Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
33. Kisah Yuda.


__ADS_3

"Seenggaknya kalau kamu yang tanya gak kaku-kaku amat," ujar Arum.


"Sudahlah, aku mau turun." Anisa tanpa banyak kata langsung turun dari mobil, dan menghampiri dua lelaki yang berada di taman. Sedang bermain dengan anak-anak panti. Terlihat begitu sangat bahagia saat Anisa terus memandanginya.


Setibanya di taman, Anisa disambut meriah oleh adik-adiknya. "Kakak!" sorak anak-anak panti pada Anisa, yang sangat bahagia saat kakak yang ada di pantinya baru saja pulang.


"Hye sayang, tumben nih kalian seneng banget hari ini?" tanya Anisa pada anak-anak tersebut, dan sesekali mengumbar senyuman pada adik asuhnya itu.


Lantas sebuah mobil, boneka dan berbagai mainan di tunjukkan pada Anisa. "Kami dapat mainan baru, Kak." Jawab bocah lelaki tersebut.


Anak lainnya pun ikut menimpali. "Aku juga dapat boneka cantik Kak, dari Om ini." Lantas bocah perempuan itu memegang tangan lelaki yang dipanggil 'Om' oleh bocah cantik tersebut.


"Sam, apa ini tidak berlebihan?" kata Key yang menurutnya sudah menghambur-hamburkan uang.


Bukannya menjawab, Samuel justru tersenyum karena apa yang ia berikan pada anak-anak panti. Tidaklah seberapa harganya, dan nilainya pun tak sampai membuat orang miskin. "Sudahlah, aku ingin memberikan mainan dan menyenangkan mereka, apa itu salah!" kata Samuel melirik Anisa untuk sesaat.


"Oh ya, bagaimana hasilnya saat sidang tadi?" tanya Samuel lagi pada Anisa, lalu perempuan itu pun mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa Samuel mengetahui jika baru saja pulang dari persidangan.


"Alhamdulillah lancar." Jawab Anisa singkat karena biar bagaimanapun. Samuel tidak berhak untuk mengetahui privasinya.


"Syukurlah," kata Samuel.


Untuk sejenak Anisa melirik ke arah Yuda. Lelaki itu terlihat tidak semangat sama sekali, dan entahlah apa yang terjadi kepadanya.


Pada saat Anisa mencuri pandang, Samuel pun tiba-tiba berbicara. "Yuda teringat adik perempuannya yang selama ini belum juga ketemu, sudah dinyatakan meninggal saat kejadian di masa lalunya yang tak bisa terlupakan, tapi ia yakin bahwa adiknya masih hidup." Anisa langsung menatap Samuel, seakan sebuah permintaan agar bercerita lebih jelas lagi.


"Dulu dia punya saudari perempuan, sayangnya pada saat usia adiknya waktu itu baru menginjak dua tahun, kejadian alam yang tidak bisa dihindari. Membuat keluarganya terpisah karena kelalaian hingga Yuda cuma hidup dengan ibunya, dan bapaknya sudah tiada." Anisa yang mendengar akan penjelasan dari Samuel, lantas merasa iba.

__ADS_1


Perlahan Anisa mendekati Yuda, dan langsung duduk di sampingnya. "Kamu tahu, bahwa aku juga seorang yatim piatu."


Saat itu juga Yuda mengalihkan perhatiannya pada Anisa, dan menatap wajah perempuan berhijab yang duduk di sampingnya. "Aku hanya ingat nama adikku, tapi selama ini belum bisa menemukannya." Tanpa diminta pun Yuda berbicara dengan nada kecewa, karena kenapa pada saat dulu ia sempat lalai pada adiknya yang di jaga.


"Mungkin benar, jika adik kamu sudah bahagia bersama Tuhan. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah, tetap berdoa untuknya." Anisa mencoba membujuk Yuda agar tidak larut dalam kesedihan.


"Kenapa setiap aku dekat dengan Anisa, rasanya ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan." Yuda membatin dan terus berusaha tetap menjaga jarak pada Anisa, seperti ada ikatan yang tak bisa ia katakan, tapi Yuda menepisnya jauh-jauh.


