Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
96. Kepergian Samuel ke luar kota


__ADS_3

Malam itu, Yuda terus mencari Samuel dari mulai kafe dan restoran. Siapa tahu suami dari adiknya itu ada di sana, dengan begitu lebih mudah untuk memantaunya.


" Sudah banyak tempat yang aku kunjungi, tapi tak terlihat mobil Samuel." Pikiran yang sudah melayang jauh, Yuda masih tidak menyerah untuk mengetahui keberadaan Samuel saat inu, jika tidak ditemukan juga. Entah ia tidak tahu harus mencarinya di mana lagi karena semua tempat sudah di susuri.


Ckckck.


"Kenapa aku begitu bodoh sih, harusnya kan bisa menghubunginya!" gerutu Yuda, hanya karena Samuel yang tidak tahu keberadaannya ia menjadi bodoh sampai lupa jika ponsel adalah benda komunikasi untuk mengetahui keberadaan seseorang.


"Argh … sial betul itu manusia," umpatnya lagi karena merasa jika dirinya sudah menjadi lelaki yang paling terbodoh.


Akhirnya Yuda menepikan mobilnya dan langsung menghubungi Samuel.


📲"Halo! Kamu ada di mana?" tanya Yuda langsung meski terdengar kebisingan, ia tetap bertanya untuk memastikan.


📲"Di Club, kenapa?" tanya balik Samuel.


Belum sempat Samuel mendapat jawaban, telepon sudah dimatikan dan sekarang Yuda sedang menuju di mana Samuel berada.


Dentuman musik semakin membuat orang berlenggak-lenggok dan menggoyangkan tubuhnya, seakan dialah insan paling sempurna. Yuda tak ingin lebih lama lagi berada di dalam tempat dengan banyaknya orang-orang yang hanya mengejar indahnya dunia. Lalu, bergegas mencari adik iparnya yang kini entah berada di mana.


"Ke mana anak itu," batin Yuda.


Saat sedang sibuk mencari seseorang, tiba-tiba ada tangan yang kini telah bergelayut manja hingga membuat Yuda murka.


"Jauhkan tubuhmu dariku!" sergah Yuda dengan tatapan tajamnya.


"Hai, dasar lelaki sombong." Wanita itu langsung menjauh meski dengan mulut yang terus mengomel, karena baru kali ini sentuhannya di tolak oleh seorang laki-laki secara mentah-mentah.


Yuda tidak peduli dan terus berjalan untuk terus mencari Samuel hingga matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal.


"Ah, itu dia." Akhirnya Yuda pun menemukan sosok yang sedari tadi ia cari dan sekarang tengah berada di meja khusus.


Melihat Samuel hendak meminum jus yang ada di tangannya. Membuat Yuda harus bergerak cepat karena tidak mau hal yang sudah berlalu akan terjadi lagi, itulah yang saat ini ada di pikiran Yuda dan selalu antisipasi.


STOP!


Samuel menoleh saat seseorang menghentikan tangannya yang akan menyodorkan gelas itu ke bibirnya.


Otomatis semua mata tertuju pada sumber suara tersebut. Hingga senyuman wanita itu sedikit pudar.


"Berikan minumannya padaku," pinta Yuda dan semakin membuat Samuel bingung karena kedatangan Yuda yang tiba-tiba, justru sekarang malah meminta minuman tersebut.


"Untuk apa?" tanya Samuel dengan kening mengkerut.


"Jangan banyak bicara, berikan saja padaku!" perintah Yuda dengan darah mendidih karena ia yakin dan pikirannya begitu kuat jika ada sesuatu.


Gelas yang berisikan jus itu sudah ada di tangan Yuda, dengan wajah liciknya ia akan mengembalikan semuanya pasa empunya.


"Nona, minumlah."


"Apa-apaan Anda!" seru orang tua yang berada di samping perempuan dengan mengenakan gaun kekurangan bahan.


"Anda diamlah jika tidak tahu apa-apa," jawab Yuda tak kalah sengit.


"Saya tidak suka jus, jadi tidak mungkin saya meminumnya." Perempuan tersebut menolak secara kerasa dan beralaskan jika tidak menyukai jus. Lantas hal itu tidak membuat Yuda percaya karena semua itu hanyalah akal-akalan wanita tersebut.

__ADS_1


"Cepat minum!" hardik Yuda dengan tatapan tajamnya, ia tidak peduli untuk kelanjutannya.


