Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
12. Sekecil apapun, pada akhirnya akan terbongkar.


__ADS_3

"Anisa pun langsung bersiap-siap untuk pergi dan mencari tahu. Akan apa yang dimaksud oleh pesan tersebut.


Kali ini dirinya membawa motor. Kebetulan sepeda matic kesayangannya telah selesai di servis, jadi memudahkan dirinya untuk pergi kemanapun ia pergi.


Anisa terus mencari alamat yang ia terima via pesan singkat, dan tepat di kawasan perumahan Nusantara. Sesuai namanya, dan tinggal rumahnya saja yang belum ia temukan.


Anisa terus mencari hingga menemukan rumah minimalis dan sebuah mobil yang sangat ia kenal.


"Itukan mobil ...." Anisa menghentikan ucapannya karena melihat sosok wanita hamil yang tengah di tuntun oleh lelaki yang berstatus suaminya.


Sebuah pemandangan yang begitu melukai hatinya.


"Siapa wanita itu? Dan kenapa Mas Dirga terlihat bahagia saat dengannya. Apa aku harus menghampirinya? Tunggu! Sepertinya ini waktu yang tidak tepat," gumam Anisa karena rencananya untuk mencari tahu akan gagal, jika ada Dirga yang belum menghilang dalam pandangannya.


Mata yang sudah berkaca-kaca. Kedua tangan Anisa terkepal hingga kulitnya terluka akan kuku-kukunya yang tertancap di kulit, tapi semua itu tak sebanding dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


Selama ini Anisa mencoba untuk percaya pada Dirga. Namun, pada kenyataannya. Justru lelaki tersebut membuatnya kecewa, dan merasa dikhianati. Entah apa kurangnya sampai suami yang sangat ia percaya nyatanya tega bermain hati.


Beberapa saat kemudian.


Dirga sudah pergi dengan mobilnya. Tidak lupa mencium perut buncit pada wanita yang tengah melambaikan tangannya itu.


Lalu sekaranglah Anisa akan bertanya dan membongkar semua yang tidak ia ketahui selama ini. Sebuah fakta yang mengejutkan hingga tak mampu lagi, untuk Anisa bernafas walau sejenak.


"Mbak, tunggu!" sebuah panggilan membuat perempuan tersebut seketika berhenti, dan menoleh menatap lekat ke arah Anisa.


"Darimana kamu tahu rumahku? Atau jangan-jangan kamu membuntuti suamiku ya, jawab apa itu betul." Anisa tak tahu harus berkata apa, nampaknya perempuan itu sudah tahu siapa dirinya, dan sebutan 'Suami' semakin membuat Anisa bingung.


"Oh ya, sampai lupa. Kenalkan aku Elsa, istri muda dari suami kita." Anisa bagaikan mendapat sebuah tamparan saat perempuan yang bernama Elsa, mengaku jika istri dari Dirga dan itu artinya dia adalah adik madunya.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu?" tegas Anisa dengan kedua mata menatap tajam pada perempuan yang ada dihadapannya.


"Jangan pura-pura bodoh Mbak, sepertinya kamu memang harus tau kebenarannya bukan, maaf aku tidak bermaksud merebut suami kamu? Tapi karena kamu mandul. Makanya Mas Dirga menikahiku," ucap Elsa dengan bangga.


"Aku tidak mandul, jika yang dinyatakan mandul itu bukanlah aku, tapi Mas Dirga!" sergah Anisa yang tak terima jika dirinya di cap sebagai perempuan mandul.


"Apa kamu menuduh jika bayi ini bukan anak Mas Dirga? Lalu kamu juga merasa jika aku sudah berbohong!" kata Elsa berapi-api.


"Aku tidak mengatakannya bukan, tapi kamu sendiri yang berkata. Besar kemungkinan iya, jika kamu mengatakan hal seperti itu." Jawab Anisa dengan berani.

__ADS_1


Saat ini Anisa tidak boleh menangis. Jika tidak perempuan tersebut akan semakin bahagia karena merasa sudah mengalahkan Anisa.


"Aku pastikan Mas Dirga akan menceraikan kamu? Dan menjadikan aku satu-satunya, karena selama lima bulan aku cukup sabar saat Mas Dirga tidak dapat menemaniku, dan lebih menghabiskan hari-harinya bersama wanita mandul sepertimu ...."


