
"Dan kamu Mas, seberapa besar kamu membohongiku?" Anisa bertanya dengan sorot mata yang tajam. Dirga tidak pernah melihat bentuk asli saat Anisa marah dan sekaranglah lelaki tersebut akan tatapan kemarahan di wajah Anisa.
"Apa maksud kamu? Aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu!" elak Dirga yang mencoba menyakinkan istrinya. Bahwa semua yang dikatakan oleh Arumi hanyalah sebuah tuduhan.
"Jadi kamu tidak mengakui kalau selama ini telah mencurangiku?" kata Anisa dengan senyuman kecil.
"An, aku memang tidak bohong, dan apa yang kamu dengar sat ini adalah tidak benar. Arum sengaja ingin membuat rumah tangga kita hancur," ucap Dirga yang masih mengelak dan tidak mau berkata jujur pada Anisa.
"Lalu kamu Rum, apa benar yang dikatakan oleh Mas Dirga jika kamu berusaha ingin menghancurkan keluargaku?" tekan Anisa pada Arumi, dan pandangannya kini beralih menatap sosok yang sudah dianggapnya saudara.
Arumi nampak cemas, kali ini kecemasannya bukan karena pertanyaan Anisa. Melainkan ia takut jika Dirga dapat menyakinkan istrinya, dan otomatis hubungan persahabatan yang selama ini ia jaga dengan baik. Ikut ternoda bersamaan dengan kebejetan Dirga yang sudah tertutupi dengan sangat rapi.
"Aku pun tidak meminta kamu percaya. Aku hanya mau menyelamatkan hati dari seseorang yang sudah aku anggap saudara. Namun, jika kamu percaya padaku maka aku akan menunjukkan betapa bejatnya laki-laki ini," tukas Arumi dengan suara lirih ia berkata pada Anisa dan menunjuk ke arah suami dari sahabatnya itu.
Anisa tersenyum menatap sahabatnya yang sejak di bangku SMP itu, sudah memberitahu jika suaminya bukan lelaki yang baik.
"Terimakasih Rum, bukannya aku tidak mau kamu bantu. Akan tetapi, ini cukuplah menjadi urusan kami berdua." Jawab Anisa pada Arumi dengan diiringi sebuah senyuman.
Untuk saat ini bukan Anisa tidak butuh sosok yang ingin membantunya. Hanya saja ia tidak mau jika sahabatnya akan ikut terseret dengan masalahnya, dan Anisa tidak mau sampai hal itu terjadi pada sahabatnya.
"Lantas apa yang kamu bawa itu, Rum?" Anisa sengaja mengalihkan perhatiannya pada kantung yang dipegang oleh Arum.
"Aku tadi membelikan ini buat kamu," ucap Arum dengan mengangkat kantung kresek pada Anisa.
"Terimakasih, nanti akan aku makan dan untuk saat ini. Biarkan kami menyelesaikan keributan yang terjadi, maaf."
Seakan Arum mengerti dengan kondisi yang sedikit mencekam. Memang benar harusnya Anisa segera menyelesaikan kekacauan yang sudah dibuat oleh suaminya sendiri.
"Baik-baik di rumah, jika butuh bantuan segera hubungi aku."
Anisa mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Lalu langkahnya meninggalkan sang suami yang masih mematung, karena merasa jika dirinya tidak bicara lagi pada Dirga.
"An, aku harap kamu tidak akan percaya dengan ucapan Arumi?" ucapan Dirga seketika menghentikan langkah Anisa.
"Mas, apa ada seseorang yang bisa aku percaya saat ini! Sepertinya tidak ada." Anisa menjawab dengan keadaan sangat tenang. Seakan semua ini bukanlah masalah berat, dan di depannya terlihat jika Dirga sedang gusar.
"Aku suami kamu An, jadi kamu harus percaya padaku dan bukannya percaya pada perempuan perusak seperti—."
"Diam!" bentak Anisa dan tidak mau jika Dirga terus-terusan memojokkan sahabatnya.
"Ternyata kamu masih belum mau mengakui juga, Mas." Dalam hati Anisa begitu kecewa karena suami yang ia anggap nyaris sempurna, ternyata penuh dusta.
"An, aku suami kamu! Hormati aku dan jangan pernah berkata seperti itu padaku." Dengan dada yang bergemuruh Dirga berucap. Lelaki itu tidak terima jika Anisa telah membentaknya karena ia pikir jika dirinyalah, yang memegang kendali di rumah ini sebagai kepala rumah tangga.
