
"Anisa," ucapnya lirih.
Lalu, dua wanita dengan generasi yang berbeda itu pun lantas mengikuti telunjuk Dirga, mantan suami Anisa yang kini tengah datang bersama Ibu dan istrinya.
"Itu beneran Anisa kan, Dir?" tanya bu Marina yang memastikan jika penglihatan Dirga tidak salah.
"Tidak Bu, karena benar yang aku lihat adalah Anisa." Jawab Dirga pada Bu Marina.
"Mas mau ke sana?" tanya sang istri yang bernama Laras pada Dirga saat ini.
"Jika kalian tidak keberatan," sahut Dirga.
Kedua wanita itu menggeleng dan bertanda sama sekali tidak keberatan, dengan keputusan Dirga yang ingin menghampiri Anisa.
Sedetik kemudian.
"Assalamualaikum, An!" sapa sosok lelaki yang tengah berdiri tepat di depan meja. Sontak saja Anisa dan Samuel mendongakkan kepalanya.
"Waalaikumsalam," timpal Anisa dan juga Dirga.
Sesaat betapa terkejutnya Samuel melihat siapa yang datang menyapa.
"Dirga!" sapa balik Samuel.
"Mas, kamu kok sudah ada di sini?" tanya Anisa karena tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan setelah acara pernikahannya dulu.
"An, ibu minta maaf karena pernah menyakiti kamu." Anisa langsung beralih menatap wanita yang sedang menundukkan kepalanya.
Anisa tersenyum dan sama sekali tidak menampilkan akan rasa sakit hati, ketika dia yang dulu pernah disakiti dan dihina. Ketika dulu direndahkan hanya karena sebuah perbedaan dengan status kasta.
"Sudahlah Bu, itu sudah berlalu dan aku juga sudah melupakannya." Anisa menjawab dengan seulas senyuman yang terus terbit di sudut bibirnya. Bahwa dirinya sudah melupakan akan masa lalunya yang kini sudah dibuang jauh-jauh olehnya.
"Kalian mau makan atau mau...." Anisa berhenti bicara karena Samuel langsung memegang pinggangnya.
"Oh ya, Saya dan Anisa mau pulang karena kita kita juga sudah selesai makan."
__ADS_1
Anisa pun langsung menyadari bahwa ada perubahan pada Samuel dan Anisa memaklumi karena biar sudah mantan, tapi tidak sedekat itu juga, tapi kali ini raut wajah sang suami terlihat tidak nyaman.
"Bu, kita mau pamit dan kalian selamat menikmati ya, sampai ketemu di lain kali." Anisa langsung berdiri dan dengan sopan izin pulang pada mantan mertuanya yang kini sudah siap untuk meletakkan bokongnya di kursi.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Pesan dari bu Marina.
Sedangkan Samuel sedari tadi hanya diam tanpa mengajak Anisa berbicara, pada akhirnya Anisa lah yang harus membuka percakapan tersebut. "Sayang, kamu kenapa dari tadi diem terus?" Anisa bertanya dengan nada lirih, karena sedari pulang dari kedai bakso. Sikap dan wajah Samuel telah menyimpan perubahan, irit bicara lalu selama perjalanan hanya ada keheningan menghiasi mobil yang mereka tumpangi.
"Apa aku harus menjelaskannya, sedangkan kamu tahu apa yang terjadi." Anisa yang mendengar hal itu semakin dibuat bingung, karena memang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Samuel.
"Mas, jika kamu tidak memberi penjelasan mana aku tahu!" terang Anisa dengan penuh selidik dan mempertanyakan soal kesalahan apa yang ia perbuat.
"Jangan pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi di dalam kedai tadi. Ingat bahwa kamu sudah bersuami," dengan tiba-tiba Samuel berucap seperti itu dan dengan nada sinis ia juga menekankan Anisa bahwa sudah bersuami.
Sedangkan Anisa masih dibuat bingung dengan pernyataan Samuel, yang dirasa kurang masuk akal. Tidak ada angin tidak ada hujan dengan tiba-tiba Samuel menuduh bahwa Anisa masih memiliki rasa pada mantannya, bukankah itu hal konyol.
"Baiklah, jika aku memang salah aku pun minta maaf, tanpa tahu apa yang tejadi hingga membuat kamu marah. Sekarang coba katakan di mana letak kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya," cerocos Anisa panjang lebar karena ia tidak tahu sama sekali dengan ucapan suaminya, sampai bisa semarah ini.
