
"Aku tidak akan pernah mau kembali pada orang yang sudah berkhianat, Bu."
"Saya tidak perduli! Karena kamu anak saya cacat," sahut bu Marina.
Di tengah keramaian, Bu Marina membuat masalah dan hal itu tidak luput dari pandangan orang-orang. Bagi Anisa baru saja ia merasa tenang karena tidak ada yang mengusik, nyatanya Bu Marina masih terus mengganggunya tanpa henti.
Tidak jauh dari meja Anisa, sosok lelaki yang mulai geram. Mengepalkan kedua tangannya dan rasanya sudah tidak tahan lagi, untuk memberi pelajaran.
"Sam, sepertinya kamu harus mendatangi Ibunya Dirga, agar dia bisa segera pergi." Suara dari Yuda, membuat Samuel yakin untuk memberikan pelajaran untuk Bu Marina.
Dengan sebuah dukungan dari Yuda, akhirnya Samuel berjalan untuk menyelesaikan masalah. Rasa tidak terima bahwa Anisa harus menjadi sasaran empuk, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan waktu itu.
"Anisa sebentar lagi akan menikah dengan saya! Dan saya harap anda tidak akan mengganggunya lagi," ucap Samuel secara tiba-tiba.
"Tidak, saya tidak akan rela jika Anisa bersama kamu. Wanita ini sudah membuat anakku lumpuh jadi wajar kalau dia ini harus bertanggung jawab." Dengan rasa tidak terima bu Marina menunjuk Anisa.
"Gara-gara yang mana? Harusnya Ibu sadar jika semua ini terjadi atas kesalahan anak Ibu dan juga wanita murahan itu!" seru Samuel karena merasa kehabisan kesabaran.
"Jangan membela wanita yang tidak ada artinya apa-apa. Kalau saja Anisa tidak meminta periksa ke rumah sakit, semua ini tidak akan terjadi, kan."
Stop.
Anisa yang merasa malu karena banyaknya sepasang mata terus melihatnya. Akhirnya langsung menengahi pertengkaran yang terjadi.
"Bu, jika aku tidak meminta hal itu. Pasti Ibu akan terus mencaci aku yang katanya mandul dan Mas Dirga tetap sehat. Jika aku tidak mengadakan kesepakan untuk mencari hasilnya, mungkin sampai sekarang Mas Dirga tidak tahu bahwa yang dikandung anak siapa. Apa semua itu belum cukup jelas siapa yang harus di salahkan?" kata Anisa dengan suara datar. Tidak ada raut kemarahan di wajahnya karena sekarang Anisa merasa sudah cukup lelah.
Tanpa menyerang balik kata-kata Anisa, Bu Marina pergi dengan hati yang dongkol. Berniat meminta Anisa untuk kembali menjadi istrinya, nyatanya gagal apalagi banyak yang berpihak kepadanya. Sehingga Bu Marina kalah untuk dan tidak dapat pembelaan.
Setelah kepergian Bu Marina, Samuel pun langsung mengajak Anisa pergi dari tempat, di mana dirinya berada sekarang. "Ikut aku," ajak Samuel.
"Mau ke mana," jawab Anisa.
__ADS_1
"Apa kamu tidak lihat." Saat itulah Anisa menatap semua tempat, banyak orang terus menatap antara benci dan iba. Hingga ia pun mengikuti Samuel tanpa menolak lalu diikuti oleh Arum.
Akhirnya sampai juga di tempat di mana Samuel mengajak Anisa kini berada.
"Bagaimana?" tanya Samuel pada Anisa.
"Sangat sejuk dan begitu mendamaikan," jawab Anisa.
Keduanya saling mengobrol, tidak jau dari Samuel dan Anisa. Yuda sedang bersama dengan Arum, tapi tidak ada obrolan di antara keduanya. Suasana terlihat sangat hambar karena tidak ada satu kata pun yang terucap.
"Kenapa rasanya kaku sekali saat dengan pria kulkas ini," batin Arum, karena pada saat dirinya melihat Anisa dan juga Anisa, yang sesekali bercanda, hal itu membuatnya iri.
