
“Wanita ini harus berada bersamaku, karena ja*langmu sudah membuat adikku kritis.” Dengan suara tegas Yuda berkata dan tanpa punya rasa takut pada lelaki yang ada di atas sana.
lelaki yang ada tangga, perlahan turun. Meski dirinya seorang lelaki bejat dan mempunyai tempat hina seperti tempat ini, tapi untuk kriminal dia sangat membencinya.
“Apa benar apa yang dikatakan pemuda ini?” tanya lelaki tersebut pada Elsa dengan bola mata yang tak teralihkan.
“Aku melakukannya karena dendam. Aku kembali menjadi seorang pela*ur sedangkan Anisa menikmati kemewahan dan kebahagiaan,” terang Elsa dengan bola mata terus menatap seolah Anisa berada di depannya, terpancar aura kebencian yang telah bersarang di hati Elsa juga.
PLAKK!
Satu tamparan mendarat karena semua itu adalah hal yang menjijikkan. Ia tidak peduli bahwa Elsa adalah aset di mana bisa mendatangkan uang untuknya.
“Kenapa kamu menamparku, Bang?” Elsa sepertinya tidak terima dengan perlakuan dari pemilik tempat di mana dirinya berada sekarang. Hanya karena penjelasanya sampai Elsa harus menerima tamparan yang membuat darahnya semakin mendidih.
“Bawa dia, karena saya tidak sudi menampung penjahat meski tempat ini adalah tempat maksiat, tapi paling tidak. Di sini tidak ada pembunuh,” kata lelaki itu dengan terang-terangan.
“Terima kasih atas kerjasamanya,” ucap Yuda karena ia beruntung karena merasa ada pembelaan dari tempat ini.
Lepas itu, Yuda membawa Elsa ke-suatu tempat. Di mana seharusnya ia berada dan kini tujuannya adalah ke rumah Dirga, karena akar permasalahannya ada bersama dengannya juga.
“Aku mau kamu bawa ke mana, ingat ya jika kamu sampai berani melukaiku?” kata Elsa.
“Meski aku menyakiti kamu, semua itu rasanya masih belum cukup karena lewat tangan orang. Kamu sudah mencelakai adikku!” seru Yuda dengan tatapan sinis.
“Bedebah.” Elsa mengumpat karena semua itu adalah bentuk perlawanannya.
Selama perjalanan Yuda sama sekali tidak menggubris ocehan Elsa, hingga dengan rasa kesalnya. Lelaki itu pun tak segan untuk membentak.
“Diamlah!” kata Yuda yang mulai lelah dengan sikap Elsa.
Cuih.
Dengan beraninya, Elsa meludahi Yuda dan hal itu semakin membuatnya kehabisan kesabaran. Hingga mobil ia tepi kan dan langsung mencengkram leher Elsa dengan sangat kuat.
“Lepaskan,” pinta Elsa karena merasa jika napasnya sudah mulai berkurang.
“Ingat, lelaki ada batasnya untuk melampaui kesabaran yang dimiliki. Jadi, hati-hati jika masih ingin menikmati dunia ini sebelum aku benar-benar menghabisimu.”
Dengan napas yang tersengal. Elsa mencoba menghirup udara karena merasa jika tenggorokannya sakit.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama. Yuda sudah berada di rumah tua tersebut dan tidak lupa membawanya masuk ke dalam, meski semua itu harus dilakukannya dengan sebuah paksaan.
“Masuk!” titah Yuda pada Elsa.
Nyali Elsa ciut dan wanita itu pun menuruti ucapan Yuda dan langsung masuk.
Yuda telah selesai mengurus kutu kecil dan sekarang waktunya ia akan menemui Dirga. Yuda yakin jika Dirga masih lah mengharapkan sosok sang adik, karena ia tahu betul bagaimana sikap Samuel yang sesungguhnya. Mungkin saja hal itu bisa terjadi kepadanya, tapi tidak menuduh Anisa layaknya wanita yang tidak mempunyai akal sehat. Hingga pertengkaran terjadi sampai kesempatan untuk mencelakai adiknya terjadi.
“Tolong lepaskan kita!” teriak dua preman dengan keadaan masih terikat, tapi seakan Yuda tuli dan terus berjalan keluar.
Suara itu terdengar lagi dan Yuda masih dengan tampang bodoh masih tidak memperdulikan semuanya.
Pukul delapan malam. Pada saat Dirga sedang menikmati makan malamnya, tiba-tiba mendengar suara bel yang berada di pintu luar.
