
Tidak berapa kemudian, Yuda sudah sampai di rumah. Dengan langkah cepat sekarang sudah berada di dalam kamar untuk menghampiri Arumi.
"Sayang, kamu bangun deh!" perintah Yuda karena ia akan menyuruh Arum untuk mengunakan π΅π’π΄π΅π±π¦π¬, atau alat tes kehamilan yang ia dapat di Apotek tadi.
"Ada apa sih, kenapa seperti orang yang dikejar tuyul saja kamu itu!" sungut Arum karena merasa jika tidurnya sedang terganggu dengan adanya Yuda dengan datang secara tiba-tiba.
"Ini, coba pakai sesuai petunjuk karena seorang wanita pastinya sudah tahu tata caranya seperti apa untuk memakainya." Arum seketika membulatkan matanya, ketika melihat benda panjang tersebut diberikan oleh suaminya dan ia tahu alat itu apa, tapi yang ada dipikirannya dari mana suaminya mendapatkan benda kecil tersebut.
"Untuk apa ini?" akhirnya Arum bertanya kenapa ia diberikan benda tersebut.
"Masa kamu gak tahu itu benda apa?" tanya balik Yuda.
"Aku tahu, yang aku maksud tuh. Ini benda diberikan padaku untuk apa!" Anisa dengan sedikit melotot berkata ketika benda itu sudah diterimanya.
"Siapa tahu kamu butuh itu. Dari gejalanya seperti ketika Anisa hamil Akbar dulu, kan. Makanya tadi aku sempetin beli itu barang sampai harus ditertawakan oleh banyak orang loh," ucap Yuda seakan membuktikan jika dirinya memang sosok lelaki yang bertanggung jawab dan baik serta pengertian.
"Bukan salah mereka, kamu saja yang memang aneh. Lihatlah celemek pun masih kamu pakai," ujar Anisa sambil menunjuk tubuh Yuda.
"Wajar dong, namanya juga sedang terburu-buru." Jawab Yuda dan Arum pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika sikap konyol itu muncul di diri Yuda.
"Lalu, apa kamu yakin jika aku hamil?" ucap Arum karena ia tidak mau kecewa lagi.
"Semoga saja, jika masih tetap sama. Berarti Tuhan belum memberikan kita kepercayaan untuk hal itu," sahut Yuda dengan wajah seketika berubah karena harapannya adalah, ingin menjadi seorang ayah. Namun, jika hal itu belum memihaknya apalah daya kalau dirinya memang harus lebih sabar lagi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, dengan dada bergemuruh. Menanti hasil dari benda tersebut dan berharap kali ini ia benar-benar dipercaya oleh Tuhan, meski dulu pernah kecewa dengan gejala yang sama.
Degh.
"Apa aku tidak salah lihat?" Arum bertanya-tanya karena hasil yang sudah terlihat membuatnya langsung membungkam mulutnya, karena rasa terkejut itu tak mampu ia tutupi.
"Tidak, ini benar dan aku sedang tidak salah lihat." Arum lagi-lagi bergumam karena benda tersebut membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Sayang, bagaimana hasilnya?" antara sedih dan senang tengah campur aduk ketika melihat Arum sudah keluar.
Dengan wajah lesu, Arum pun memberikan alat itu pada Yuda dan. "Alhamdulillah Ya Allah." Sujud syukur Yuda karena kali ini hasil tidak membohonginya.
"Terima kasih Sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah." Dengan memeluk dan menciumi seluruh tubuh Arum, Yuda mengungkapkan kebahagiaannya yang sangat ia tunggu-tunggu.
Keduanya berpelukan merayakan kebahagiaannya karena sebentar lagi. Gelar orang tua akan di dapatkan dan itulah harapan semua orang ketika sudah berumah tangga.
Sedangkan jauh di sebrang sana, seorang pria tengah duduk termenung dengan tatapan fokus ke depan.
"Bang, lagi melamun apa?" seorang wanita dengan usia sedikit muda, lekas duduk dan bertanya untuk membuka percakapan saja.
"Tidak perlu kamu tahu saya sedang melamunkan apa, karena itu bukan urusan kamu!" ucap lelaki yang kini tengah merasa jengah pada wanita yang tak jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Bang, jika bukan karena orang tuaku mana mungkin kamu bisa seperti ini sekarang. Tetapi, bukan itu tujuanku untuk menyadarkan Abang dari semuanya."
Lelaki yang dipanggil El itu. Hanya hanya diam, tidak ada keinginan untuk membalas ucapan dari wanita yang bernama Lastri.
Di kampung yang asri ini. Terlihat suasana yang begitu mendamaikan hati, tapi tidak bagi El karena seindah apa pun tempat itu. Tidak akan membuatnya goyah akan keindahan yang tersuguh di pelupuk mata.
