
"Bang El yang telah menghamiliku Pak, maka dari itu aku minta sama Bapak buat secepatnya menikahkan kita." Sesaat mata tua itu beralih menatap El guna mencari jawaban.
"El, apa benar apa yang dikatakan oleh Lastri? Jika benar, saya tidak peduli bahwa kamu sudah beristri sekalipun." Ucapan dari pak Bagong, mengundang amarah Yuda, karena lelaki bergelar kakak dari Anisa itu pun, tidak bisa menerima begitu saja.
"Apa Anda yakin jika anak Bapak hamil dengan suami adik saya?" Yuda tidak mau terus menjadikan ini semua sebagai masalah besar, yang nantinya akan berakibat fatal dengan mental Anisa, sudah cukup adiknya menelan luka dan belum sembuh, tapi sekarang harus mendapatkan borok itu lagi.
"T-entu, saya tidak bohong." Yang menjawab bukan pak Bagong, melainkan Lastri sendiri untuk menyakinkan semua orang jika memang dirinya sedang mengandung anak dari El.
"Kamu lihat sendiri, kan. Kalau anak saya memang sedang hamil, jadi kamu tidak berhak menghakiminya dan sudah sepatutnya El bertanggung jawab, atas semua yang sudah dilakukannya." El mengusap kasar wajahnya ketika pak Bagong menginginkan dirinya menikah karena sebuah perbuatan, yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
"Pak, saya bersumpah jika saya tidak pernah menodai Lastri!" El yang terus mendapat tuduhan itu pun tidak terima. Bukan ini yang dimau, bukan masalah lagi dan lagi harus didapatkan, niat hati ingin kembali pada sang istri, justru El semakin sulit bergerak karena sebuah tuduhan.
"Pak, demi Allah, jika saya memang tidak menodai Lastri!" tekan El.
"Bapak kecewa denganmu El, bapak kira kamu adalah lelaki yang baik, tapi ternyata … bapak salah menilai kamu," ucap pak Bagong dengan kekecewaan yang didapat dari El.
Sedangkan Anisa masih syok dengan kejadian yang ia dengar barusan. Ketika cinta ingin pulang pada tempatnya, siapa sangka diperjalanan badai itu datang lagi. Seakan Tuhan tidak ingin keduanya bersatu dan menjadikan mereka terhalang oleh duri kebersamaan.
"Nis, percayalah." El menatap Anisa dengan penuh harap, El ingin istrinya percaya jika dirinya sama sekali tidak berbuat seperti itu.
Sedangkan Anisa sendiri dilema karena tidak tahu siapa saat ini yang harus dipercaya. El hilang sudah lebih dari 10 bulan, hidup bertiga dengan satu wanita lalu bukankah masuk akal jika El adalah pria normal, di tambah lekuk tubuh Lastri membuat syahwat kaum hawa tercipta dan membuka nafsu itu sendiri? Di sinilah Anisa bingung dan sekarang pikiran dan hatinya sama sekali tidak bisa diajak kerja sama.
Anisa masih menatap laki-laki yang kini berbeda jauh dari 10 bulan lalu, wajah rupawan sekarang sudah dihiasi oleh bulu-bulu halus. Tubuh yang kekar serta otot yang sempurna, sekarang tidak terlihat lagi karena tubuhnya kini hanya terlihat oleh tulang dan sama sekali tidak terurus.
"Sayang, jangan hanya diam. Tolong jawab aku!" kata El lagi dengan mengguncang kedua lengan Anisa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Mas, aku tidak sanggup untuk melihat ini semua. Lalu, apakah ini yang dinamakan kejutan? Sempurna sekali karena aku begitu terkejut dengan sandiwara yang tak ingin aku lihat." Anisa menatap wajah lelaki itu dengan sesekali mengusap air matanya.
"Yud, apa kamu tidak percaya juga denganku. Kamu tahu siapa aku, matamu mengetahui kelakuanku, sifatku, dan bagaimana aku!" Seakan meminta pertolongan, El menatap ke arah Yuda dengan pandangan iba.
“Pak, bukankah Samuel sudah mengatakan jika dia tidak pernah meniduri anak Anda. Jadi, sekarang apa yang membuat Anda yakn jika Samuel yang melakukannya.” Yuda mencoba memperjelas keadaan agar tidak semakin runyam, karena tidak tega melihat Anisa yang kini kemabli bersedih.
