Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
91. Yuda Arum menikah (Anisa pingsan)


__ADS_3

"Awas ada anjing … awas anjing!"


Gubrakkk.


Suara Samuel yang terjatuh karena hendak berlari, tapi malah nasib sial telah menghadangnya.


Hahahahaha.


Yuda terpingkal-pingkal karena telah sukses mengerjai Samuel, yang kini berada di lantai.


Sebelum memutuskan untuk bangun, Samuel melihat satu per-satu wajah orang-orang yang tengah berdiri menatapnya aneh dan itu dapat dilihat dari raut wajah Anisa dan juga Arum.


"Jadi, Samuel takut anjing?" dalam hati Arum bertanya-tanya.


"Ku kira suamiku ini pemberani, ternyata anjing pun dia takut." Anisa bergumam menatap wajah Samuel dengan rasa ingin tertawa, tapi ia takut dosa akhirnya memilih diam.


Ckckck.


"Kamu sengaja mengerjaiku ya, dasar sialan!" umpat Samuel pada Yuda, karena ia tahu jika apa yang ditakutinya hanya Yuda lah yang tahu.


"Salah sendiri, ada tamu bukannya disambut malah tidur." Yuda membalas ucapan Samuel dengan gamblang karena sedari tadi, dari awal masuk sampai berada di dalam. Yuda terus disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan.


Dua lelaki yang sedari tadi berantem, bukan sambutan berupa pelukan yang didapatkan Yuda, keduanya terus saja adu otot hingga membuat Anisa mengajak Arum pergi. Membiarkan para lelaki di ruang tamu dan tidak mempedulikan mereka.


Sesampainya di belakang, Anisa dan Arum kini sudah duduk di taman belakang. Dengan sesekali melempar sebuah candaan hingga pertanyaan itu muncul di depan Anisa.


"An, bagaimana perasaanmu?" tanya Arum.


Anisa menghela napas untuk meringankan detak jantungnya yang sedang tidak normal.


"Aku bahagia Rum, bahkan sangat bahagia." Jawab Anisa dengan memberikan senyuman tipis di ujung bibirnya.


"Syukurlah dengan begitu aku dan kakakmu bisa segera menikah. Aku pun ingin merasakan menjadi seorang istri. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi niat aku dan Yuda," ucap Arum dengan perasaan penuh kelegaan karena sebentar lagi ia akan menyusul Anisa.


"Maaf ya, aku sempat membuatmu menunda pernikahan. Hanya gara-gara aku kamu rela menunggu lama," ujar Anisa.


Arum pun tersenyum dan kini keduanya berpelukan. Kebahagian yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata dan semuanya telah berakhir.


Jika di awal ada ujian yang selalu datang pada kita, maka percayalah karena Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk kita juga. Akhir dari segalanya dan mereka pun hidup bahagia sekarang, tanpa terasa waktu begitu sangat cepat dan hari-hari telah berlalu dan saat ini. Pesta pernikahan yang begitu mewah telah digelar untuk Yuda dan Arum.


Semua mata begitu takjub menatap wajah baru yang sebelumnya tidak pernah terlihat dan kini telah nyata. Gaun berwarna putih serta riasan tipis telah menghiasi wajah Arum.


Yah, untuk sekarang giliran Yuda dan Arum menjadi ratu dan raja seharian, karena masalah Anisa sudah selesai dan kini waktunya Yuda untuk meraih kebahagiaannya sendiri bersama kekasih hati yang suah lama ia nanti.


"Rum, kamu begitu sangat cantik." Anisa dengan memegang bahu Arum dari belakang dan memperlihatkannya di kaca.


"Sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri, An." Jawab Arum pada Anisa dengan sudut bibir terangkan, karena Arum sendiri sampai tidak mengenali wajah barunya.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo!" ajak Anisa untuk segera keluar dari kamar.


Sesampainya di bawah.


Tamu sudah berkumpul dan di sana ada ada bu Ning dan juga bu Susi. Tidak sabar untuk melihat keduanya resmi menjadi suami istri ketika sebuah ikrar suci terucap di bibir Yuda, yang kini sudah berada di depan penghulu. Menanti Arum untuk bersanding dengannya.


"Sayang, apa dulu kita pernah menikah?" tanya Samuel dengan tiba-tiba dan hal itu membuat Anisa seketika menatapnya tajam.


"Apa kamu ingin menikah lagi?" tanya balik Anisa dengan mata melotot.


"Oh tidak, karena istriku sudah cantik. Apalagi permainan di atas—,"


"Arghhhh … sakit, Sayang."


Anisa yang geram langsung menginjak sepatu Samuel dengan sangat keras, bahkan dilakukan dengan sepenuh hati. Agar suaminya tidak bicara sembarangan apalagi di tempat umum.


"Itu akibatnya kalau Mas, tidak bisa menjaga bicara!" tandas Anisa dengan senyuman penuh kepuasan.


