Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
67. Kemarahan Yuda.


__ADS_3

“Aku bukan orang bodoh!” seru Yuda dengan posisi masih mencengkram erat pergelangan tangan Dirga.


“Maaf, aku hanya ingin melihat keadaan Anisa.”


Bukh.


Satu pukulan mendarat bebas di pipi Dirga.


“sudah aku beri peringatan untuk tidak menampakkan wajah kamu bukan, tapi ancamanku rupanya tidak kamu dengar.” Dengan geram Yuda terus mencengkeramnya.


“Tidak ada niat untuk mencari keributan, aku hanya ingin melihatnya. Apa itu salah?” tanya Dirga karena menurutnya semua orang punya hak untuk hal itu,


“Kamu tahu kenapa aku melarangmu? itu karena aku tidak mau salah paham akan terjadi lagi, puas kamu!” bentak Yuda karena merasa kesabarannya sudah habis.


Seketika Dirga diam dan hal itu baru saja ia pikirkan karena tidak tahu, akan berimbas seperti apa.


“Maaf, ini yang terakhir dan tidak akan terjadi lagi.” Tidak ingin membuat keributan, akhirnya Yuda memilih untuk pergi meninggalkan Dirga.


“Ingat, ini yang terakhir dan setelah itu. Pergilah yang jauh karena kamu hanya akan menjadi sumber masalah,” ucap Yuda tanpa berpikir jika Dirga akan sakit hati atau tidak.


Sedangkan di dalam ruangan, Samuel yang sempat tertidur merasa ada pergerakan dari jari-jari Anisa, lantas langsung membuka mata untuk memastikan. Kalau semua itu bukan mimpi.


“Benar, Anisa menunjukkan perubahan.” Dengan rasa haru, lantas Samuel berteriak memanggil dokter untuk melihat perubahan pada Anisa dan berharap semua ini adalah awal yang baru.


Setelah dokter memeriksa, dengan rasa tidak sabar Samuel bertanya. "Dok, bagaimana?" tanya Samuel.


"Ini perubahan yang bagus Pak, istri anda sudah melewati masa kritis dan nanti akan dipindahkan ke rawat. Untuk saat ini masih menunggu pasien membuka mata dan hal itu memang wajar terjadi jika setelah melewati masa kritis atau koma." Jawaban yang membuat Samuel sujud syukur karena sebentar lagi Anisa akan membuka matanya. Ketakutan yang sempat hinggap di hatinya kini mulai sirna.


Semua kembali normal dan Anisa sudah dipindah, semua orang berdoa agar secepatnya sadar karena sedikit demi sedikit perubahan semakin terlihat.


Samuel yang tidak sedikitpun meninggalkan Anisa, terus memegang erat tangannya hingga matanya pun kembali terpejam.

__ADS_1


Sosok gadis kecil telah hadir di dalam mimpinya dan melambai-lambai ke arahnya. Hingga Samuel baru menyadari bahwa ada sosok wanita terdapat di samping bocah kecil tersebut.


'Cantik' itulah sebutan yang pas untuk wanita itu dan benar. Dia adalah Anisa dengan wajahnya yang memancarkan cahaya, serta senyuman yang tak luntur dari bibirnya. Semakin membuat Samuel terpesona, tapi … apa arti dari mimpinya itu hingga ia memaksakan matanya untuk bisa terbangun dari mimpi yang terasa indah, tapi sungguh menyakitkan.


Seketika Samuel terbangun dengan mata melotot karena rasa tidak percayanya, terhadap apa yang ia lihat barusan.


Dengan wajah berseri Samuel langsung memeluk tubuh wanita yang kini tengah menatapnya aneh. Seakan sebuah pertanyaan berada di matanya.


"Nisa, akhirnya kamu bangun juga. Aku sangat merindukanmu, Sayang." Anisa yang kini tengah menatapnya, sejurus kemudian mengibaskan tangan Samuel dengan raut tidak suka.


"Mas, kamu ini apa-apaan sih. Pakai peluk-peluk segala pakai manggil aku 'Sayang, memangnya kamu siapa?" dengan bola mata naik turun Anisa bertanya soal Samuel yang memeluk, sedang Samuel sendiri dibuat terperangah saat Anisa tidak mengenali siapa dirinya.


"Yud, Yuda!" panggil Samuel dengan nada tinggi dan hal itu malah membuat Anisa marah.


"Kamu ini, teriak sesuka hati. Memangnya ini hutan!" seru Anisa yang geram dengan sikap Samuel.


