Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
51. Malam yang indah


__ADS_3

Saat Anisa hendak menemui Samuel yang tengah menemui beberapa rekan kerjanya. Suara sosok lelaki membuatnya terdiam dengan langkah yang terhenti.


"Anisa!" suara dari belakang, membuat Anisa seketika menoleh.


"Mas Dirga!" ucap Anisa yang tidak menyangka jika akhirnya lelaki itupun datang. Sosok lelaki yang sekarang menjelma menjadi pria tampan dan begitu gagah. Serta sudah tidak mengenangkan kursi roda lagi dan itulah yang dilihatnya.


"Mas, kamu sudah—."


Ucapan itu terhenti karena Dirga tahu apa yang ingin ditanyakan. "Iya, aku sembuh dan tidak lagi menggunakan kursi roda." Jawaban dari Dirga, membuat Anisa senang sekaligus bahagia.


"Dirga, akhirnya kamu datang juga." Samuel yang kini sudah berada di samping Anisa, lantas bertanya karena sedari tadi ia tahu bahwa Anisa telah menunggunya.


"Iya, karena harus menjemput ...." Ucapan itu terhenti karena Dirga sedikit malu untuk menjelaskan.


"Oh, jadi ke sini tadi karena mau bawa perempuan yang ada di samping kamu ya, Ma?" goda Anisa karena terlihat ada perempuan cantik yang sekarang tengah digandeng oleh Dirga.


"Hai, salam kenal ya." Anisa pun langsung mengangkat tangannya dan hendak berkenalan.


Akhirnya keduanya bersalaman dan saling bertukar nama, hingga suara Dirga membuat Anisa dan yang lainnya menatap dalam ke arah lelaki tersebut.


"An, terima kasih karena kamu aku bisa hidup normal lagi. Terima kasih karena terus memberiku semangat untuk tetap menjalani hidup ini. Berkat kamu juga pada akhirnya aku menemukan cinta sejatiku," ucap Dirga panjang lebar dan Ainun pun merasa tersanjung akan ucapan dari tunangannya kini. Merasa terhormat karena Dirga telah memilihnya untuk dijadikan istri.


"Sama-sama. Asala ada kemauan semua akan bisa terwujud dan tidak lupa selalu berdoa meminta Sang Illahi.


Beberapa jam kemudian.


Semua para undangan sudah bubar dan Anisa sudah berada di kamar untuk melepaskan riasan tersebut, tidak lupa gaun yang digunakannya akan dilepasnya juga.


Tidak ada pesta pernikahan mewah, hanya pernikahan sederhana dan ia tidak mau jika semua itu terjadi. Meski sederhana yang terpenting adalah niatnya pikir Anisa.


Pertama-tama Anisa akan melepaskan gaunnya dulu, tapi Anisa sedikit kesusahan karena tidak bisa menjangkau resleting tersebut. "Ini kok susah ya," gumam Anisa yang terus meraih resleting.


"Sepertinya tidak mungkin jika aku meminta tolong pada Samuel," gumamnya lagi.


Sedangkan Samuel hanya bisa menggeleng saat melihat Anisa tidak bisa melepaskan gaun tersebut. "Dasar keras kepala, kenapa tidak memintaku untuk membantunya." Samuel mendengus kesal karena terlihat seperti lelaki tidak berguna.


"Sayang, kenapa tidak minta tolong padaku?" kata Samuel yang memilih menghampiri saat dirinya tengah asik di depan laptop. Namun, nampaknya Anisa lupa menutup pintu kamar mandi hingga terlihatlah oleh Samuel.


"Maaf, aku tidak mau mengganggumu." Jawab Anisa lirih. Keadaan sedikit kaku karena ini adalah hari di mana keduanya telah resmi menjadi suami istri. Meski hal ini pernah dialami oleh Anisa dulu, tapi sekarang jau lebih terlihat kegugupan yang dirasakannya.


"Jadi, sekarang ini butuh atau tidak?" seolah Samuel sengaja mempermainkan Anisa, karena di bibir istri dua jamnya itu hanya terlihat diam.


"Ya sudah aku pergi," kata Samuel lagi karena merasa sudah tidak dibutuhkan.


