Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
63. Anisa kritis


__ADS_3

Seminggu sudah Anisa di berada di ruang ICU, dengan setia Samuel tidak sekalipun meninggalkan Anisa yang berada di rumah sakit.


Sekarang, Samuel tengah berada di dalam memegang erat jemari Anisa dan berharap jika wanita yang tengah terbaring tidak berdaya dan hanya menunggu keajaiban datang. Samuel berdoa untuk hal itu karena seminggu tanpa adanya tawa, membuatnya kehilangan semangat hidup.


"Sayang, bangunlah. Aku mohon bangun, apa kamu tidak lelah terus tidur tanpa ingin membuka mata! Aku mohon beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu." Samuel tidak bisa lagi menahan tangisannya, tubuh yang tidak terawat dan wajak kucelnya semakin memperlihatkan jika Samuel tidak lagi mengurus tubuhnya.


Seminggu sudah Samuel tidak bekerja dan selama itu pula Samuel tidak pulang dan lebih memilih menemani Anisa, berharap jika ia bisa melihat istrinya membuka mata untuk pertama kalinya.


Saat Bu Susi melihat anaknya di dalam layaknya orang yang sudah tidak punya gairah untuk menjalani hidup. Tentu saja wanita tua itu merasa sedih karena melihat keadaan Samuel yang nyaris tidak dapat dikenalinya.


"Sam, kamu butuh makan, tidak hanya itu saja. Jika Anisa bangun terus melihat kamu seperti ini, maka mama yakin Anisa tidak mengenalimu." Sengaja bu Susi membujuk Samuel dengan alasan tersebut. Yang dimau oleh bu Susi jika Samuel mulai merawat diri, apalagi lelaki itu sejak sakitnya Anisa jarang makan.


"Tidak Ma, aku akan terus di sini menemani Anisa dan siapa tahu istriku bangun lalu mencariku." Samuel tetap menolak dengan alasan yang tetap.


"Sam, jika Anisa bangun bukan kamu orang pertama yang dicari! Bercerminlah maka kamu akan tahu dari maksud ucapan mama." Sejenak Samuel menatap sang ibu dan sepertinya apa yang dikatakan oleh wanita yang sudah melahirkannya adalah benar. Bahwa untuk saat ini memang harus merubah penampilan agar nanti, jika Anisa bangun tidak terkejut dengan mengira bahwa tidak mengenalnya.


"Sekarang kamu pulang, biar mama yang akan menunggunya."


Dengan keadaan terpaksa, Samuel pun menuruti permintaan dari Bu Susi. Memang benar apa yang dikatakan bahwa Anisa ketika bangun akan bingung karena perubahan dari wajah Samuel.


"Ma, jika Anisa ada perkembangan. Tolong segera hubungi aku," pinta Samuel.


"Tentu, mama akan mengabari kamu." Jawab bu Susi.


Setelah berpamitan, Samuel langsung keluar, tapi sebelum itu ia mencium kening sang istri sebelum memutuskan untuk pulang.


Samuel sudah pulang dan sekarang hanya ada Bu Susi yang menunggu. Sayangnya, tepat saat Samuel pergi terlihat ada perubahan dari tubuh Anisa hingga dengan gugupnya Bu Susi memanggil seorang perawat yang kebetulan lewat di depan ruangannya.

__ADS_1


"Suster! Tolong, tolong anak saya!" teriak bu Susi histeris.


"Ada apa Bu, mohon tenang agar bisa menjelaskan." Mendengar penuturan seorang suster, bukannya tenang bu Susi justru terisak.


"Sus, cepat tolong panggil dokter!" perintahnya karena bu Susi tidak sanggup lagi rasanya untuk berkata.


"Baik Bu, saya akan segera menghubungi dokter yang menangani anak Ibu." Sekuat hati Bu Susi mencoba tegar saat melihat Anisa kejang dan bertepatan saat Samuel pergi.


Tidak membutuhkan waktu lama. Tim dokter sudah datang dengan dua perawat, termasuk suster yang ditemui oleh Bu Susi tadi


Bu Susi yang ingin masuk malah di tahan oleh suster. "Maaf Bu, silahkan Ibu menunggu di luar." Ucapan dari suster tersebut membuat Bu Susi seketika lemas, karena bagaimana mungkin ia tega meninggalkan Anisa dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Ya Allah, berikanlah kesembuhan pada Anisa dan juga bayi yang ada di kandungannya, Aminnn." Bu Susi tidak henti-hentinya berdoa memohon agar menantu dan calon cucunya bisa melewati masa kritis.


Sedangkan di dalam ruangan.


