Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
36 Dirga, Elsa kecelakaan.


__ADS_3

"An, kamu mau ke mana?" tanya bu Ning dengan penasaran.


"Bu, aku mau lihat Mas dirga dan katanya dia habis kecelakaan. Tadi juga pihak rumah sakit ngabari," kata Anisa menjelaskan.


"Ya Allah, semoga Allah secepatnya beri kesehata." Mendengar hal itu, Anisa tersenyum dan mengusap bahu Bu Ning.


"Aku pun sama Bu, semoga Mas Dirga juga tidak parah. Ya sudah, aku pergi dulu."


"Assalamualaikum," ucap Anisa lagi yang sudah berpamitan dengan Bu Ning.


"Waalaikumsalam." Jawab bu Ning menimpali.


Setelah itu, sekitar 45 menit Anisa baru saja sampai di rumah sakit. Setelah bertanya pada suster. Dimana Dirga di rawat, akhirnya dengan cepat Anisa pun berjalan.


Setelah sampai di ruangan dimana Dirga di rawat. Terlihat sosok mertuanya yang sedang menangis tersedu-sedu. Namun, ada satu sosok yang mampu membuat Anisa menatap lelaki itu dengan sangat lekat, dan perlahan ia mendekati kedua orang tua yang sedang duduk dengan wajah, penuh rasa khawatir.


"Bu, bagaimana keadaan Mas Dirga?"


Plakkk.


Tanpa disangka bukan jawaban yang diberikan oleh Anisa, tapi sebuah tamparan ya ia terima.


"Rina! Apa-apaan sih kami?" ujar lelaki itu, yang tak lain adalah suami dari Bu Marina.


"Bu, apa salahku sampai Ibu menamparku!" seru Anisa dengan wajah terkejutnya.


"Karena kamu memang pantas mendapatkannya. Semua ini karena Doa kami kan, makanya anak saya kecelakaan. Puas kamu saat melihat Dirga kritis," ujar bu Marina yang tak terima dan malah melempar kesalahan pada Anisa.

__ADS_1


"Berhenti Rin, sikap arogan kamu ternyata masih belum juga berubah. Harusnya kamu sadar, siapa orang yang patut disalahkan di sini. Tidak kamu introspeksi diri, kesalahan apa yang sudah kalian ciptakan!" sahut suami Bu Marina yang bernama Prasetyo.


"Aku yang Mas, jika wanita ini yang telah menyebabkan Dirga dan istrinya kecelakaan!" ucap bu Marina yang masih tetap menyalahkan Anisa.


"Dia juga yang sudah menghancurkan keluarga kita, hingga Dirga berani membentak, dan memarahiku hanya gara-hara membela wanita tak tau diuntung ini." Bu Marina yakin jika semua ini karena Anisa, yang sudah meracuni otak Dirga, hingga lelaki itu berani dan durhaka pada orang tuanya sendiri.


Sedari tadi Anisa cukup sabar atas tuduhan yang diberikan oleh mantan mertuanya, tapi lama-lama orang yang pernah dihormatinya dulu begitu sangat keterlaluan. "Bu, sepertinya apa yang Ibu tuduhkan padaku salah besar. Apa Ibu tidak sadar juga siapa yang sudah menghancurkan semua ini, dan sekarang justru Ibu malah menuduhku!" kata Anisa dengan sangat lembut, tapi begitu menyakitkan.


"Apa maksudmu, kamu bilang bahwa saya lah penyebab dari kekacauan ini?" ujar bu Marina dengan tatapan tidak suka pada Anisa.


"Sayangnya Ibu tidak sadar akan hal itu," timpal Anisa dengan suara datar.


"Baj*ngan kamu, awas kamu ya. Ingat saya akan membuat perhitungan pada kamu, dasar wanita benalu, wanita rendahan."


"An, pergi! Pergi dari sini." Melihat Bu Marina mengamuk, lantas Pak Yoga menyuruh pergi dari depan ruangan Dirga.


Plak.


"Mas!" sebuah tamparan mendarat di pipi Bu Marina.


