
"Dok, bisa jelaskan dengan segera."
Sedangkan Bowo dan Yuda sudah saling tatap karena berharap jika seseorang yang ia tunggu secepatnya berhasil.
"Begini, Pak–."
"Tunggu!"
Semua orang seketika mencari sumber suara tersebut, ketika ada tiga lelaki berdiri tepat di samping Bowo.
Sedangkan Lastri wajahnya sudah pucat ketika melihat siapa yang datang.
"Sekarang lanjutkan Sus, karena semua orang ingin dengar dari hasilnya!" kata Yuda dengan tidak sabar, karena sebentar lagi semua akan berakhir ketika semua orang sudah berkumpul.
"Saudara Lastri memang hamil, dengan usia kandungannya sudah menginjak tiga bulan."
"Apa!" Seketika pak Bagong melotot dan sungguh tidak percaya jika semua ini akan dialami oleh putrinya.
“El, kamu dengar sendiri kan, jika anak saya hamil karena kamu!” tuding pak Bagong pada El.
Sedangkan Anisa semakin terisak ketika hasil pemeriksaan semuanya benar.
“Mas, terima kasih atas luka yang kamu beri.” Anisa yang tidak kuat lagi akhirnya pergi dari mereka semua. Meninggalkan puskesmas dengan rasa kecewa yang lagi-lagi harus ia telan.
“Nisa, tunggu!” teriak El.
Disaat Samuel berusaha mengejar Anisa dengan kakinya yang tak lagi berfungsi dengan baik. Yuda yang kini telah memberi ancaman pada Lastri dan membiarkan adiknya pergi.
“Jawab sekarang, atau saya yang akan mengatakannya.” Suara tegas itu pun tak langsung membuat Lastri mengakui semuanya.
“Saya harus mengaku seperti apa. Kenyataannya memang bang El yang sudah mengamiliku!” ucap Lastri dengan penuh keyakinan.
“Baik, sekarang jawab. Apa kamu mengenal orang yang berada di antara mereka berdua?” tanya Yuda dengan suara tenang.
__ADS_1
“Sa-ya tidak mengenalnya.” Jawab Lastri dengan sedikit gemetar karena apa yang diperlihatkan tak bisa di tutupi.
“Sebenarnya ini ada apa? Kenapa semua semakin dipersulit jika pada akhirnya El yang membuat anakku seperti ini!” kata pak Bagong dengan intonasi tinggi.
“Sebaiknya ajak anak Anda pulang karena saya masih bisa memberi waktu agar Lastri mengakui segala perbuatannya, jika tidak maka jalur hukum menjadi tempat terakhir.” Dengan nada lembut Yuda memberi ancaman dan setelah itu dirinya pergi dengan mengajak Bowo.
“Wo, ikut aku!” ajak Yuda dan Bowo pun tida menjawab, tapi langkahnya mengikuti Yuda yang kini sudah keluar dari puskesmas.
Sedangkan itu, di jalan terlihat Anisa masih menolak untuk memberi waktu ketika Samuel ingin menjelaskan, kenyataan yang tidak benar dan ia yakin jika memang semua ini adalah jebakan, lantas lelaki itu pun tidak mau hal buruk menimpa sang adik dan Yuda terpaksa meninggalkan Lastri dan pak Bagong untuk sementara, karena ia harus membuat Anisa tidak melakukan hal bodoh yang akan merugikan diri sendiri.
“Sayang, aku mohon percaya padaku. Aku berani bersumpah jika semua itu tidak benar,” ucap Samuel dengan wajah penuh harap, agar Anisa percaya padanya.
“Apa aku bisa memilih Mas, ketika semuanya sudah jelas di depan mata dan kamu lihat sendiri, kan. Bahwa hasilnya positif,” ujar Anisa dengan wajah yang serta mata yang sembab akibat menangis tanpa henti.
“Harus seperti apa lagi supaya kamu percaya jika aku sama sekali tidak melakukannya?” dengan kedua tangan seakan meminta belas kasih, Samuel berkata.
“Nikahi dia dan ceraikan aku. Aku hanya seorang wanita biasa tanpa punya kekuatan. Aku hanya seorang manusia yang sejatinya rapuh, ketika hati ini tertusuk oleh kecewa.”
