
"Mas, pulanglah. Aku butuh kedamaian untuk menenangkan hati dan pikiranku," ujar Anisa saat sudah sampai di depan pintu kamar. Yang dahulu di tempati Anisa.
"An, kita butuh bicara." Lagi-lagi sebuah permintaan yang membuat Anisa tak lagi bisa menahan emosi.
"Mas pergi! Atau aku tidak akan pulang. Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu," geram Anisa menatap tajam ke arah sang suami.
Jika wanita yang sangat ia cintai berbicara seperti itu. Maka itu tandanya Dirga harus mengalah, dan pulang dengan tangan hampa.
Dengan wajah lesu, lelaki itu pun lantas pergi dan meninggalkan Anisa, dan tepat pada saat Dirga meninggalkan kamar istrinya. Ia berpapasan dengan Bu Ning.
"Bu, saya mohon pamit dulu. Mungkin besok saya akan menjemput Anisa," ucap Dirga dengan seribu kebohongan.
"Boleh, Ibu malah seneng kalau Anisa mau menginap di sini." Jawab bu Ning tanpa punya rasa curiga sedikitpun pada Dirga.
Yah, setelah merasa di kecewakan oleh suaminya, dan mendapat dukungan dari mertuanya juga. Yang sudah bersekongkol menutupi aib sang anak. Bu Marina tega mencuranginya dan sekaranglah saatnya menata hati atas luka yang ia dapatkan selama ini. Anisa akhirnya memutuskan untuk tinggal di panti untuk sementara.
............
Sedangkan di tempat lain.
Samuel sedari tadi hanya uring-uringan, karena sudah beberapa pekan. Dirinya tidak tahu keberadaan Anisa, wanita yang sangat ia kagumi.
Prankkk.
__ADS_1
Prankkk.
"Stop Sam! Kamu mau masuk rumah sakit jiwa atau bagaimana?" ujar Yuda yang tidak tahan dengan kelakuan Samuel.
"Nisa hilang Yud, aku tidak tahu harus mencari ke mana?" ujar Samuel yang tak lagi melihat Anisa dan rasa kehilangan kian merasuk ke dalam jiwanya.
"Kalau kamu memang sedang khawatir. Harusnya mencari bukannya membanting semua barang, Sam!" pekik Yuda karena merasa jika Samuel adalah pria bodoh, pada saat mengenal sosok wanita.
"Mau mencari di mana?" justru jawaban macam orang bodoh yang diberikan oleh Samuel, dan hal itu membuat Yuda memijat keningnya karena merasa nyeri.
"Semenjak jamu mengenal wanita itu, kenapa otak dan pikiran jadi tidak berfungsi? Apa semuanya sudah dipenuhi oleh bayang-bayang sosok perempuan yang membuat kamu bodoh." Yuda dengan sangat gemas seketika langsung berceloteh, dengan raut wajah kesal.
"Memangnya kenapa? Dan apa ada yang salah kalau aku suka padanya!" ujar Samuel dengan nada tidak mengenakkan.
"Ingat Sam, dia sudah bersuami dan aku harap kamu tidak akan merusak hubungannya!" Yuda tidak lagi bisa menahan rasa kesalnya pada Samuel, meski kecewa dengan sikapnya. Namun, dia tetap orang sangat berarti untuknya.
"Apa kamu bangga dengan predikat pebinor?" Yuda bertanya dengan sudut bibir yang terangkat.
Sedangkan Samuel diam, entah apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Terjebak oleh wanita beristri dan hal itu sedikitpun tak pernah dibayangkan olehnya. "Anggap saja dia adalah jodoh yang dikirim oleh Tuhan."
Yuda menatap sinis ke arah Samuel, dan masih tetap kekeh untuk merebut paksa istri orang. "Jodoh yang mana yang dikirim Tuhan? Itu bukan darinya Sam! Tetapi kamu mengambilnya dengan paksa," kata Yuda dengan wajah yang sama sekali tidak suka.
Samuel yang menadapat ucapan seperti itu. Menatap tajam Yuda, seakan jika Yuda sama sekali tidak berpihak padanya. "Sepertinya aku perlu jatuh cinta dulu, bari bicara karena kamu tidak pernah merasakan bagaimana saat cinta itu datang. Dengan tiba-tiba dan membuat kita tidak bisa melupakannya," ucap Samuel yang tak mau disalahkan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang benar-benar gila!" seru Yuda dengan langkah meninggalkan Samuel sendiri. Rasanya sudah tidak mampu untuk terus menghadapi sikap dari Samuel.
Sedangkan Samuel tersenyum dam meremas sebungkus rokok, karena pikirannya tidak bisa dikendalikan olehnya sendiri. Sedangkan wajah Anisa terus saja menari-nari dam tidak mau pergi.
"Ke mana lagi aku harus mencari kamu An, sebenarnya dimana keberadaan kamu saat ini?" ucap lirih Samuel yang tak mengetahui keberadaan wanita yang sangat digilai.
.......
Beberapa hari kemudian.
Sekarang tepat di panti asuhan, saat Anisa tengah duduk di ayunan. Pikirannya sekarang sedang dipenuhi oleh Dirga, sosok lelaki yang telah singgah merajai hatinya selama lima tahun.
Bagi Anisa, rasanya sulit untuk mempercayai akan sikap Dirga yang sudah tega padanya. Lelaki yang sudah meluluhkan hatinya, hingga Anisa akhirnya menerima pinangannya. Namun, pada kenyataannya tak semanis madu yang terucap.
"An!" suara panggilan dari arah samping. Membuat Anisa langsung menoleh ke arah pada siapa yang memanggil.
"Bu," timpal Anisa setelah mengetahui itu suara siapa.
Setelah itu. Bu Ning duduk di ayunan yang sama, lalu mempertanyakan soal putrinya tidak terlihat ingin pulang. "Katakan, apa masalahmu terlalu rumit. Sehingga sudah hampir seminggu kamu tidak juga pulang menemui Dirga?"
Sebuah pertanyaan membuat Anisa menghela nafas. Untuk menginjakkan kakinya saja rasanya sudah tidak sanggup. Apalagi harus setiap hari melihat wajah sang suami.
"Bu, maaf. Aku sudah menambah beban di sini," kata Anisa dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Bukan itu yang Ibu maksud Nak, Ibu hanya ingin tahu apakah kamu ada masalah yang rumit dengan suami kamu?" ulang bu Ning lagi.
"Bu, sebetulnya aku ...."