Akhirnya keduanya berhenti bicara karena acara akan dimulai. Yah, semua ini butuh persiapan dua bulan. Hingga akhirnya Yuda mantap menikah dengan Arum setelah beberapa bulan kembalinya Samuel.


"Yud, jika kamu gagal lagi. Maka kamu harus menunda pernikahan ini," ujar Samuel yang sekarang berada di sebelah Yuda.


"Kamu jangan menakutiku, kamu kan tidak merasakan."


Pletak..


"Aku dulu pernah menikah, apa kamu ingin aku digantung adikmu jika ingin merasakannya lagi!" dengus Samuel dan Yuda tertawa kecil. Hingga penghulu meminta Yuda untuk mengulang janji suci untuk ketiga kalinya.


"Ingat Yud, jika gagal tamatlah riwayatmu." Samuel sengaja menakuti Yuda agar bisa lebih fokus untuk mengikuti ucapan dari penghulu.


"Sialan," umpat Yuda.


Akhirnya untuk yang ketiga kalinya, Yuda berhasil mengucapkan janji suci setelah gagal sampai dua kali.


"Bagaimana para saksi?" ucap penghulu.


Sah!


Sah!


Sah!


Suara riuh dari para saksi. Mengatakan jika keduanya telah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Alhamdulillah." Puji syukur sang penghulu karena Yuda telah berhasil mengikat Arum dengan tali pernikahan.


Setelah prosesi ijab qobul, semua undangan berdiri untuk menikmati jamuan yang sudah disediakan. Pada saat Anisa hendak berdiri karena tiba-tiba ingin memakan menu yang sudah tertata di meja, sayangnya kepalanya tiba-tiba pusing dan berkunang-kunang hingga semua pandangannya kabur.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Samuel sedikit panik.


"Pusing, tiba-tiba kepalaku pusing." Anisa yang kini telah di rangkul oleh Samuel mengeluhkan jika kepalanya pusing.


"Kita duduk ya," ajak Samuel.


Anisa mengangguk dan rasa pusing itu semakin menjadi ketika, matanya berkunang-kunang. Namun, ia masih bertahan karena tidak mau kehilangan momen yang begitu membahagiakan.


"Apa sebaiknya kita pulang, agar kamu bisa istirahat?" Samuel meminta pendapat sang istri, karena ia tidak tega melihat wanitanya seperti sedang menahan sakit.


"Tidak, ini hanya pusing biasa. Jadi, aku masih bisa menahannya dan bisa jadi karena kelelahan." Anisa menolak karena merasa tidak enak dengan dua mempelai yang kini sedang di atas awan. Merasakan kebahagiaan dengan menjadi wanita dan pria sempurna dalam satu hari.


"Ya sudah, tapi aku tidak tega melihat kamu seperti ini!" tegas Samuel yang mana sekali lagi mengingatkan jika, rasanya ia tidak sanggup saat Anisa mendesis, mungkin karena rasa sakit yang ia tahan.


"Tenanglah, aku tidak apa-apa. Kita tidak boleh melewatkan acara yang penuh kebahagiaan ini, bukan?" ujar Anisa dengan tatapan mengiba.


Akhirnya Samuel menyerah karena tidak mau membuat Anisa semakin tidak nyaman, sedangkan dua orang wanita dengan usia yang tak lagi muda. Diam-diam memperhatikan Anisa yang kini terlihat pucat dan mereka yakin, jika sedang ada sesuatu yang terjadi pada Anisa.


"Bu, kenapa wajah Anisa terlihat sangat pucat." Bu Ning sedikit berbisik pada bu Susi agar bisa melihatnya juga.


Sesaat mata bu Susi menatap wajah Anisa dan mencari bukti, jika apa yang dikatakan oleh besannya itu adalah benar.


"Iya, apa dia sakit?" ujar bu Susi setelah melihat sendiri dan benar, kalau wajahnya pucat.


"Saya akan ke sana!" Bu Susi pun berjalan dan akan bertanya langsung pada menantunya.


Sedetik kemudian.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Ya Allah, kamu panas, An." Bu Susi memberondong Anisa dengan banyaknya pertanyaan hingga membuat Anisa tidak nyaman.


"Tenanglah Ma, aku hanya pusing sedikit." Jawab Anisa dengan suara pelan.


"Kamu pucat, An …."


"Anisa!"


Belum sempat bu Susi bertanya. Anisa sudah terjatuh lebih dulu hingga membuat semua orang panik.


"Sayang, bangun! Kamu kenapa?" Samuel seketika datang dan langsung mengangkat kepala sang istri.


"Ma, kenapa dengan Anisa?" tanya Samuel dengan wajah penuh ketakutan.


Belum sempat bu Susi penjawab. Yuda langsung menerobos orang-orang yang kini mengerubungi Anisa. "Aku tidak tahu Yud, karena aku datang Anisa sudah seperti ini!" ujar Samuel.


"Lebih baik kita bawa ke rumah sakit, cepat!"

__ADS_1


__ADS_2