Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
95. Otak mesum (Bertemu dengan seseorang)


__ADS_3

"Tunggu, jangan bilang kalau otak kalian sedang bermasalah?" ujar Samuel dengan menatap satu persatu sosok yang ada diambang pintu.


Benar saja. Keduanya tersenyum saat Samuel menjabarkan akan maksud perkataan Yuda dan Arumi.


Dengan senyuman tanpa dosa dan sesekali menggaruk tengkuknya. Yuda masih belum menjawab karena ia merasa malu sendiri.


"Sekarang jawab, apa maksud kalian kalau aku dan istriku tengah berbuat mesum?" tegas Samuel.


"Iya, itu karena kalian sendiri. Kenapa sampai harus mengeluarkan suara seperti ayam terjepit—,"


Pakh.


Sebuah buku melayang mengenai Yuda, rasanya kesabaran Anisa dan Samuel telah habis hanya karena pikiran kotor dari saudaranya itu.


"Tuh lihat, wajah adikku seperti itu. Keringatnya saja sudah bercucuran, kenapa kamu masih tega mengajaknya bermain!" seru Yuda dengan gamblangnya.


“Apa kamu mau aku hajar supaya kamu tahu rasa!” pekik Samuel yang mulai kehilangan kesabaran.


“Aku mengatakannya berdasarkan fakta, karena aku dan Arum mendengar dengan sangat jelas.” Yuda masih tidak mau kalah dan berusaha mengungkit jika apa yang didengar, itu adalah memang benar.


“Kalian ini kolot sekali. Aku dan Samuel sedang makan bakso, tuh lihat.” Dengan geram akhirnya anisa menunjuk bekas mangkuk yang ada di atas meja.


“Eh, iya ternyata.” Arum menatap dengan seksama dan benar jika bekas sisa makanan masih berada di atas meja dengan keadaan masih berantakan.


“Jadi, benar jika kalian sedang habis makan bakso?” ulang Yuda karena merasa malu.


“Kenapa malu, makanya jangan asal tuduh. Lagian mana mungkin kita gelut di ruang tamu, mana enaknya,” ujar Samuel dengan tampang mengejek lalu ia berkata seperti itu dengan sengaja.


“Tidak harus mengeluarkan suara yang membuat salah paham untuk orang lain, kan.” Ucapan Arum membuat Samuel dan Anisa tertawa, karena merasa bahagia telah sukses mengerjai Yuda hingga membuatnya kesal juga.


CKCKCK.


“Kedua pasangan itu dengan kompak berdecak sebal karena merasa sudah dikerjai, Hingga tanpa sadar Yuda pun tertipu dengan suara tersebut.


Setelah perdebatan hanya karena salah paham. Akhirnya mereka berempat duduk di ruang tengah dengan wajah yang sudah kacau akibat malu.


“Oh, ya. Bagaimana acara bulan madu kalian? Apa ada kabar baik yang ingin disampaikan,” ucap Samuel.


“Kabarnya kami begitu sangat senang dan bahagia, terlebih lagi semua itu adalah gratis. Jika masih ada kita mau,” sahut Yuda dengan wajah bahagia tanpa beban apa pun.


“Itu mau kalian, kalau kita terus-terusan ngasih gratisan ya bangkrut.” Jawab Anisa dengan menempelkan tangannya di kening.


“Memangnya siapa yang akan menolak jika bulan madu kita ada yang menanggung,” kata Yuda.


“Dasar kere,” umpat Samuel.


"Bodoh," sahut Yuda.


“Kita kesini memang ingin mau ngasih selamat karena, saat kita berangkat belum sempat pamit pada kalian, kan!” ungkap Arum.


Yah, memang benar jika pasangan pengantin baru itu belum pernah memberi selamat pada Anisa, karena ketika hendak berangkat, Anisa sudah dengan keadaan hamil dan di tambah ketika saat resepsi tiket sudah diberikan dengan begitu sangat mendadak.


"Terima kasih, aku juga minta maaf karena sempat membuat pesta pernikahan kalian sedikit bermasalah." Anisa masih ingat bagaimana dirinya sudah menghancurkan momen indah itu, dengan tiba-tiba pingsan.

