
Dengan sejuta rasa penasaran, akhirnya Arum memilih untuk masuk. Namun, sebelum itu ia akan menunggu Samuel setelah puas dengan Anisa yang tengah berbincang karena Arum juga tidak mau mengganggunya.
Tak lama kemudian, terlihat Samuel berdiri dan inilah kesempatan untuknya masuk. Untuk menyaksikan sendiri apa yang telah dikatakan oleh Yuda tentang Anisa yang lupa ingatan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk." Terdengar suara Anisa membalas ketukan pintu yang dilakukan oleh Arum.
"Assalamualaikum," ucap Arum memberi salam.
"Waalaikumsalam," timpal Anisa.
"An, bagaimana keadaan kamu?" tanya Arum yang langsung mendekat ke arah Anisa.
"Baik, eum … ngomong-ngomong kamu siapa, ya?" seketika Arum melotot pada saat Anisa bertanya siapa dirinya.
"Jadi, semua itu benar kalau memang Anisa amnesia dan tidak ingat siapa aku?" dalam hati Arum bertanya-tanya karena memang Anisa tidak tahu siapa wanita yang ada di depannya kini.
"An, apa kamu melupakan aku? Aku Arum sabahat kamu," ujar Arum dengan menunjuk dirinya sendiri karena merasa tidak terima.
"Aku memang tidak mengenalmu, apa kita pernah bertemu?" tanya Anisa karena menurutnya Arum adalah perempuan dengan sok kenal.
"An, coba ingat-ingat. Kita berteman sejak di bangku SMP dan sampai kamu terbaring di sini pun aku masih teman kamu," kata Arum dan berusaha untuk membantu Anisa agar ingat kepadanya.
Anisa yang kala itu tengah tengah menatap Arum dengan sangat intens, dengan tatapan penuh selidik dan dengan mimik muka yang serius nyaris tanpa ekspresi, tapi pada saat tatapan itu berhenti. Terdengar erangan yang begitu menyayat hati saat Arum mendengarnya.
"Argh … sakit! Kepalaku sakit …," teriak Anisa dengan kedua tangan sudah berada di atas kepala dan memegangnya sangat erat.
Samuel yang awalnya berada di kamar mandi dan mendengar sebuah suara penuh kesakitan. Akhirnya keluar dengan langkah tertatih karena tidak mau jika sampai Anisa mengalami kejadian menyakitkan lagi.
"Anisa, Sayang! Kamu kenapa?" tanya Samuel dengan perasaan khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Kepalaku, tolong … sakit," keluh Anisa karena kini wajahnya kembali pucat dan rasa sakit itu kian menjadi.
Saat Samuel ingin memeluk Anisa dan membawanya ke dalam pelukan. Tiba-tiba Arumi Yuda, dan juga Dokter Alex telah masuk di ruangan Anisa.
__ADS_1
"Bu, tenang!" kata dokter yang terus berusaha untuk menenangkan Anisa.
"Sakit, Dok. Ini sangat sakit," kata Anisa yang kini semakin pucat serta keringat sudah bercucuran.
"Iya, sekarang berbaringlah saya akan memberikan obat untuk anda." Seorang suster sudak masuk dengan membawa nampan yang berisikan obat dan lain sebagainya.
Setelah suntikan diberikan, Anisa mulai melepaskan kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya mulai melemah dan dengan perlahan mata pun kembali terpejam.
"Dok, obat apa yang diberikan pada Anisa?" tanya Samuel karena ia takut jika akan memberikan efek kepada istrinya.
"Jangan khawatir Pak, suster hanya memberikan obat penenang supaya Bu Anisa tenang dan tidak kesakitan. Bukankah sudah saya bilang jika jangan memaksanya untuk mengingat sesuatu yang tidak dapat di capai oleh syarafnya dan hal itu akan berbahaya, tapi kenapa hal itu justru kalian lakukan?" Dokter Alex sudah memberi peringatan agar tidak membuat Anisa memaksa syarafnya bekerja hanya untuk mengingat memori masa lalunya, sayangnya Arum tidak tahu akan hal itu dan kini semakin merasa bersalah.
"Maaf Dok, karena keteledoran saya." Arum tertunduk karena tanpa sengaja sudah membuat Anisa tersiksa lagi.
"Boleh kalian melakukan hal itu, tapi … tidak bisa secara keras membuatnya memaksa untuk mengingat kalian. Semua butuh kesabaran jadi saya harap lalukan semuanya dengan benar, tanpa menyiksa pasien lagi." Dokter Alex pun terpaksa menegur mereka, karena tidak mau jika Anisa semakin sulit disembuhkan jika jaringan otaknya dipaksa untuk mengingat, kehidupan di masa lalunya.
"Baik Dok, terima kasih untuk informasinya."