“Cukup Mas, aku menyerah pada penantian yang membuatku sia-sia menunggumu. Jika semua ini harus berakhir dengan luka lagi, tolong … tolong biarkan aku pergi dengan kebahagiaanku sendiri. Aku lelah dan tidak sanggup, yang nyatanya jika hati ini tergores sembilu lagi,” ucap Anis dengan dada bergemuruh menahan rasa sakit atas luka yang di torehkan oleh suaminya. Yang mana setahun menanti akan kepulangannya dan harapan, jika suaminya masih hidup begitu besar.
Tepat kedatangan Yuda, Anisa langsung berbalik dan memeluk sang kakak.
“Kak, bawa aku pulang, bawa aku sekarang juga. Aku tidak sanggup jika di sini dan akan membuat hatiku semakin lara,” pinta Anisa pada Yuda.
“Iya, kita pulang ya ... Sekarang kamu jangan menangis karena kakak sudah tidak sanggup lagi melihat kamu seperti ini,” ucap Yuda dengan sigap langsung mengusap air mata itu.
“Harusnya aku yang di peluk, harusnya aku yang mengusap air mata itu. Tetapi, semuanya tak bisa aku lakukan.” Dalam diam Samuel membatin karena posisinya sebagai suami telah tersisih, hanya sebuah kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
“Wo, bawa teman- teman kamu untuk pergi ke rumah Lastri!” Perintah Yuda pada Bowo, di mana ada dua temannya dan satu adalah yang akan membuat kekacauan terselesaikan.
“Pak, tolong jangan penjarakan saya.” Ketika lelaki yang terlihat masih muda itu bicara, Yuda hanya melirik untuk sekilas.
Tidak membutuhkan waktu lama. Semua orang sudah berkumpul di rumah pak Bagong dan Anisa masih terisak di pelukan Yuda.
__ADS_1
“Baik, sepertinya waktu yang saya beri sudah cukup. Bagi saya semua ini adalah masalah kecil karena uang yang membuat semuanya akan terbongkar,” ucap Yuda dan suasana kembali mencekam.
“Apa maksud kamu dengan berbicara seperti itu?” tanya pak Bagong.
“Sebaiknya tanyakan pada anak Anda, karena sepertinya waktu saya di sini sudah habis. Setelah ini saya akan pergi dan Anda bisa menikahkan Lastri dengan yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang menimpanya,” ucap Yuda menjelaskan.
Ada sedikit senyuman yang terlihat di bibir Lastri, karena impiannya akan segera terkabul dan hal itu berbalik dengan Anisa, yang semakin terluka dengan sebuah kenyataan.
“Ya memang harus, El memang seharusnya menikahi Lastri karena yang berbuat, maka harus juga bertanggung jawab.” Dengan suara lantang pak Bagong berbicara karena orang tua itu begitu yakin, jika El lah yang melakukannya.
"Wo, bawa pemuda itu maju!" titah Yuda dengan senyuman penuh kepuasan.
Dua rekan Bowo yang sedari tadi diam, kini telah mendorong kecil pemuda tersebut. "Sekarang katakan yang sebetulnya jika tidak, maka penjara adalah tempatmu." Bowo dengan tegas memberikan ancaman bernada pilihan pada pemuda tersebut.
"Lastri meminta saya untuk menyet*buhinya agar bisa menikahi lelaki yang dicintai ...."
PLAK!
Pemuda itu belum menjelaskan akan rencana Lastri, tapi tiba-tiba suara tamparan menggema di telinga.
"Jadi, semua ini memang rencana kamu untuk menjebak El?" dengan sorot mata tajam pak Bagong berucap.
"Maaf Pak, maaf. Aku terpaksa melakukannya karena aku sangat mencintai bang El ...."
PLAK!
Satu tamparan lagi melayang dengan bebas.
"Apa harus seperti ini cara kamu? Apa harus dengan menyakiti hati seorang wanita untuk menyempurnakan ambisimu? Ingat, kita sama-sama perempuan. Tau kah kamu betapa hancur saya ketika kamu hamil dengan suamiku!" Anisa kali ini benar-benar marah karena semua ini dilakukan dengan kesengajaan.
"Itu karena saya tidak rela jika bang El pergi dari sini. Saya sudah menolak banyak lelaki, tapi kenyataannya tak sekalipun bang El melihatku."
"Keegoisanmu hampir membuat anakku kehilangan ayahnya. Apa kamu ingin jika anakmu kelak mengalami seperti saya, karena kamu hanya mengejar cinta yang tak nyata dan semu? Jawab!" bentak Anisa.
__ADS_1