
"Dia Mas Dirga, suamiku." Jawab Anisa lirih. Namun, pandangan tidak teralihkan dan terus menatap dua orang yang sedang asik melempar candaan.
"Apa perlu aku datangi, dan menunjukkan bahwa ada istrinya di sini?" usul Samuel dengan perasaan dongkol, karena tidak terima jika wanita yang ia cintai disakiti, biarpun itu adalah suaminya sendiri.
Lama-lama Anisa merasa janggal dengan sosok wanita yang sekarang bersama dengan Dirga.
"Dia kan ... apa betul wanita itu yang ada di aplikasi biru?" Anisa pun bertanya-tanya dan Samuel bisa mendengar ucapan Anisa, meski lirih.
"Nis, jika kamu butuh pundak. Aku siap untuk meminjamkannya, bahkan memilikinya sekalipun." Samuel berbicara seperti itu, hanya semata-mata ingin membuat Anisa tidak larut dalam kesedihan. Wanita mana yang kuat jika melihat suaminya tengah bersama wanita lain? Samuel rasa tidak ada satu pun.
Sayangnya Anisa tidak menghiraukan akan candaan Samuel. Mata Anisa berkaca-kaca dan kedua tangan terkepal, kini hatinya terluka dan rasa cemburu itu datang, bersamaan dengan runtuhnya air matanya.
"Nis, ikut aku!" tanpa meminta persetujuan Anisa, Samuel langsung menggenggam tangannya dan langsung membawanya pergi.
...........
Di danau.
"Jangan dipendam, karena tidak baik untuk kesehatan kamu." Samuel mencoba mencairkan suasana dengan membuka percakapan.
Anisa masih diam dan pikirannya juga masih dipenuhi oleh bayang-bayang wajah suaminya. Wanita yang sempat memamerkan kalung seperti miliknya di dunia maya. Sama persis dengan wanita yang sempat ia lihat dengan Dirga di cafe tadi.
"Nis!" tegur Samuel.
"Eh, iya ada apa? Maaf aku terlalu lemah untuk tidak memikirkan kejadian tadi, tapi—."
Ssssst.
Samuel langsung memberi isyarat pada Anisa, untuk tidak mengatakan soal di cafe tadi.
"Menangislah, karena dengan begitu rasa sesak yang tertumpu di hati kamu perlahan sirna," ucap Samuel lembut.
Seketika tangisan Anisa pecah, dan tanpa diduga Anisa juga memeluk erat tubuh lelaki tersebut.
Rasanya tidak percaya, tapi itulah yang terjadi.
__ADS_1
Dengan perlahan Samuel membalas pelukan Anisa dan mengusap lembut punggungnya.
"Katakan apa yang bisa aku bantu, karena kita adalah teman." Mendengar kata 'Teman' Anisa langsung melepaskan pelukannya. Menatap wajah lelaki dengan sangat lekat.
"Sejak kapan kita berteman?" ujar Anisa.
"Sejak kamu memelukku, dan aku harap kamu tidak melupakan momen yang sangat indah untuk dikenang." Jawabnya dengan melemparkan sebuah senyuman.
"Kalau kamu mau boleh juga kok, kita lebih dari teman." Samuel tersenyum saat kembali berkata, dan sengaja menggoda Anisa lagi.
"Apa kamu berniat mengajakku selingkuh?" kata Anisa dengan alis yang terangkat.
"Jika kamu berkenan," balas Samuel tersenyum.
"Aku bersuami, mana mungkin aku selingkuh. Asal kamu tahu wanita sepertiku akan setia," ujar Anisa menatap tidak suka ke arah Samuel akan ucapannya barusan.
"Lihat saja, nanti kamu juga memilih menyerah!" ejek Samuel.
"Kamu mendoakan aku?" Anisa tidak menyangka akan perkataan Samuel, bisa-bisanya dia berharap jika wanita yang ada di sampingnya kini. Akan memilih menyerah pada suaminya.
"Aku tidak mendoakan kamu, tapi lihat sendirikan kalau di cafe tadi ...."
"Aku hanya ingin kamu membuka mata Nis, kalau suami kamu itu. Lelaki yang tidak baik," ucap Samuel.
"Lantas lelaki seperti apa yang baik untukku! Atau seperti kamu misalnya," tuding Anisa.
"Kenapa kamu membawa aku juga. Kamu tahu, bahwa aku belum pernah menjalin hubungan dengan wanita siapapun. Jadi, aku tidak bisa menyimpulkan kalau aku adalah lelaki yang baik atau tidak." Jawab Samuel panjang lebar.