__ADS_1


"Tidak An, semua itu tidak ada berarti ketika kita mendengar jika kamu kembali ke rumah sakit, tapi rasa takut itu hilang seketika saat mendengar kabar kehamilan kamu."


"Iya Kak, aku pun tidak menyangka jika setelah bersatunya kami. Ada janin yang tumbuh di rahimku, hadiah yang begitu istimewa yang diberi Tuhan." Anisa menimpali dengan rasa syukur yang begitu besar, karena sebentar lagi dirinya dan sang suami akan menjadi orang tua lagi. Setelah gagal untuk yang pertama dan untuk sekarang Anisa akan berusaha menjaganya.


"Oh ya, kenapa kalian pada saat makan bakso bisa mengeluarkan suara merdu? Apa memang ada motif kesengajaan?" ujar Yuda yang kembali mengingatkan ketika saat dirinya baru saja datang, sudah dihadapkan oleh suara aneh yang membuat telinga kepanasan.


Akhirnya dengan tepaksa Anisa mengatakan perihal bakso, hingg Yuda dan Arum bisa salah paham.


"Nah begitu ceritanya," kata Anisa setelah menjelaskan.


Hufff.


Yuda dan Arum langsung menghela napas ketika mendengar penjelasan dari Anisa, terasa malu lantas apa boleh buat karena sudah terjadi.


Setelah cukup lama mereka berempat berbincang-bincang, akhirnya para tamu tak diundang itu pun pulang. Sekarang tinggal Anisa dan Samuel di rumah dan hanya ditemani oleh mbok Yem.


Pukul tujuh malam, setelah sholat isya. Samuel memutuskan untuk kembali melanjutkan masuk ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Saat Samuel tengah mengetik, tiba-tiba latar ponselnya bergetar tanda bahwa ada pesan masuk, setelah beberapa kali panggilan telah ditolaknya.


Dengan hati yang galau, Samuel tidak tahu harus menerima atau tidak menolak, tapi jika menolak pun. Rasanya sungguh sayang karena sekarang yang akan dipimpin adalah proyek besar.


Bukan menolak, tapi tempatnya harus,berpisah dari Anisa karena letaknya ada di kota S. Rasanya tidak sanggup ketika harus jauh dari sang istri. Apalagi meninggalkan perempuan yang kini telah mengandung anaknya.


"Sedikit dengan perasaan ragu. Terpaksa Samuel menemui Anisa yang sekarang berada di kamar. Untuk membahas soal pekerjaannya yang akan membuat keduanya berpisah.


Sesampainya di kamar.


"Sayang, aku ingin bicara sebentar." Seketika Anisa membenarkan posisinya, dari yang sebelumnya tiduran dengan memainkan ponsel. Sekarang sudah duduk dan menanti berita yang akan disampaikan oleh Samuel.


"Memangnya ada Mas, kelihatannya serius?" tanya Anisa.


"Iya," timpal Samuel dan Anisa seketika merubah posisinya lagi.


"Tumben, ada apa sebenarnya ini?" dalam hati Anisa bertanya-tanya karena begitu sangat penasaran.


"Sekarang katakan, jika masih bisa dicari jalan keluarnya, kenapa tidak dan aku pun sudah siap untuk mendengar.


"Begini Sayang, aku ada tugas di luar kota. Lalu, setelah ini ada yang ingin mengadakan pertemuan dan aku diundang." Untuk sesaat Anisa mendongakkan kepalanya untuk memastikan.


Anisa diam untuk sejenak, meminta jawaban dalam hati dan pikirannya. Lagian ia juga tidak bisa egois karena biar bagaimanapun Samuel sudah berusaha untuk jujur.


"Jangan membuat mereka kecewa, sekarang ganti pakaian dan temui mereka." Anisa sengaja menyuruh Samuel untuk menemuinya.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Samuel.


"Tidak, aku terlalu malas dan ingin berada di atas ranjang terus." Jawab Anisa dengan seulas senyuman.


"Untuk pergi ke luar kota, mungkin aku akan menolaknya." Anisa yang mendengar hal itu tidak bisa langsung bicara.