"Namun, berbeda di disini. Aku yakin jika adikku masih hidup," kata Yuda karena ikatan persaudaraan akan terasa rekat, jika diantara keduanya ada hubungan darah, dan itulah yang sekarang dirasakan oleh Yuda.


"Beruntung ya sosok adik kamu. Meski sudah puluhan tahun masih ada yang merindukannya. Berbeda denganku karena alasan apa sampai aku harus berada di tempat ini, aku pun tidak tahu," ucap Anisa dengan berkata jujur. Mungkin sedikit membantunya untuk keluar dari zona ketidakadilan.


"Maaf, gara-gara aku. Kamu jadi ikutan sedih," ujar Yuda yang menyudahi percakapan tersebut, karena tidak mau semakin membuat Anisa sedih.


"Aku tahu kapan Tuhan memberikan aku hidup penuh kebahagiaan. Hari ini masih diberi ujian dan mungkin saja hari esok, kebahagiaan itu datang." Jawaban Anisa membuat Yuda begitu salut, akan tiap masalah yang di hadapi oleh Anisa.


"Sudahlah An, sebaiknya kita makan saja dan ajak masuk Nak Sam, dan Nak Yuda." Bu Ning pun memerintahkan Anisa untuk masuk.


Keesokan paginya.


Seperti yang dikatakan eh Anisa. Bahwa hari ini adalah jadwal untuk dirinya dan Dirga, datang ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan.


Anisa ditemani oleh Bu Ning dan juga Arumi, sudah duduk di ruang tunggu untuk menanti hasilnya.


Tidak jauh dari tempat Anisa, Dirga dan Bu Marina juga sudah tidak sabar untuk menantikan hasilnya seperti apa.


Dengan jarak tidak terlalu jauh. Bu Marina mengingatkan Anisa untuk menepati janjinya, untuk berpisah dengan anaknya. "Ingat An, setelah hasil keluar dan ternyata kamu yang mandul. Maka siap-siap angkat kaki di rumah Durga!" seru bu Marina dengan nada ketusnya.

__ADS_1


"Ibu tenang saja, bukankah aku sudah keluar dari itu. Memangnya Mas Dirga tidak bilang kalau semua barangku sudah aku pindah ke panti!" ujar Anisa menimpali ucapan dari mertuanya, yang memang tidak pernah diinginkannya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri. Memang tidak sepantasnya wanita rendahan sepertimu berada di rumah mewah." Lagi-lagi ucapan penghinaan yang didapat oleh Anisa. Namun, wanita itu justru nampak diam sesekali tersenyum.


"Terimakasih atas cacian dan hinaan yang sudah Ibu beri, karena semua itu telah mengajari aku untuk tetap sabar dan tetap kokoh. Meski kata-kata Ibu menyakitkan," ucap Anisa masih bisa tersenyum saat Bu Marina selalu menghinanya.


"Bu, sudahlah. Jangan mencari keributan di rumah sakit," kata Dirga menengahi.


"Jadi, kamu lebih memilih wanita benalu seperti ini!" ujar bun Marina tidak terima.


"Bu, aku tidak membela Anisa dan juga, tidak membela siapapun itu. Ini rumah sakit dan jangan sampai kita dapat teguran," ucap Dirga mencoba memberi pemahaman pada Ibunya.


Setelah perdebatan berakhir. Datang seorang wanita dengan seragam kebesarannya, dan tertera nama dokter Ammy.


"Dok, bagaimana hasilnya. Semua baik-baik saja kan, dan putraku tidak mandul?" tanya bu Marina dengan sangat antusias.


"Ibu, tenang dulu." Jawab dokter Ammy.


"Maaf, Dok." Akhirnya bu Marina diam, dan menunggu dokter Ammy memberikan hasil masing-masing pada Anisa dan juga Dirga.


Ada perasaan yang tak biasa sedang mengelilingi pikiran Dirga, ia takut jika sampai ucapan Anisa benar. Maka benar-benar tejadi perceraian itu.


Dengan perlahan dan tidak lupa, lafaz basmallah diucapkan oleh Anisa. "Bismillah."


Mata yang semula terpejam, kini perlahan dibuka, dan.


"Alhamdulillah."

__ADS_1


"Dok, ini tidak mungkin kan Dok, ini pasti bohong!" teriak Dirga begitu histeris.


__ADS_2