
Anisa dan yang lain merayakan kemenangannya karena dokter kandungan mengatakan bahwa rahimnya tidak bermasalah, dan itu tandanya Anisa tidak mandul dan hal itu cukup menggembirakan untuknya.
"Selamat ya An, akhirnya Tuhan memberikan petunjuk bahwa memang kamu tidak mandul." Arum pun memeluk Anisa dengan begitu erat, karena selama ini. Apa yang sudah dituduhkan oleh Bu Marina, tidaklah benar dan kenyataannya sudah terlihat siapa sekarang yang mandul.
"Bu," panggil Anisa dan keduanya langsung berpelukan dengan tangan masih memegang kertas tersebut.
Sedangkan Dirga merasakan emosi yang tak tertahankan, dan benar-benar merasa jika dibodohi. "Bu, di sini aku yang mandul. Apa Ibu puas dengan kehancuranku," kata Dirga kepada Ibunya dengan wajah merah padam ia berbicara lantang pada Bu Marina.
Bu Marina tidak berkutik dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.Tidak menyangka juga, bahwa anaknya lah yang mandul dan Anisa yang jadi pemenangnya.
Kuasa Tuhan tidak pernah salah saat hambanya telah di dizalimi oleh orang-orang yang sudah ia anggap lebih dari mertua, nyatanya kenyataan sudah terpampang jelas di depan mata, lantas mau mengelak seperti apa lagi.
Anisa yang melihat Dirga pergi dengan membawa rasa penyesalan, ia pun buru-buru memanggilnya. "Tunggu!" teriak Anisa dan Dirga pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah wanita yang sudah ia zalimi . Sosok yang masih tersimpan di dalam hatinya.
"Ingat akan janji kamu, Mas!" kata Anisa mengingatkan akan sebuah tantangan yang dibuat beberapa waktu lalu.
"Nanti kita bertemu, dan disitulah aku menepati janjiku." Jawab Dirga, lalu melengos pergi dari rumah sakit, dan tidak memperdulikan Bu Marina yang tengah berlari kecil. Demi bisa mengejar Dirga yang sekarang sudah marah besar.
Sesampainya di rumah.
Prang.
Prang.
Brakh.
"Dirga! Apa yang kamu lakukan dengan semua barang-barang itu, Nak?" bu Marina terus meneriaki Dirga, sekan tuli. Lelaki itu pun tak dapat mendengar ucapan dari sang Ibu, dan ia pun terus melempar semua perabotan yang ada di rumah. "Dirga, Ibu bilang berhenti!" teriak bu Marina lagi dan seketika bola mata itu. Menatap tajam pada Ibunya dengan aura kemarahan.
"Sekarang rumah tanggaku hancur. Apa Ibu bisa mengembalikannya? Ingat, Ibu yang sudah memaksa aku untuk menikah dengan Elsa, hanya sebuah baktiku pada Ibu. Aku kehilangan Anisa," kata Dirga dengan amarah yang tidak bisa ia tahan dan menyalahkan akan kehancuran rumah tangganya bersama Anisa, dan hanya gara-gara seorang penerus. Yang pada akhirnya membuat Dirga luluh.
"Kenapa Ibu diam, apa Ibu tidak bisa menjawab ucapanku, jika seperti ini apa masih bilang bahwa aku anak durhaka!" tatap Dirga pada Bu Marina yang masih membisu, seakan tidak ada lagi kata yang ingin disampaikan. Entah sekarang ini apa masih ada rasa sesal, atau kah masih membenci Anisa.
"Paling tidak, Elsa jauh lebih baik Dirga, dan bisa memberikan Ibu—."
__ADS_1
"Apa Ibu yakin jika itu anakku!" sahut Dirga dengan cepat.
"Saat kami melakukan hubungan suami istri pun. Elsa sudah tidak perawan," kata Dirga menambahkan lagi dan kenyataannya memang seperti itu, dan Elsa berkata jika semua karena masa lalunya. Hingga Dirga percaya sepenuhnya pada orang yang sudah dijadikan istri itu.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Bu Marina tetap tidak bereaksi saat Dirga mengatakan sesuatu hal yang mengarah ke arah sensitif.
