Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
41. Mulai mencari tahu


__ADS_3

Jangan melempar sebuah pertanyaan konyol, jika kamu juga belum bisa mendapatkannya!" sungut Yuda dengan kesal dan membalas ucapan Samuel tak kalah sengit.


"Sialan," umpat Samuel dan kedua wanita tersebut hanya bisa tertawa.


Akhirnya keduanya pun di antar pulang ke panti. Harapan Samuel Anisa bisa memberikan sedikit rasa untuknya. Untuk menjadi raja di hatinya, meski butuh waktu panjang Samuel akan berusaha.


Sesampainya di panti, Samuel dan Yuda langsung pulang, tapi Anisa sedikit heran dengan Arum, yang tidak biasanya ikut masuk.


"Rum, tumben?" tanya Anisa dan Arum pun paham dengan pertanyaan tersebut.


"Iya, aku pengen numpang istirahat sebentar." Arum pun berkata dan terus mendahului langkah Anisa.


"Ada-ada saja," gumam Anisa.


Sesampainya di dalam, Anisa dan juga Arum di sambut oleh Bu Ning karena beliau sudah cukup lama menunggu kepulangan dua wanita tersebut.


"An, Rum, kalian darimana saja?" tanya bu Ning dengan posisi duduk santai.


"Tadinya kita di cafe Bu, tapi ada sedikit kekacauan sampai Sam—."


"Apakah Bu Marina membuat keributan di sana?" sahut bu Ning dengan cepat dan hal itu membuat Anisa menatap penuh tanya.


"Bu Marina tadi juga datang ke sini," kata bu Ning lagi dan Anisa pun menatap tidak percaya, sampai segitunya mantan mertuanya harus mendatangi panti asuhan.


"Aku sudah menolaknya Bu, tapi Bu Marina terus memaksaku!" kata Anisa yang tidak tahu lagi caranya. Supaya mantan mertuanya tidak lagi terus mengganggunya.


"Sebentar lagi masa iddah kamu selesai, jika mau segeralah menikah. Bukankah Samuel suka padamu?" ujar bu Ning, karena menurutnya itu jalan satu-satunya agar tidak ada lagi yang menganggu kehidupan Anisa.


"Bu, kita tida sepadan. Samuel orang kaya sedangkan aku hanya seorang yatim piatu. Aku tidak yakin juga bahwa keluarga Samuel menerimaku," ucap Anisa panjang lebar. Ketakutan dalam menjalani sebuah hubungan adalah perbedaan kasta, ia tidak mau jika rumah tangganya berakhir seperti dulu.


"An, saran yang diberikan Ibu padamu. Cukup masuk akal dan kenapa tidak mencoba menerima Samuel, aku yakin jika dia adalah lelaki yang baik." Arum pun ikut menimpali dan setuju dengan ucapan dari Bu Ning.

__ADS_1


Tidak ada respon dari Anisa, pikirannya terlalu kalut karena tidak semudah yang mereka bilang.


"An, itu hanya usul ibu, ibu tidak mau jika keluarga Dirga terus menganggu kehidupan kamu." Sesaat Anisa memandangi wajah tua itu. Untuk mencari sebuah keyakinan di hati Anisa.


"An, percayalah semua akan baik-baik saja. Aku yakin jika Samuel adalah lelaki yang tepat untukmu," ucap Arum penuh keyakinan dan ia bisa menjamin jika betul, Samuel ada pria yang bisa bertanggung pada Anisa kelak.


"An, sholat istikharah biar hatimu yakin dengan pilihan ini." Ucapan dari bu Ning seketika membuat Anisa tersenyum.


Yah, dengan menjalankan sholat malam. Ia yakin bahwa Tuhan akan menunjukkan bahwa Samuel adalah jodohnya atau bukan, Anisa harap dengan jalan yang diambil nantinya akan membuat hidupnya jau lebih tentram.


"An, aku mau numpang tidur, apa boleh?" tanya Arum tiba-tiba.


"Kenapa harus meminta izin. Biasanya juga kamu langsung nyelonong masuk," tukas Anisa dengan menatap sebal ke arah Arum.


Arum pun menanggapinya dengan senyuman dan untuk pertama kalinya, ia meminta izin pada Anisa.


Akhirnya ketiga wanita itu masuk dan Arum pun mulai menjalankan aksinya dengan mencari sebuah kebenaran.