Sedangkan Yuda masih bergelut dengan pikirannya. Perasaan tidak biasa dan di tujukan pada Anisa, membuatnya sangat tidak nyaman. Bukan soal dirinya suka pada Anisa, karena tidak ada sejarahnya bagi Yuda. Hanya saja perasaan cemburu telah menggerogoti hati Yuda, rasa iri yang kini dirasakannya saat melihat kedekatannya dengan Samuel.
Arum yang teramat penasaran, memilih untuk membuka percakapan karena sedari tadi. Mata Yuda tidak lepas dari Anisa dan hal itu membuatnya curiga bahwa Yuda telah menaruh hati.
Ekhem.
Arum mencoba berdehem untuk mencairkan suasana.
Ekhem.
"Ada ada dengan kamu?" Arum sengaja berbicara keras agar Yuda dapat mendengar.
"Saya hanya merasa cemburu saat Anisa jauh lebih dekat dengan Samuel," kata Yuda dengan tatapan masih menjurus ke arah Anisa.
Sesaat Arum tertegun mendengar pengakuan dari Yuda, tidak menyangka bahwa Anisa cukup digilai para lelaki.
"Kamu suka dengan Anisa?" Arum kembali melempar pertanyaan.
"Tidak," jawab Yuda.
__ADS_1
"Lantas kenapa kamu bilang cemburu," ujar Arum dengan kening mengkerut.
"Entah, saya merasa jika Anisa adalah orang yang pernah dekat dengan saya, tapi tidak tahu di masa kapan." Jawaban Yuda seketika membuat Arum menatap Yuda dengan sangat intim. Rasanya sangat aneh jika Yuda sampai berbicara seperti itu.
"Menurutmu kalau Anisa itu ada ikatan saudara dengan kamu apa masuk akal." Mendengar hal itu, Yuda langsung tertegun. Bukankah adiknya sudah lama hilang, tapi kenapa ada rasa kedekatan dengan Anisa, itulah yang sekarang ia pikirkan.
"Saya tidak bisa menyimpulkan karena adikku sudah lama hilang. Masih hidup ataupun meninggal, saya juga tidak tahu." Jawab Yuda dengan suara datarnya.
"Apa salahnya untuk mencari tahu. Aku bisa membantumu jika kami mau," tawar Arum pada Yuda.
"Perasaan bisa salah bisa benar, tapi saya tidak mau mencari tahu karena bisa dipastikan jika adikku tidak akan kembali." Ucapan Yuda seketika membuat Arum menghela napas.
"Kamu punya fotonya?" tanya Arum, karena ia yakin jika bisa membantu Yuda, apalagi lelaki yang berada di sampingnya. Seperti mempunyai ikatan batin dengan sosok yang sekarang masih di pandanginya.
Akhirnya, dengan terpaksa Yuda langsung mengambil dompet dan membukanya. Untuk mengambil potret kecil sang adik yang bernama Cahaya.
"Ini." Yuda pun langsung memberikan foto milik bocah berusia dua tahu. Begitu sangat cantik dan imut di tambah sebuah kalung yang terpasang di lehernya.
Sedangkan Arum masih terus memandanginya. Seperti pernah melihat wajah yang sama, tapi ia lupa di mana melihatnya waktu itu.
Melihat Arum yang terus mengamati foto tersebut. Membuat Yuda langsung berbicara dan kenapa Arum sampai segitunya hanya untuk melihat foto yang sekarang ada di tangannya.
"Kenapa tatapanmu seperti itu?" kata Yuda.
"Aku hanya ingin mengingat, jika boleh aku mau membawanya untuk aku pastikan." Jawab Arum dengan mata tak teralihkan ke arah foto tersebut.
"Terserah, yang pasti jangan sampai hilang. Harta yang saya punya hanya foto itu," ujar Yuda.
Tidak berselang lama, dua orang yang tak lain adalah Samuel dan Anisa, menghampiri Yuda.
"Apa kalian sedang proses pendekatan?" tanya Samuel dengan nada bercanda. Sedangkan Yuda sudah mendelikkan matanya.
__ADS_1
"Jika kamu terus menggodaku, maka aku melempar kamu ke danau!" sungut Yuda dengan nada sinis.
"Kalau kalian bisa jadian kenapa tidak," goda Samuel lagi.