
Ketika cinta mengalahkan segalanya. Rasa ingin memiliki semakin besar, yakinlah itu bukan cinta! Tapi sebuah obsesi yang tengah menggebu di dalam hati, karena cinta yang sesungguhnya. Adalah seberapa besar dia mampu menjaga kita di dalam segala hal.
"Apa kamu sudah tidak waras?" pekik Yuda karena tak habis pikir dengan perkataan Samuel.
"Aku waras, hanya saja ingin menolong wanita itu. Agar tetap bahagia dan tidak terluka hatinya," jelas Samuel seakan yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
"Apa kamu yakin jika wanita ini sedang terluka? Aku rasa semua ini hanyalah obsesi kamu saja, karena rasa memiliki yang teramat besar dibanding rasa iba." Yuda tidak tahu lagi harus berbicara apa, nyatanya Samuel seakan tuli dan buta untuk mendengarkan nasehatnya.
Samuel terdiam. Tidak menjawab untuk sesaat karena apa yang dikatakan oleh asistennya adalah benar,
"Apa itu iya, karena kamu diam dan tidak menjawab!" ucap Yuda lagi yang mengira jika Samuel hanyalah terobsesi dengan milik orang dan tidak ada kata perlawanan dari lelaki tersebut, hal itu juga yang membuat Yuda semakin yakin.
"Sudahlah, jangan menceramahi aku karena sekarang aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan saat ini cuma informasi ingat, cuma informasi?" kata Samuel menekankan.
Yuda menghela napas, jika seperti itu maka. Lelaki dengan tubuh tegap serta jakun yang naik turun, tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menuruti perintah dari Samuel untuk mengulik informasi tentang seorang wanita, yang ia tahu jika orang itu sudah bersuami.
Sedangkan di rumah. Seorang perempuan tengah duduk santai, menikmati secangkir teh. Untuk menemani sorenya, yang tengah menunggu kepulangan sang suami.
Ponsel di meja bergetar, sesaat Anisa menoleh untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
Pesan Dirga.
π"Sayang, hari ini Mas pulang telat, mungkin sekitar jam enam baru pulang." Pesan singkat yang dikirim oleh Dirga.
Mata Anisa mulai berkaca-kaca saat melihat isi pesan tersebut.
"Mas, apa kamu tidak bisa meluangkan waktumu untuk aku sebentar saja," ucap Anisa lirih sambil menatap layar ponsel yang masih dipegang karena sering suaminya melupakannya dengan berbagai alasan.
Malas rasanya untuk membalas pesan tersebut dan memilih untuk meletakkan kembali ponselnya. Namun, belum sempat ponsel berada di meja. Sebuah pesan masuk kembali terulang.
π"Sayang, apa kamu marah karena Mas pulang telat lagi?" isi pesan kedua dari Dirga.
π"Maaf, besok-besok aku tidak akan begini lagi dan akan pulang tepat waktu. Ketahuilah bahwa Mas sangat mencintaimu," ucap Dirga lewat pesan singkat dan ini adalah yang ketiga kalinya Dirga mengirim pesan pada Anisa.
__ADS_1
"Cinta! Apa kamu benar mencintaiku Mas? Sedangkan sikap kamu menunjukkan jika sudah tak peduli lagi padaku. Sikap kamu yang mulai berubah membuatku terasa asing. Apa itu yang dinamakan cinta," lirih Anisa saat membaca pesan dari suaminya dengan dada yang terasa sesak.
π"Maaf Mas, aku tadi sedang menyirami tanaman. Makanya baru bisa bales," ucap Anisa pada pesan singkat yang akan dikirimkan pada Dirga karena tidak mau jika ia terlihat lemah di depan suaminya.
π"Iya sayang, mas kira kamu marah karena masalah mas yang kerap pulang telat." Dirga membalas pesan dari Anisa dan saat itu juga wanita itu nampak kecewa dengan sesekali menghela napas.
"Jika tahu kalau aku akan marah, kenapa kamu justru masih bertanya Mas, apa memang seperti ini sikap kamu padaku?" Anisa bergumam dengan menahan sesuatu yang terdapat dihatinya rasa nyeri bagai luka terkena butiran garam.
Tidak ingin berpanjangan dalam membalas pesan dari Dirga, Anisa memilih untuk tidak membalas dan mengabaikan pesan tersebut untuk terakhir kali.
Saat Anisa hendak berdiri, ponsel kembali berdering.
"Apa sih maunya Mas Dirga!" sungut Anisa berbicara sendiri.
"Arumi!"
Nampaknya Anisa sudah salah paham, dan ternyata yang menghubunginya bukanlah Dirga, tapi Arumi.