Samuel yang sudah melangkah dan hendak kembali ke tempat asalnya, tapi dengan suara sedikit ragu Anisa pun memanggilnya. "Tunggu!"


Samuel menoleh lalu melirik sebentar dengan sebuah senyuman. "Iya," timpal lelaki tersebut.

__ADS_1


"Tolong, turunkan ini agar aku dengan mudah melepasnya." Dengan wajah berbinar Samuel pun memutar tubuhnya.


"Sam, kenapa bukan resleting yang kamu lepas, tapi justru jilbabku." Anisa protes karena jarum pentul yang terdapat di jilbab lah yang dilepas bukan seperti, apa yang dimau oleh Anisa.


"Diamlah, aku akan melepaskan ini dulu." Saat itu juga tidak ada kecurigaan di dalam diri Anisa, ia tetap dengan melepaskan jarum pentul satu demi satu.


Setelah selesai dengan jarum-jarum tersebut. Samuel lantas menurunkan resleting sedikit demi sedikit hingga terlihatlah leher Anisa yang putih mulus tanpa noda sedikitpun.


"Kenapa rasanya jadi panas dingin, ya?" dalam hati Samuel bertanya-tanya karena detik ini ia merasakan sesuatu saat melihat leher jenjang milik Anisa.


"Sam," panggil Anisa karena dari tadi lelaki yang sekarang berubah menjadi suaminya. Nampak tidak merespon panggilannya sedari tadi.


"Nis, hadap sini." Terdengar sangat mengerikan saat Anisa diminta untuk menghadap wajahnya.


"Ada apa? Kenapa aku disuruh menghadap ke kamu?" tanya Anisa penuh selidik.


Tidak menggubris pertanyaan Anisa, Samuel pun langsung memutar tubuh Anisa dan keduanya kini saling bertatapan. "Izinkan aku membuka penutup kepala ini, tidak ada yang harus kamu tolak karena kita sudah sah di mata hukum dan negara." Mendengar hal itu, Anisa sedikit merasakan kekalutan di hatinya. Dengan sedikit ragu Anisa mencoba menyakinkan perasaanya, bahwa Samuel tidak akan meminta haknya sekarang.


Dengan mata terpejam Anisa menangguk dan itu artinya Samuel telah mendapatkan persetujuan.


Dengan perlahan Samuel berhasil melepaskan jilbab tersebut dan terpampang indah Ciptaan Tuhan, yang ada di depan matanya.


Cup.


Seketika Anisa terbelalak saat Samuel berhasil mengecup bibirnya, dan beralih ke keningnya.


Cup.


"Aku tidak akan meminta jatahku sekarang, tapi nanti ... akan adah pertarungan hebat antara aku dan kamu," bisik Samuel yang seketika merinding dibuatnya.


"Ini adalah peringatan dariku, karena kamu sudah tidak adil padaku. Rasanya tidak pantas kalau seorang mantan dipanggil dengan sebutan sayan. Tetapi, yang seorang suami sah nya hanya dipanggil dengan nama saja, apa itu pantas menurutmu?"


Sejenak Anisa tertegun saat mendengar akan Samuel yang protes. Pantas saja lelaki itu sengaja mengerjainya karena merasa tidak adil.


"Jadi, apa kamu punya pilihan untuk sebutan yang pas buatku?" ucap Samuel lagi dan sekarang posisi Anisa berada di tembok dan Samuel mengapit dengan satu tangannya di tembok.


"Mas, apa itu yang pas menurut kamu!" kata Anisa.


"Tidak, tidak. Itu sudah kamu semat pada Dirga, aku tidak mau panggilan itu." Rupanya Samuel menolak dam meminta panggilan lain.


"Sayang sepertinya bagus," usul Samuel.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?" kata Anisa karena mereka sudah sama-sama dewasa, kenapa harus panggilan 'Sayang' yang harus digunakan.


"Oh ayo lah, ini tidak terlalu buruk. Atau bisa juga Baby, Hubby, dan mungkin Cinta juga—.


" Baiklah, baiklah kalau begitu sayang saja. Tidak ada panggilan lain selain itu," ujar Anisa lalu memilih nama panggilan untuk Samuel.

__ADS_1


"Begitu dari tadi kan bisa, kenapa harus ribet."