"Apa maksud Anda menyuruh saya untuk meminum jus ini?" tanya wanita itu dengan wajah yang tak bisa disembunyikan lagi.


Tanpa disangka seorang lelaki yang berada di samping Samuel langsung menyambar gelas yang berisikan jus tersebut. Menghabiskan hingga tak tersisa dan orang itu pun dengan bangga mengatakan jika tidak ada yang mencurigakan.


"Lihat, saya tidak mati kan, kenapa harus dipersoalkan!" ungkap pria yang masih muda itu.


Sedetik.


Dua detik.


Tiga detik.


Hingga menit-menit berikutnya pun semakin cepat berjalannya sampai sebuah perubahan terlihat nyata.


Ketika tadi tidak ada reaksi apa pun, sekarang pria yang menggunakan setelan jas berwarna hitam itu nampak kegerahan, karena sangat kentara respons tubuhnya yang ditunjukkan oleh lelaki tersebut.


"Oh, ****!" umpat lelaki itu yang kini sedang merasakan tubuhnya berada di suhu paling tinggi.


"Sekarang kelihatan kan, jus itu sudah di campur dengan obat apa." Dengan sebuah senyuman penuh dengan kemenangan Yuda berkata, hingga ayah dan anak itu hanya bisa menelan ludahnya.


Brakkk!


"Kerja sama kita batal!" seru pria dengan usia sedikit di atas Samuel.


"Untuk kalian berdua, saya tidak akan mempromosikan perusahaan yang Anda dirikan, karena kinerja kalian sungguh licik!" dengan amarah yang menggebu serta napas yang tersengal, lelaki yang diketahui bernama Bramantyo itu kini tidak akan memilih bekerja sama dengan orang yang sudah berani bermain curang.


"Maaf Pak, saya terpaksa karena putri saya menyukai Pak Samuel."


Brakkk.


"Enyah dari hadapan saya!" bentak Samuel yang sudah kehilangan sebuah kesabaran karena ucapan kotor dari rekan kerjanya.


"Sebaiknya Bapak segera pulang, agar secepatnya mendapatkan obatnya." Yuda sengaja menyuruh pak Bram untuk segera pulang karena efek tersebut tidak akan sembuh, jika tidak ditemukan obatnya sekarang juga.


"Besok kita akan bertemu, Pak Sam."


Satu per-satu masalah telah selesai dan sekarang tinggal Samuel dan Yuda. "Terima kasih kamu telah menyelamatkan nyawaku lagi," kata Samuel yang sangat bersyukur ketika Yuda datang dengan tepat waktu, karena jika tidak. Entah apa yang akan terjadi untuk selanjutnya Samuel tidak bisa, membayangkannya. Di mana kejadian yang pernah dialami kini harus terjadi lagi.


"Yang penting kamu selamat."


Samuel memang merasa jika ada yang tidak beres dari gelagat lelaki yang ia kenal cukup baik. Namun, kenyataannya semua itu palsu.


"Sekarang kita pulang. Kasihan Anisa jika kamu pulang semakin larut," kata Yuda karena memang sekarang sudah pukul 10 dan pasti Anisa sudah menunggunya.


"Baiklah."


Keduanya sudah berada di kendaraan masing-masing. Beruntungnya, Yuda tidak sampai terlambat untuk segera membuat semuanya terbongkar karena jika tidak. Habislah nama Samuel ketika sebuah jebakan telah membuatnya masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan.


Tidak heran jika semua pebisnis akan melakukan hal kotor, hanya untuk menarik simpati dari lawannya.


Tepat pukul 11 malam.


Dengan perlahan Samuel membuka pintu dan alangkah terkejutnya ketika melihat Anisa, tengah tertidur pulas di ruang tamu.

__ADS_1


Samuel yang merasa bersalah, akhirnya menggendong wanita yang kini tengah mengandung anaknya. Untuk di bawah ke lantai atas di mana tempat tidurnya berada.


Keesokan paginya, di mana langit mulai menampakkan warna cerahnya dan terdengar, suara nyanyian dari burung gereja. Di situlah perempuan sedang asyik memasak dengan hati yang berbunga-bunga.


Sedangkan Samuel yang sudah bangun, melihat tingkah lucu dari sang istri. Merasa gemas dibuatnya karena tak sedikitpun kemarahan yang diperlihatkan soal masalah semalam.


