Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
62. Mencari tahu


__ADS_3

Mendengar Arum berteriak, membuat Samuel dan juga Yuda langsung berhenti. Terlebih lagi Yuda yang masih emosi karena penuturan dari Samuel barusan yang menjelaskan akan kejadian yang hampir merenggut Anisa.


"Apa dengan cara kalian adu tonjok semua masalah akan selesai? Apa dengan adu argumen akan membuat Anisa bangun? Sekarang jawab dan jangan hanya diam saja!" gertak Arum yang tidak bisa lagi menahan akan kekesalannya pada dua pria tersebut yang ia rasa terlaku kekanak-kanakan


"Lalu kamu Sam, apa yang terjadi di antara kalian sehingga Anisa bisa seperti ini? Dan aku butuh penjelasan dari kamu." Arum lantas menatap Samuel untuk meminta sebuah pengakuan, kenapa semua ini bisa terjadi pada sahabatnya.


"Sepulang dari dari periksa Anisa meminta bakso. Di sana kita berdua tanpa sengaja bertemu dengan Dirga lalu ...." Samuel rasanya tidak sanggup untuk menjelaskannya, terlalu sesak saat melihat Anisa terpental jauh dan terseret oleh pemotor yang melaju kencang.


"Jelaskan." Desak Arum.


Akhirnya Samuel dengan hati yang rapuh mencoba menjelaskan awal terjadinya peristiwa yang tejadi. Hanya karena pertemuan yang tidak di sangka-sangka, kejadian yang tak terelakkan terjadi dan andai Anisa tidak memaksa turun mungkin kesialan itu tidak datang, andai Samuel tidak menuruti permintaan Anisa mungkin hal ini juga tidak akan terjadi.


Plaaaak.


Sebuah tamparan mendarat di pipi Samuel, entah sudah ke-berapa kali ia menerima pukulan hanya karena satu kesalahan yang memang sulit untuk dimaafkan. Samuel sadar jika kesalahan yang ia perbuat hampir membuat nyawa melayang dan Anisa sekarang tengah bertaruh nyawa berada di ruangan dengan berbagai alat.


"Dasar lelaki bodoh! Hanya karena sebuah tatapan kamu bisa menuduh Anisa yang tidak-tidak. Coba pikirkan, semua itu sudah berlalu meski mereka mantan aku yakin jika Anisa sudah melupakan masa lalunya, yang ia anggap tidak penting di dalam hidupnya." Sekarang giliran Arum yang meluapkan akan kekesalannya pada Samuel karena kebodohan dari Samuel hingga membuat Anisa tidak berdaya di dalam ruangan, sendiri tanpa teman sahabatnya tengah berjuang melawan takdir.


"Sam, apa kamu ingat nopol motor itu?" tanya bu Susi secara tiba-tiba.


"Memangnya ada apa Tante, bukankah itu murni kecelakaan walau pada akhirnya si penabrak harus bertanggung jawab?" tanya Arum yang sekarang tengah terfokus oleh pertanyaan Bu Susi.


Tidak hanya itu. Samuel Bu Ning, dan juga yuda, kini tengah menatap Bu Susi yang secara tidak sengaja membicarakan soal motor yang sempat menabrak Anisa.


Belum sempat Bu Susi menjelaskan, tiba-tiba seorang dokter tengah berjalan untuk menghampiri. "Suami dari Bu Anisa!" dokter itu pun memanggil Samuel dan lelaki itu pun langsung kembali menyapa sang dokter.

__ADS_1


"Iya Dok, bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Samuel karena saat ini ia hanya bisa berharap jika separuh jiwanya bisa segera sadar dari masa kritisnya.


"Bisa ikut saya!" kata dokter tersebut.


"Bisa Dok, mari." Samuel pun langsung mengajak dokter Alex pergi untuk membicarakan soal keadaan Anisa.


"Jadi, bagaimana, Dok?" ulang Samuel yang pada dokter.


"Bu Anisa harus di operasi karena ada penyumbatan di kepalanya dan jalan satu-satunya adalah operasi," terang dokter Alex.


Dengan separuh ketegaran yang dimiliki oleh Samuel, ia hanya bisa pasrah dan meminta yang terbaik. Asalkan Anisa bisa sembuh maka Samuel pun menuruti perkataan dokter.


"Baik, jika Bapak setuju maka segera isi data-datanya biar tim kami segera bisa melakukan tindakan operasi." Samuel mengangguk saat dokter menerapkan prosedur tersebut.