“Mas, siapa yang bertamu malam?” tanya sang istri.
“Biar mas yang melihatnya,” timpal Dirga.
pintu sudah terbuka. Namun, betapa sangat terkejutnya ketika melihat siapa sosok yang tengah berdiri di hadapannya kini.
“Yu-da,” ucap Dirga sedikit gagap.
"Apa benar kamu masih memiliki rasa pada Anisa?" sebuah suara yang muncul di telinga Dirga, membuat lelaki itu hanya bisa diam dan bingung, antara menjawab atau tidak.
"Kenapa diam, coba katakan. Benarkan kamu masih mencintai Anisa?" ulang Yuda lagi.
Lagi-lagi tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Dirga, seakan semua yang dikatakan oleh Yuda adalah benar.
Pakh.
Pakh.
Bukh.
Pukulan dengan bebas menerjang wajah Dirga hingga yang ada hanya rasa ngilu, diamnya Dirga dan tatapan matanya semua itu benar. Pantas saja Samuel murka pada Anisa.
"Jadi benar, semua ini karena kamu? Ingat kalian sudah mempunyai pasangan masing-masing karena itu adalah bentuk tanggung jawab kamu. Pantas saja Samuel Murka sehingga mereka bertengkar hanya karena lelaki tidak berbobot sepertimu," cercah Yuda dengan wajah geramnya.
"Maksud kamu apa, kenapa karena perasaan ini kamu sampai memukulku!" kata Dirga dengan wajah yang sudah lebam.
__ADS_1
"Iya, memang kamulah dalang dari segala sesuatu yang menimpa Anisa. Karena kamu Samuel bertengkar dan karena kamu juga mantan istri siri kamu menuntut balas pada adikku," jelas Yuda dengan geretan gigi yang terdengar begitu menakutkan.
"Maaf, jika saja aku bisa mengontrol perasaanku. Mungkin Samuel tidak akan bertengkar dan hubungan mereka akan baik-baik saja," kata Dirga.
"Sayangnya semua itu sudah terlambat dan mantan istri kamu sudah membuat Anisa terbaring di rumah sakit dengan keadaan kritis."
"Apa yang dilakukan oleh Elsa, semua sudah berakhir dan aku pun sudah menikah." Rasa tidak percaya kian membuat Yuda geram karena secara tidak langsung bahwa Dirga mengira, jika apa yang disampaikan barusan adalah tidak benar.
"Oh, jadi kamu tidak percaya dengan ucapanku. Setelah aku membawaku kepada orang-orang yang tidak memiliki otak, apa kamu masih mengira jika semua ini sandiwara!" kata Yuda dengan wajah merah padamnya ia menjelaskan.
"Ja-jadi–,"
"Iya, kini Anisa tengah melawan ajal jika sampai hal itu terjadi. Maka tidak ada pengampunan dari mantan istri kamu," ucap Yuda dan setelah itu, kedua tangannya ia lepaskan dari kerah bajunya lalu Yuda pergi begitu saja.
Tepat saat Yuda ingin memasuki mobilnya. Sebuah getaran di sakunya membuatnya seketika berhenti untuk melihatnya. "Samuel!" gumam Yuda.
📲"Halo, segera datang ke rumah sakit." Tanpa basa-basi Samuel menyuruh Yuda secepatnya datang ke rumah sakit.
📲"Ada apa memangnya?" tanya Yuda penasaran.
📲"Jangan banyak bicara dan kamu segeralah datang.
Tut.
Tut.
Tut.
Telepon tiba-tiba terputus dan hal itu membuat Yuda kian khawatir dengan keadaan Anisa, karena ucapan Samuel yang menyuruhnya untuk segera mungkin datang.
"Apa yang terjadi pada Anisa?" dalam hati Yuda bertanya-tanya dan ia juga langsung menyalakan mesin mobilnya. Untuk segera menempuh sekitar satu jam agar bisa sampai di rumah sakit.
Tanpa memikirkan apa pun, Yuda langsung melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Satu jam telah berlalu dan kini.Yuda sudah berada di rumah sakit, semua sudah berkumpul tinggal dirinya yang datang terlambat.
Yuda, dengan wajah bingungnya menatap satu-persatu dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada Anisa.
"Duduklah, agar kamu siap mendengarkannya."
__ADS_1
Saat itulah Yuda tertegun kala mendengar apa maksud dari ini semua.