"Sayang, tumben bahagia banget?" akhirnya Samuel memilih bertanya ketika melihat Anisa sibuk dengan sebilah pisau untuk mengupas bumbu.


"Ah, perasaan kamu saja. Sekarang duduklah aku akan kopi," ujar Anisa masih dengan senyuman ramahnya.


"Oh ya, bagaimana soal semalam?" tanya Anisa.


Inilah yang akan dibahas oleh Samuel soal pekerjaannya yang akan dikerjakan di kota S, lalu untuk semalam juga Samuel sengaja menutupi ketika dirinya hendak dijebak oleh rekan kerjanya, yang mengatasnamakan cinta.


"Eum … apa aku harus membatalkan pekerjaan ini, karena aku sungguh tidak tega membiarkan kamu berada di rumah sendirian." Yah, tadi pagi Pak Bram telah menghubunginya dan memintanya untuk menjalankan tugas sendiri. Pak Bram percaya jika perusahaan yang dipimpin oleh Samuel adalah perusahaan terbaik di sepanjang karirnya, karena dengan Samuel turun tangan langsung untuk memantau sebagian anak buahnya. Hal itu juga yang membuat semakin dipercaya oleh kalangan pebisnis.


Di balik itu, usaha yang sudah diwariskan oleh sang ayah juga. Kini tengah berkembang pesat dan sekarang ia begitu membutuhkan seorang asisten untuk menghandle pekerjaannya yang tidak bisa ia kerjakan sendiri. Dulu setelah Yuda keluar Samuel sudah mendapatkan asisten baru, sayangnya tidak begitu lama asistennya berhenti dengan alasan menikah.


"Sayang, nanti akan ada interview dari pihak HRD sudah aku beritahu. Jika kamu yang menentukan pantas tidaknya untuk memilih seorang asisten," ujar Samuel menjelaskan.


"Mas, aku harap kamu menentukan apakah mengambil keputusan ini, untuk yang ada di kantor aku bisa membantumu."


Huuf.


Samuel menghela napas, karena memang begitu berat saat ingin berpisah. Nyatanya semua ini hanya semata-mata untuk bekerja, tapi kenapa bisa seberat ini.


"Iya, asal kamu mengizinkan maka aku akan pergi." Dengan tatapan sendunya, Samuel mencoba berbicara sekali lagi pada Anisa.


"Aku merestuimu, kepergiamnu untuk bekerja jadi aku percaya sepenuhnya dengan kamu, Mas." Seulas senyuman tersungging di bibir Anisa, karena ia tidak mau menghalangi pekerjaan suaminya. Apalagi hal itu adalah sumber pencarian bagi keluarganya agar tetap bertahan hidup.


"Aku berangkat nanti malam. Ditemani satu orang, kamu hati-hatilah di rumah."


"Tentu," ucap Anisa.


Waktu yang ditunggu sudah datang, di mana sekarang waktu keberangkatan Samuel untuk menuju ke kota S, karena sebuah tuntutan pekerjaan jadi mau tak mau ia harus berangkat.


"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Aku pamit dulu," ucap Samuel meski berat ia harus rela berpisah.


"Kamu juga hati-hati di sana." Jawab Anisa dengan memegangi perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.


Beberapa hari kemudian.


Samuel bekerja sudah menuju hari ke delapan, keadaan baik-baik saja dan keduanya masih berkomunikasi dengan baik tanpa hambatan. Hingga sebuah berita membuat Anisa tidak ingin bangun karena tidak sanggup untuk membawa berdiri.


"An, lihat berita!" Ucapan Arum seketika membuat Anisa bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Anisa dengan nada bingung.


Terlihat wajah tak biasa yang menghiasi Arum. Hal itu semakin membuat Anisa bertambah bingung dan seketika menyalakan televisi.


"Rum, ini tidak benar kan, ini pasti salah. Benar begitu? Jawab aku Rum!" Dengan dada berdegup kencang Anisa meraih tangan Arum dan meminta kebenaran jika apa yang dilihatnya tidak benar.


"Sabar An, doakan supaya bisa segera ditemukan." Arum mencoba menenangkan yang kini tengah histeris.


"Tidak Rum, aku mau ke sana. Tolong bawa aku ke lokasi … hiks … hiks, tolong bawa aku ke sana Rum."

__ADS_1


__ADS_2