
Setelah selesai dari perdebatan tersebut. Anisa memutuskan untuk pergi, karena merasa jengah saat keduanya layaknya anak kecil yang sedang berebut bola dan tidak ada yang mau mengalah, entahlah kenapa sikap keduanya sering membuat pusing kepala.
Sedangkan Anisa yang sekarang berada di luar. Memutuskan untuk jalan-jalan sejenak, menikmati hembusan angin yang membuat hati Anisa merasakan kedamaian, dengan hijab sesekali di bawa oleh angin yang bertiup.
Tiba-tiba saja, saat Anisa berjalan. Sebuah suara memanggilnya hingga membuatnya langsung berhenti, lalu menoleh mencari sumber suara tersebut.
"Anisa!" panggil seseorang dari belakang.
"Samuel," pekik Anisa karena sewaktu ia keluar bukankah lelaki itu masih ada di rumah? Tapi kenapa sekarang sudah berada di belakangnya.
"Bagaimana kabar kamu?" Samuel bertanya dengan langkah menghampiri sang pujaan hati, lalu keduanya berjalan beriringan memutari perumahan yang begitu adem akan suasananya.
"Seperti yang kamu lihat," ucap Anisa tersenyum dan memperlihatkan bahwa durinya baik-baik saja.
Senyuman yang membuat Samuel semakin meleleh, karena begitu sangat menggemaskan untuknya. Saat Anisa berbicara dengan memberikan seulas senyuman, disitulah Samuel merasakan akan getaran di hati, di tambah wajah ayunya yang semakin membuatnya tergila-gila. "An, boleh aku menagih hutang yang kamu janjikan beberapa minggu lalu?" kata Samuel yang mencoba mengingatkan akak permintaannya beberapa minggu lalu.
"Aku tidak lupa, hanya saja kamu tidak ada di rumah kan, jadi menunggu kepulangan kamu." Jawab Anisa yang saat ini berhenti, lalu menatap wajah Samuel dengan seksama. Anisa tidak pernah lupa akan ucapan waktu itu dan sekarang lelaki yang sedang bersamanya telah menagih janji tersebut.
"Jadi, bagaimana?" Samuel pun bertanya penuh harap, untuk Anisa dapat menerima pinangannya tersebut. Di terima atau di tolak dengan alasan yang sama, lalu membuat Samuel lagi-lagi patah hati.
Anisa memejamkan mata, untuk menyakinkan hatinya kembali. Bahwa ini adalah jalan yang terbaik dan mungkin juga Samuel adalah jodoh yang dikirim oleh Tuhan untuknya. Jadi, keyakinan di dalam hati itu perlu dan sebuah pernyataan juga penting baginya.
Setelah yakin dengan pilihannya, tidak lupa ia membaca Basmallah. "Bismillah, aku menerima kamu sepenuhnya untuk menjadi imamku, aku menerima kamu atas nama Allah." Dengan bibir bergetar, Anisa berucap dan ada perasaan lega setelah menahan beberapa minggu ini. Setelah mengungkapkan perihal isi hatinya pada Samuel.
Dengan hati yang begitu bahagia dan Samuel pun akhirnya bisa mendapatkan hati Anisa juga. "Alhamdulillah," ucap Samuel dan menadahkan kedua tangannya karena ternyata semua berjalan dengan lancar. Ia begitu sangat bersyukur dan akan mengabari sang Ibu yang berada di luar kota, untuk datang melihat calon menantunya.
Samuel sudah siap dengan ponsel yang ia ambil dari saku, berlanjut untuk menghubungi sang Ibu, lalu memintanya untuk datang karena kejutan sudah tersedia di depan mata. "Sam, kamu mau menghubungi siapa?" tanya Anisa dengan penasaran karena tiba-tiba mengambil ponsel dan sepertinya mencari nama dari deretan kontak.
__ADS_1
"Mau menghubungi Mama, supaya bisa datang untuk melihat calon menantu idamannya." Jawab Samuel yang begitu sangat antusias.
"Kenapa harus bilang begitu. Bilang saja kalau kamu kangen dan tidak perlu bicara soal aku," pinta Anisa yang tak mau terlalu dibanggakan karena hal itu sama sekali tidak menguntungkannya. Justru sebaliknya, Anisa terlihat bimbang karena ia takut bernasib seperti saat bersuami, kan, Dirga.
Seakan tahu kekalutan yang tengah dirasakan oleh Anisa, Samuel pun berusaha untuk menghiburnya agar rasa takut itu tidak lagi menghantuinya. "Tenanglah, Mamaku bukan sosok wanita pengejar duniawi. Apalagi mengejar sesuatu demi sebuah obsesi," ujar Samuel menenangkan Anisa.
Anisa yang mendengar hal itupun, sedikit lega karena Samuel berusaha untuk meyakinkannya.
"Nis, terimakasih ya, karena kamu sudah bersedia membalas perasaanku. Aku memang bukan lelaki yang kamu mau, setidaknya aku akan berusaha menjadi sosok suami yang akan terus mencintai dan memberikan kebahagiaan kepadamu." Samuel berjanji bahwa hanya ada kebahagiaan yang nantinya diberikan pada Anisa, tidak ada penderitaan yang di alami seperti saat menikah dengan Dirga dan itulah janjinya pada sang kekasih.
