Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
14. Madu di atas racun.


__ADS_3

Sampai Dirga pergi pun. Nisa masih enggan untuk bicara, hatinya terlalu terluka saat mendengar ucapannya semalam, tapi seakan lelaki itu merasa jika tidak ada masalah sedikitpun diantara mereka.


"Aku tidak mandul, dan rahimku baik-baik saja." Anisa bergumam dengan menatap figuran yang terpampang jelas dihadapannya.


Dimana sekarang tepat hari pernikahannya yang kelima, tapi pada kenyataannya kado yang ia terima adalah sebuah penghianatan. Dirga sengaja memberikan kejutan sebuah luka pada Anisa, sakit tapi tak berdarah. Itulah yang dirasakan wanita tersebut, karena suami yang selalu dihormati telah meneteskan luka di hatinya.


Anniversary kelima tahun, berjalannya pernikahan Anisa dan Dirga, hanya karena tak kunjung hamil lantas semua orang menyimpulkan jika rahimnya bermasalah. Hari di mana yang selalu ia rayakan dengan sangat bahagia. Namun, pada kenyatannya Dirga lupa akan hal itu dan justru menorehkan luka kepadanya. Tidak ada kata maaf, tidak ada niatan untuk memperbaikinya juga, entah sebuah hubungan seperti apa yang akan dijalani kedepannya.


Lelah yang hinggap di tubuh Anisa, membuatnya harus sedikit menyegarkan badan, hati, dan pikiran.


"Baiklah, sepertinya aku akan ke salon." Anisa berbicara lirih, dan berniat akan segera bersiap-siap.


Beberapa saat kemudian.


Anisa memutuskan pergi ke cafe. Menikmati siangnya di sana, dan melepaskan beban pikiran yang sempat tertumpu di kepalanya.


Tanpa disadari oleh Anisa, sosok lelaki tengah mencuri pandang ke arahnya.


Di meja yang tidak terlalu jauh. Dua lelaki sedang adu mulut karena tidak fokus untuk membicarakan soal pekerjaan dan pandangannya terus tertuju pada seorang wanita. Yang sangat ia kagumi selama ini, karena dari banyaknya wanita hanya sosok Anisa lah yang mampu merebut hatinya..


"Yud, sepertinya aku memang sedang jatuh cinta pada sosok bidadari di ujung sana!" kata Samuel tanpa mengedipkan mata lantas menunjuk ke arah di mana pujaannya berada.


"Aku berharap juga, kalau saat ini kita fokus saja." Jawab Yuda dengan tatapan sinis, karena bos sekaligus orang yang ia anggap saudara itu. Tengah asik memandangi makhluk ciptaan Tuhan tanpa peduli dengan tugas mereka kerjaan sekarang.


"Sayangnya aku tidak bisa fokus, saat ada bidadari impianku itu. Berada di depan mata sekarang," ujar Samuel dengan bibir terus memperlihatkan sebuah senyuman karena tidak menyangka jika akan bertemu dengan Anisa.


"Apa kamu ingin pergi! Dan mencari tempat lain?" kata Yuda yang merasa kesal akan sikap Samuel yang tidak fokus terhadap apa yang mereka bahas saat ini.


"Tidak, tidak. Aku tidak setuju dan sekarang kita membahas proyek yang akan dilakukan pembangunan di kota B," ucap Samuel yang menolak berpindah tempat karena ia tidak mau kehilangan jejak.


Namun, pada saat Samuel menoleh ke arah wanita tersebut. Sayangnya dia sudah menghilang dan membuat Samuel mencari ke semua tempat, tapi netranya sama sekali tidak menemukannya entah wanita itu sudah pergi ke mana.

__ADS_1


"Sepertinya dia sudah pergi. Ada yang berbeda sehingga membuat mata ingin terus memandanginya," ujar Samuel dalam hati.


"Sam, kamu lagi ngomong sama siapa?" tanya Yuda saat mendengarkan celoteh Samuel.


"Memangnya ada orang lain selain dirimu di depanku?" kata Samuel menatap tajam ke arah Yuda.


"Siapa tahu otakmu, sedang tidak baik-baik saja." Jawab Yuda dengan seulas senyuman.


"Sialan." Samuel mengumpat Yuda dengan tatapan tidak suka.


...........


Pukul 12 siang. Anisa yang baru saja sampai di rumah, melihat sebuah mobil milik suaminya yang ternyata sudah pulang.


"Tumben Mas Dirga sudah pulang?" Anisa bertanya-tanya dalam hati karena tidak biasanya. Dirga pulang dengan jam di siang bolong.


Anisa yang memilih tidak ambil pusing. Langsung masuk setelah memarkirkan motornya, dan segera membuka pintu.


Bak sambaran petir di siang hari. Saat mendapati dua orang tengah duduk dengan sangat romantis dan parahnya keduanya tengah berpelukan, itulah yang dilihat oleh Anisa.