“Lastri anak saya, memangnya salah jika saya percaya kalau sorang bapak mempercayainya. Sedangkan El juga lelaki normal, jadi sudah bisa kalian tebak sendiri kan. Untuk sekarang saya tidak peduli jika wanita ini istrinya karena El juga harus mau menikah dengan Lastri,” ucap pak Bagong panjang lebar. Bagaimanapun orang tua tidak akan terima kalau anaknya ternoda oleh lelaki yang bukan istrinya.
“Jika apa yang Bapak dan Lastri katakan benar. Maka saya ikhlas bercerai dengan Samuel, karena saya seorang wanita, di mana pernah merasakan disakiti oleh lelaki.”
“Tidak Nis, aku tidak mau berpisah denganmu. Aku yakin jika semua ini hanya fitnah dan bohong jika Lastri hamil anakku,” ucap El dengan sebuah keyakinan, ia mencoba memberi penjelasan agar istrinya tidak membuat keputusan yang sampai kapan pun, El tidak akan pernah meninggalkan Anisa.
“Mas, aku juga seorang wanita. Tahu rasanya seperti apa disakiti, bahkan dikhianati, jadi aku mohon nikahi Lastri.” Dengan tangisan yang tak terelakkan, Anisa mencoba mengambil keputusan yang menurutnya tepat meski bibir berkata dan hati yang menolak.
Setela mengatakan hal itu, Samuel berjalan mendekati Lastri, karena ia yakin jika wanita itu sengaja membuat kegaduhan agar dirinya tidak bisa pulang dan kemabli bersama dengan istrinya.
“Sekarang jawab aku, jika semua ini akhir dari rencana kamu, kan … jawab aku!” hardik El.
“Kenyataanya Bang El yang telah memperkosaku dengan menyajikan sebuah pernikahan!” sahut Lastri tanpa punya rasa takut sedikit pun, karena dengan cara ini juga dirinya bisa bersama dengan El, lelaki yang sejak awal sudah merajai hatinya.
“Kamu mau mengelak seperti apa lagi Mas, semuanya sudah jelas jika wanita ini hamil dan pelakunya adalah kamu.” Seketika El menatap sosok yang telah berbicara padanya. Entah dengan cara apalagi El mengatakannya.
“Wo, di mana rumah sakit di sini?” tanya Yuda tiba-tiba dan semuanya pun menatap ke arah Yuda.
“Di sini tidak ada rumah sakit, yang ada puskemas.” Jawab Bowo karena tujuan Yuda bertanya pun ia tidak tahu.
__ADS_1
"Untuk mengetahui apakah Lastri hamil anak Samuel atau bukan, kita akan membawanya untuk periksa. Dengan begitu kita bisa tahu," ucap Yuda mencari jalan keluar.
"Untuk kamu Sam, jika terbukti menghamili dia, maka kamu harus menikahinya dan menceraikan adikku."
"Aku mohon, jangan menyuruh aku untuk meninggalkan Anisa, kamu harus percaya padaku Yud, cinta dan kesetiaanku untuk Anisa, tidak ada wanita lain di hatiku."
"Aku sangat percaya jika kamu memang tidak menghamilinya, tapi itu nanti."
"An, kita pergi ke puskesmas. Untuk mencari jawaban."
Akhirnya semua pergi ke puskesmas untuk mencari kebenaran jika apa yang dituduhkan pada Samuel, adalah tidak benar.
Tidak membutuhkan waktu lama, Anisa yang kini tengah berada di pelukan Yuda, menanti hasil dari pemeriksaan.
"Kak, jika ini benar. Apa itu artinya aku akan kehilangan suamiku secara nyata?" masih dengan mata sembabnya, Anisa menyakinkan hati bahwa harapannya adalah, jika Samuel tidak sampai hati untuk melakukan penghianatan.
"Kita tinggu hasilnya saja, semoga semua sesuai dengan permintaan kamu.
Tidak berapa lama, seorang dokter keluar dari ruangannya bersama dengan Lastri.
" Dok, bagaimana dengan anak saya?" tanya pak Bagong dengan wajah takutnya.
Sedangkan Samuel sendiri masih tetap tenang berdiri dengan dibantu dengan tongkat kruk-nya.
"Anak Bapak …."
__ADS_1