
Setelah mengetahui siapa sosok Anisa sebenarnya. Yuda pun meminta izin pada Bu Ning untuk membawanya ikut pulang. Di mana tempat yang seharusnya Anisa tinggali.
Dari situlah timbul rasa berat bagi Anisa, karena panti asuhan adalah rumahnya. Rumah di mana ia tumbuh dewasa bersama anak-anak yang lain, hingga sekarang dirinya sudah berusia 29 tahun, tak heran jika Anisa merasa keberatan.
"An, dulu ini memang tempat kamu, tapi tidak untuk sekarang. Orang yang bertanggung jawab lebih padamu adalah Kakak kamu saat ini," ucap bu Ning lirih, karena tidak dipungkiri bahwa beliau juga merasa sedih bahwa selama ini Anisa sudah dianggap anak olehnya. Awal berdirinya panti ini semua itu berawal dari adanya Anisa, bocah yang pertama kali ia angkat sebagai anak.
Rasa kehilangan yang begitu besar. Namun, Bu Ning juga tidak boleh egois mementingkan dirinya sendiri. Bahwa ada sosok yang akan bertanggung jawab pada Anisa sepenuhnya, tapi buka dirinya melainkan Yuda.
"Bu, izinkan saya membawa Anisa ke rumah saya, Bu." Dengan ramah Yuda meminta Anisa untuk ikut bersamanya, tidak lupa sebelum iru Yuda juga harus memintanya pada Bu Ning. Biar bagaimanapun Anisa atau Cahaya Bu Ning lah yang merawat sampai menjelma menjadi sosok wanita yang cantik.
Bu Ning pun tersenyum karena inilah yang terbaik untuk anak perempuannya itu. "Bawalah, karena sekarang sudah tanggung jawab kamu." Bu Ning berkata dengan sangat sopan, karena beliau tahu bahwa Anisa bukan lagi haknya.
"Bu, tolong bujuk Anisa supaya mau ikut dengan saya!" kata Yuda dengan sangat, karena sedari tadi sang adik terus menolak dengan berbagai alasan.
"Kak, tapi aku ingin di sini dengan Ibu!" kekeh Anisa yang berusaha untuk menolak ajakan dari Yuda.
"An, dengar Ibu, kamu masih bisa ke sini jika ada waktu. Pintu panti ini selalu terbuka untuk kalian, tapi tidak dengan tinggal di sini." Jawab bu Ning dengan suara bergetar.
"An, ikut kakak pulang ya. Besok kita masih bisa ke sini," ucap Yuda dengan seribu keyakinan agar Anisa mau ikut dengannya.
Sedangkan di luar sana. Semua anak sudah berkumpul, bagi mereka berat jika harus kehilangan sosok Kakak yang bisa dibuat panutan untuk untuk mereka semua.
Anak-anak panti berbondong-bondong menghampiri Anisa dan membuat wanita itu begitu sangat terenyuh, karena anak-anak tengah menitihkan air mata sebagai simbol bahwa tidak ada satupun yang rela, jika Anisa pergi dan meninggalkan mereka.
"Kak, kenapa Kakak meninggalkan kita semua?" tanya salah satu adik asuh dari Anisa.
Seketika Anisa pun menghampiri anak tersebut dan menjajarkan tubuhnya, dengan bocah yang ada di depannya.
"Sayang, kakak tidak meninggalkan kamu, kok. Kakak sudah memiliki keluarga jadi harus ikut dengan Kakaknya, kakak." Rasanya tidak tega jika Anisa harus pergi dari hidup mereka, dengan sesekali mengusap air mata, Anisa menciumi kening anak tersebut.
__ADS_1
"Apa Kakak akan melupakan kita?" ucap anak yang lain.
"Tidak, Sayang. Kakak tidak akan pernah melupakan kalian," ujar Anisa bersungguh-sungguh dan menyakinkan mereka bahwa Anisa akan selalu mengunjungi panti.
Yah, setelah di pikir-pikir Anisa memilih ikut dengan Yuda, karena bagaimanapun juga. Rasanya tidak mungkin jika dirinya akan di panti terus sedangkan dirinya memilki saudara.
Anisa kembali menghadap sang Ibu asuh, di mana dulu hingga sekarang. Anisa selalu diperhatikan di sayang dan selalu menjadi kebanggaan. Meski dirinya bukan siapa-siapa dari Bu Ning, hingga menjadi sosok yang berhasil untuk saat ini.
"Bu, aku sudah memikirkan jika akan ikut Kakak pulang. Terima kasih untuk kasih sayang yang sudah Ibu berikan padaku, merawatku hingga sekarang dan memberikan seluruh perhatian Ibu padaku." Anisa berucap dengan memeluk Bu Ning, merasa bangga atas sosok wanita tersebut.