Saat Anisa berada di dapur, dan inilah kesempatan untuknya. Bertanya pada Bu Ning soal kenapa Anisa bisa sampai di panti ini. Arum yakin jika ada sesuatu yang seharusnya terbongkar, karena sebuah potret yang diberikan Yuda sewaktu tadi. Cukup membuatnya yakin akan hilangnya Cahaya, adik dari Yuda.


"Bu, ada yang aku mau bicarakan!" kata Arum pada saat Bu Ning berada di kamar anak-anak.


Bu Ning langsung mengangkat kedua alisnya. Rasanya ada yang sedikit berbeda dari raut wajah Arum. "Memangnya apa?" tanya bu Ning.


"Ini soal Anisa!" kata Arum.


Bu Ning semakin bingung dengan Arum. "Memangnya Anisa kenapa?" kembali bu Ning bertanya.


"Maaf Bu, kalau aku sedikit lancang." Seakan Bu Ning tahu bahwa yang sekarang akan di bahas sepertinya sedikit serius.


"Katakan, jika memang ada yang ibu tahu. Maka ibu akan mengatakannya," ucap bu Ning dengan seulas senyuman.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu Anisa di bawa ke sini sejak umur berapa, Bu?" tanya Arum dengan wajah serius dan nyaris tanpa ekspresi.


"Kenapa Nak Arum tiba-tiba bertanya soal Anisa? Apa Arum sudah mulai mengetahui sebenarnya?" dalam hati pun Bu Ning bertanya-tanya akan Arum, yang bertanya soal masa lalu Anisa.


"Bu!" tegur Arum saat melihat Bu Ning dengan tatapan kosong.


"Apa memang betul jika Bu Ning tahu soal sesuatu?" Arum bertanya-tanya di dalam hatinya. Pasalnya pengurus panti tersebut dengan keadaan diam dan belum memberikan jawaban untuk Arum.


"Bu!" Arum mengulang panggilan tersebut. Hingga Bu Ning terlihat gugup dan hal itu membuat Arum yakin, jika ada sesuatu.


"Maaf Nak Arum, tadi Nak Arum bicara apa!" Bu Ning berujar dengan wajah yang terlihat gugup.


"Aku yakin jika ada sesuatu kan, Bu, ini soal Anisa karena aku hanya ingin tahu saja. Apa dulu ia juga punya keluarga dan di culik oleh seseorang hingga berakhir di sini," cercah Arum karena rasa penasaran itu kini semakin besar. Untuk mencari tahu jati diri Anisa yang sesungguhnya.


"Kenapa kamu bertanya soal ini pada ibu, Nak." Jawab bu Ning dengan sesekali menghela napas.


"Aku pun tidak tahu Bu, hanya saja mengikuti kata hati yang sekarang sedang bertanya-tanya. Apa Ibu tidak mau melihat Anisa bahagia dengan adanya salah satu keluarganya yang masih hidup?" sebuah pernyataan yang tak bisa di jawab oleh Bu Ning.


Entah Bu Ning harus bahagia atau sedih, saat Anisa benar-benar bertemu dengan keluarganya. Anisa, gadis bocah mungil yang ia temukan 29 tahun yang lalu, membuatnya merasa menjadi sosok seorang Ibu lagi. Di saat anaknya tidak bisa diselamatkan dengan sang suami saat kecelakaan nahas, yang tak terelakkan waktu itu.


Dengan adanya Anisa, Bu Ning memulai kehidupan baru dan membangun sebuah panti hingga sekarang ini.


"Bu, aku tahu ini akan membuat Ibu sedih, tapi paling tidak kita sudah menyatukan dua keluarga yang terpisah." Kata-kata Arum membuat Bu Ning terenyuh dan apa yang dikatakan ada benarnya.


Bibir Bu Ning sudah terangkat dan hendak akan mengatakan sesuatu. Namun, kedatangan Anisa membuatnya urung untuk berbicara.


"Loh Rum, ternyata kamu ada di sini?" kata Anisa.


Arum tersenyum kearah Anisa, yang tadinya ingin numpang istirahat. Nyatanya sekarang bersama dengan Bu Ning di kamar anak-anak, karena sudah waktunya untuk tidur siang.


"Iya An, aku baru saja bangun dan melihat Ibu ada di sini." Arum pun berujar dengan mata melirik ke arah Bu Ning.

__ADS_1


"Iya An, kita sedang berbincang karena Arum kan sudah lama tidak ke sini." Jawab bu Ning yang ikut bersandiwara.


"Oh, ya sudah kita makan, yuk." Anisa pun langsung mengajak keduanya untuk makan, karena semua menu sudah siap.


__ADS_2