"Kamu!" tangan yang sudah siap menampar pipi mulus Elsa, kini digenggam erat dan masih berada di atas angin.


Dengan dada yang bergemuruh. Anisa memilih pergi untuk menghindari kemarahan yang tak terelakkan.


Disepanjang jalan. Anisa terus menjalankan motornya tanpa memikirkan akan keselamatannya, hingga sebuah suara pun diabaikan.


"Nisa! Berhenti ... Nis, tolong berhenti!" pinta seseorang dari dalam mobil.


Seakan tuli, Anisa tidak memperdulikan akan teriakan tersebut.


"Yuda, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Nisa!" kata Samuel dengan rasa kekhawatiran.


Akhirnya terpaksa Yuda mengambil jalan pintas dan.


Ciiiiiit.


Mobil itu sukses menghentikan motor Anisa, dan Samuel pun langsung turun.


"Apa ini yang kamu maksud akan momen spesial itu?" tatap Anisa pada Samuel.


Yah, tadi pagi yang mengirimkan pesan tersebut adalah Samuel. Ia sengaja melakukan hal itu, supaya Anisa bisa membuka mata. Jika lelaki yang bernama Dirga bukanlah lelaki yang pantas untuk dipertahankan.


"Maaf, aku hanya tidak mau jika kamu semakin terluka." Jawab Samuel.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" tanya Anisa lagi.


"Dari beberapa waktu lalu. Aku tidak mau sampai kamu terluka terlalu dalam," kata Samuel lirih.


"Aku ingin sendiri dan sebaiknya kamu pulang," titah Anisa pada Samuel.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri. Kamu adalah perempuan nekat, aku takut jika terjadi sesuatu padamu?" sampai kapanpun Samuel tidak akan rela jika wanita yang dicintainya terluka barang sekecil apapun itu.


"Yuda! Bawa motor Anisa, biarkan aku membawa mobilnya sendiri." Samuel dengan cepat menyuruh Yuda membawa motor milik Anisa.


"Jangan memaksaku untuk ikut denganmu! Biarkan aku pulang sendiri karena aku masih cukup waras untuk melakukan tindakan bodoh," tolak Anisa yang bersikeras agar Samuel tak ikut campur di kehidupannya.

__ADS_1


"Tidak, kamu akan tetap ikut denganku dan tidak ada kata penolakan." Ucapan Samuel semakin membuat Anisa bertambah marah.


"Apa kamu bisa, untuk tidak ikut campur urusanku?" ujar Anisa.


"Apapun yang berhubungan denganmu, maka aku wajib masuk." Jawab Samuel enteng.


"Memangnya siapa kamu? Bisa-bisanya berkata seperti itu!" sungut Anisa.


"Aku, Samuel. Lelaki yang tidak akan rela jika wanita yang dicintainya terluka ...,"


PLAKKK!


"Ingat, aku sudah bersuami." Sekali lagi Anisa memberikan penekanan pada Samuel.


"Aku tidak peduli meski kamu sudah bersuami, karena aku pastikan jika kamu akan menjadi milikku."


...........


Setelah perdebatan cukup lama, Anisa akhirnya mau ikut dengan Samuel. Lalu memintanya untuk berhenti di depan rumahnya.


Sesampainya di dalam. Anisa tiba-tiba saja merasakan sakit di kepalanya. Mungkin diakibatkan sedari tadi dirinya menangis. Hingga tanpa sadar, Anisa memejamkan mata untuk beberapa jam.


Laman-laman, Anisa mendengar suara dari bawah. Sehingga membuatnya sedikit terganggu oleh suara tersebut.


"Mas Dirga, tumben jam segini sudah pulang?" tanya Anisa pada dirinya sendiri.


Rasa nyeri yang ada di kepalanya sedikit reda. Meski masih terasa dan Anisa tidak memperdulikan akan hal itu.


"Tunggu-tunggu! Bukannya itu Arumi?" Anisa yang sangat penasaran. Memilih untuk segera turun, agar tahu diantara keduanya sedang ada masalah apa.


Di bawah.


"Arumi, Mas Dirga! Ja-di semua itu benar?"


"Rum, selama ini kamu tahu juga, akan rahasia sebesar ini? Tega kamu! Apa maksud kamu berbuat sekejam terhadapku?"


"An—."


"Berhenti berbicara!" pinta Anisa.

__ADS_1


__ADS_2