
Lepas dari semua itu. Bu Marina hanya bisa diam, saat Pak Yoga murka dan hal itu semakin membuat wanita dengan usia hampir setengah abat tersebut. Semakin tidak suka dengan Anisa, wanita yang selalu mendapat pembelaan dari suaminya. Sedangkan dirinya sebagai istri hanya diam menerima amukan.
"Lihat saja kamu, An. Aku akan terus memaksa kamu untuk menikah dengan Dirga, aku tidak peduli seberapa kamu menolaknya." Dengan hati yang dongkol, kedua tangan terkepal hebat. Bu Marina berucap dalam hati, karena di sini orang yang harus bertanggung jawab adalah Anisa.
Beberapa minggu kemudian.
Samuel berkunjung di panti asuhan, di mana Anisa tinggal. Dengan begitu banyak bawaan untuk anak-anak panti, hampir bagasi mobil tidak muat dan hal itu membuat Yuda kesal.
"Harusnya kamu menyewa mobil untuk semua ini," ujar Yuda.
"Kenapa aku tidak terpikirkan, Ya." Samuel menjawab dengan seulas senyuman.
"Gini nih, kalau orang jatuh cinta. Maka akan berubah menjadi bodoh!" sungut Yuda dalam hati.
"Sepertinya kebodohanmu sudah bertingkat Sam, makanya apa pun itu. Kamu sekarang begitu sangat bodoh," ejek Yuda dengan sudut bibir yang terangkat.
Tidak mau ambil pusing dengan ocehan Yuda, lantas Samuel pun langsung membuka bagasi. Untuk mengeluarkan isi dari dalamnya.
Sedangkan anak-anak sudah antusias menyambut kedatangan Samuel dan Yuda.
Anisa dan Bu Ning pun mendengarkan suara riuh dari luar, terdengar tawa dari anak-anak. Membuatnya penasaran dan bertanya-tanya ada apa dan kenapa.
"Bu, di luar begitu rame. Kira-kira kedatangan tamu siapa ya? Kok kelihatannya anak-anak terlihat gembira?" Anisa pun bertanya pada Bu Ning.
"An, sebaiknya kita lihat. Di luar ada apa karena ibu Juga sangat penasaran," timpal bu Ning yang tak kalah penasaran.
Kedua wanita itu pun langsung keluar dan betapa terkejutnya saat melihat kedatangan Samuel beserta asistennya, yakni Yuda.
Begitu juga anak-anak yang begitu bahagia dan sempat memegang permainan satu-satu, yang diberikan Samuel kepada mereka semua.
"Kakak, Ibu." Suara anak-anak yang memanggil Anisa dan Bu Ning.
"Kalian masuk ya, mainnya nanti setelah bangun tidur. Kalian tahu ini waktunya apa?" kata bu Ning pada anak-anak yang berjumlah 13 tersebut.
"Baik Bu, kami masuk dulu."
__ADS_1
"Om, ganteng, terima kasih buat mainannya." Mereka pun dengan bersamaan berucap terima kasih pada Yuda dan juga Samuel.
"Sama-sama, sayang." Samuel menimpali dengan mengelus pucuk kepala anak-anak.
Semua anak sudah masuk dan sekarang tinggal mereka berempat.
"Assalamualaikum, An, Bu!" sapa Samuel dan juga Yuda.
"Waalaikumsalam, Nak Samuel, Nak Yuda." Jawab bu Ning.
"Sam, bisa kita bicara!" seru Anisa dengan rasa tidak sabar.
"Kenapa? Apa kita ingin segera menikah makanya kamu ingin bicara padaku," ujar Samuel dengan nada menggoda ia berucap.
"Cie ... cie, ada yang mau menikah nih." Tidak lupa Yuda pun ikut menggodanya dan Bu Ning hanya bisa tersenyum melihat anak muda yang ada di depannya kini.
"Siapa yang mau menikah denganmu?" Anisa menimpali dengan wajah yang sudah bersemu merah karena menahan malu.
"Sudahlah, ikut aku." Wanita berhijab dengan warna Pink itu pun langsung mengajak Samuel untuk bicara empat mata, entah apa yang ingin disampaikan sampai harus pergi dari samping Bu Ning dan juga Yuda.
"Sam, kenapa kamu membelikan mainan lagi sama anak-anak?" marah Anisa pada Samuel.