"Sama-sama, An. Semua itu sudah menjadi tanggung jawab dari Ibu, sepatutnya kamu mendapatkan hak berupa kasih sayang." Dengan tangis haru, keduanya seakan ingin berpisah jauh, mencurahkan segala isi hatinya pada satu sama lain.
Lepas itu, keduanya menyudahi dan Anisa segera pamit pada Bu Ning.
Kini pandangan Anisa tertuju pada Yuda, dan ingin meminta izin terlebih dulu kalau akan mengemas barang-barang yang ada di kamar. "Kak, aku akan mengemas semua barangku terlebih dulu, ya." Namun, Yuda menggeleng dan membuat Anisa bingung.
"Ambil barang berharga, nanti kakak akan menyuruh Bi Surti untuk ke sini dan mengambilnya." Yuda lantas berkata bahwa semua itu tidak perlu, karena Yuda suda menyuruh pembantunya untuk menyusul ke panti.
Beberapa saat kemudian.
Anisa sudah keluar dari panti dan sekarang sudah berada di mobil. Meski tubuhnya berada di lain tempat, nyatanya Anisa terus memandangi rumah tua yang selama ini dibuat untuk tempat berteduh.
"An, kamu baik-baik saja?" Yuda pun bertanya pada sang adik, dan sesekali melirik ke arahnya.
"Tentu, Kak, aku baik-baik saja. Hanya saja ... aku tidak menyangka bahwa harus meninggalkan panti yang selama ini menjadi tempat bernaungku," ucap Anisa dengan tatapan sendunya.
Wanita berhijab itu pun lantas menatap wajah tampan Yuda, tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan oleh sang Kakak.
Sekitar 30 menit, akhirnya sampailah keduanya di rumah dengan begitu besar, bisa dipastikan jika harganya sangat fantastis dan hanya orang kalangan atas lah yang mampu membeli rumah di perumahan elit ini.
__ADS_1
Mata Anisa menatap begitu takjub saat melihat jejeran rumah besar nan tinggi layaknya gedung istana.
Belum masuk pun Anisa sudah terpesona, apalagi melihat isinya di dalamnya. Anisa yang tengah mematung tiba-tiba saja dibuat terkejut akan suara Yuda.
"An, apa kamu ingin disitu terus?" ujar Yuda dengan menggelengkan kepalanya dan terkekeh melihat sang adik begitu menggemaskan.
"Aku hanya kagum Kak, memangnya sekaya apa sih, sampai bisa mempunyai rumah di perumahan elit ini kamu?" tanya Anisa dengan sangat penasaran. Bukankah Yuda hanyalah seorang asisten, lalu kenapa bisa berada perumahan dengan kalangan elit? Hal itu membuatnya terus bertanya-tanya perihal kekayaan sang Kakak.
"Intinya, kerja keras dan berusaha. Agar keinginan kita bisa terwujud," ujar Yuda dengan memberikan senyuman terbaik untuk Anisa.
"Yuk, masuk." Yuda pun langsung mengajak Anisa masuk.
Sesampainya di dalam. Lagi-lagi Anisa dibuat tercengang saat melihat ruangan dengan interior yang begitu menakjubkan. "Kak, ini rumah atau istana? Kenapa begitu memanjakan mataku saat melihat isi di dalamnya?" Anisa berujar dengan tangan terus memegangi barang-barang bagus yang terdapat di ruang tamu.
Lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Anisa, membuat Yuda terkekeh karena sang adik begitu mengagumi rumahnya. "An, apa kamu suka?" kata Yuda.
"Aku tidak munafik Kak, kalau aku suka dengan interior rumah ini." Jawab Anisa.
"Kamar kamu di atas, segera mandi dan kita akan makan siang. Tadi kakak sudah delivery jadi kita tinggal makan," ucap Yuda.
Di tempat lain.
"Di mana Anisa? Saya ingin bertemu dengan dia!" kata bu Marina yang tiba-tiba mendatangi panti asuhan.
"Bu, Anisa sudah tidak di sini lagi." Bu Ning mengungkapkan.
"Bohong! Pasti dia ada di dalam," pekik bu Marina yang tidak percaya.
"Demi Allah Bu, Anisa sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia sudah pergi dan sekarang berada di luar kota," ucap bu Ning yang terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Saya tidak percaya dan saya akan mencarinya sendiri di dalam." Bu Marina tetap kekeh jika Anisa berada di dalam dan bu Ning sengaja berbohong padanya, itulah yang sekarang di pikirkan oleh mantan mertua Anisa.