π²"Haloooo!" sapa Arumi antusias.
π²"Maaf An, aku terlalu semangat."
π²"Assalamualaikum, sudah kan. Hari ini aku pulang kamu ada di rumah tidak?" Arumi yang baru pulang dari bali, langsung menghubungi Anisa. Rasa rindu pada sahabatnya seakan terobati.
π²"Wahhh ... akhirnya kamu pulang juga, aku tuh sudah rindu sama kamu tau gak." Ucapan Anisa membuat Arum tertawa, belum sebulan ditinggal tapi perkataan Anisa seperti yang ditinggal yang bertahun-tahun.
π²"Daripada kamu rindu padaku. Mending rindu sama suami kamu yang baru pulang juga," goda Arumi pada Anisa.
π²"Jangan bahas di luar percakapan Arum, jika kamu mau datang. Segera datang dan jangan lupa untuk membawa oleh-oleh," ucap Anisa pada Arum, entah mengapa kali ini dirinya tidak mau membahas soal Dirga, karena menurutnya. Itu sama halnya dengan mengingat akan luka yang diberikan oleh suaminya secara perlahan.
Mungkin sebagian orang mengira jika kehidupannya akan dipenuhi oleh kebahagiaan. Namun, kenyatanya tidak seperti apa yang sudah dirasakan oleh Anisa.
π²"Baiklah, aku akan ke sana. Kalau saja kamu bukan temanku mungkin aku tidak akan datang karena sudah cukup lelah," kata Arumi dengan suara parau.
__ADS_1
π²"Boleh saja kalau kamu memang tidak menganggap aku, siapa memang yang butuh? Kamu saja masih membutuhkan aku." Anisa berbicara pada Arumi.
Setelah mengatakan akan hal itu. Lalu tidak lupa ucapan salam menutup panggilan tersebut.
"Kebiasaan," umpat Arumi di sebrang sana.
Selang beberapa menit, benar saja jika Arumi memenuhi janjinya. Saat ini juga dirinya sudah ada di depan rumah Anisa dan menunggu sang empu keluar.
"Anisa! Aku sangat merindukanmu." Arumi pun langsung memeluk Anisa dan keduanya lalu berpelukan. Melepas rindu yang hampir sebulan tidak bertemu, karena Arumi harus sering bolak-balik ke luar kota demi sebuah kerjaan.
"Aku juga sangat merindukan kecerewetan kamu, Rum." Anisa membalas ucapan Arumi dengan sebuah candaan dan akhirnya keduanya pun masuk.
Saat keduanya asyik tengah bercanda dan Arumi telah menghabiskan waktu di rumah Anisa sudah lebih dari satu jam. Hingga terdengar suara deru mobil yang dipastikan jika itu Dirga, suami Anisa.
"Assalamualaikum." Dirga yang sudah masuk tidak lupa mengucap salam.
Lelaki itu pun langsung salah tingkah saat matanya menangkap akan kehadiran Arumi.
"Waalaikumsalam." Jawab serentak Arumi dan Anisa.
"Mas," sapa Anisa yang langsung menyambut tas dan tangan Dirga.
"Buruan bersih-bersih dan setelah ini kita makan malam." Lantas Anisa pun mengingatkan Dirga untuk segera membersihkan diri dan dengan begitu makan malam akan segera dimulai.
"I-iya sayang, kalau begitu Mas ke atas dulu." Anisa yang merasa aneh, pada saat Dirga bicara kepadanya. Namun, wajahnya justru beralih menatap Arumi.
"Gelagat Mas Dirga sungguh aneh, ada apa sebenarnya ini?" dalam hati Anisa bertanya-tanya soal gelagat aneh pada suaminya.
Sedangkan Arumi masih dengan wajah yang sama. Tidak ada keanehan darinya, entah semua ini hanya perasaan Anisa atau memang ada hal yang ia tidak tahu soal apa pun itu.
Sedangkan di atas. Dirga tidak menyangka jika Arumi datang ke rumahnya, meski besar kemungkinan kalau semua itu akan terjadi karena istrinya dan Arumi adalah dua sahabat.
"Kenapa wanita itu datang? Aku harap semua akan baik-baik saja dan kepulangannya tidak menjadikan Bumerang untukku." Saat ini Dirga harap-harap cemas pada saat melihat ada Arumi.
__ADS_1
Dirga mengusap kasar wajahnya sebelum memutuskan untuk turun. Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Dirga dan Arum, sehingga membuat lelaki itu sangat ketakutan ketika Arumi datang untuk menjenguk istrinya.