"An, aku mencintaimu." Kalimat yang diucapkan oleh Samuel, sukses membuat Anisa mematung. Ini bukan kali pertama Samuel mengungkapkan perasannya pada Anisa, tapi sudah berulang kali dan Anisa masih tetap menolak dan sekarang Samuel justru tanpa diduga. Berlutut di depan Anisa dengan sebuah kotak cincin berwarna merah yang sudah disiapkan oleh Samuel.
Sekarang pikiran Anisa semakin berkecamuk karena tidak tega untuk menolak Samuel lagi, sedangkan sudah banyak perjuangannya yang diberikan kepadanya.
Kali ini apakah Anisa akan menerima pinangan dari Samuel? Atau justru menolaknya lagi dengan berbagai alasan.
"An, aku butuh jawaban dari kamu. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi imam di sholatmu, izinkan aku untuk menemanimu hingga kita tua nanti."
Antara rasa haru dan juga sedih, di mana kata-kata itu telah diucapkan juga oleh Dirga dulu. Nyatanya bukan menepati janji justru Dirga membuat hati Anisa remuk.
Dengan hati yang dilema, Anisa berusaha menenangkan gejolak di hatinya dan tiba-tiba sebuah bayangan, akan kata-kata yang diucapkan Bu Ning dan juga Arum membuatnya begitu bingung. Menolak atau menerima karena jika ia menolak lagi kemungkinan besar Bu Marina akan datang lagi untuk meminta hal yang tidak mungkin.
Di taman yang luas ini dan angin sepoy-sepoy telah membawanya larut ke dalam ilusi, di mana semua bayangan hadir di depan Anisa, angin yang menerpa kulitnya seakan ikut menjadi saksi atas ucapan yang dilontarkan oleh Samuel kepadanya, tepatnya sebuah permintaan.
__ADS_1
"Nanti aku akan memberikan kamu jawaban dan tidak untuk sekarang," ujar Anisa dengan tatapan sendunya.
"Jadi, kamu menolakku?" kata Samuel dengan perlahan lelaki itupun berdiri.
"Apa aku bilang seperti itu? Atau memang pendengaranmu sedikit bermasalah," dengus Anisa menatap sini ke arah Samuel.
Kini senyuman Dirga mulai mengembang dan itu artinya. Ia masih ada kesempatan untuk diterima sebagai suaminya.
"Aku akan setia menunggu, mau nanti atau besok." Jawab Dirga dengan raut wajah yang tidak bisa disembunyikan akan rasa bahagia ini.
Sedangkan di dalam rumah Yuda dan juga Bu Ning kini saling tatap. Memastikan jika semua ini bukanlah kebetulan, karena tanda-tanda sudah mengarah ke arah yang sama.
"Bagaimana dengan pendapat Ibu, apa bisa ini dikatakan persis?" tanya Yuda saat dua foto masa kecil seorang gadis di satukan.
"Dari wajah, baju, dan anting semua sama apa kalian memang benar-benar—."
"Masih mencari bukti lagi Bu, jika benar berarti feeling saya tidak salah." Yuda langsung memotong ucapan Bu Ning, karena ada satu lagi barang yang saat ini entah masih ada atau tidak.
"Tunggu! Ibu ada satu barang karena sudah kekecilan makanya ibu memilih untuk melepaskannya." Setelah mengatakan hal itu, bu Ning gegas mengambil barang tersebut di kamarnya dan akan diberikan pada Yuda.
Setelah itu.
"Ini Nak, ini adalah anting yang sama persis, bukan." Bu Ning lantas menunjukkan benda tersebut pada Yuda.
Mata Yuda begitu sangat teliti karena siapa tahu ada yang berbeda dari anting tersebut. "Ini tidak salah lagi, semua sama dan apa artinya ...."
"Nak, Yuda." Seketika Yuda sadar saat dirinya mulai menerka-nerka dalam hati. Sayangnya, Bu Ning tiba-tiba menepuk bahunya.
"Bagaimana?" tanya bu Ning lagi.
"Sama, Bu." Jawab Yuda.
"Apa itu artinya jika kalian berdua adalah—,”
" Iya Bu, dia adalah Cahaya."
__ADS_1
Saat Bu Ning dan Yuda memastikan jika sosok itu adalah Cahaya, tanpa disangka Anisa tiba-tiba datang Samuel.
"Siapa Cahaya? Apa itu kekasih kamu, Yud?" tanya Anisa dengan mata meminta sebuah jawaban.