Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
57. Di dorong oleh sosok tidak di kenal (Kepulangan Samuel dari bali)


__ADS_3

Di lain tempat.


Sesampainya di rumah sakit, Anisa pun segera di minta untuk berbaring. Dengan menahan rasa sakit ia pun menuruti ucapan sang dokter.


"Beruntung kandungan anda masih baik-baik saja, hanya mengalami benturan kecil dan hal itu terjadi karena kandungan Bu Anisa masih cukup muda dan rentan, kedepannya bisa lebih hati-hati ya Bu, saya akan memberikan obat pereda nyeri." Ucapan sang dokter membuat Anisa sedikit lega karena bersyukur sakit yang dialaminya hanya kontraksi kecil.


Saat ini Anisa masih memikirkan siapa wanita itu dan apa tujuannya? Rasanya tidak mungkin jika tidak ada unsur sengaja, karena bisa terlihat jika hal itu memang sengaja dilakukanya.


"Baik Dok, terima kasih karena saya sudah sedikit bisa tenang meski rasanya masih nyeri." Dokter itupun mengangguk dan tersenyum pada Anisa.


Sesampainya di rumah, Anisa langsung meminum obatnya dan tidak lupa memberitahu Pak Rudi untuk tidak melaporkan hal ini pada suaminya. "Pak, saya minta Bapak jangan bilang sama Pak Sam, karena Bapak tahu sendiri kan sifatnya jika sudah menyangkut keluarganya!" kata Anisa dengan tegas.


"Baik Nyonya, saya tidak akan memberitahukan semua ini pada Bapak. Saya juga tidak mau jika Bapak sampai nekat untuk mencarinya," ujar pak Rudi.


"Bagus Pak, kalau begitu minta tolong untuk di taruh di atas meja ya ini semua. Saya ingin istirahat siapa tahu dengan begitu perut saya sudah tidak merasakan sakit," kata Anisa pada Pak Rudi.


"Baik Nya, saya akan membawanya ke belakang."


Anisa sudah meninggalkan Pak Rudi dan kini lelaki yang sudah hampir tujuh tahun itu, telah mengabdikan dirinya untuk menjadi seorang sopir dari keluarga Samuel, lantas pria dengan dua anak itu membawa barang belanjaannya di belakang dan bertemu dengan Mbok Yem.


"Mbok, Nyonya tolong dibuatkan teh, kasihan karena mengeluh perutnya sakit!" pinta pak Rudi tiba-tiba.


"Loh, bukannya tadi baik-baik saja dan masih ceria Nyonya tadi?" perasaan bingung memenuhi isi pikiran mbok Yem, hingga memilih untuk bertanya.


"Tadi waktu Nyonya baru saja keluar dari belanja, ada orang yang tidak dikenal tiba-tiba mendorongnya sampai Nyonya jatuh tersungkur. Entah sepertinya orang itu memang sengaja aku juga tidak mungkin mengejarnya karena Nyonya sudah kesakitan," terang pak Rudi yang menjelaskan kronologinya seperti apa.


Sedangkan Mbok Yem yang mendengar hal itu, merasa kasihan karena majikannya dengan posisi hamil. Bukankah hak itu berpengaruh pada janin yang dikandung oleh Anisa? Jika terjadi apa-apa mungkin tuan mudanya tidak akan pernah memaafkan orang itu dan akan terus mencarinya hingga ditemukan. Lalu, hal itu membuat orang yang tengah mencelakai Anisa sama halnya dengan mencari perkara pada majikannya.

__ADS_1


"Ingat Mbok, jangan mengadukan semua ini sama Bapak karena saya takut jika nantinya akan menjadi masalah besar, Mbok ingat wataknya Bapak seperti apa!" ucap pak Rudi mengingatkan jika tidak boleh melaporkan masalah ini dengan majikan laki-lakinya dan hal itupun adalah permintaan dari majikan perempuannya.


"Baiklah karena mbok juga tidak mau sampai Aden nekat mencarinya," jawab mbok Yem yang langsung membuatkan teh hangat untuk Anisa.


