
Dengan perlahan bu Susi langsung membuka pintu. Dengan mulut menganga dan mata membulat lebar, bu Susi seketika terperangah ketika melihat siapa orang yang sudah membuatnya syok, meski pada akhirnya rasa bahagia tak terbendung hingga tanpa sadar pipinya basah oleh air mata yang keluar tanpa diminta.
"Kamu benar kan ... atau hanya mataku yang sudah salah lihat?" sosok lelaki itu pun masih menatapnya dan terus memandangi wanita yang ada di hadapannya, yang saat ini tengah menanti sebuah jawaban.
"Iya, ini aku, Ma."
Sebuah pelukan langsung menghujani Samuel, karena sebuah rindu sejak lama tidak bertemu. Hingga terdengar suara isakan yang membuat suasana semakin menyesakkan dada, tapi bukanlah air mata kesedihan melainkan rasa bahagia yang dirasakan
"Kamu jahat Sam, kamu telah membuat mama seperti orang gila! Yang terus berbicara sendiri karena hilangnya kabar kamu." Samuel hanya memberi respons dengan senyuman karena begitu sangat cerewet. Hingga lupa jika sedari tadi keduanya tidak di suruh masuk.
"Ma, baiknya Mama menyuruh kita masuk. Dengan begitu ngobrolnya enak," ujar Samuel karena sedari tadi hanya berdiri diambang pintu lama kelamaan kakinya terasa pegal dan hal itu membuatnya sedikit dongkol.
Bu Susi tersenyum dengan tangan menggaruk kepalanya tidak gatal, mungkin saking bahagianya karena kepulangan anak satu-satunya hingga lupa segalanya. "Ya sudah, yuk masuk." Dengan suara lembut bu Susi akhirnya mengajak anak dan menantunya untuk masuk.
Ketiganya sudah masuk, tapi ada yang aneh dari wajah Anisa yang sedari tadi hanya diam dan tidak sekalipun ikut bicara. Hingga membuat bu Susi merasa ganjal dan memilih bertanya. "An, kamu kenapa? Dari tadi mama liat kamu kok diam terus?"
"Tidak Ma, aku hanya merasa pusing sedikit." Jawab Anisa dengan wajah cemberut.
"Kamu mau istirahat?" sahut Samuel.
"Sepertinya aku butuh itu," timpal Anisa.
"Aku antar, biar nanti setelah bangun agak enakan."
Anisa mengangguk dan pantat yang semula berada di tempatnya kini harus di angkat dan ia pun segera berdiri lagi.
"Sam, antar Anisa ke kamar kamu. Di atas kamarnya lebih luas," ucap bu Susi tiba-tiba.
"Baik, Ma."
Kedua pasangan tersebut sekarang sudah berada di kamar. Untuk sesaat Anisa terus memandangi Samuel dengan sangat lelah, seakan mata dan wajah itulah yang bicara pada lelaki yang sekarang ada di hadapannya.
Tatapan sendu yang diperlihatkan pada Samuel, membuat lelaki yang bergelar suaminya langsung memeluk Anisa dengan erat, karena ia tahu jika sekarang istrinya butuh pelukan untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau.
"Maaf, aku pernah menyerah dan memilih pergi waktu itu."
Samuel memeluk Anisa dan memberikan beberapa kali kecupan, karena tidak dipungkiri bahwa ia juga sangat merindukan sosok istrinya yang cukup lama tidak ia peluk.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku hampir melakukan kesalahan fatal. Aku … aku minta maaf karena sebuah kesalahan membuatku hampir kehilangan kamu, kesalahan yang tak pernah bisa aku lupakan." Tak lagi bisa membendung air matanya. Anisa lagi-lagi menangis karena kejadian itu, hampir membuatnya kehilangan suaminya dan cinta sejatinya. Meski sang pemilik asli adalah Tuhan.
"Sudahlah, jangan merasa bersalah terus karena semakin kita mengingat, maka akan semakin merasa bersalah."
"Sekarang kita akan menata masa depan dan melupakan masa lalu," tambah Samuel lagi.
"Sekarang kamu istirahat ya, nanti aku akan ke sini lagi." Anisa mengangguk dan berjalan ke arah ranjang tersebut.
Ada rasa suka duka yang kini dirasakan oleh Anisa, ketika menemukan kembali separuh jiwanya yang pernah pergi. Namun, pada kenyataannya cinta tidak akan pernah lupa dan akan kembali kepada tempatnya berasal. Secarik kesedihan yang ia rasakan karena telah kehilangan bidadari yang pernah Tuhan titipkan, tapi Tuhan juga yang mengambilnya kembali.
Lepas kepergian Samuel, Anisa benar-benar tertidur dengan wajah sembabnya. Jujur, ada kemarahan yang terselip di hati kecil Anisa, mengingat hanya karena tuduhan tak nyata hingga anak yang ia nanti kelahirannya, harus menjadi korban dari keegoisan orang tuanya.