"Apa pantas seorang lelaki yang sudah menatap milik orang penuh kekaguman? Apa pantas seorang wanita yang juga bersuami tersenyum manis pada pria lain!"
Anisa langsung berkaca-kaca saat mendengar kalimat yang menyakitkan dari mulut Samuel. "Aku hanya tersenyum ramah, apa itu salah! Lagian kita sudah tidak ada hubungan. Kenapa kamu harus membahas ke semua akar," kata Anisa karena memang senyuman itu bukanlah senyuman tentang perasaan, melainkan senyuman atas sikap yang ia miliki terhadap semua orang.
"Kamu tidak ada perasaan, sedangkan lelaki itu masih menyimpan perasaan padamu!" tegas Samuel yang seketika membuat Anisa tertegun.
Anisa tidak menyangka jika pertemuan dengan mantan suami dan mertuanya, mengakibatkan salah paham dengan suaminya.
"Mas, aku rasa kamu sudah salah paham. Mantan suamiku juga sudah menikah jadi jangan membuat asumsi yang berlebihan," ujar Anisa karena apa yang dikatakan adalah benar, bukankah Dirga sudah beristri lantas kenapa suaminya masih saja curiga.
"Ingat An, aku lelaki jadi tahu tatapan suka dan tidak pada wanita. Apalagi kamu pernah berumah tangga dengan lelaki itu," ketus Samuel yang masih menyimpan amarah pada pertemuan tadi.
"Apa kamu juga masih menyimpan rasa padanya—."
"Stop, Mas ... Aku seorang wanita yang masih punya harga diri! Aku juga sudah bersuami dan tahu batasannya. Jangan hanya karena aku memberikan mereka senyuman lantas kamu menuduhku yang tidak-tidak," pekik Anisa yang tidak tahan lagi dengan tudingan Samuel terhadapnya.
"Nyatanya apa yang aku lihat tidak salah, bagaimana dia berbicara dan dia juga menatap istri orang—."
__ADS_1
"Berhenti, aku bilang berhenti." Hati Anisa terlanjur kecewa karena tanpa disengaja Samuel telah menggores hatinya. Dengan tuduhan yang sama sekali tidak ia lakukan dan menudingnya bahwa perasaan itu tumbuh lagi.
"Sekarang berhenti dan turunkan aku!" kata Anisa dengan hati memanas.
"Tidak, aku tidak akan menurunkan kamu." Jawab santai Samuel.
"Turunkan aku atau aku yang harus keluar dari mobil ini dengan paksa," tekan Anisa seolah memberikan ancaman bagi Samuel.
Akhirnya dengan hati yang membara dan rasa cemburu tengah menguasai. Samuel pun langsung menurunkan Anisa sesuai permintaannya.
Brakh.
Terdengar suara bantingan pintu hingga membuat Samuel sedikit terkejut.
Harusnya tidak ada pertemuan saat tadi, tapi itu bukanlah kemauan Anisa jika harus bertemu bukan, menghindar pun tidak mungkin karena semua itu suatu kebetulan dan dalam diri Anisa, semua telah selesai.
Anisa yang sudah keluar tidak habis pikir jika semua ini harus terjadi, ia pikir sosok Samuel bukanlah orang yang gampang terpengaruh, nyatanya sekarang justru membuat Anisa kecewa karena tidak ada kepercayaan di hati Samuel.
Saat Samuel sudah bersiap meninggalkan Anisa, tapi tiba-tiba terdengar suara .....
Brakkkk.
"Anisaaaa!"
Samuel seketika keluar dari dalam mobil sedangkan semua orang sudah berkerumun.
"Sayang, bertahan. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit," ucap Samuel dengan buliran air mata di pipinya.
"Nis, aku mohon bertahan demi aku dan calon anak kita."
Anisa masih bisa melihat wajah suaminya. Anisa masih sanggup untuk mendengar setiap ucapan dari bibir Samuel, tapi mulut wanita itu tidak mampu berkata walau secuil.
Anisa hanya mampu memandangi wajah lelaki yang sudah 7 bulan menikahinya, tanpa terasa senyuman terukir dari bibirnya. Bersamaan dengan air mata yang ia keluarkan dan jatuh menetes di telapak tangan Samuel.
"Nis, tolong kamu jangan tidur. Aku minta maaf, aku salah Nis ...." Samuel tak mampu lagi berucap karena mata Anisa sudah terpejam.
__ADS_1
ANISAAAAA!