Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
29. Hari yang tak bisa dihindari


__ADS_3

Tidak terasa jika Anisa sudah tiga hari berada di panti, dan hal itu membuatnya sedikit terhibur akan adanya anak-anak yang kerap diajak main olehnya. Masalah yang ia hadapi perlahan sirna dan hampir tak terpikirkan, jika hari ini Anisa akan pergi ke pengadilan untuk menggugat Dirga.


"An, kamu sudah benar-benar yakin kan. Dengan keputusan yang kamu buat?" tanya Arum memastikan, jika Anisa sudah tepat dalam ambil keputusan.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa, aku harus siap kehilangan untuk mendapatkan kebahagiaan!" kata Anisa, menjawab semua pertanyaan Arum yang tidak masuk akal menurutnya.


"Hanya ingin tahu, seberapa besar kamu yakin akan hal ini." Mendengar hal itu, Anisa hanya tersenyum. Menandakan jika dirinya baik-baik saja.


"Eh, sebentar." Anisa sontak langsung berhenti saat Arum menahan langkah sahabatnya. Ada yang beda dari Anisa, dan hal itulah yang membuat Arum sangat antusias saat bertanya.


"Apa aku tidak salah lihat soal, ini?" ucap Arum sambil tangan memegang jilbab yang dikenakan oleh Anisa.


"Anggap saja ini adalah hidayah, saat aku mulai mencari jalan baru untuk memulai hidup yang lebih baik lagi." Jawab Anisa dengan penuh rasa sukur, saat dirinya dihadapkan peliknya hidup. Justru ia mulai merasa jika waktunya untuk mencari hidayah.


"Aku bangga padamu, An. Untuk aku sendiri masih menunggu Tuhan memberiku hidayah. Untuk aku berubah lebih baik lagi," kata Arum tersenyum karena perempuan itu. Mendukung penuh akan perubahan Anisa.


Tidak terasa Anisa dan Arum akhirnya selesai jug dari pengadilan Agama, dan pengajuan pun di terima. Tinggal menunggu sidang pertama yang akan dilaksanakan senin depan.


Anisa sangat berharap jika saat gugatan itu berjalan. Semua akan berjalan dengan lancar.


"An, ke cafe yuk. Kita sudah lama tidak menikmati kebersamaan," ajak Arum pada Anisa karena memang cukup lama mereka berdua tidak keluar bersama, dan terakhir saat Anisa bertemu dengan Ibu mertuanya.


Anisa mengangguk dan mobil pun meleset ke arah cafe langganannya.


Sesampainya di cafe. Seperti biasa Anisa dan Arum memesan Cake dang Cappucino.


Siapa sangka saat keduanya tengah menikmati apa yang sudah mereka pesan. Sebuah tepukan meriah tepat berada di sampingnya. Hingga membuat kedua perempuan itu menatap penuh kebingungan.

__ADS_1


Prok.


Prok.


Prok.


"Wah ... wah ... ternyata begini toh kelakuan kamu, yang memaksa untuk meminta cerai." Entah dosa apa yang sudah dilakukan oleh Anisa, hingga Ibu mertuanya terus mengganggunya. Di tambah ada sosok madunya juga, dan hal itu membuat Anisa menyesal untuk mengikuti kemauan Arum.


"Ibu!" gumam Anisa, karena kedatangan madu serta mertuanya tanpa disangka-sangka.


"Hye wanita mandul! Meski kamu memakai cadar pun tidak akan merubah keadaan karena sekali mandul, tetaplah mandul!" ujar bu Marina tanpa punya rasa kemanusiaan beliau tega menghujat Anisa, yang terpampang nyata bahwa hasil pemeriksaan negatif.


"Terserah Ibu mau bilang aku mandul atau apalah itu, yang mau aku sampaikan jangan pernah Ibu menghina apa yang sudah aku kenakan sekarang!" jelas Anisa penuh penekanan.


"Dasar belagu, baru juga mau jadi janda sudah kebanyakan tingkah. Jangan-jangan kamu sengaja pakai jilbab buat narik Mas Dirga lagi, kan?" ucap Elsa dengan senyuman mengejek.


