
"Maksud kamu apaan sih, aku gak paham."
Belum sempat Samuel menjawab, tiba-tiba saja suara dari arah depan membuat Anisa seketika malu. "Cie ... cie yang lagi anu," goda bu Susi saat melihat Anak dan menantunya sedang bermesraan.
"Tuh kan, ada Mama!" dengus Anisa karena udah kepalang malu.
Sedangkan Samuel tetap seperti posisi awal dan terus melingkarkan kedua tangannya di perutnya Anisa.
"Ma, Mama kenapa sih main muncul saja. Rasanya kurang pas momennya kalau Mama gangguin mulu," sungut Samuel karena merasa jika Bu Susi adalah pengganggu.
Pletak.
"Enak saja kamu bilang mama ganggu! Adanya kamu yang gak tahu tempat, sekarang lebih baik kamu mundur!" sergah bu Susi dengan terang-terangan memarahi Samuel.
Samuel pun tampak kesal karena kedatangan sang Mama, ia yang sedang menikmati keromantisan bersama sang istri justru sekarang gagal, karena ulah dari Bu Susi.
__ADS_1
"Lagian kenapa kamu pulang segala sih, ini juga masih jam sembilan?" tanya bu Susi akan kepulangan Samuel yang tiba-tiba, karena selama ini Samuel tidak pernah pulang apalagi dengan posisi yang sudah ada di dalam kantor.
"Jangan bilang kalau Mama gak tahu soal ini," ucap Samuel seraya menunjukkan benda kecil dan panjang tersebut pada Bu Susi.
"Sebelum kamu tahu mama Sudah tahu, ckckck." Dapat dipastikan Samuel saat ini sedang syok berat, karena terlihat dari wajah yang tengah kesal.
Ckcckck.
Samuel berdecak karena bisa-bisanya dua orang wanita yang ia cintai tega berbohong. Rupanya kehamilan Anisa sudah diketahui oleh Bu Susi, hanya saja dua orang wanita itu sengaja untuk menunggu momen yang tepat saat memberikannya kabat bahagia. Yang selama ini di nanti-nanti dan diharapkan sepanjang doa agar secepatnya diberi malaikat kecil.
Malam hari dan di saat waktunya makan malam. Anisa menyiapkan hidangan yang sangat spesial, tidak lupa mengundang Yuda dan juga Arumi, tidak lupa Bu Ning sosok wanita yang sangat berjasa baginya.
Semua menu sudah berada di atas meja dan semua orang juga sudah berkumpul, untuk merayakan ulang tahun Samuel yang sudah memasuki angka 34 tahun.
Setelah cukup untuk berbincang-bincang kini acara makan pun dimulai dan semua orang menikmati makanan penuh dengan rasa nikmat, hingga beberapa saat kemudian satu persatu telah selesai makan.
__ADS_1
Arum, memulai membuka percakapan dan memancing semua orang agar kembali ramai seperti tadi. "An, selamat ya, akhirnya kamu akan menjadi Ibu." Arum pun tidak kalah bahagia saat mendapat berita bahwa sahabatnya itu telah hamil.
"Terima kasih ya, Rum, terus kamu kapan mau nyusul kita?" tanya Anisa dan seketika Yuda protes karena adiknya.
"Kenapa yang kamu ajak bicara Arum, terus liatnya ke kakak!" seru Yuda dengan menatap tajam ke arah Anisa.
"Memangnya kakak merasa aku ngeliatin kaka, ya?" dengan tanpa takut Anisa justru menggoda Yuda, agar lelaki itu kesal.
"Memangnya kamu tadi ngomongnya sama siapa? Terus natapnya ke siapa," dengus Yuda.
"Lagian itu kode, dasar kamu nya saja yang sok polos." Samuel menyahuti ucapan Anisa karena ia tahu jika kata-kata itu di tujukan pada kakak iparnya, yang dulu pernah me jadi bagian dari hidupnya.
Yuda merasa tersudut karena Samuel ikut menyerang dan begitu pas menurutnya, karena mempunyai adik ipar dan adik kandung, sama-sama suka mengejeknya yang mengatakan bahwa dirinya tidak laku.
Arum yang sedari salah tingkah saat Samuel dan Anisa terus menggoda Yuda, untuk segera menikah dan terlihat dari wajah Arum juga nampak pucat, lalu kedua orang tua yang sedari tadi diam. Menyaksikan anak-anak mereka terus saja menggoda satu sama lain, terus menatap bergantian ke arah Yuda dan juga Arum.
__ADS_1
Terlihat jika Yuda sesekali melirik Arum dan begitu juga sebaliknya. Hingga Bu Ning dan Bu Susi kembali saling tatap. Meminta jawaban pada pikiran masing-masing.