
Suara mobil ambulans kian memenuhi jalanan dan Samuel tidak melepaskan tubuh sang istri dari pangkuannya.
"Pak, biar kita bantu." Seseorang menawarkan bantuan, tapi sayangnya Samuel menolak.
"Tidak, jangan sentuh istri saya!" bentak Samuel pada petugas yang diutus untuk menjemput pasien.
"Pak, tenanglah. Istri Bapak pasti baik-baik saja," kata petugas satu lagi.
"Saya bilang tidak ya tidak! Saya akan meletakkannya di brankar sendiri." Jawab lelaki yang sekarang tengah terpukul karena sang istri mengalami kecelakaan.
Dengan hati-hati akhirnya Samuel meletakkan tubuh Anisa dan dengan cepat, ia juga ikut masuk ke dalam mobil yang membawa sang istri. Tangannya terus menggenggam jemari Anisa dan Samuel pun tidak berhenti menciuminya.
"Sayang, kamu bertahan ya, aku tahu kamu adalah wanita kuat." Dengan sesekali Samuel mengusap air matanya ia berkata lirih.
20 menit kemudian, mobil ambulans telah berada di rumah sakit, dengan segera para petugas menurunkan pasien dan langsung membawanya masuk untuk diperiksa.
Beberapa detik setelahnya. Dokter pun keluar dan Samuel langsung mencerca dengan banyaknya pertanyaan. "Dokter, bagaimana keadaan istri saya. Bagaimana dengan anak kami yang ada di dalam kandungan, lantas bagaimana dengan luka yang dialami oleh—."
"Pak, tenang, tenangkan diri Bapak. Semua pasti akan baik-baik saja dan saya minta Bapak berdoa untuk kesembuhan pasien," ucap lelaki yang berperan menangani Anisa dengan name tag Dokter Alex.
"Maaf Dok, saya terlalu khawatir." Jawab Samuel dengan suara lirih, tapi dokter itu pun bisa mendengarnya.
"Saya memakluminya Pak, sekarang pasien akan dipindahkan di ruang ICU, karena lukanya cukup parah hingga mengakibatkan pasien koma. Lalu, untuk kandungannya masih bisa bertahan karena sang Ibu mencoba melindunginya agar tidak terkena benturan." Saat itu juga Samuel merosot dan tidak memperdulikan dokter yang masih memberi penjelasan.
Samuel benar-benar tidak mampu lagi karena separuh jiwanya kini tengah bertaruh nyawa. "Tuhan, ampuni hamba karena sudah melakukan kesalahan. Andaikan rasa cemburu ini tidak menguasainya mungin Anisa tidak akan seperti ini," gumam Samuel yang dipenuhi oleh penyesalan.
Saat Samuel hendak berdiri, tapi tiba-tiba saja ia melihat Yuda yang sudah datang bersama dengan Bu Ning.
"Yud—."
Pakh.
__ADS_1
Pakh.
Bugh.
"Ingat Sam, meski kamu adalah orang yang berjasa di hidupku, tapi jika sampai Anisa kenapa-kenapa maka aku juga akan membunuhmu!" ancam Yuda yang sudah membabi buta Samuel dengan beberapa kali pukulan.
"Nak Yuda, tidak sepantasnya kalian bertengkar di rumah sakit ini." Bu Ning pun menengahi dan mencoba memisahkan dua sahabat yang kini sedang berada di puncak emosi.
"Nak Samuel, sekarang jelaskan kenapa Anisa bisa berada di rumah sakit ini?" tanya bu Ning yang meminta penjelasan pada Samuel.
"Maaf, ini semua memang salahku. Aku meminta maaf karena kecelakan yang terjadi adalah kesalahanku," ucap Samuel dengan wajah tertunduk.
"Ingat, jika sampai terjadi sesuatu maka aku akan membawanya pergi dari hidupku kamu!" ancam Yuda yang tidak main-main dengan ucapannya.
"Tolong Yud, jangan pisahkan aku dengan Nisa! Aku tidak bisa hidup tanpanya." Untuk pertama kalinya Samuel bersujud di hadapan Yuda, meminta agar tidak dipisahkan oleh Anisa.