Apa benar, Elsa tidak perawan?
Apa benar jika benih di rahim Elsa bukan anak Dirga?
Lantas, siapa Ayah dari si jabang bayi tersebut.
"Dirga, kamu mau ke mana?" tanya bu Marina saat melihat Dirga tengah menyambar kunci mobilnya.
"Ibu renungi saja kesalahan yang sudah Ibu perbuat, karena aku pun sama ingin menyelesaikan masalahku." Jawab Dirga dengan langka tergesa-gesa.
Di tempat lain.
Dirga yang sudah berada di panti, lekas menemui Anisa karena bagaimana pun seorang lelaki pantang menjilat ludahnya sendiri, meski penyesalan yang tersisa, dan sekarang semua itu tidaklah berarti.
"Assalamualaikum," sapa Dirga saat melihat Bu Ning tengah berada di luar.
"Waalaikumsalam," timpal bu Ning, dan setelah menoleh. Teryata sosok Dirga yang datang.
"Nak Dirga, ada apa ke sini?" tanya bu Ning.
"Mau bertemu dengan Anisa Bu, apa dia ada." Jawab Dirga dengan sesekali melirik ke sisi kanan dan kiri.
__ADS_1
"Sebentar, Ibu akan memanggilnya." Setelah itu bu Ning pergi meninggalkan Dirga tanpa mempersilahkan masuk.
Beberapa menit kemudian.
"Mas, ada apa?" tegur Anisa saat melihat Dirga dengan tatapan kosong.
"An, aku mau minta maaf." Dengan raut penuh penyesalan, Dirga berucap.
"Sudahlah, mungkin dengan cara ini. Kita bisa hidup lebih baik lagi, saling memberi dukungan satu sama lain, dan kamu tahu Mas, manusia akan terus kurang jika tidak ada kata bersyukur." Dirga tertegun mendengar perkataan dari Anisa, mungkin seseorang yang kurang bersyukur salah satunya adalah Dirga, dan mencoba mencari cinta yang lain. Nyatanya semuanya tidak sesempurna apa yang dibayangkan.
"Kamu tahu An, jika kejadiannya seperti ini. Mungkin lebih baik dibilang anak durhaka," kata Dirga dengan suara penuh penyesalan.
"Percuma juga kamu menyesal, pada akhirnya semua akan terjadi. Sekarang lebih baik kamu talak aku sekarang juga," ujar Anisa menagih janji agar Dirga mau menalaknya.
"Baiklah, dan aku ingin Bu Ning menjadi saksinya."
Setelah Bu Ning datang dan di sinilah ikrar talak akan diterima oleh Anisa, ikrar yang dinanti-nantikan.
"Anisa, mulai saat ini aku haramkan kamu menjadi istriku, dan dengan sadar. Aku Dirga menjatuhkan talak dua kepadamu, dan sekarang kita sudah tidak ada lagi ikatan." Seperti itulah ikrar talak yang terlontar dari mulut Dirga.
"Terima kasih Mas, kamu telah membebaskan aku dari derita ini." Tanpa ada air mata setetes pun, Anisa berkata.
"Terima kasih sudah menemaniku selama lima tahun ini, dan kamu istri yang baik An ...."
"Tidak Mas, aku pun punya kekurangan. Jika aku istri yang baik maka suamiku akan tegas saat di suruh menikah lagi. Suamiku akan berpikir dua kali saat ingin menyakitiku, tapi ... aku tahu bahwa berbakti pada orang tua adalah hal wajib. Namun, kamu melupakan kewajibanmu menjadi seorang suami."
Mendengar hal itu, Dirga semakin menyesal telah menyia-nyiakan wanita seperti Anisa.
"Apa kamu akan benci kepadaku, An?" Dirga menatap dalam ke arah Anisa.
"Aku tidak membencimu Mas, aku hanya benci kelakuan dan sikap kamu. Yang tidak bisa menghargai seorang wanita," ujar Anisa dengan suara lembut. Tidak ada kemarahan dari raut wajahnya.
Menurutnya, seberapa ia menolak. Perpisahan pasti akan terjadi, jadi. Biarlah waktu yang menuntunnya.
__ADS_1