Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
73. Pertemuan dengan masa lalu


__ADS_3

Keesokan paginya. Benar saja Samuel sudah siap dengan barang bawaannya untuk dibawanya ke rumah Anisa dengan sesekali bersiul.


"Udang balado ini, aku yakin jika Anisa suka." Sambil menenteng paper bag, Samuel dengan senyum bahagia lantas berjalan untuk memasuki mobil, tapi sayang. Kepergiannya dicegah oleh Ibu Susi.


"Sam, kamu mau ke mana?" tanya bu Susi.


"Eh Mama, mau nganter lauk di rumah Anisa." Jawab Samuel dengan wajah berbinar-binar.


"Alangkah baiknya jika mereka disuruh ke sini saja. Dengan begitu kamu juga bisa menunjukkan masa lalu kalian pada Anisa," usul bu Susi pada Samuel.


Sejenak Samuel terdiam, memikirkan soal usul dari sang Mama. Memang betul dengan kedatangan Anisa kemari, semua itu bisa membuat Anisa bisa menemui tempat di mana dirinya pernah satu atap dengan Samuel di rumah ini.


"Benar yang Mama katakan. Di rumah ini ada foto Anisa saat kata 'Sah' terucap beberapa bulan lalu," kata Samuel yang setuju dengan usul dari bu Susi.


"Coba hubungi Yuda, hari ini dia libur kerja kan, bisa dipastikan anak itu tidak akan menolak demi kebaikan Anisa." Samuel setuju dan langsung mengambil ponsel di dalam sakunya, untuk segera menghubungi Yuda.


"Bagaimana Sam, apa mereka bisa?" setelah Samuel selesai menghubungi Yuda dan saat itu juga bu Susi bertanya pada Samuel, tentang Yuda beserta Anisa bisa datang atau tidak.


"Bisa Ma, mungkin agak siangan karena hari ini Anisa masih mau pergi ke toko bunga." Bu Susi yang mendengar sangat antusias dan akan memasak banyak untuk menantunya itu. Meski tidak dikenal sebagai mertua, bu Susi tidak sedikitpun marah pada Anisa karena ia yakin jika suatu hari anak menantunya akan kembali bersama. Merajuk benang yang sempat putus, lali memulai kehidupan baru dengan cinta kasih yang mereka miliki sebelumnya.


Sedangkan di lain tempat.


"An, setelah ini kita di minta Tante Susi untuk datang ke rumahnya." Anisa menoleh dan dengan kening mengkerut ia bertanya.


"Memangnya ada acara apa? Kok kita di suruh ke sana dan memangnya Kakak kenal sama orang itu?" tanya Anisa dengan ekspresi datarnya.


"Apa kamu percaya jika kamu itu adalah menantunya," kata Yuda.


Bukan balasan yang diterima oleh Yuda, melainkan sebuah tawa dan menurut Anisa hal itu sangatlah konyol.

__ADS_1


“Jangan mengada-ngada, Kak. Mana mungkin seperti itu dan maksud Kakak juga aku pernah bermain suami istri dengan Samuel?” dengan tawa yang tak luput dari bibir wanita berhijab itu. Kini Yuda tidak tahu harus berkata apa, karena lagi-lagi Anisa tidak percaya dengan apa yang diucapkan barusan.


“Kalau kakak serius, memangnya kamu masih bilang kalau kakakmu ini bohong!” kata Yuda dengan penuh keseriusan.


Sejenak Anisa menatap wajah sang Kakak, mencari sesuatu yang terletak di antara kebohongan yang terjadi. Nyatanya sayang karena semua itu tidak ditemukan olehnya.


“Kak, bisakah tidak membuat lelucon?” Anisa masih sulit untuk percaya, karena hal itu rasanya sangat tidak mungkin.


“Apa terlihat bahwa aku sedang berbohong?” Yuda menatap balik Anisa dan memperlihatkan jika apa yang disampaikan adalah hal yang benar sesuai dengan yang terjadi.


“Sudahlah, aku mau mencari sesuatu di minimarket. Lebih baik Kakak tunggu di sini sebentar dan jangan ke mana-mana,” ucap Anisa yang hendak menyebrang untuk bisa sampai di minimarket.


Anisa yang kini sudah masuk, tanpa sadar menabrak seseorang dan sempat barang yang ada di tangan lelaki tersebut terjatuh.