Mbok Yem yang sudah berada di depan pintu kamar Anisa, lalu mengetuk daun pintu tersebut untuk memastikan jika istri dari tuan mudanya masih belum tidur.


Tok!


Tok!


Tok!


"Iya, masuk saja!" sahut dari dalam kamar.


"Nyonya—,"


"Maaf, An. Mbok merasa tidak pantas," timpal mbok Yem.


"Aku tidak nyaman dengan panggilan itu," sahut Anisa.


"Apa itu, Mbok?" tanya Anisa karena melihat Mbok Yem tengah memegang sebuah cangkir.


"Teh, agar perut kamu sedikit hangat." Mbok Yem pun langsung memberikan cangkir itu pada Anisa dan di terima olehnya.


Dua hari sudah Samuel berada di bali dan sekarang lelaki itu sudah berada di bandara. Dengan sebuah senyuman yang selalu ia perlihatkan, karena telah berhasil membawakan pesanan sang istri, yakni rujak khas bali.


Dengan hati yang berbunga Samuel gegas memasuki mobilnya dan akan segera pulang, tidak lupa terus memandangi sebuah kotak yang berisikan permintaan Anisa. "Kenapa aku begitu bangga ya, saat bisa memberikan ini semua pada Anisa!" pujinya pada diri sendiri.

__ADS_1


Sekitar satu jam, tibalah Samuel di rumah dan melihat keadaan rumah sedang sepi.


"Assalamualaikum!" teriak Samuel saat memasuki rumah.


"Ke mana Anisa dan juga Mbok Yem, dan Pak Rudi juga tidak ada." Samuel pun mencoba mencari-cari siapa tahu mereka ada di belakang. Nyatanya saat Samuel mencari tidak ada.


Dengan perasaan khawatir, Samuel mencoba menghubungi Anisa, tapi nihil karena terdengar suara dari kamar ponsel milik istrinya ternyata ada di rumah. Lalu, Samuel yang mendengar itu pun langsung berlari menaiki anak tangga.


Ceklek.


"Kosong, di mana Anisa berada? Kenapa semua orang tidak ada dan ponselnya justru ada di rumah?" gumam Samuel yang terus bertanya-tanya dalam hati karena Anisa tidak ada di rumah.


Akhirnya dengan langka tergesa-gesa. Samuel langsung kembali keluar dan menuju ke kediaman Yuda, untuk melihat apakah istrinya ada di sana atau tidak.


"Semoga Anisa ada di rumah Yuda," batinnya yang saat ini sedang dilanda kepanikan karena rumah kosong dan tidak ada satupun di rumahnya, termasuk Mbok Yem dan Pak Rudi.


Hampir 30 menit perjalanan dari rumahnya. Akhirnya Samuel pun sampai di rumah Yuda, dengan langkah cepat hingga lelaki itu tanpa permisi langsung membuka pintu.


"Ma-af, karena aku sedang panik." Dengan mengangkat kedua tangannya Samuel meminta maaf pada pemilik rumah yang sekarang menatapnya dengan tatapan penuh dengan aura dingin.


"Kalau datang bisa permisi tidak, dasar tidak sopan!" pekik Yuda dengan menatap sinis ke arah Samuel.


"Aku kan tadi sudah minta maaf, kenapa kamu terus menatapku seperti itu?" ujar Samuel yang nampaknya sudah salah tempat, sedangkan sosok wanita yang ada di samping Yuda terlihat salah tingkah. Tidak menyangka jika dirinya harus terpergok dengan situasi yang tidak tepat dan hal itu akan menimbulkan tanda tanya Samuel.


"Kalau menurutku sih, ada untungnya aku ke sini dan bisa mengetahui sejauh mana hubungan kalian. Lagipula dengan begini aku juga akan tahu kalau di antara kalian telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kita, kan?"


Saking hebohnya sampai Samuel lupa dengan istrinya, hingga Yuda pun yang teringat seketika bertanya. "Mana Anisa? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?"

__ADS_1


"Alamak." Samuel langsung menepuk jidatnya karena ia benar-benar melupakan Anisa, yang sedari tadi tidak tahu keberadaannya di mana.


__ADS_2