"Apa aku selama ini tidak menghormati kamu Mas, meski setiap hari aku kamu abaikan. Apa aku pernah berkata kasar dengan kamu maupun Ibu, meski beliau sering membuat hati ini terluka, tidak kan Mas, aku masih ingin menjadi sosok istri yang baik. Nyatanya sekarang kebaikanku kamu anggap sampah," ucap Anisa dengan tatapan tajam, dan wajah merah padam.
Dirga yang mendengar akan ucapan Anisa. Seketika terdiam, dan apa yang dikatakan oleh istrinya adalah benar.
Anisa tersenyum lalu berkata. " Maaf mana yang kamu wakilkan, Mas?"
Mata Dirga terbelalak, seakan tidak percaya bahwa Anisa bisa berkata seperti itu. "Apa maksudmu, kamu menolak saat suamimu ini meminta maaf!"
"Salahmu terlalu banyak Mas. Apa salahnya kalau aku mempertanyakannya," ucap Anisa dengan bahu terangkat.
"Maaf." Ucapan kata maaf terulang lagi, dan Anisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu ingat Mas, saat aku menawarkan untuk mengadopsi anak, namun kamu menolak. Dengan dalih ingin mempunyai anak sendiri, tapi pada kenyataannya kamu sedikitpun tidak memberiku waktu untuk menjalankan tugasku sebagai seorang istri ...." Anisa berhenti dan untuk sesaat mengatur nafasnya yang naik turun akibat sakit di hati.
"Saat Ibumu meninta aku untuk cek kesuburan, berulang kali. Apa aku pernah menolak! Lalu apa di sini cuma aku yang harus di tuntut. Sedangkan kamu tidak, dan berkata bahwa keadaanmu baik-baik saja alias tidak mandul. Sekarang aku cukup mengerti kenapa selama ini kamu berubah dan tidak seperti dulu lagi," ucap Anisa panjang lebar, seakan semua kata yang ia keluarkan sudah cukup mewakili hatinya yang rapuh.
"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf karena sudah khilaf padamu. Aku akui jika aku bersalah dan sudah berbuat dosa padamu," ucap Dirga dengan suara parau.
__ADS_1
"Terlambat Mas, dan itu salah satunya kamu memiliki anak di luar sana!" kata Anisa yang mencoba untuk tetap tegar.
"Lima tahun aku menantikan seorang anak, tapi kamu tak kunjung hamil. Mungkin itulah alasanku untuk tidak menyentuhmu karena hal itu percuma, karena tetap saja tidak ada perubahan ...."
"Lalu dengan mudahnya kamu memberiku madu, yang berisikan racun. Benar begitu kan, jika kamu mau periksa dan mencari kebenaran. Apa kamu bisa menerimanya saat dokter menyatakan bahwa kamulah yang mandul, bukan aku! Jangan hanya menyalahkan aku seolah-olah kamu benar. Lalu dengan gampangnya kamu menitipkan benih pada perempuan lain," ucap Anisa dengan dada bergemuruh dengan menahan emosi.
"Nyatanya kamu yang mandul An, dan aku normal—."
"Karena istrimu tengah hamil, kan. Makanya kamu yakin jika semua baik-baik saja," tegas Anisa.
"Bagaimana kamu tahu?" Dirga tidak menyangka jika Anisa tahu soal istri keduanya yang tengah hamil. Bukannya setiap hari selalu di rumah, dan apa Arumi yang mengatakannya? Semua itu membuat Dirga tidak bisa berpikir lagi.
"Tidak perlu kamu tahu, soal aku yang mengetahui semuanya. Aku lelah dan biarkan aku pergi," ucap Anisa yang memilih pergi dan mengakhiri pertengkaran yang tengah terjadi.
Sedangkan Dirga mengusap kasar wajahnya. Merasa frustasi dengan masalah yang menimpanya.
............
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Anisa masih menyiapkan sarapan untuk Dirga. Namun, tak ada percakapan diantara mereka berdua.
Keadaan pagi ini menjadi hening, dan Anisa tidak menyapa atau mengatakan apapun pada Dirga.
"An," panggil Dirga.
Namun, orang yang ia panggil tetap diam.
"An, jangan mengabaikan aku. Sekarang aku memanggilmu kenapa tidak menjawab," imbuh Dirga lagi.
"Nanti siang Mas pulang lebih awal, dan aku harap kamu mau melupakan kejadian semalam. Lalu kita memperbaikinya dari awal," ujar Dirga lagi, dan Anisa tetaplah sama.
__ADS_1
"Apa semua lelaki sama, jika semalam terjadi pertengkaran esok paginya akan melupakan. Apa dia tidak tahu bahwa hatiku masih sakit," batin Anisa.