"Bang, aku cuma meminta sedikit saja rasa perhatian Abang padaku. Apa itu terasa sulit untuk dilakukan," ucap Lastri lagi.
"Jangan memintaku untuk memberi kesempatan padamu. Saya sungguh berterima kasih karena Bapak kamu sudah banyak membantu saya, tapi ingat satu hal jika sampai kapan pun di sini hanya ada istri saya, bukan kamu atau orang lain." Dengan suara tegas dan begitu lantang, El berbicara karena baginya. Hanya ada satu wanita yang akan selalu berada di tempat paling berharga.
"Kenyataannya istri Abang tidak kunjung mencari kan, hingga sudah berapa bulan Abang di sini dan itu artinya jika wanita yang Abang banggakan telah melupakan sosok lelaki yang mengharapkan, tapi tidak diharapkan." Lastri tak kalah tegasnya ketika berbicara soal istrinya El, nyatanya hampir 10 bulan lelaki yang pernah terdampar itu kini tidak ada satupun yang mencari keberadaannya.
"Sekarang Abang bisa menyimpulkan sendiri kan, siapa yang menemani Abang dan siapa juga yang sudah melupakan Abang selama ini." El yang mendengar hal itu merasakan hatinya tercabik-cabik. Namun, rasa egois yang begitu besar pernah membuatnya terjebak dalam permainannya sendiri. Hal itu juga yang ia takutkan jika harus memilih apa yang sudah ada di di depan mata, melupakan kenangan yang pernah tercipta dahulu.
"Saya memang berhutang banyak pada keluargamu, tapi soal perasaan β¦ maaf karena saya tidak bisa membalasnya."
Seketika Lastri pergi dengan menelan kecewa karena lagi-lagi dirinya ditolak mentah-mentah oleh El, kenyataannya Lastri adalah primadona desa. Lantas kenapa El bisa menolak sedangkan ada banyak pria yang sudah mengantri agar bisa bersanding dengannya?
Ketika Lastri masuk dengan suara hentakan kaki yang begitu keras, hingga membuat pak Bagong merasa aneh, bukankah putrinya tadi masih bersama dengan lelaki yang pernah ia tolong ketika terdampar? Tapi anehnya ada raut wajah tak biasa yang diperlihatkan oleh Lastri.
"Nduk, kamu kenapa to? Dari tadi manyun terus?" tanya pak Bagong.
"Pak, jika aku suka dengan Bang El, menurut Bapak bagaimana?" ujar Lastri meminta pendapat pada bapaknya.
"Kalau begitu nikahkan saja denganku," ucap Lastri asal.
"Nak, bukankah kamu ada Bowo? Lantas mau dikemanakan dia!" ujar pak Bagong karena yang ia tahu jika Bowo juga menyukai anaknya.
"Aku tidak menyukainya Pak, Bowo-nya saja yang selalu mengejarku." Jawaban Lastri langsung membuat pak Bagong menghela napas.
"Bapak sudah berjanji pada El, ketika kakinya sudah sembuh. Bapak akan membawanya pulang ke rumahnya, karena kasihan jika orang tuanya terus menunggunya," kata pak Bagong menjelaskan.
"Jadi, Bapak belum tahu jika Bang El sudah beristri?" dalam benaknya Lastri dibuat bertanya-tanya karena ternyata pak Bagong masih tidak mengetahui akan hal itu.
"Kenapa harus menunggu dia pulang sih Pak, apa tidak sebaiknya kita langsung saja menikah. Dengan begitu kita bisa sama-sama datang ke kota untuk menemui orang tuanya bang El.
"Kita lihat saja nanti, karena bapak juga butuh jawaban dari El soal ini." Jawab pak Bagong karena semua juga butuh pertimbangan dan tidak bisa memaksakan kehendak dengan begitu saja.
"Aku menunggunya Pak, tapi Bapak tahu sendiri kan. Kalau bang El itu sulit diajak bicara dan lebih banyak diam," kata Lastri dan pak Bagong pun membenarkan ucapan dari anak semata wayangnya.
"Setidaknya bapak juga butuh bicara," ucap pak Bagong dan setelah itu beliau pergi meninggalkan Lastri.
Di luar, dua orang lelaki sedang berbicara dan terlihat sedikit serius.
"Kenapa kamu masih saja kolot dan terus memberi harapan pada Lastri!" ujar Bowo yang sengaja datang untuk membahas soal perasaannya yang terhalang oleh El.
__ADS_1
"Sayangnya semua tuduhan yang kamu jabarkan tidak benar. Saya sama sekali tidak memberi harapan pada Lastri dan sudah berapa kali saya mengatakan jika hati ini sudah ada pemiliknya," balas El karena ia tidak mungkin suka dengan Lastri dan hal yang sangat mustahil juga untuknya.
