakan.