Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
97. Perpisahan menyakitkan


__ADS_3

Akhirnya dengan segala pertimbangan, Anisa Arum, dan juga Yuda, memutuskan untuk pergi. Di mana Samuel bertugas, sedangkan bu Susi hanya bisa menanti kabar dari anak-anaknya dan harapannya adalah kembalinya Samuel dengan selamat.


Kapal yang membawanya telah terombang-ambing oleh ombak diakibatkan oleh angin kencang. Hingga ada banyak korban yang hilang, tapi sudah ada beberapa yang selamat. Meski nyawa tidak kembali dan pulang hanya tinggal jasadnya.


Sesampainya di tempat kejadian, Anisa masih berusaha dengan keadaan tegar walau hatinya kini telah hancur karena sudah tiga hari suaminya belum juga ditemukan. Entah penyebabnya apa sampai-sampai Samuel ikut naik ke kapal bukanya naik pesawat saat hendak pulang.


Tim SAR, masih berusaha mencari para korban dan itu termasuk Samuel yang belum ditemukan. Kalaupun meninggal nyatanya tidak ada jejaknya hingga luasnya laut sudah mereka cari sayangnya hasilnya nihil.


"Pak, bagaimana dengan atas nama Samuel, apa sudah ditemukan?" Yuda sengaja bertanya pada petugas pencarian untuk mengetahui hasilnya.


"Sejauh ini sudah ada 20 korban yang selamat. 10 orang dinyatakan hilang termasuk pak Samuel dan sisanya meninggal karena tidak bisa berenang. Kita masih tahap pencarian selama tujuh hari jika masih belum ada kemungkinan pihak kami akan menyetopnya," kata tim SAR, yang menjelaskan jumlah korban kecelakaan kapal tersebut.


Seketika Yuda tertunduk karena kabar yang diterima bukanlah kabar bagus, melainkan kabar buruk. Entah di mana sekarang keberadaan Samuel hingga tim pencarian belum juga menemukannya.


"An, kita kembali ke hotel ya. Kamu butuh menenangkan diri, kasihan anak yang ada dikandungan kamu." Yuda sengaja mengajak Anisa untuk pergi karena tidak tega melihat adiknya yang tengah sedih dan terus menatap ke arah air itu berada, hingga suaminya hilang dan belum ditemukan.


"Mas, kamu ada di mana? Aku sangat merindukanmu. Aku yakin kamu masih hidup karena kamu jago berenang," batin Anisa karena ia berharap jika suaminya masih hidup, tapi insting seorang istri tidaklah pernah salah.


"An," ulang Yuda lagi karena Anisa tak ada tanggapan mengenai ajakan dari kakaknya.


"Kak, apa Suamiku ada kemungkinan masih hidup?" Arum tidak berani menjawab karena ia juga tidak mau berasumsi jika semua itu mustahil, tapi Yuda dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya. Berusaha menyakinkan sang adik jika kemungkinan iya, karena tidak mau semakin membuat Anisa terguncang oleh hilangnya Samuel.


"Doakan saja jika Samuel selamat, kamu jangan banyak pikiran biarkan semua ini ditangani oleh tim pencarian."


"Aku yakin Tuhan tidak akan setega itu padaku, karena Tuhan tahu jika anak ini masih membutuhkan sosok ayah." Di saat inilah hati Yuda merasa tercabik karena sebuah kalimat dari Anisa yang semakin membuat ngilu hatinya, nyeri, itulah yang dirasakan oleh Yuda.


Anisa sesekali mengusap air matanya yang jatuh tanpa diminta. Untuk kedua kalinya Anisa kehilangan sosok lelaki yang begitu berarti untuknya.


"An, kamu butuh istirahat. Kasihan bayi kamu jika terus-terusan seperti ini," kata Arum mengingatkan kembali.


Anisa tidak menanggapi, tapi tubuhnya memberi isyarat pada dua orang yang berada di masing-masing sebelahnya.

__ADS_1


Sesampainya di hotel, Anisa masih sama tanpa banyak bicara dan lebih banyak merenung memikirkan soal hilangnya Samuel, yang mana hingga kini belum mendapatkan keberadaannya di mana.