Cup.


"Segera ganti dan kita akan makan makan, karena aku juga sudah lapar." Setelah berucap dan meninggalkan sebuah kecupan. Samuel pun langsung beranjak dari kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, sepasang pengantin baru telah masuk ke dalam kamar. Kamar yang sudah dihiasi oleh bunga-bunga bertaburan, membuat kesan romantis pada suasana di kamar mereka berdua. Setelah itu. Anisa dengan adanya pura-pura tidur, berharap jika Samuel tidak akan meminta jatah malamnya.


"Sayang, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kalau kamu belum ingin tidur, kan?" bisik Samuel seketika Anisa merinding dibuatnya.


"Duh, kenapa ini orang bisa tahu kalau aku pura-pura tidur." Anisa mendengus kesal karena Samuel bisa tahu dengan dirinya yang hanya pura-pura.


"Sayang, jangan lupakan malam pertama kita." Bisik Samuel lagi dan seketika Anisa merasakan sesuatu yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Sayang, apa kamu tidak capek? Sekarang sudah malam lebih baik besok saja, ya." Dengan senyuman dibuat seindah mungkin, Anisa mencoba menawarkan jatahnya untuk besok.


"Oh, tidak bisa Sayang, karena aku maunya sekarang dan kamu tidak bisa menolak." Seketika Anisa lesu karena Samuel terus meminta haknya. Hak yang memang menjadi miliknya.


Dengan keadaan pasrah dan Anisa juga tidak dapat menolak karena ia juga takut dosa, bukan menolak lebih tepatnya ia capek karena seharian ini ia terus mengenakan hil hells, lalu tubuhnya juga sedikit merasakan sakit semua.


Setelah perdebatan yang lumayan panjang penuh drama, akhirnya dua insan telah memadu kasih di atas langit. Dengan pemandangan yang penuh bertaburan bintang, merengkuh nikmatnya lembah surgawi dan hanya keduanya yang bisa merasakannya.


Beberapa bulan kemudian.


Huekk.


Huekkk.


"An, kamu kenapa? Apa kamu sedang tidak enak badan?" bu Susi yang melihat menantunya sedari pagi memuntahkan isi di dalam perut, membuatnya langsung menghampiri dan bertanya karena takut, jika Anisa sedang sakit.


"Aku tidak tahu Ma, karena tiap makam atau bau nasi. Maka perutku selalu mual dan kepalaku begitu pusing," tutur Anisa pada Susi.


"Sejak kapan kamu seperti ini?" kata bu Susi.


"Sudah hampir dua minggu, Ma." Jawab Anisa.


"Jangan-jangan kamu hamil," ujar bu Susi antusias.


Sejenak mata Anisa memandang, mendengar ucapan dari Bu Susi, membuatnya menyipitkan mata.


"Apa Mama yakin, kalau aku sedang hamil." Salah satu harapan Anisa adalah ingin segera memiliki momongan. Mengingat bahwa dirinya selama menikah dengan Dirga belum diberi anak.


"Sudah telat berapa bulan, jika kamu memang telat berarti besar kemungkinan kalau kamu hamil." Seketika Anisa tersadar bahwa dirinya sudah telat dari sebulan lalu, yang seharusnya datang bulan Tetapi bulan lalu sudah lewat.


"Ma, aku sudah telat satu bulan. Apa mungkin aku memang hamil," kata Anisa penuh harap.


"Baiklah, kamu istirahat saja. Mama akan membelikan kamu alat tes, supaya terlihat kamu hamil atau tidak." Dengan perasaan bahagia, berharap Anisa memang hamil bu Susi pun gegas meninggalkan menantunya untuk ke apotek.

__ADS_1


"Ya, Allah. Jika benar aku hamil, aku pun sangat bersyukur itu artinya engkau telah mempercayai kami untuk memiliki momongan," ujar Anisa dengan wajah menghadap ke atas, tidak lupa mengucap kata syukur karena pada akhirnya. Anisa dan juga Samuel telah dipercaya untuk memiliki seorang anak.


Detik demi detik telah berlalu, waktu demi waktu pun telah berganti. Saat Anisa berada di dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya dengan terpaksa harus bangun.


__ADS_2