
"Asisten Yuda!" pekik Anisa saat mengetahui suara dari depan kamar mandi.
"Apa saya harus membangunkan Samuel!" kata Yuda saat mengetahui jika Anisa sudah sadar.
"Bisakah asisten Yuda tidak berbicara terlalu formal, aku sangat tidak nyaman dengan isi percakapan kita." Anisa merasa jika asisten dari Samuel sangat berlebihan. Lalu meminta untuk bicara sewajarnya karena hal itu akan membuat sebuah hubungan sedikit dekat, begitu pikirnya.
Sejenak Yuda tengah berpikir akan permintaan dari Anisa, netranya menatap bergantian. Antara Anisa dan juga Samuel, yang masih terlelap di sofa sana.
Setelah berpikir, akhirnya Yuda setuju untuk tidak berbicara formal, karena hal itu membuat sedikit kaku saat seseorang yang saling mengenal tengah berbicara.
"Baiklah."
"Bagus, oh ya. Lantas kenapa aku bisa berada di tempat ini? Bukannya aku tadi masih berada di kamar?" Anisa yang masih penasaran dan dipenuhi rasa kebingungan lalu bertanya pada sosok Yuda meski badannya masih lemah, ia mencoba untuk tidak menampilkan akan kelemahanya.
"Untuk itu aku ...." Ucapan Yuda terhenti karena untuk berkata aku kamu, buatnya terasa asing dengan sosok Anisa.
"Asisten, Yuda!" Yuda yang mendengar seruan dari Anisa, mencoba mengangkat kepalanya.
"Kalau masalah itu tanyakan pada Samuel, karena dia yang tahu kenapa kamu ada di sini." Anisa semakin dibuat bingung, lantas berpikir jika Samuel sempat datang ke rumahnya, lalu membawa dirinya ke rumah sakit.
"Apa iya Samuel yang bawa aku ke sini, dan sempat datang ke rumah?" dalam hati Anisa bertanya-tanya soal kenapa dirinya bisa di atas tempat tidur untuk pasien.
Untuk mencairkan suasana, Yuda berdehem, karena memang dirinya tidak tahu soal apapun itu. Yang ia tahu bahwa Samuel menyuruh datang ke rumah sakit untuk menemaninya.
"Yuda," panggil Anisa sedikit ragu.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" timpal Yuda merespon dengan cepat.
Anisa pun menoleh sebelum menjawab karena ia ragu untuk meminta bantuan pada Yuda. "Apa aku boleh, dan tidak merepotkan kamu!" kata Anisa dengan wajah penuh tatapan sendu. Seakan menggambarkan kalau Anisa memang tak baik-baik saja.
"Katakan, apa yang bisa aku bantu?" ulang Yuda kembali, menatap Anisa penuh kekaguman, karena baru kali ini dirinya bisa melihat secara intim wajah perempuan yang dipuja oleh Samuel, maka tak heran jika teman sekaligus bos nya. Tengah memperjuangkan cintanya meski Anisa masih berstatus suami orang.
"Aku haus." Jawab Anisa lirih, dan sepertinya tenggorokannya benar-benar kering karena ia ingat jika tadi pagi. Teh yang dibuat oleh Dirga belum tersentuh sama sekali.
Memikirkan akan hal itu. Membuat Anisa menjadi murung, karena pada saat dirinya berada di rumah sakit. Bukan suaminya yang menungguinya, tapi orang lain.
Yuda yang melihat perubahan padah wajah Anisa pun lantas, bertanya karena saat ini tatapan wanita itu penuh kehampaan dan tercetak jelas. "An," tegur Yuda.
__ADS_1
"Apa suamiku tahu jika aku ada di sini?" tanpa menoleh ke arah lawan bicara, Anisa berucap.
"Apa kamu ingin aku menghubunginya? Harusnya dia tahu karena pasti manusia itu akan datang ke rumah kamu bukan," ujar Yuda dengan beraninya ia lantas berkata.
Anisa diam, karena apa yang dikatakan oleh Yuda adalah benar. Setiap pagi dan sore rumah Anisa akan dibuat rumah singgah untuk mengistirahatkan badan, lepas itu. Dirga akan kembali ke rumah istri sirihnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Anisa lagi.
"Jam tujuh, memangnya kenapa?" tanya balik Yuda.
"Ya, ini sudah jam tujuh. Mas Dirga datang di jam enam, itu tandanya memang berniat tidak menjenguk aku." Anisa hanya berandai-andai, nyatanya sampai detik ini pun Dirga tak kunjung menjenguknya dan lebih peduli dengan kandungan Elsa.
Arghhh.