"Suster upayakan jika detak janin bisa normal kembali!" ucap dokter yang kini terlihat cemas saat melihat Anisa yang kini dengan keadaan memperhatikan.


Satu dokter dan dua suster terus memberikan pertolongan pada Anisa yang kini telah berjuang melawan takdir. Alat monitor menunjukkan bahwa detak jantungnya semakin melemah dan hal itu membuat orang yang ada di ruangan panik, karena keadaan pasien semakin kritis di tambah janinnya yang tidak memungkinkan untuk untuk terus hidup di dalam rahim sang Ibu.


"Sus, tolong jaga pasien ini. Untuk kamu tolong beritahu tahu keluarganya atau suaminya, jika kita harus melakukan operasi lagi karena janinnya harus kita angkat. Kalau tidak nyawa Ibunya tidak akan tertolong dan bayinya juga harus kita ambil," ucap dokter teresebut karena tidak mungkin terus mempertahankan janinnya sedangkan Ibu pasien keadaannya semakin kritis.


Akhirnya dengan keterpaksaan Dokter Alex harus memanggil semua para keluarga Anisa, meminta persetujuan akan dilakukannya operasi karena tidak mungkin mempertahankan janin yang tidak berdosa itu.


Di luar, tepat Samuel datang seorang dokter keluar dari ruangannya. Dengan senyuman yang mengembang Samuel berharap jika hari ini adalah hari baiknya.


"Dokter, bagaimana istri saya! Apa Anisa,sudah sadar Dok, katakan dan jangan hanya diam." Melihat dokter tidak ada respon, terpaksa Samuel terus menarik jas nya hingga dokter itu pun memberitahu.

__ADS_1


Dengan napas berat, Dokter Alex mau tidak mau harus menyampaikan yang tidak seharusnya didengar oleh Samuel. "Pak, Ibu Anisa harus dioperasi lagi."


Samuel yang mendengar penuturan dari dokter seketika pandangannya kosong. Dengan perlahan kedua tangan lepas dari saku dan seakan jika ini adalah berita yang tidak benar, ia yakin jika ini adalah mimpi.


"Dokter jangan bercanda ya, bukankah istri saya seminggu lalu sudah dioperasi?" tanya Samuel dengan dada bergemuruh karena seminggu lalu Anisa sudah dioperasi, nyatanya sekarang kata-kata itu kembali terulang.


"Maaf Pak, tapi semua ini juga demi kebaikan istri Bapak."


"Kebaikan apa yang anda maksud?" dengan tatapan bingung Samuel bertanya.


"Bu Anisa drop dan keadaannya semakin kritis, jadi mau tidak mau Bapak harus merelakan anak Bapak untuk diambil. Usia kandungan Bu Anisa sudah enam bulan itu masih kita pertimbangkan.


Samuel tertegun, seakan tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Anak yang ia jaga selama enam bulan ini harus direlakan. Rasanya Samuel tidak sanggup dan tidak akan tega melakukan hal itu.


"Apa tidak ada cara lain? Kenapa harus anakku yang menjadi korbannya," ujar Samuel dengan wajah yang semula menampakkan secerah tawa, kini dengan sekejap semuanya sirna.


"Tidak ada Pak, detak jantung si janin semakin berkurang dan kondisi Bu Anisa juga semakin memburuk." Mendengar hal itu Samuel tidak sanggup lagi harus berkata apa.


"Dok, apa tidak bisa dipertahankan? Setidaknya aku tidak membunuh anakku sendiri." Dokter itu pun menghela napas.


"Kita lihat besok, jika tidak ada perkembangan maka semua itu harus dilakukan." Jawab dokter dengan memasukkan kedua tangannya di saku. Ia merasa kasihan atas peristiwa yang dialami oleh Anisa dan juga Samuel.


"Dok, jika ada cara lain tolong, beri kesempatan anak kami untuk terlahir di dunia." Layaknya sebuah permintaan dokter itu pun yang semula pergi kini menoleh ke arah lelaki yang tengah menatapnya.


"Jika bisa besar kemungkinan, maka dari itu saya mengonfirmasikan untuk dioperasi agar si Ibu juga bisa mendapatkan perawatan medis yang tepat. Dengan cara mengeluarkan si janin maka anak Bapak akan terlahir prematur," kata dokter yang menjelaskan, lantas di sini Samuel sedikit bisa bernapas lega karena apa yang ia pikirkan itu terlalu jauh larinya.


Setelah itu tidak ada lagi obrolan karena sang dokter pun meninggalkan Samuel yang kini tengah berdoa, berharap jika istri dan anaknya bisa selamat.

__ADS_1


__ADS_2