"Ya Allah, sembuhkan istri hamba. Hamba tidak sanggup saat kehilangan istri yang sangat hamba cintai. Andai semua itu terjadi padaku, Hamba ikhlas menggantikannya." Samuel hanyalah seorang manusia biasa, disaat hatinya hancur dan rapuh maka air mata akan menemani kesehatannya.


"Sam, bagaimana dengan Anisa, adikku akan sembuhkan dan adikku juga sudah sadar?" dengan penuh harap Yuda terus mencerca Samuel akan kabar yang diberikan oleh dokter tersebut saat Samuel kembali dan Yuda langsung menghentikannya dengan sebuah peranyaan.


Hanya ada gelengan kecil yang diberikan oleh Samuel dan dengan hati yang berat, Samuel seharusnya memang memberitahu tentang yang terjadi baru saja. "Anisa harus di operasi karena ada penyumbatan di kepalanya." Dengan muka yang sudah babak belur di tambah bibir yang dipenuhi oleh darah yang mengering Samuel menjawab.


Sedangkan dilain tempat.


Seorang wanita dengan hati yang bahagia ia tertawa lepas. Namun, wanita itu masih kurang puas karena sesuatu yang diincarnya ternyata masih diposisi aman. Wanita itu belum merasa menang jika wanita yang telah berakhir di rumah sakit tersebut masih bernapas.


"Untuk kalian dan ini bayaran beserta bonusnya."

__ADS_1


"Ets ... apa kalian yakin jika tidak ada yang mengincar kalian saat ke sini?" tanya wanita itu yang tengah memastikan jika semua aman terkendali.


"Kita yakin Bos, kalau semua memang sudah aman dan tidak akan ada yang membuntuti kami." Kedua pria yang di tugaskan untuk mencelakai seseorang dengan yakin menjawab.


"Bagus, sekarang kalian bisa pergi dan ingat jangan pernah menyeretku jika terjadi sesuatu pada kalian." Ucapan dari wanita itu seketika mendapat anggukan dari anak buahnya.


Hahahahahahaha.


Wanita itu tertawa dengan tawa lepas, tidak lupa juga sebotol bir tengah di tuang ke dalam gelas untuk merayakan keberhasilan dari rencananya, tanpa susah payah mengotori kedua tangannya dan ia yakin sekali. Bahwa semua akan aman lalu cukup orang yang ia suruh jika terjadi sesuatu.


Sedangkan Arum dan Yuda kini sudah berada di kantor polisi untuk memenuhi panggilan perkara kecelakaan tersebut karena Samuel sudah cukup lelah, jika harus dimintai keterangan.


"Berdasarkan hasil dari keterangan CCTV dan saksi dari warga yang melihat kejadian tersebut. Sepertinya ada motif kesengajaan yang dilakukan, sedangkan dari pantauan CCTV juga, pemotor itu melaju pada saat Bu Anisa usai turun dari mobil." Mendengar hal itu, kini kedua tangan Yuda sudah terkepal dan emosi yang semakin membuatnya tidak sanggup lagi untuk mencari pelakunya.


"Kalian ikutlah dengannya untuk mengecek hasil rekaman yang berada di jalan siang tadi," ujar polisi pada Yuda dan juga Arum.


"Baik Pak, kami akan memeriksanya siapa tahu kita berdua mengenali pelaku karena keterangan dari Bapak membuktikan, bahwa semua ini murni disengaja." Jawab Yuda dengan wajah yang tidak bisa lagi untuk menahan kemarahan.


"Apa mungkin adik Bapak punya musuh?" Arum dan Yuda tertegun saat sebuah pertanyaan melayang bebas di bibir polisi tersebut.


"Rum, apa Anisa pernah punya musuh?" kini pertanyaan itu beralih kepada Arum.


"Tidak Yud, setahuku Anisa tidak punya musuh karena aku sangat mengenalinya." Jawaban Arum saat ini membuat Yuda bertanya-tanya dalam hati. Jika memang Anisa tidak punya musuh, lantas siapa orang yang berbuat sekeji itu pada adiknya? Seakan semua menari-nari di atas kepalanya.


Saat ini, keduanya sudah berada di rungan pengintai dan petugas itu pun memperlihatkan kejadian tersebut dan dengan dada yang bergemuruh Yuda tidak bisa hanya berpangku tangan, karena ia ingin menangkap dua orang yang ada dibalik rekaman.

__ADS_1


__ADS_2