"Jadilah seorang wanita yang bisa dijadikan panutan anak, jangan pernah mengajari Dirga dengan kelakuan bejat! Aku sudah cukup muak hidup dengan wanita sepertimu Rin, dan kata talak memang pantas kamu dapatkan." Ucapan dari lelaki yang memilih bekerja di luar kota itu. Nampak lelah dengan sikap sang istri, karena sama sekali tidak berubah.


"Tidak, Mas. Aku tidak akan mau kalau sampai kamu menceraikan aku!" pekik bu Marina dengan memohon.


Tanpa perduli rengekan dari sang istri. Pak Yoga pergi begitu saja dan kali ini dirinya akan menemui Anisa.


Di luar rumah sakit.

__ADS_1


"Pak!" sapa Anisa saat sudah di luar dan keduanya bertemu di salah satu cafe. Yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.


"An, maafkan istri Bapak, yang tak pernah bisa bersikap baik padamu. Maaf karena Dirga juga tidak bisa menjadi sosok suami yang baik," ucap Pak Yoga yang sekarang tengah duduk berdua dengan mantan menantunya itu. Merasa malu dan gagal menjadi seorang orang tua.


"Tidak Pak, jangan katakan itu lagi. Memang saat ini kita sedang tidak berjodoh dan hubungan aku dan Mas Dirga cukup sampai di sini," kata Anisa pada mantan mertuanya.


"Untuk Ibu sendiri aku sudah memaafkannya, seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya hidup dengan seorang wanita. Yang tidak jelas asal usulnya, jadi hal itu aku bisa memakluminya. Di tambah aku tidak kunjung memberikan beliau cucu, kan." Mendengar jawaban dari Anisa, membuat Pak Yoga begitu sangat menyayangkan, karena sudah membuang berlian hanya demi kerikil kecil.


Pertemuan antara mantan mertua dan mantan menantu, cukup mengharukan karena keduanya sudah tidak bertemu selama dua tahun lamanya.


Entah apa alasan apa, sehingga memilih pergi dan menikmati hidup di luar kota. Meski begitu Pak Yoga tidak pernah telat mengirimi uang untuk istrinya.


"Bapak mau menceraikan Ibunya Dirga." Seketika Anisa memandang penuh tidak percaya, hubungan yang adem ayem nyatanya tidak membuat orang hidup bahagia.


"Kenapa Pak, memangnya Bapak tega meninggalkan Ibu!" kata Anisa dengan rasa antara bingung dan ah entahlah, Anisa pun tidak mau menghakimi seseorang karena hidupnya sendiri sudah rumit.


"Tidak bisa aku jelaskan, karena Bapak juga dulu hanya menjadi sosok korban perjodohan, tapi sampai detik ini pun Bapak masih berusaha sabar. Menghadapi sikap Ibunya Dirga dan tetap saja semua itu. Tidak membuat Marina bisa lebih menghargai Bapak. Ucapan yang terdengar sangat tidak masuk akal menurut Anisa, tapi kita juga tidak tahu hati seseorang.


" Maaf Pak, aku tidak bisa memberi usul baik buat Bapak, karena aku juga sedang dalam masa sidang." Pak Yoga yang mendengar akan hal itu, hanya bisa tersenyum.


Cukup lama keduanya berbincang-bincang. Hingga Anisa pamit untuk pulang, karena rasanya tidak baik jika terlalu bertemu, dan Pak Yoga juga akan kembali ke rumah sakit. Untuk melihat keadaan Dirga.


Saat Anisa ingin berdiri dan ingin meninggalkan tempat tersebut, Pak Yoga tiba-tiba saja berkata. "An, tengoklah Dirga sesekali."


Anisa yang mendengar menanggapinya dengan seulas senyuman. "Insya Allah Pak, jika ada waktu maka aku akan melihatnya di rumah sakit. Jawab Anisa, dan setelah itu. Anisa pergi kembali ke panti.


Sesampai di panti. Anisa duduk di teras rumah, menumpahkan kelelahannya, saat berada di rumah sakit tadi. Bukan lelah karena apa? Tetapi entah sampai akan akan terus di salahkan.

__ADS_1


Saat Anisa tengah merenung. Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti tepat di depan panti, dan hal itu membuat Anisa bertanya-tanya siapa pemilik mobil tersebut.


__ADS_2