"Kalau begitu saya izin pamit," sahut pria berjas putih dan ia pun langsung pergi.
"Sam, jadi benar kalau Anisa lupa ingatan?" tanya Arum.
"Kalian ada foto pernikahan kan, coba saja tunjukan dengan perlahan."
"Iya, benar apa yang dikatakan oleh Arum." Yuda pun ikut menyahut.
"Tidak semudah itu Ferguso. Aku sudah mencobanya dan mau dengar jawaban Anisa!"
"Memangnya apa?" ucap Arum dan Yuda bersamaan.
"Katanya aku merekayasa semua itu dan Anisa justru menamparku. Apa kalian puas!" kata Samuel yang langsung pergi karena ia tahu. Bahwa jika terus berada di tengah-tengah antara Arum dan Yuda, maka hanya ada olokan yang didapat.
Arum pun yang tak mampu menahan tawa, akhirnya ia keluarkan hingga membuat perutnya sakit.
Hari-hari yang dilewati Samuel sudah cukup membuatnya tidak berdaya, karena baru saja menikah dengan usia tujuh bulan. Sayangnya keberuntungan belum berada di pihaknya. Apalagi sekarang yang mana dirinya harus terpisah oleh sang istri. Entah sampai kapan Samuel bisa bersatu dengan wanita yang berstatus istrinya, tapi tidak dengan hati dan pikirannya.
Samuel yang berada di balkon. Mengenang semuanya yang pernah terjadi di tempat itu.
Sedangkan Anisa sendiri kini telah tinggal dengan Yuda, yang mana lelaki itu telah berhasil membuat Anisa yakin jika dirinya adik dari Yuda.
__ADS_1
"An, kenapa tidak tidur. Ini sudah larut malam?" Yuda yang tengah bertanya, akhirnya ikut duduk di samping wanita berkerudung krem itu.
"Belum ngantuk Kak, nanti kalau aku sudah mulai mengantuk akan pergi ke kamar." Jawab Anisa yang Yuda rasa jika ada sesuatu pada adiknya.
"Apa ada masalah?" tanya Yuda kembali.
Anisa menggeleng, lalu sejurus kemudian ia kembali menatap langit-langit.
"An, jika ada masalah. Coba katakan siapa tahu kakak bisa membantumu," ucap Yuda karena ia yakin jika Anisa tengah ada masalah. Sayangnya wanita itu sepertinya enggan untuk bicara.
"Tidak Kak, sama sekali tidak ada masalah." Jawab Anisa dengan yakin.
"Ya sudah, ingat An, masalah tidak akan selesai jika tidak segera dipecahkan." Mendengar hal itu, Anisa pun terdiam dan entah apa yang akan dikatakan olehnya karena Anisa masih terlalu bingung untuk mengatakannya.
"Kakak tenang saja, aku hanya merasa lelah dan sayangnya belum bisa tidur." Anisa terpaksa berbohong karena tidak mau jika Yuda terus memikirkannya. Jadi, untuk saat ini cukuplah dirinya saja yang mengetahui.
"Baiklah, kakak mau istirahat dan kamu juga jangan lupa untuk segera tidur." Tidak ada jawaban, Anisa hanya tersenyum menanggapi kecerewetan dari Yuda.
Esok pagi.
Di pagi yang cerah ini. Saat Anisa hendak keluar, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh sosok Samuel yang sudah berdiri di depan pintu.
"Astaghfirullah!" Anisa yang terkejut seketika mengelus dadanya.
"Maaf Nis, apa Yuda ada?" tanya Samuel karena jalan inilah satu-satunya yang bisa ditempuh dan mencari alasan agar Samuel bisa sering melihat Anisa.
"Ada, orangnya ada belakang." Jawab Anisa datar.
Sejenak Samuel menatap penampilan Anisa dan saat berhenti di kedua tangannya. Ia melihat tas belanjaan dan itu berarti Anisa akan pergi ke pasar, lalu sekaranglah kesempatan Samuel untuk dapat menemani wanita yang kini terlihat rapi dan wangi Vanilla.
"Terus kamu mau ke mana? Kok bawa tas belanjaan segala?" tanya Samuel basa-basi.
"Oh, ini mau ke pasar. Stok belanjaan di rumah habis jadi saya mau ke pasar," kata Anisa.
"Bisakah kamu tidak se-formal itu, kita sudah sering ketemu. Lagian kamu juga bukan karyawanku jadi biasakan untuk berbicara sampai," protes Samuel karena menurutnya panggilan 'Saya' kurang enak terdengar.
Anisa nampak ragu untuk menjawab dan sekarang hanya bisa diam, tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakannya.
"Nanti saya pikirkan karena saya masih harus ke pasar."
__ADS_1
"Tunggu!"