
"Jangan membuatku penasaran, ada apa sih memangnya?" dengan alis terangkat Yuda mencoba mencari jawaban karena semuanya diam. Seakan masalah yang akan ia dengar membuatnya akan jantungan.
"Bu, apa tidak ada yang bisa segera menjelaskan semua ini?" ulang Yuda kembali.
"Tadi …." Bu Susi berhenti berbicara, rasanya tenggorakannya tidak mampu untuk mengeluarkan suara walau itu sekedar satu bait.
"Sam! Segera bicara," sergah Yuda pada Samuel.
Sedangkan Samuel hanya tertunduk lesu sembari menutup mukanya dengan kedua tangannya yang di topangkan ke dengkul karena merasa lelah dengan semuanya.
"Nak, Yuda. Bayi Anisa tidak dapat diselamatkan dan tadi jam enam Anisa baru saja dioperasi." Seketika Yuda merosot dan tidak mampu menahan tubuhnya. Rasanya semua tulangnya remuk saat mendengar calon keponakannya tidak dapat diselamatkan meski tim dokter sudah berusaha nyatanya pemilik nyawa tidak memberikan kesempatan untuk melihat dunia.
"Sekarang di mana ponakanku itu?" dengan pandangan kosong Yuda bertanya.
"Masih ada di ruangan dan besok akan di makamkan." Jawab bu Ning.
"Tuhan, kenapa engkau memberiku ujian yang begitu berat. Aku harus kehilangan anakku dan Anisa, Anisa masih belum sadar juga." Di dalam hati kecil, Samuel berbicara karena rasanya tidak sanggup saat anak yang dinanti-nanti kini pergi meninggalkannya.
Samuel tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia kini lebih memilih berjalan menatap tubuh Anisa yang lemah dengan berbagai alat di hidungnya.
"Sayang, aku mohon sadarlah. Aku tidak sanggup menyaksikan ini semua," batin Samuel yang kini telah remuk saat malaikat kecil yang ia harapkan telah tiada.
Yuda ikut menatap kaca yang mengarah ke arah tubuh Anisa, pada saat itulah Samuel berbicara dengan hati yang hampir menyerah dengan keadaan saat ini. "Yud, apa Anisa akan marah jika tahu calon anak kita tidak terselamatkan."
Yuda diam. Menimbang semua yang sudah terjadi, marah dan itu pasti. Tidak ada seorang Ibu yang rela jika anaknya ikut terseret dalam urusan para orang tuanya hingga mengakibatkan satu nyawa melayang.
__ADS_1
"Aku takut jika pada saat Anisa bangun. Hanya ada kebencian yang yang aku dapat," ucap Samuel lagi.
"Semua itu bukannya harus kamu pertanggungjawabkan, sekaligus resiko yang kamu ambil." Samuel tertegun saat mendengarnya, dalam pikirannya. Memang benar jika ia tidak membuat kesalahan mungkin semua ini tidaklah harus terjadi. Menyesal itu sudah pasti jika Samuel akan tahu berakhir seperti apa, mungkin saja dirinya tidak akan berlaku bodoh.
"Benar, andai aku tidak ceroboh mungkin kita semua akan menanti kelahiran calon anakku."
Malam yang yang sunyi telah dilalui oleh Samuel, bayang-bayang kesalahan terus terngiang-ngiang di pelupuk matanya. Meski sekarang sudah tengah malam, nyatanya lelaki itu masih tidak bisa,memejamkan matanya.
Kepergian calon anaknya sudah membuatnya terpukul, tapi yang lebih berat adalah ketika sosok istri yang tak kunjung bangun untuk melihat dunia. Hingga tanpa terasa pagi pun telah datang dan saatnya Samuel pergi untuk menidurkan putri mungilnya yang tak akan pernah bangun lagi di peristirahatan yang kekal.
“Sam, kamu kuat. Sekarang cucu mama hanya butuh doa dari kamu,” kata bu Susi yang mencoba memberi semangat pada Samuel.