"Nisa, aku suami kamu. Ini aku Samuel kenapa kamu lupa denganku?" cercah Samuel karena Anisa memang benar-benar melupakannya.


Beberapa saat setelah Samuel memanggil nama Yuda, lantas lelaki itu pun masuk untuk melihat kenapa dengan Samuel. "Sam, ada apa? tanya Yuda saat melihat ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


"Kamu siapa lagi, kenapa ada banyak lelaki di ruangan ini?" Anisa pun dibuat bertanya-tanya karena kemunculan Yuda dengan tiba-tiba.


Yuda yang dibuat bingung, langsung menatap Samuel untuk meminta kejelasan dan bukan jawaban yang diterima, tetapi sebuah gelengan kecil di tambah helaan napas yang terdengar berat.


"Panggil dokter Yud, Anisa melupakan aku. Apa selama dia tidak sadarkan diri dan selama itu juga yang membuatnya lupa padaku?" Yuda memandangi Anisa dengan lekat-lekat. Memastikan jika yang dikatakan Yuda adalah tidak benar.


"Mana mungkin Sam, kamu jangan ngaco!" kata Yuda dengan nada tidak suka karena mana mungkin hak itu terjadi.


"Biar kita tahu. Sebaiknya kamu memanggil dokter," kata Samuel memerintahkan.


Belum sempat Yuda keluar, ternyata Dokter Alex sudah lebih datang dan sepertinya lelaki ber-jas itu seakan tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


"Syukur kalau anda datang, Dok!" kata Yuda.


"Biar saya periksa, lalu apa ada perubahan saat istri anda bangun?" dokter itu pun bertanya pada Samuel dan mengharap sebuah jawaban.


"Anisa lupa padaku Dok, aku dilupakan sebagai seorang suami." Jawab Samuel berkeluh kesah pada dokter yang akan menangani Anisa.


Baik, sekarang Bu Anisa saya periksa ya." Dengan sopan dokter itu pun meminta Anisa untuk berbaring untuk mengecek keadaannya.


"Dok, apa yang sedang terjadi pada Anisa, kenapa semua dilupakan olehnya?" dengan rasa tidak sabar Samuel bertanya karena ia tida sanggup jika Anisa benar-benar melupakannya.


"Sebentar ya, Pak." Dokter tidak langsung menjawab melainkan masih fokus untuk memeriksa Anisa.


"Bu, apa Ibu ingat nama Ibu sendiri?" tanya dokter yang sedang mewawancarai Anisa.


Argh.


"Sakit Dok, kepala saya sakit!" erang Anisa saat pertanyaan itu lolos dan sayangnya Anisa tidak mampu mengingat, hingga berakhir membuatnya sakit kepala.


"Sudah, jangan dipaksa jika Ibu tidak bisa mengingat dan saya akan memberikan suntikan pereda nyeri."


"Sus, tolong bantu pasien agar bisa istirahat." Dokter langsung memerintahkan suster untuk memberikan suntikan berupa obat tidur agar Anisa tidak mengalami sebuah paksaan dalam berpikir dan mengingat siapa dirinya.


Tidak berapa lama, Anisa mulai lemah dan matanya mulai terpejam. Sedangkan dokter langsung keluar dengan mengajak Samuel untuk membicarakan keadaan Anisa.


"Mari kira bicara di luar dan biarkan Bu Anisa istirahat," ajak dokter pada keduanya.


Setelah mereka bertiga sudah keluar dari ruangan. Samuel langsung mencerca dokter dengan sebuah pertanyaan yang mana, Anisa tidak bisa ingat namanya bahkan dirinya sekalipun. "Dok, bagaimana bisa istri saya lupa dengan namanya bahkan saya. Apa hal itu bisa membuatnya lupa bahwa dia juga sudah bersuami dan melupakan semua kejadian ini?" sebuah pertanyaan yang mana dokter harus bisa menjelaskan.


"Baik, saya akan menjelaskan tentang keadaan istri anda. Saat kecelakaan bukankah yang cedera adalah bagian kepala dan hal itulah yang membuatnya tidak bisa mengingat apapun. Mengalami koma dan nyawa hampir tak tertolong. Namun, hal itu bisa dilewati karena pasien masih berusaha untuk tetap sadar meski dengan keadaan tubuh koma."


"Maksud Dokter bagaimana? Dan bisa dijelaskan!"

__ADS_1


__ADS_2