
Sebuah tamparan mendarat di pipi Anisa tanpa di minta. Lagi-lagi hal itu ia rasakan, belum juga rasa panas saat tamparan diberikan oleh mertuanya. Tetapi, pada saat pulang ia kembali merasakan tamparan yang kini mulai ia rasakan. Bukan hanya pipi, tapi rasa panas semakin menjalar ke ulu hatinya.
"Siapa yang selingkuh? Apa kamu ada bukti Mas, jangan mangkir dari kesalahan kamu untuk menuduhku! Sekolah-olah kamu yang menjadi korbannya." Anisa tak lagi bisa membendung tangisannya, setelah mendapat hinaan dari mertuanya. Sekarang ia justru mendapat perlakukan tidak mengenakan dari Dirga, hanya karena pertemuannya dengan Samuel. Ibu dan anak begitu kompak menuduhnya jika sedang selingkuh.
"Jangan pernah bandingkan aku dengan kamu! Aku menikah sampai berkali-kali tidak ada larangan. Yang terpenting aku tidak zina dan selingkuh seperti kamu," tunjuk Dirga yang sudah menghakimi Anisa, seakan dialah orang yang paling benar. Lalu melempar semua kesalahan pada sang istri.
"Awalnya kamu juga selingkuh, kan. Tanpa selingkuh kamu tidak akan menikah dengan cara diam-diam," kata Anisa tersenyum seakan memberi isyarat bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran.
"Aku menikah untuk menghindari dosa Nis, harusnya kamu tahu itu, dan harusnya juga kamu mendukung aku!" pekik Dirga.
"Tanpa memikirkan aku? Lantas apa bedanya kamu menghindari zina, tapi berbuat dosa padaku." Sebuah kalimat yang membuat Dirga bungkam. Tidak menyangka jika Anisa jauh lebih pintar untuk membela diri.
"Kenapa? Tidak bisa menjawab, apa Mas pikir otakku tidak bisa bekerja saat mengetahui jika kenyataan pahit yang kamu berikan padaku Mas, seandainya aku selingkuh pun. Maka ucapannya sama! Untuk menghindari dosa, tapi aku tak sepicik kamu." Anisa dengan kemarahannya menuding wajah Dirga, lelah harus dipersalahkan terus-menerus. Apalagi mendapat tudingan yang sama sekali tidak diperbuatnya.
"Ingat An, kita belum bercerai maka ... semua tanggung jawab kamu Mas yang nanggung," ucap Dirga saat melihat Anisa mulai melangkahkan kakinya.
"Jika aku beban bagimu, maka lepaskan aku. Dengan begitu tidak ada lagi ikatan yang membuat aku semakin terluka ...,"
"Cukup An, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu, ingat itu?" ucap Dirga penuh emosi, dengan jakun naik turun ia menegaskan bahwa tidak akan pernah menceraikan Anisa.
"Kamu, memang brengsek, dan kamu juga lelaki serakah!" geram Anisa yang tak mampu lagi menahan kesabaran yang sudah disalah gunakan oleh suaminya itu.
Dirga yang tak tahan lagi, lantas mengepalkan kedua tangannya. Tanpa meminta persetujuan ia langsung menyergap tubuh Anisa dan menguncinya dengan sangat erat.
Aaaaaaaa.
"Lepaskan aku! Aku tidak akan sudi kamu sentuh lagi, karena kamu, bagiku adalah manusia tak punya hati!" teriak Anisa yang terus meronta pada saat Dirga terus memaksakan kehendaknya.
"Bukankah ini yang kamu mau An, ingin aku menggauli kamu! Lantas kenapa sekarang kamu menolak, hum?" dengan suasana hati yang semakin panas. Dirga tak lagi mampu mengendalikan emosinya.
"Sekarang tidak lagi, aku sudah tak sudi lagi kamu sentuh, tolong lepaskan aku bedebah!"
Plak.
__ADS_1
Plak.
Sebuah tamparan lagi-lagi diberikan oleh Anisa.
"Tega kamu menyakiti aku, Mas." Anisa terus memegangi pipinya. Meski bibirnya sudah mengeluarkan darah, tapi Dirga seakan buta dan terus melucuti Anisa dengan penuh amarah.
"Ini akibatnya kalau kamu melawan aku An, maka rasakan akibatnya."
"Tolong lepaskan aku Mas, aku mohon." Dengan sangat Anisa meminta untuk dilepaskan.