“Iya, Ma. Aku ikhlas jika semua ini yang terbaik untukku dan Anisa, tapi apa Tuhan tidak bisa memberiku kesempatan untuk merawatnya? ujar Samuel dengan tatapan sendunya pada sosok bayi mungil yang kini tengah berada di gendongannya.
“Tuhan punya rencana lain yang kita tidak bisa menebaknya. Jadikan semua ini pelajaran agar kamu bisa lebih bijak lagi dalam berpikir karena kamu sudah menerima karmanya atas perbuatan kamu,” ucap bu Susi dan kini Samuel hanya diam membisu seakan perkataan sang Ibu, adalah sebuah tamparan untuknya.
“Jangan meminta maaf pada mama, minta maaflah pada Anisa karena dia yang sudah kamu lukai dengan luka hati yang telah kamu torehkan kepadanya.
Lagi-lagi Samuel hanya diam dan tidak bisa menjawab apa yang sudah dikatakan oleh Bu Susi.
beberapa saat kemudian, Samuel sudah berada di dalam makam dan bayi mungil berjenis perempuan kini telah tidur dengan nyenyak.
“Batu nisan ini adalah kenangan tentang kesalahan papa, selamanya akan papa ingat jika kehilangan sosok yang kita sayangi telah membuat hati hancur.” Samuel terus mengusap nisan tersebut dengan sangat lembut dan sudah terdapat nama yang telah diberikan untuk anaknya, yaitu Amera.
“Sam kita pulang. Sebentar lagi akan turun hujan,” kata Yuda.
__ADS_1
“Aku masih ingin di sini Yud, menemani Amera karena kasihan jika ditinggal sendiri.” Jawab Samuel dengan tangan yang terus memegang boneka untuk diletakkan di atas gundukan tanah yang masih basah.
“Amera hanya butuh doa, Amera hanya ingin orang tuanya kuat dan tidak cengeng.” Mendengar hal itu, Samuel langsung mengusap air matanya yang ikut serta mengantarkan kepergian Amera.
Benar apa yang dikatakan oleh Yuda, jika semua sudah terjadi dan Samuel harus bisa menanggung resiko atas kesalahannya. Benar apa yang dibilang oleh Yuda, jika Amera hanya membutuhkan doa dan mengikhlaskan meski terasa berat.
“Maaf jika aku terlalu cengeng,” kata Samuel.
“Lelaki juga bisa rapuh dan dengan meluapkan emosinya dengan cara menangis, jadi hal itu sudah wajar. Sekarang kita kembali ke rumah sakit,” ajak Yuda karena rintik-rintik hujan telah membasahi dedaunan yang ada disekitarnya.
Benar saja, selepas pulang dari makam, kedua lelaki tersebut langsung datang ke rumah sakit. Di mana Anisa terbaring dan belum sadarkan diri.
Pukul 10 siang, keduanya sudah sampai di lobby dan Yuda sempat melihat jika seseorang yang tengah berjalan layaknya maling itu, adalah Dirga karena postur tubuh dan cara berjalannya cukup membuktikan.
“Masih punya nyali juga dia,” batin Yuda karena dengan beraninya lelaki itu datang ke rumah sakit dan tentunya untuk Anisa.
“Sam, bendadak Aku kebelet jika aku harus sampai di sana, rasanya tidak mungkin jadi aku akan pergi toilet.” Samuel yang mendengar hanya mengangguk dan setelah itu ia pun terus berjalan, untuk melihat keadaan Anisa.
Sedangkan Yuda yang semakin yakin jika itu adalah Dirga, lantas dengan sengaja membuntutinya karena sepertinya peringatan semalam tidak digubrisnya.
Yuda terus mengikuti langkah dari lelaki tersebut hingga sampai di parkiran dan tepat saat hendak masuk mobil. Yuda buru-buru mencekalnya karena apa yang ada di pikirannya adalah benar.
“Tunggu!” panggil Yuda.
“Apa maksud dan tujuan kamu datang ke sini?” tanya Yudah dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Maka maksudnya? yang jelas aku ke sini berobat. Apa kamu buta sampai tidak bisa melihat ini tempat apa,” kata pria yang kini tengah tersenyum sinis pada Yuda.