"Sayang, pergilah. Doaku menyertaimu karena namamu akan selalu ada di setiap doaku.


Entah, pikiran Samuel sekarang tengah bentrok karena sejujurnya ia ingin menolak, tapi pekerjaannya juga penting.

__ADS_1


"Aku pikirin nanti ya, sekarang aku akan siap-siap untuk menemui klien, yakin kamu gak ikut?" tanya Samuel lagi.


"Aku yakin dan percaya. Sekarang pergilah jangan membuat seseorang menunggu lebih lama lagi," ujar Anisa yang mana telah menyuruh Samuel untuk segera pergi.


Setelahnya.


Samuel sudah siap berangkat, bukan masalah pertemuannya yang menjadi masalah, tapi tempat di mana mereka akan mengadakan pertemuan.


Dinginnya malam memecah jalanan yang cukup lumayan rame. Samuel dengan laju di atas-rata kini sudah berada di tempat yang membuatnya merasa tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi. Demi pekerjaan ia rela melakukannya dan andai istrinya mau diajak mungkin sekarang sudah berada di restoran, tidak berada di tempat yang menyesatkan.


Lamunannya buyar ketika seseorang menepuk pundaknya. Rasanya tidak mungkin jika harus berteriak karena suasana penuh dengan alunan musik akan membuat seseorang tak dapat mendengar.


"Pak, bisa kita mulai untuk membahas soal pekerjaan?" ucap lelaki tua pada Samuel.


"Oh iya, bisa." Jawab Samuel dengan tergagap.


Ada empat orang dan terdiri satu wanita dan tiga orang laki-laki termasuk Samuel sendiri. Lalu, mereka sekarang sudah masuk untuk memesan minuman.


"Oh maaf, saya tidak minum itu Pak, jika ada air mineral saja!" kata Samuel saat ditawari minuman dengan yang sudah tercampur oleh alkohol.


"Masa iya Pak Samuel minum air putih saja. Di sini jus juga ada kok, saya pesankan ya."


Samuel pasrah asal itu bukan minuman haram yang selalu ia hindari semenjak masih mudah dulu, karena Samuel bukan lelaki pemabuk.


Semua sudah mendapatkan minuman sendiri, meski ada yang memesan minuman laknat tersebut. Rasa tidak nyaman semakin menjadi ketika sosok perempuan terus menatapnya.


"Sekarang kita mulai karena saya tidak bisa lama-lama meninggalkan istri saya yang sedang hamil," ucap Samuel ketika dua orang lelaki sedang menengguk minumannya.


"Baik Pak, sebelumnya perkenalkan ini putri saya namanya Susan, dia sengaja saya ajak karena nanti akan ikut Bapak turun lapangan untuk menangi proyek tersebut."


"Tidak masalah asal tahu batasan."


"Apa maksud Anda!" Susan nampaknya tidak nyaman dengan perkataan Samuel hingga ia langsung mengeluarkan suaranya.


"Tidak apa-apa, bisa kita lanjut," pinta Samuel.


Sedangkan dilain tempat.


Yuda sengaja tidak memberitahu jika akan datang ke kediaman adiknya, karena ingin mengajak Samuel pergi untuk bertemu dengan seseorang. Sayangnya sampai di rumah Anisa ternyata orang yang dicarinya tidak ada.


"Menangnya ke mana suamimu pergi?" tanya Yuda.


"Katanya ada pertemuan dengan seseorang. Makanya tadi sekitar jam tujuh Mas Sam pergi," jawab Anisa.


"Ke Mana?" tanya nya lagi.


"Aku tidak tahu, mungkin di kafe atau di restoran." Jawab Anisa lagi.


"Baiklah akan aku susul."


Dengan secepat kilat, Yuda pergi dan Anisa hanya memandanginya dengan aneh karena tidak biasanya Yuda seperti itu.


"Aku tidak boleh melewatkan hal ini, bisa jadi Samuel akan menjadi santapan oleh orang-orang yang tidak berakal itu lagi. Yah, aku harus tahu di mana pertemuan itu diadakan." Sepanjang jalan Yuda terus berceloteh karena apa yang pernah terjadi pada Samuel waktu itu, tidak akan pernah ia biarkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2