Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
15. Hatiku tidak sekuat Baja.


__ADS_3

"An, apa-apaan ini?" Brian yang dilanda emosi, langsung menarik Anisa.


"Kamu, kenapa datang-datang narik aku Mas, sekarang biarkan aku pergi karena aku mau sholat!" hardik Anisa saat Dirga menarik paksa Anisa.


"Jawab dulu, kenapa kamu memotong rambutmu An, aku sudah bilang kalau aku tidak suka melihat rambut ini kamu potong." Dirga langsung mencengkram rambut Anisa, dan berbicara dengan rasa tidak suka.


"Ini bukan persoalan penting, kenapa harus diperdebatkan." Jawab Anisa yang langsung mengambil rambut dari tangan Dirga, yang dicengkeram dengan sangat erat, karena menurutnya semua itu bukan masalah besar.


"Harusnya kamu izin dulu, kenapa kamu jadi istri pembangkang seperti ini, An?"


"Mas, hanya masalah aku memotong rambut aku harus meminta izin padamu. Lantas apa kamu meminta izin saat ingin menikah? Tidak kan," ucap Anisa dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan An, apa kamu tidak mau mencari ridho pada suami kamu sendiri?" Anisa menanggapi hanya dengan sebuah senyuman, sebelum menjawab perkataan Dirga.


"Aku mau Mas, aku ingin. Mengabdi dan mencari ridho mu. Pada kenyataannya aku bukanlah satu-satunya surga di hati kamu? Apa menurutmu aku bisa? Tidak Mas, hati ini cukup lemah untuk menerima kenyataan karena keinginanmu mencari surga kedua, dan saat itu juga tidak ada keinginan untuk aku mencari ridho darimu." Sebuah jawaban dari Anisa membuat Dirga semakin marah.


"Dalam agama tidak ada larangan untuk menikah lagi, meski aku berpoligami. Namun, aku tidak melupakan kamu—."


"Tidak Mas, yang kamu cari bukan dari salah satu syarat tersebut. Melainkan nafsu yang menggebu di hati kamu dan mendorong untuk berpoligami, dengan tanpa seizin dari istri sah kamu, yaitu aku." Dengan tatapan tajam, tatapan kekecewaan yang membuat Anisa berani melawan.


"Aku takut jika kamu tidak memberi aku izin untuk menikahi Elsa," ucap Dirga dengan suara lirih.


"Istri mana yang rela berbagi suami, aku hanya manusia biasa yang mempunyai hati dan perasaan. Imanku tidak sekuat Khadijah, jadi jangan samakan aku dengannya." Dengan dada yang bergemuruh menahan luka batin, yang ditorehkan oleh Dirga, kini semakin menganga.


"Sholat lah, sebentar lagi Ibu datang." Akhirnya Dirga membiarkan Anisa pergi.


"Nanti sore aku akan ke panti, dan aku harap kamu mengerti. Aku butuh waktu untuk menata hati yang telah kamu beri percikan api," ucap Anisa, meski begitu perempuan tersebut tetaplah meminta izin untuk keluar dari rumah.

__ADS_1


"Aku akan memberi kamu waktu."


.............


Seusai sholat, benar saja. Terdengar suara dari mertuanya yang sepertinya baru datang.


Tidak mau dianggap durhaka, lantas Anisa segera turun untuk menyambut Ibu dari suaminya itu.


Di bawah.


"Bu," sapa Anisa yang tak lupa mencium punggung tangan mertuanya.


"Cukup lumayan, saat kamu sholat tadi." Jawab ibu mertua Anisa.


"Sebentar, aku buatkan minum dulu." Anisa pergi dari hadapan mertua dan juga suaminya. Sebetulnya ia tidak mau lama-lama menatap wajah suaminya itu, karena akan selalu merasa sakit, mencoba ikhlas pada kenyataannya hatinya menolak.


Beberapa detik kemudian, Anisa sudah membawa secangkir teh untu mertuanya. Sekalian akan meminta izin menginap di panti.


"Apa kamu sengaja menghindari kedatangan saya? Lalu dengan begitu bisa pergi, mana baktimu menjadi seorang istri pada mertua dan suamimu!" cercah bu Marina yang pasti akan menolak saat Anisa meminta izin.