Di bawah.
"Sam, apa Anisa sudah tidur?" tanya bu Susi pada Samuel.
"Sudah Ma, mungkin Anisa sedang lelah. Makanya langsung tertidur," ujar Samuel.
"Lantas bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu, rasanya tidak mungkin jika kamu pulang tanpa alasan yang jelas, bukan."
"Aku bertemu dengan Nisa di makam. Aku sengaja pulang untuk berdoa, tapi ternyata di sana ada dia juga." Jawab Samuel.
"Mama bahagia jika kamu pulang dan menyelesaikan masalah kamu. Mama harap semuanya berakhir dengan indah dan tidak ada lagi salah paham. Hingga membuat sebuah hubungan hancur dengan hitungan detik," ucap bu Susi panjang lebar.
"Iya Ma, semua ini akan aku jadikan pelajaran bahwa semuanya perlu dengan kepala dingin."
"Bagus jika kamu mempunyai pikiran seperti itu. Istirahatlah karena kamu juga butuh tidur, mama lihat kalau kamu terlihat capek." Bu Susi berdiri seraya menyuruh Samuel untuk beristirahat juga.
Siang telah berlalu dan sekarang sudah memasuki sore hari. Di mana saat suara adzan di kumandangkan, saat Anisa hendak bangun tiba-tiba merasakan jika tubuhnya ada beban berat yang menimpanya.
"Kenapa rasanya sesak sekali," gumam Anisa.
Anisa pun yang mulai merasakan nyawanya sudah terkumpul. Perlahan meraba perutnya karena merasakan jika ada beban di atas sana.
Saat Anisa sudah mengetahui jika ada lengan yang tengah memeluk tubuhnya, di tambah suara napas yang ada di tengkuk lehernya. Membuatnya memutar posisi untuk bisa memandangi wajah lelaki yang tengah terlelap dengan wajah damainya.
Dengan perlahan Anisa menggerakkan jari-jarinya, lalu mulai memberanikan diri untuk mengusap wajah yang sudah lama tak tersentuh itu.
__ADS_1
Untuk lelaki itu sendiri yang kini mulai merasakan akan tidurnya yang terganggu. Sejenak ia membiarkan pipinya di belai oleh Anisa sampai wanita itu puas, hingga Samuel yang tidak tahan lagi akhirnya bersuara.
"Apakah sudah puas dengan memainkan wajahku? Aku akui jika aku tampan, itu mengapa kamu cinta mati padaku." Sebuah suara membuat Anisa seketika menurunkan tangannya, rasa malu telah membuat wajahnya seperti udang rebus.
"Ke-kenapa bisa tahu?" ucap Anisa dengan suara gugup.
"Itu karena aku sudah bangun, dari semenjak kamu terus membelai dan memainkan hidungku ini." Jawab Samuel dan hal itu semakin membuat Anisa tidak mempunyai muka.
"Maaf, karena aku terlalu merindukanmu." Anisa dengan malu-malu berucap.
"Aku juga merindukanmu dan aku pun tidak akan melepaskan kamu." Suara bisikan di telinga Anisa, membuatnya merasakan merinding. Sebelum hal itu terjadi maka Anisa memilih untuk segera bangun.
"Mau ke mana hum, bukankah kamu merindukanku?" Saat Anisa sudah bersiap untuk bangun, sayangnya Samuel telah menahannya dengan tatapan liarnya.
"Lepas, lepaskan aku karena aku mau mandi." Anisa mencoba untuk melepaskan diri karena ia tidak mau, sesuatu akan terjadi kepadanya.
"Sepertinya aku harus memandikanku," ujar Samuel dengan tatapan ngeri ia berkata seperti itu.
"Tidak Mas, aku bisa mandi sendiri dan tidak butuh bantuanmu." Tolak Anisa dengan halus.
"Sayangnya aku menginginkannya." Dengan tatapan seperti harimau kelaparan Samuel berbicara.
"Lepaskan aku," pinta Anisa sedikit memohon.
"Oh, rupanya kamu menolak ya, baik aku tidak akan memaksamu."
"Bukan seperti itu Mas, tapi—."
"Apa, jawab! Tapi apa?"
"Duh, kenapa jadi gak bisa ngomong sih." Anisa mengumpat dalam hati karena merasa bodoh.
"Mas, memangnya kamu gak denger ya dan gak bisa liat waktu. Aku mau sholat karena sekarang sudah lewat waktunya," ucap Anisa dengan tubuh grogi karena tidak menyangka jika Samuel pulang dengan sikap yang berbeda.
"Apa peduliku! Jangan berdosa dengan menolak permintaan suami," kata Samuel.
"Mas … lepas, sebentar saja karena aku mau sholat." Anisa mulai ketakutan dan merengek meminta dilepaskan, hingga tanpa terasa jika tubuhnya sekarang telah berada di tembok dan dihimpit oleh Samuel.
__ADS_1