"Apa kalian bisa menempatkan diri, ini di mana?" sebuah suara membuat dua yang semula asik dengan hidupnya, kini seketika menoleh dengan wajah malu.


"An, kamu dari mana?" bukan permintaan maaf yang diterima oleh Anisa, justru sebuah kalimat pertanyaan yang ia dengar dan hal itu membuatnya begitu ingin memberi sedikit pelajaran untuk Dirga.


"Apa itu penting, aku rasa tidak." Jawab Anisa dengan ketus. Tanpa peduli jika harus berani dengan sang suami.


"An, kenalkan ini Elsa, dia adik madu kamu. Mas harap kalian bisa akur dan bisa saling melengkapi, lagian Elsa juga sedang hamil dan dia butuh orang untuk membantunya." Anisa hanya bisa tersenyum kecut tatkala Dirga mengenalkan Elsa sebagai adik madunya dengan perasaan bangga, tanpa punya rasa bersalah sedikitpun.


"Jika kamu pulang cuma memberi aku racun. Lebih baik kamu tidak usah pulang Mas, karena tidak ada wanita yang mau berbagi suami." Ucapan Anisa membuat Dirga menghela napas, tidak menyangka jika seorang Anisa bisa berkata menyakitkan karena yang ia tahu, bahwa istrinya selalu berkata lembut.


"Mas, janji jika akan berlaku adil, An!" ucap Dirga yang berusaha membuat Anisa yakin.

__ADS_1


"Kalau saja aku tidak mengetahui akan pernikahan kamu, apa masih berani pulang ke rumah dengan membawa madu yang berisikan racun?" Anisa tertawa seakan menertawakan dirinya sendiri. Yang tak mampu menjaga suaminya, sampai harus membawa surga kedua untuknya hanya dengan beralaskan ingin mempunyai anak.


"Mbak, Mas Dirga kan datang baik-baik. Kenapa justru Mbak musuhi sih," dengus Elsa pada Anisa, yang tadinya memilih diam. Sekarang angkat bicara karena kehadirannya tidak mendapat sambutan yang baik dari pemilik rumah dan bukannya ia butuh sambutan karena dirinya memang harus mendapatkannya.


"Kamu diamlah, karena aku sedang tidak bicara denganmu!" sergah Anisa pada wanita yang bernama Elsa, yah, seorang wanita yang telah di bawa oleh suaminya.


"An, dia wanita baik-baik. Aku harap kamu bisa berkata sedikit sopan," sahut Dirga saat itu juga. Merasa jika sikap Anisa sedikit keterlaluan pada istri keduanya itu.


"Jika dia adalah wanita baik-baik. Maka tidak akan mau dengan lelaki yang sudah beristri," jawab Anisa dengan menatap tajam ke arah Elsa.


"An, aku tidak mau membuat keributan. Yang aku mau kalian akur dan akan aku pastikan jika kalian akan mendapat jatah yang adil," ujar Samuel dengan menatap kedua istrinya secara bergantian.


"Kalau kamu saja menjaga hati satu wanita tidak sanggup. Kenapa bisa berkata akan adil, apa kamu sanggup dengan apa yang sudah kamu jabarkan?" sebuah pertanyaan membuat Dirga lagi-lagi menelan ludahnya.


Lelaki itu merasa jika Anisa telah berubah dan bukan lagi, seorang wanita yang lemah lembut, tapi wanita yang berani dan sedikit membangkang.


"Kalian pergilah dan jangan menganggu aku," titah Anisa yang tak sanggup lagi rasanya untuk berdiri, menopang kedua kakinya.


"Mbak, jika kamu merasa tidak sanggup. Kenapa tidak minta cerai saja sama Mas Dirga," ucap Elsa pada saat Anisa mulai naik ke atas anak tangga.


"Kamu denger Mas, aku memang tidak sanggup. Seperti yang dikatakan oleh istri barumu itu, maka ceraikan aku." Seperti ucapan Elsa, Anisa meminta cerai pada Dirga dan terlihat raut wajah tidak suka yang ditampilkan oleh lelaki tersebut.


"El, jangan membuat Anisa marah. Lagi pula sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan dia," respons Dirga kepada Elsa.


"Lalu untuk kamu, sampai kapan pun mas tidak akan menceraikan kamu. Ingat itu, An." Sebuah ucapan yang membuat Anisa meradang. Seenaknya sendiri dan semaunya sendiri, tanpa memikirkan luka hati Anisa.


"Kamu egois Mas, aku semakin membencimu!" ucap Anisa yang langsung terus berjalan dan masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Elsa, tidak sabar ingin menjadi istri satu-satunya. Tanpa ada penghalang satu pun, karena harapannya menjadi nyonya Dirga dan tidak ada lagi selain dirinya.


"Aku pastikan kalau Mas Dirga secepatnya, akan menceraikan kamu." Dalam hati Elsa berharap agat semesta merestuinya untuk menyingkirkan Anisa.

__ADS_1


__ADS_2