"Nak Yuda, bukankah semua manusia pernah berbuat salah! Beri kesempatan untuk menjelaskannya," sahut bu Ning menengahi lagi karena tidak mau jika sampai Yuda benar-benar murka.
Akhirnya upaya Bu Ning berhasil dan sekarang Yuda sudah pergi dari hadapan Samuel, agar tangannya tidak sampai mendarat di wajah yang berstatus sebagai adik iparnya itu lagi.
"Nak, sekarang tenangkan hati dan pikiranmu dengan berwudhu. Doakan Anisa supaya segera sadar karena bagaimanapun ia butuh doa dari suaminya," terang bu Ning dan menyuruh Samuel untuk sholat.
Tanpa menjawab Samuel pun menuruti perintah dari Bu Ning dan segera pergi dari tempat di mana Anisa berada.
Sedangkan Yuda nampak begitu khawatir pada sang adik. Terlebih Anisa dengan keadaan hamil, hal yang tidak ia inginkan dan berharap tidak akan terjadi karena Yuda yakin jika Anisa kuat.
"Tenangkan dirimu dan kendalikan agar amarah tidak menguasai dirimu," ucap bu Ning karena terlihat jika Yuda begitu sangat terpukul.
Pertemuan antara Anisa dan dirinya baru saja terjadi dan sudah bertahun-tahun terpisah, Yuda tidak ingin jika berkumpulnya dengan Anisa harus berakhir tragis seperti yang pernah terjadi.
"Aku tidak sanggup Bu, jika harus kehilangan Anisa, aku tidak sanggup." Dengan hati yang hancur Yuda mencoba mencari ketenangan dengan memeluk Bu Ning.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu. Ibu yakin jika Anisa kuat karena dia adalah wanita yang tidak punya rasa menyerah, doakan dia beri semangat kepadanya." Bu Ning pun membalas pelukan dari Yuda karena beliau tahu bahwa sosok lelaki yang ada di pelukannya tengah rapuh.
Tidak berselang lama. Bu Susi dan juga Arumi ikut datang ke rumah sakit juga, dengan langkah tertatih keduanya langsung menghampiri Bu Ning dan juga Yuda.
"Besan! Bagaimana keadaan Anisa?" tanya bu Susi pada Bu Ning.
"Masih di tangani karena sekarang Anisa berada di ruang ICU," ujar bu Ning menjelaskan soal kondisi Anisa.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya sampai bisa seperti ini?" ulang bu Susi karena ia masih tidak percaya. Bukankah tadi pagi anak dan menantunya tengah periksa kandungan, lantas kenapa harus berakhir tragis seperti ini.
"Sebaiknya nanti kita tanya pada nak Samuel karena hanya dia yang memegang jawabannya."
Akhirnya semua duduk dengan tenang sembari menunggu Samuel kembali dari ibadah. Tidak ada yang bersuara juga karena hati mereka semua dilanda kecemasan karena harapannya, Anisa bisa melewati masa kritisnya.
Tepat saat Bu Susi menoleh dan kebetulan Samuel berjalan dengan wajah yang kacau, dengan segera wanita paru baya tersebut berdiri untuk menyambut Samuel dengan sebuah penjelasan.
"Sam, bisa kamu jelaskan tentang semua ini?" tanya bu Susi dengan rasa tidak sabar beliau terus menghardiknya.
"Maaf Ma, aku yang salah dan aku juga yang menyebabkan kecelakan ini.
PLAAAK.
Tanpa menunggu penjelasan dari sang anak. Bu Susi langsung mendaratkan sebuah tamparan pada Samuel karena semua itu memang pantas didapatkannya.
" Pukul aku Ma, aku memang pantas mendapatkannya." Samuel pasrah dengan kemarahan semua orang padanya.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Anisa dan juga kehamilannya. Maka mama tidak akan memaafkan kamu!" dengan amara yang membuncah bu Susi memberi ancaman pada Samuel.
"Aku memang pantas mendapatkan itu semua Ma, aku pantas. Aku bukan suami yang baik untuk Anisa dan andaipun aku tidak menuduhnya yang tidak-tidak mungkin saja Anisa tidak mengalami seperti ini," lirih Samuel karena ego yang keras hingga Anisa berakhir di rumah sakit.
Bugh.
__ADS_1
Bugh.
"Berhenti!"