"Kamu menolak sebuah permintaan dariku An, ingat aku masih suami kamu dan aku pun masih berhak atas tubuh ini!" kata Dirga dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Aku tidak akan menolak jika kamu meminta dengan baik-baik, dan sekarang aku tidak bisa melihat sosok suami yang ada padamu. Kamu terlalu asing bagiku, Mas." Dengan ditemani oleh isakan, Anisa berbicara. Meski saat ini tubuhnya terasa lemas akibat terus berusa melepaskan diri dari Dirga.
Arrrrrgh.
"Bedabah."
Pyar.
Pyar.
Melihat Dirga mengamuk dan membanting semua isi di dalam kamar. Membuat Anisa semakin ketakutan karena untuk pertama kalinya Dirga berlaku seperti ini.
Anisa yang sesenggukan tak lagi berpikir ke mana Dirga pergi, karena Anisa langsung buru-buru pergi ke kamar mandi.
Seorang wanita tengah menangis di bawah air yang tengah membasahi tubuhnya. Mungkin dengan begitu, akan sedikit mengobati rasa lara hati yang ada pada Anisa, karena mengingat perlakuan dari orang yang selama ini ia kagumi, semakin terpampang nyata dan rasa yang dulu ada, perlahan hilang bersamaan Dirga yang tega terus menerus memberi luka.
Setelah puas, Anisa langsung keluar, rasa dingin kian menjadi di tubuh wanita tersebut. Entah mengapa setelah mandi bukan rasa nyaman yang ia rasakan. Justru nyeri pada sekujur tubuhnya, mungkin karena ulah Dirga sewaktu tadi, karena ada beberapa memar di badan Anisa.
Keesokan paginya.
"An, Anisa! Di mana kamu." Suara panggilan yang sangat dikenal oleh Anisa.
__ADS_1
"Anisa!" teriak Dirga yang masih belum mengetahui apa yang sudah terjadi pada istrinya.
Dirga yang baru saja datang. Tak juga menemukan Anisa, meski sudah berkeliling rumah.
Hingga akhirnya lelaki tersebut memutuskan untuk melihat di kamar.
Sesaat kemudian, kepanikan kian menghiasi wajah Dirga, dan langsung bergegas menghampiri Anisa.
"An, maaf kalau semalam Mas sudah kasar sama kamu." Wajah Anisa begitu pucat maka dari Dirga begitu ketakutan.
Sedangkan Anisa samar-samar mendengarkan suara dari sang suami. Meski kepala berdenyut hebat dan mata yang sulit untuk di buka. Tetap saja Anisa memaksa untuk melihat wajah suaminya.
"Mas," ucap Anisa lirih meski wanita itu kecewa, tidak memungkiri bahwa sekarang sedang membutuhkan lelaki berstatus suaminya kini.
Berharap dengan dirinya sakit, suaminya akan lebih perhatian, dan bisa menemaninya untuk sementara waktu.
"Sayang, kamu aku panggilkan dokter, ya?" ujar Dirga yang begitu cemas akan keadaan Anisa yang tengah berbaring lemah.
"Tidak Mas, aku hanya butuh kamu." Jawab Anisa dengan suara berat.
Dengan helaan nafas, akhirnya Dirga mengiyakan permintaan Anisa. "Aku akan menemani kamu An, sekarang Mas akan ke bawah dan membuatkan kamu teh hangat." Dirga pun dengan perlahan melepaskan genggaman tangan Anisa.
"Mas, jika keadaanku seperti ini. Apa kamu akan memberikan aku waktu, untuk bisa menghabiskan hari-hari kita?" tanpa diminta. Sebuah tetesan jatuh membasahi pipinya.
Sedangkan di bawah. Dirga sedikit frustasi karena berniat untuk dibuatkan sarapan, tapi ia justru melihat keadaan Anisa yang tak baik-baik saja.
15 menit kemudian, Dirga sudah membawakan teh dan sepotong roti untuk Anisa, sebelum pergi.
"An, maaf. Aku akan kembali lagi nanti karena Elsa perutnya mendadak sakit," ucap Dirga dengan ragu-ragu.
"Jika kamu datang untuk menyakiti aku lagi, kenapa kamu ke sini, Mas?" ucap Anisa dengan mata yang sembab.
"Kandungan Elsa jauh lebih penting, An. Tolong mengertilah," ucap Dirga sekali lagi.
__ADS_1
"Apa aku bukan istrimu Mas, apa kamu tidak punya waktu barang sedetik saja untuk aku? Apa ini yang kamu bilang adil, jawab, Mas!"
"Apa aku juga tidak penting bagimu Mas, jangan diam dan bicaralah."