“Maaf, karena saya tidak hati-hati.” Anisa ikut berjongkok untuk membantu mengambil barang milik lelaki tersebut.


“Iya tidak apa-apa, karena saya juga tidak melihat.” Jawab laki-laki tersebut dengan tangan yang terus mengambil barang miliknya.


Deg!


“Apa aku tidak salah lihat,” batin lelaki tersebut.


“Mas, ada apa?” Anisa yang merasa risih karena sebuah tatapan membuatnya sangat tidak nyaman akhirnya menegur pria tersebut.


“An, bagaimana kabar kamu?” tanya lelaki tersebut yang merasa bahagia karena bisa bertemu dengan wanita yang berada di masa lalunya.


“Alhamdulillah, baik. Darimana anda bisa tahu nama saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Anisa bertanya dengan nada serius karena ia merasa jika tidak pernah mengenal sosok lelaki tersebut. Namun, nyatanya pria yang terus memandanginya sedari tadi mengenalnya.


“Apa kamu lupa denganku? Kamu benar Anisa kan, bukan orang lain dengan wajah yang sama dengan teman saya?” tanya lelaki tersebut dengan wajah yang terlihat bingung, karena pria itu yakin jika wanita yang bernama Anisa adalah orang yang sama dengan Anisa yang dulu. Sosok yang pernah me-ratui hatinya dan menjadi wanita dengan status istrinya.

__ADS_1


“Nama saya memang Anisa, tapi saya tidak mengenal kamu.” Seketika lelaki tersebut tertunduk karena sebuah penuturan bahwa wanita itu sama sekali tidak mengenalnya.


“Iya, ini benar Anisaku yang dulu, tapi kenapa tidak mengenalku?” lelaki tengah bertanya-tanya dalam hati karena merasa ada yang aneh dengan pertemuannya kali ini.


“An ini aku, mantan suami kamu.” Anisa yang mendengar seketika pergi karena merasa jika pria yang sempat ia tabrak, adalah orang sedikit tidak waras.


“An, tunggu!”


“Kamu itu siapa sih, tadi Kakakku bilang aku bersuami dan sekarang kamu bilang bahwa anda adalah mantan suami saya! Apa anda sedikit tidak waras dengan terus mengaku-ngaku sebagai mantan saya.” Suara tegas dari Anisa membuat lelaki tersebut hanya melongo, menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“An, tapi ini aku ... mantan suami kamu,” ucap lelaki tersebut dan masih berusaha untuk menyakinkan jika memang keduanya, pernah membangun rumah tang dan berakhir perpisahan.


“An, kamu ini sebenarnya kenapa?” tanya pria itu yang tidak terima jika dirinya dilupakan dengan begitu saja.


Saat tangan pria itu berusaha meraih lengan Anisa, tanpa diduga sosok yuda langsung menghempaskannya. “Jangan pernah menyentuh tangan Anisa!” suara bariton yang datang secara tiba-tiba. Membuat pria yang berusaha menggapai tangan Anisa kini dibuat terperangah.


“Yu-da, jadi … benar kalau dia Anisa?” dengan suara terbata pria itu memastikan jika memang dirinya tidak salah orang.


“Sudah berapa kali aku mengatakannya, jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depan kita, ataupun di depan Anisa!” seru Yuda karena ia merasa geram saat Anisa mencoba menghindar, tapi pria yang dianggapnya musuh telah mencoba mendekati adiknya.


“An, masuk mobil!” perintah Yuda.


Tanpa banyak berkata Anisa menuruti perintah Yuda untuk masuk ke dalam mobil.


“Yud, kita tidak sengaja bertemu dan apa itu salah, ku rasa tidak. Aku hanya menyapanya karena memang kita sudah lama tidak bertemu—,”


“Aku tidak peduli akan hal itu!” seru Yuda yang semakin terbakar akan suasana saat dirinya harus dihadapkan dengan orang yang pernah menyakiti Anisa dengan begitu tega.


“Aku hanya bertanya kenapa Anisa tidak mengenaliku, apa itu salah!” keduanya tengah berada di puncak emosi, karena tidak ada titik terang dari perdebatan saat ini.

__ADS_1


“Semua itu bukan urusan kamu.”


__ADS_2