"Harusnya yang mengucapkan itu aku Sam, terima kasih telah memilihku untuk menjadi pasangan hidupmu. Memangnya kamu tidak malu jika menikahi seorang janda? Apalagi kamu adalah pengusaha," ujar Anisa menegaskan pada Samuel akan pilihannya yang memilih dirinya. Nyatanya di luar sana banyak wanita yang sejajar sepertinya dan tidak harus Anisa sosok wanita yang di pilih.
"Apa ada yang salah soal janda?" Samuel menjawab dengan menyipitkan matanya.
Baginya semua itu tidaklah penting. Janda juga berhak mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang, meski di luar sana banyak wanita dengan berbagai jenis, berbagai bentuk. Nyatanya hati dan pikirannya sudah dipenuhi oleh Anisa.
Hari-hari berlalu dan sesuai janji bahwa orang tua dari Samuel pulang. "Mbok Yem, tolong masak yang enak ya. Sebentar lagi calon mantuku akan datang," ujar bu Susi selaku Ibu dari Samuel.
"Baik Nya, Nyonya begitu sangat bahagia saat mendengar kabar dari aden, kalau sudah siap untuk menikah." Wanita dengan usia yang sudah tua dan ada beberapa rambut memutih, tapi tidak mengurangi kecantikannya itu. Nampak tersenyum saat mendengar celoteh dari Mbok Yem.
"Mbok, usia Sam sudah 30 lebih, aku rasa itu anak sudah waktunya untuk berumah tangga. Lagian juga aku sudah tua dan Mbok Yem tahu sendiri aku butuh sosok cucu untuk menemani masa tuaku," ujar bu Susi dengan harapan jika Samuel kali ini mau menikah dengan pilihannya sendiri.
Bu Susi pernah mencarikan jodoh untuk Sam, sayangnya lelaki itu menolak mentah-mentah dengan alasan ingin fokus dengan bidang usaha yang selama ini ditekuninya. Tidak terbesit untuk mencari seorang wanita, hingga kedatangan Anisa membuatnya berubah pikiran dan mengejar cinta wanita dengan status janda tersebut.
"Kekasih aden, cantik loh Nyonya dan berhijab pula." Mbok Yem lantas membeberkan perihal wanita yang dicintai oleh Samuel.
"Wah ... bagus dong Mbok. Itu artinya Sam tepat mencari istri dan tidak asal pilih," ujar bu Susi menimpali.
__ADS_1
Belum sempat antara majikan dan pembantu itu saling bertukar cerita. Sebuah bel dari arah depan membuat dua wanita saling tatap. "Itu pasti aden sama calon istrinya, Nya?" kata Mbok Yem dengan wajah penuh kebahagiaan. Pasalnya sosok Samuel kecil kini tumbuh dewasa dan sebentar lagi tuan mudanya akan menikah.
"Sepertinya iya, kalau begitu coba Mbok Yem lihat!" perintah dari bu Susi langsung di angguki oleh Mbok Yem.
Mbok Yem yang keluar dengan tergesa-gesa dan diikuti oleh Bu Susi, ingin menemui calon menantunya secara langsung. Mencari kebenaran tentang apa yang sudah diceritakan oleh Mbok Yem juga.
Ceklek.
Suara pintu dibuka dengan perlahan dan terlihat tiga orang berdiri dengan dengan wajah yang berbeda. Bu Susi yang melihat begitu sangat antusias untuk menyapa.
"Tante, apa kabar?" sapa sosok laki-laki yang ada di samping Samuel dengan ramah.
"Hai, jagoan tante. Bagaimana kabar kamu," balas bu Susi.
"Alhamdulliah, sehat tante." Jawab sosok lelaki yang semakin gagah menurut bu Susi.
"Syukurlah, lalu itu di samping kamu siapa?" tanya bu Susi saat melihat sosok wanita yang begitu anggun.
"Bukannya Samuel akan membawa calon istrinya, lantas di mana dia?" tanya bu Susi lagi, karena merasa jika ada yang salah menurutnya.
"Ma, aku kan sudah janji bahwa akan menjemput calon menantu Mama, aku harap Mama tidak amnesia!" kata Samuel, karena sepertinya bu Susi tidak tahu siapa wanita yang ada di depannya kini.
"Tante," sapa sosok perempuan berhijab itu, lalu langsung meraih tangan wanita setengah baya dan mencium punggung tangannya dengan begitu hikmat.
"Siapa nama kamu—,"
Belum sempat wanita mengatakan akan siapa dirinya. Tiba-tiba Samuel menyela ucapan dari Ibunya. "Dia calon istriku, Ma."
__ADS_1
"Lah, kok Mama bingung. Kamu bilang dia calon mantu mama, tapi kok ... itu tangannya di gandeng sama Yuda?" dengan perasaan bingung, bu Susi mengatakan akan kejanggalan yang ia rasakan. Aneh, tapi nyata dan itulah kenyataannya.