Hahahaha.
Anisa tertawa saat Samuel mengaku jika belum pernah berpacaran.
"Kalau kamu saja belum pernah berhubungan. Lantas kenapa kamu yakin jika suamiku bukanlah lelaki yang baik," serang balik Anisa yang yang tak terima dengan ucapan Samuel.
Samuel diam. Niat hati ingin mengompori Anisa, tapi hasilnya nihil. Lelaki dengan kulit putih dan mempunyai lesung di kedua pipinya itu. Tidak akan menyerah dan akan terus mendapatkan apa yang ia mau.
__ADS_1
Sebuah keinginan mematikan segalanya. Entah kenapa bisa, seorang Samuel yang notabenya seorang yang terpandang. Nyatanya menginginkan istri orang.
"Aku tidak ingin mengajak kamu ribut, dan lebih baik antar aku pulang. Aku lelah dan ingin istirahat," ucap Anisa lagi. Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah danau yang begitu menenangkan hati dan jiwa Anisa.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu." Jawab Samuel.
................
Pukul tujuh malam. Di rumah, Anisa yang tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam. Di tambah kedatangan Bu Marina, membuat Anisa harus menyajikan makanan lebih banyak dari yang biasanya.
Sebuah percakapan membuat Anisa mengurungkan niatnya untuk bergabung di meja makan.
"Dir, kalian sudah menikah lima tahun, kenapa istrimu belum juga hamil?" tanya bu Marina pada putranya yang tengah menikmati hidangan yang disajikan oleh Anisa.
Di sinilah yang ditakutkan Anisa, ketika ibu dan anak tengah membicarakan soal dirinya yang tak kunjung hamil. Kekhawatiran kian menyelimuti diri Anisa, lantas bagaimana bisa hamil jika Dirga saja jarang menyentuhnya.
"Bu, sabarlah sedikit. Mungkin Tuhan belum mengizinkan aku dan Anisa punya anak," ujar Dirga menyakinkan hati orang tuanya.
"Sampai kapan? Kamu tidak tahu, kan." Bu Marina menatap wajah putranya, karena beliau yakin jika Dirga tidak akan sanggup untuk membalas perkataan dari ibunya.
"Kalau gak, menikah saja kamu. Terus ceraikan Anisa si mandul itu," ucap bu Marina yang tengah mendorong Dirga untuk menceraikan Anisa, dan menikah dengan perempuan lain.
Mungkinkah kebanyakan seorang Ibu akan berbuat sedemikian rupa. Hanya demi mendapatkan seorang cucu dan membiarkan rumah tangga anak-anaknya hancur? Itulah yang sempat ada dipikiran Anisa.
Sedangkan Anisa yang mendengar hal itu, rasanya tidak sabar untuk menghampiri kedua orang yang tengah bercengkrama. Namun, sebisanya Anisa menahan untuk tidak gegabah dan ingin mendengar apa saja yang diobrolkan oleh suami dan mertuanya.
"Bu, tidak mungkin aku menyakiti hati Anisa. Lagian ada saatnya kita akan punya anak kok," ucap Dirga yang rupanya tidak terkoceh oleh hasutan sang Ibu.
"Lagian apa istimewanya si Anisa? Kalau cantik sih iya, tapi kalau mandul untuk apa—."
"Bu, Mas ini ikannya. Semoga kalian suka karena ini menu baru," ucap Anisa yang datang secara tiba-tiba, dan seketika keduanya dibuat salah tingkah.
Yah, tadi Anisa sudah mendengar semuanya dari obrolan yang sempat terjadi antara Ibu dan anak, hanya saja Anisa memilih diam untuk mendengar pembahasan mereka sampai dimana, dan seperti apa. Hingga akhirnya memilih keluar dengan tujuan agar percakapan berhenti.
"Terimakasih sayang, sekarang duduk dan segera kita makan." Ucapan Dirga mendapat anggukan oleh Anisa.
__ADS_1
"Mas, seberapa besar kamu mencintai aku? Karena rasa cinta kamu kepadaku terasa hambar. Lagi, siapa wanita saat bersamamu tadi? Aku tahu jika ada yang kamu sembunyikan padaku. Atau memang kamu selingkuh dan menghancurkan rumah tangga kita," batin Anisa menduga-duga karena memang terlihat sebuah keromantisan diantara keduanya.
Anisa tak bisa berpikir dengan tenang, dan jalan satu-satunya adalah mencari tahu. Kalau memang Dirga terbukti selingkuh, atau hanya prasangka buruknya yang terlalu berlebihan.