Suara erangan dari bibir Anisa yang masih terlihat pucat, dan memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur. "An, kamu mau ke mana? Jika butuh bantuan aku siap. Lagipula tubuh kamu masih lemah!" suara Yuda yang cukup tinggi, membuat Samuel terbangun dan langsung meloncat.
"An, apa yang terjadi! Jangan turun karena tubuh kamu masih lemah." Sontak saja, Samuel langsung memegang tangan Anisa yang nampak tak peduli dengan ocehan Anisa yang menolak.
"Kalian ini apa-apaan sih, aku bukan tawanan. Kenapa juga memperlakukan aku yang sudah mirip buronan!" dengus Anisa berusaha berontak karena Yuda, terus memegangi tiang infus, dan Samuel terus memegangi tubuh Anisa.
"Lantas kamu mau ke mana? Jangan membuat para lelaki heboh dengan tingkah kamu." Jawab Samuel dengan gamblang.
"Ya sudah ok, aku akan lepas tapi ingat. Kalau kamu tidak boleh kabur," kata Samuel yang akhirnya melepaskan tubuh Anisa dari tangannya.
Ckckck.
Anisa berdecak sebal, apa mereka pikir wanita itu akan kabur? Sekecil itukah dua lelaki berpikir jika Anisa akan lari dari rumah sakit.
"Siapa yang mau kabur, aku mau sholat!" sungut dengan tatapan jengah karena ia pikir, jika Samuel dan Yuda adalah sosok yang over. Hingga membuatnya tidak nyaman.
"Oh ... kirain mau pergi," jawab kedua lelaki itu dengan senyuman sedikit memalukan menurutnya.
"Kamu mau sholat, lantas apa di sini ada mukena!" seketika raut wajah Anisa berubah masam, karena ia juga teringat bahwa tak ada mukena di ruangan ini.
Samuel yang melihat Anisa, merasa tak enak dan kasihan. Hingga langsung pergi tanpa mengucapkan kata apapun. "Sam, kamu mau ke mama?" teriak Yuda, tapi tidak dihiraukan olehnya.
"Mau ke mana bos gila mu itu?" kata Anisa yang terus memandangi tubuh tegap Samuel, sampai akhirnya tubuh lelaki itu pun benar-benar menghilang.
__ADS_1
Tak berselang lama, Samuel pun datang dengan membawa sebuah sajadah. Beserta mukenanya, yang mana langsung diberikan pada Anisa.
"Ingat pengorbanannya, An." Sebelum langkah Yuda meninggalkannya, lelaki itu pun berbisik pada Anisa, hingga sosok wanita itu diam terpaku karena sebuah kalimat yang didengar barusan.
"Segera sholat, kami berdua akan pergi sebentar." Wajah datar Samuel, membuat Anisa sedikit merasa aneh.
"Yud, ikut aku!" ajak Samuel, meski dengan keadaan bingung. Yuda tetap mengikutinya meski dalam hati sedang bertanya-tanya.
Sedangkan Anisa dalam keadaan tak bergerak dengan kedua tangan. Masih memegang peralatan sholat yang masih baru itu, menatap punggung lelaki dengan aura yang berbeda.
"Mereka berdua mau ke mana? Kenapa tatapan Samuel membuatku takut," gumam Anisa dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab, di dalam pikirannya mengenai Samuel.
Lantas Anisa dengan paksa melepas infus, karena merasa jika dirinya saat ini sudah cukup lebih baik. Rasanya tidak nyaman kalau sholat di atas tempat tidur, dan lebih enak di bawah dengan mengedarkan sajadah.
Sedangkan di lain tempat.
Tanpa banyak bicara dan tatapan bak singa kelaparan. Samuel terus melajukan mobilnya. Kali ini bukan Yuda yang membawa karena Samuel mencegahnya, jadilah nos dari Yuda yang membawa mobil dengan laju di atas rata-rata.
"Sam, aku masih ingin hidup! Ingat aku juga belum merasakan kawin."
Ciiiiit.
"Sam, apa kamu tidak ingin mengawini Anisa! Kalau kita mati maka ambisimu lebur sudah."
"Sialan, jaga ucapan kamu! Apa kamu pikir Anisa itu hewan yang sedang minta di kawini ... ckckck, dasar bodoh."
"Karena sudah takut makanya ngawur ngomongnya," ujar Yuda saat Samuel meralat ulang kata-katanya.
"Diamlah, atau aku akan melemparmu di jembatan itu!" seketika Yuda bungkam karena ekspresi wajah Samuel sedang du ujung kemarahan.
Setelah itu.
Sraaakh.
Bugh.
Bugh.
__ADS_1
Pakh.