"Lantas kenapa Lastri terus menolakku dan mengatakan jika sudah mencintai pria lain? Saya yakin jika kamu lah orangnya," kata Bowo dengan wajah yang terlihat sangat tidak menyukai El.
"Saya sudah punya istri, tapi sayangnya pak Bagong tidak mengizinkan saya pulang dengan alasan jika kaki saya belum pulih sepenuhnya. Di tambah uang yang jadi penghalangnya," terang El karena kenyataannya memang seperti itu.
Untuk sejenak, Bowo menatap wajah El dengan lekat. Mencari sebuah kebohongan dan semua itu tidak ditemukan olehnya.
Memang beberapa kali El menjelaskan bahwa ia sudah mempunyai wanita yang begitu sangat ia cintai, tapi Bowo tak sekalipun percaya dengan ucapannya dan menganggapnya sebagai pembohong besar.
"Apa ucapanmu itu dapat dipegang?" kata Bowo dengan tatapan tidak teralihkan.
"Jika saya bisa meminta bantuan, maka kamu bisa memegang ucapan saya." Jawab El dengan wajah tanpa keraguan.
"Asal kamu melupakan Lastri maka saya pun bersedia untuk membantu kamu." El dengan seulas senyuman tipis, menatap Bowo dengan penuh harap jika lelaki yang mengira jika dirinya menyukai Lastri itu. Bisa membuatnya pulang tanpa harus menunggu kakinya bisa berjalan total, di tambah tidak perlu memikirkan biaya yang lumayan mahal.
"Asal kamu mau datang ke kota dan jika kamu setuju maka saya akan memberikan alamatnya. Tenang saja jika kamu bisa sampai di sana saya akan mengganti uang yang kamu keluarkan bahkan tiga kali lipatnya," ucap El dengan menyakinkan Bowo bahwa dirinya tidak akan membohonginya.
Bowo mematung dengan penuturan dari El, hingga membuatnya bertanya-tanya di dalam hatinya. "Siapa El sebenarnya, kenapa dia bisa berbicara seperti itu sampai mampu mengganti uang yang harus aku keluarkan dengan jumlah sebanyak itu.
" Kamu tidak perlu tahu soal siapa saya." Seketika Bowo tersadar saat El berbicara lagi dan bagaimana bisa lelaki itu bisa tahu jika semua yang dikatakan olehnya persis dengan isi pikirannya.
"Kenapa tidak dari dulu kamu seperti ini?"
"Saya takut karena kamu tidak mau membantuku. Saya juga sudah cukup banyak merepotkan pak Bagong di tambah biaya yang tidak sedikit, jadi yang ada di dalam pikiran saya adalah. Bekerja setelah kaki saya sembuh," kata El yang mana menjelaskan kenapa tidak dari dulu ia meminta bantuan.
"Saya akan membantumu, tapi bukan uang kamu yang saya mau." Sejenak El menoleh ke arah Bowo, jika bukan uang lantas apa yang dimau? Semua membuatnya berpikir keras.
"Apa pun yang kamu mau, Insya Allah saya akan menuruti permintaan kamu." Ada kelegaan di hati Bowo, ketika El menyanggupi permintaannya.
"Baik, kapan saya berangkat?" tanya Bowo.
"Secepatnya dan saya akan memberikan alamatnya padamu, agar saya juga terbebas dari wanita yang tidak pernah saya cintai."
Hidup di desa dengan jarak yang begitu jauh, di tambah dengan minimnya akses. Membuat El kesulitan untuk bisa terbang ke asalnya, apalagi pak Bagong hanyalah seorang buruh tani, yang mana semakin tidak tega untuk merepotkan lelaki tua tersebut.
Kedua kaki El sempat mengalami cedera yang cukup parah, hingga membuat dirinya tidak bisa berjalan dengan normal. Namun, karena tekatnya yang besar untuk bisa pergi dari desa di mana sudah berperan banyak untuknya. Dari mulai pengobatan dan makanan, sebuah desa yang bisa di acungi jempol terhadap sesamanya.
Sayangnya, kakinya belum sembuh total dan mengakibatkan El sulit untuk mencari pekerjaan. 10 bulan bukanlah waktu yang singkat baginya, karena jarak yang teramat jauh membuat keluarganya berpikir jika dirinya sudah meninggal. Tepat saat Bowo berpamitan untuk menyiapkan keperluan selama dalam perjalanan, pak Bagong pun menemui El yang masih berada di depan rumah.
"El, bapak boleh bicara!" kata pak Bagong.
"Tentu Pak, memangnya apa yang ingin Bapak ingin sampaikan. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah banyak merepotkan Bapak, terlebih dengan keadaan saya yang sekarang tidak bisa membantu untuk mencari uang." Pak Bagong tersenyum dan sepertinya anaknya tidak salah pilih pikirnya.
"Ini soal β¦."
__ADS_1