"Maaf, aku tidak seperti yang kamu pikir. Satu hal yang kalian harus tahu, bahwa aku bahagia bisa lepas dari manusia munafik seperti Ibu dan Mas Dirga!" Anisa menjawab dengan nada halus, tapi bagi mereka ucapan Anisa layaknya sebuah batu yang menghantam hati Bu Marina dan juga Elsa.


"Siapa dia? Sampai sampai aku harus tunduk pada wanita, yang sengaja menghancurkan rumah tangga orang? Dan untuk Ibu. Jangan terlalu berharap pada sosok yang belum tahu sifatnya seperti apa." Bu Marina yang mendengar akan hal itu, semakin memperlihatkan ketidaksukaannya pada Anisa.


"Setidaknya Elsa jelas asal usulnya, tidak seperti kamu!" tunjuk bu Marin tepat di wajah Anisa.


"Bu, jika sudah tidak ada lagi urusan. Silahkan pergi karena aku tidak ada waktu untuk meladeni sikap Arogan kalian," ucap Anisa yang meminta kedua wanita pergi dari hadapannya.


"Kamu mengusirku?" geram bu Marina dengan tatapan kebencian.


"Jika kedatangan kalian hanya untuk mengajak ribut. Maaf, kalian bukan lawanku!" tegas Anisa yang ingin menyudahi pertengkaran antara dirinya dan mertuanya.

__ADS_1


"Ingat, kamu akan menjadi gembel setelah Dirga resmi menceraikan kamu!" ucap bu Marina dengan rasa tidak sabar agar putranya menceraikan sosok Anisa, yang dianggap benalu dan mandul.


"Aku menunggunya, Bu." Jawab Ana tak kalah mengejutkannya.


Akhirnya dua wanita itu pun pergi, dan sekarang menyisakan Anisa dan Arum.


"Bagus An, kamu pantas melawannya agar tidak dianggap lemah. Ada kalanya kita diam, dan ada saatnya kita bertindak." Arum berdiri, lalu menepuk bahu Anisa dengan lembut.


"Iya, mungkin dulu-dulu aku masih bisa mentolerir akan sikap Ibu padaku, dan aku pun diam saat beliau menghina dan mencaci, tapi untuk sekarang ...." Ucapan Anisa terjeda karena netranya tanpa sengaja melihat sosok yang sangat ia kenali, dan tengah berjalan dengan langkah serius dengan beberapa rekan kerjanya.


"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu mulai penasaran dengan dia."


"Kamu jangan mengada-ngada karena otak dan pikiranku masih normal," ujar Anisa menatap tidak suka dengan ucapan Arum.


"Sekarang bisa jadi kamu tidak suka, nanti siapa tahu. Kita tidak tahu hati kita berlabuh pada siapa, saat ada orang menawarkan kenyamanan maka kita dari situ tahu." Entah sepertinya Arum memang mengerti soal masalah percintaan, dan hal itu membuat Anisa hanya menghela nafas.


"Sudahlah, kita nikmati kopi ini." Jawab Anisa yang tak mau membahas soal Samuel lagi.


"Ckckck ... ingat nanti juga bakal bucin kamu," ujar Arum.


"Apaan sih kamu! Aku hanya berpikir jika tempat ini memang favorit semua kalangan, contohnya ya dia." Jawab Anisa pada Arumi, yang tak mau dituduh jika dirinya penasaran dengan sosok Samuel.


"Apa aku perlu menyapanya untuk kamu, pasti lelaki itu sangat senang." Arumi berujar dengan nada menggoda, dan hal itu membuat Anisa tidak suka, karena biar bagaimana pun. Antara dirinya dan Samuel belum sah berpisah.


"Kamu jangan membuatku marah untuk kedua kalinya, ya." Anisa mendengus kesal karena sahabatnya itu, sedari tadi terus menggodanya.


"Baiklah, aku minta maaf." Akhirnya Arumi pun minta maaf dan keduanya kembali menikmati minumannya.

__ADS_1


Satu jam telah berlalu, entah mengapa rasanya Anisa tidak bisa berhenti mencuri pandang. Pada Samuel yang sepertinya benar-benar sibuk. Sehingga tidak sempat menoleh ke sana dan kemari.


"Rum, kita balik yu, aku butuh tidur biar tenagaku pulih setelah menghadapi mertua dan racunku." Setelah lebih dari cukup untuk waktu hari ini, Anisa pun mengajak Arum untuk pergi.


__ADS_2