Sebelum kejadian pada malam hari Samuel memang sedikit aneh ketika berbicara. Mungkin itulah yang dinamakan sebuah firasat, ketika diri kita sedang berada di ujung tanduk. Anisa masih ingat saat Samuel mengatakan bahwa bayi dan juga dirinya harus sehat-sehat. Ketika terjadi sesuatu padanya, Samuel meminta jika Anisa tidak boleh banyak berpikir, karena tidak baik dengan kandungannya.


“An, sholat lah. Minta petunjuk Tuhan agar semua akan baik-baik saja, mintalah pada Sang Pencipta untuk melindungi Samuel di manapun dia berada, meski sekarang belum ditemukan.” Mendengar hal itu, Anisa semakin terisak dan rasanya tak sanggup lagi untuk bernapas, terasa berat seberat ujian yang Tuhan berikan kepadanya lagi.


“Apa salahku Kak, apa dosaku selama ini. Sampai Tuhan memberi aku cobaan yang begitu berat,” ucap Anisa yang sudah sesenggukan karena merasa jika ujian itu tak kunjung berhenti dan terus menerornya bagai bayang-bayang yang tak bisa dihindari.


“Tuhan punya rencana lain, ketika manusia diberi ujian maka Tuhan akan memberikan hak istimewa pada kita, yakinlah jika Tuhan tidak akan memberikan cobaan di batas kemampuan kita.” Anisa semakin menenggelamkan wajahnya di dekapan Yuda.


Sedangkan Arum yang melihat itu merasakan kesedihan yang semakin mendalam, ia tidak menyangka jika badai cobaan yang dihadapi oleh Anisa begitu besar. Hingga Arum tidak akan sanggup jika saja dirinyalah yang berada di posisi Anisa sekarang.


“Kamu kuat An, aku yakin jika kamu bisa melewati badai sebesar ini.” Arum hanya mampu berbicara dalam hati karena tidak mau mengganggu kakak beradik itu sedang saling menguatkan.


Hari ini adalah hari kedua di mana Anisa berada di kota S, sayangnya lagi-lagi pencarian yang sudah berjalan lima hari itu tidak menuai hasil yang memuaskan.


“Tuhan jika suamiku masih hidup, maka jaga dia dan pertemukan kami. Tetapi, jika semua ini berbalik maka terima dia dan beri tempat yang terindah untuk lelakiku, karena aku tahu jika engkaulah pemilik yang nyata daripada aku.” Usai sholat, Anisa tidak lupa berdoa dan meminta petunjuk di mana suaminya berada sekarang. Meski dengan keadaan yang berbeda sekalipun, ia akan berusaha menerima kenyataan pahit ini.


“An, kita makan yuk! Dari tadi pagi kamu belum makan apa pun. Kasihan anak yang ada di dalam perut kamu karena anak yang ada di dalam butuh asupan penuh,” ucap Arum yang mengingat jika anak yang ada di dalam kandungannya butuh asupan.


“Tidak An, sekarang lekas berdiri dan segera kita turun untuk makan.” Arum tidak mau tahu jika Anisa tetap harus makan walau dengan keadaan berduka sekalipun dan terus memaksanya.


Dengan rasa malas, akhirnya Anisa mengikuti Arum juga. Meski begitu apa yang dikatakan oleh Arum memanglah benar. Ia sudah kehilangan Ameera dan sekarang Anisa harus kehilangan suaminya untuk sekarang, dirinya tidak akan rela jika harus kehilangan anaknya yang masih di dalam kandungannya.


Selesai makan, Anisa berencana untuk kembali ke TKP, untuk melihat hasilnya. Siapa tahu di hari kelima ini ada kabar baik.


“Kak, setelah ini kita ke sana lagi.” Dengan sedikit memohon Anisa ingin melihat perkembangan di area laut.


“Iya, kita ke sana, tapi habiskan makanan kamu dulu.” Yang menjawab bukanlah Yuda melainkan Arum, karena jika menunggu suaminya maka pasti akan ditolak oleh Yuda, jadi lebih baik dirinya yang langsung mengiyakan.