"Bu, mungkin Anisa kangen dan sudah cukup lama juga tidak ke sana, dan biarkan Anisa pergi." Dirga menyahut, seakan semua itu adalah pembelaan yang diberikan pada Anisa.


"Tidak bisa begitu dong, itu sama saja tidak menghargai Ibu yang sudah datang ke sini jauh-jauh!" sungut bu Marina dengan tatapan tidak suka.


"Lagian kamu kenapa bisa mempunyai istri model seperti ini sih. Sudah menjadi benalu mandul pula kenapa tidak menikah saja kamu, supaya Ibu segera dapat cucu." Sebuah ucapan yang membuat Anisa menahan emosi, dan memang mertua sampai kapanpun tidak akan mempunyai rasa suka terhadapnya.


"Boleh Bu, kalau Ibu mau menikahkan lagi Mas Dirga. Dengan syarat anak Ibu harus menceraikan aku," ucap Anisa dengan tatapan tajam ke arah mertuanya dan menyahut tanpa permisi.

__ADS_1


"Denger sendiri kamu kan Dir, wanita mandul ini memilih menyerah karena tak mampu lagi membuat kamu bahagia." Bu Marina tersenyum menatap Dirga san memberikan jalan untuk sang anak dapat menikah lagi.


"Tidak Bu, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Anisa, karena aku sangat mencintainya." Jawab Dirga pada Ibunya.


"Kamu egois dan serakah Mas, aku sangat membencimu ...."


"Jaga bicaramu! Kamu sama sekali tidak pantas bicara seperti itu pada anakku, dan hormati Dirga!" seru bu Marina menatap ketus ke arah Anisa.


"Ada saatnya aku menghormatinya Bu, dan ada saatnya aku melawannya." Dengan senyuman Bu Marina meremehkan Anisa.


"Jika kamu tidak menikah dengan putraku, kamu tetaplah gembel yang tidak jelas asal usulnya." Jawab bu Marina dengan memutari tubuh Anisa.


Memang betul apa yang dikatakan oleh Bu Marina, mungkin kalau Anisa tidak dipersunting oleh Dirga, wanita itu akan tetap berada di panti.


Harusnya Anisa menerima adik madunya, selama kebahagiaannya terjamin dengan sebuah harta. Namun, Anisa bukanlah wanita seperti itu. Mau sekaya apapun dan seperti apa suaminya, jika harta tidak akan bisa membelinya.


Tidak semua kebahagiaan diukur oleh uang. Kalau uang bisa membelinya mungkin hatinya tidak akan kesepian, karena yang ia butuhkan adalah sosok suami. Yang bisa menjaganya, memberikan kasih sayang sepenuhnya. Menemaninya hingga menua, tanpa ada kebohongan dan penghianatan.


"Aku tidak minta dinikahinya Bu, jika hanya untuk disakiti seperti ini." Anisa menjawab dengan senyuman meski sedikit dipaksakan.


"Dasar wanita mandul dan sok suci, apa hebatnya kamu jika berkata seperti itu? Memangnya ada laki-laki yang mau denganmu? Cuih, dasar wanita tidak diuntung." Bu Marina semakin geram karena merasa jika Anisa adalah wanita yang paling berarti.


"Bu, sudahlah. Jangan membuat keadaaan semakin tidak nyaman," ujar Dirga menengahi.


"Lagian kamu kenapa gak berpisah saja, di luar sana ada wanita yang lebih baik daripada dirinya!" tukas bun Marina yang mencoba menghasut Dirga.


"Ucapan Ibu terkabul, dan sekarang suruh anak Ibu segera menceraikan aku." Anisa dengan terpaksa mengatakannya karena tidak mau terus menyembunyikan akan kebusukan anaknya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" tanya bu Marina.


"Kabar baik hari ini, karena semua Doa Ibu, di jabah oleh Tuhan, dan sekarang bersenang-senanglah. Untuk merayakan kebahagiaan akan Mas Dirga yang tengah berbahagia," kata Anisa dengan melebarkan senyuman, dan menjadikan rasa sakit itu sebuah kekuatan.


__ADS_2