Dengan lahap akhirnya Anisa menghabiskan makanannya. Yuda hanya bisa menatapnya penuh iba, karena ia yakin jika tim SAR tidak akan menemukan Samuel karena hari ini sudah hari kelima. Meski begitu ia juga begitu merasa sangat kehilangan oleh sosok yang berarti untuknya, karena sudah menganggap jika Samuel adalah malaikat penyelamat untuknya ketika terpuruk kala itu.

__ADS_1


Ketiganya sudah sampai di mana lokasi ketika para korban ditemukan.


“Pak, bagaimana dengan suami saya? Apa sudah ada yang menemukan, saya harap kalian semua berkata dengan jujur.”


Terlihat dua orang tengah menghela napas berat, karena dari hari pertama Samuel tak juga ditemukan, walau penyelam sudah mencarinya hingga ke dasar laut tapi hasilnya memang mengecewakan.


“Bu, ikhlaskan suami Anda. Kita yakin Tuhan sudah menempatkan Beliau di surganya,” ucap salah satu tim pencarian yang berusaha untuk membuat Anisa mengerti agar hatinya bisa ikhlas melepaskan kepergian Samuel, yang dinyatakan meninggal dan tubuhnya tidak ditemukan sampai detik ini.


“Tidak Pak, suami saya masih hidup. Saya yakin akan hal itu dan suami saya juga pandai berenang saya bisa menyakinkan,” ucap Anisa yang menolak jika suaminya sudah dinyatakan meninggal tanpa jejak.


“Bu, ini laut luas. Meski korban bisa berenang, tidak memungkinkan jika sudah dilahap oleh ikan besar sepert—.”


“Stop, saya tidak mau mendengarnya. Saya tidak mau mendengar jika suami saya dimangsa oleh ….” Anisa pun menggantung kalimatnya karena sudah tidak sanggup bibirnya berucap walau hanya satu huruf pun Anisa tak bisa.


“Rum, aku ikhlas suami sudah diambil oleh Tuhan, tapi setidaknya tolong perlihatkan jasadnya kepadaku.” Anisa meraung karena tidak bisa membayangkan jika benar suaminya tidak bisa melarikan diri ketika ikan buas tengah memangsanya.


“An, kuatkan hatimu. Aku tahu jika aku bukan berada di posisi kamu, tapi aku tahu jika kehilangan itu sakit.” Anisa semakin terisak ketika suaminya benar-benar pergi dari hidupnya.


Andai waktu bisa di ulang. mungkin waktu itu ia tidak akan membiarkan suaminya pergi untuk bekerja dengan jarak yang begitu jauh. Andai waktu itu Anisa tetap menahan Samuel, mungkin saja lelaki itu masih ada bersamanya dan akan hidup bahagia dengannya.


“Rum, kenapa perpisahan menyakitkan ini harus terjadi kepadaku. Aku lelah, aku tidak kuat dengan kehidupan yang sekarang aku jalani.” Anisa terus tergugu dalam tangisannya.


“Kita pulang ya karena jika kita masih di sini. Luka yang ada di dalam hatimu semakin menganga,” ajak Arum yang semakin tidak tega melihat keadaan Anisa yang terus seperti ini.


Anisa tidak menjawab, hanya ada air mata yang terus dikeluarkan. Orang-orang yang melihat Anisa yang sangat terpukul, ikut larut dalam tangisan yang semakin pecah.


Mereka tahu kehilangan itu sangat menyakitkan, tapi lebih sakit ketika ketika sebuah perpisahan dengan jalan yang tak ingin dirasakan seperti ini.


Pada akhirnya, pencarian di tutup, Tiga orang lima orang dinyatakan hilang tanpa jejak dikarenakan sudah memasuki hari ke delapan keadaan masih tidak berubah. Sedangkan Anisa dan Yuda beserta Arum kini telah kembali membawa duka yang teramat dalam.


Saat Anisa memasuki rumah, bu Susi langsung memeluk Anisa dengan begitu erat. Anak semata wayangnya telah meninggalkannya dengan cara yang seperti ini.

__ADS_1


“Ma, Samuel Ma, Samuel benar-benar meninggalkan aku.” Suasana semakin pilu ketika tangisan itu pecah.


“Iya Sayang, mama juga kehilangannya, tapi Tuhan lebih menyayanginya. Mama … mama tidak menyangka jika jalan perpisahan harus berakhir seperti ini!”


__ADS_2