
Di kediaman Samuel dan kebetulan Yuda juga ada di rumahnya. Kali ini keduanya sedang berada ruang olahraga, tapi ada hal yang sangat mengganjal di hati Yuda mengenai Anisa, wanita berparas ayu tersebut. Di dalam hati Yuda ingin sekali mengatakan bahwa, ada satu keganjalan yang ia rasakan. Namun, rasa takut membuatnya harus berpikir ulang.
Saat Samuel tengah asik berlatih tinju, terlihat Yuda hanya bengong dan menatap tembok yang berdiri tegak.
Membuat Samuel mengerutkan keningnya dengan sejuta pertanyaan.
"Kenapa lagi anak ini?" gumam Samuel dengan langkah menghampiri Yuda.
"Kenapa kamu?" tanya Samuel, lantas ikut duduk di samping Yuda.
"Tidak, hanya saja kurang enak badan." Sebuah jawaban membuat Samuel menatap penuh tanda tanya. Yuda tidak pernah sekalipun mengeluh dan baru kali ini Samuel mendengar sebuah keluhan dari bibir Yuda.
"Tumben sekali kamu mengeluh. Bukannya sosok yang aku kenal kamu adalah Yuda kuat dan tahan banting?" ucap Samuel.
"Memangnya kalau aku sakit harus selalu mengeluh! Aku rasa semua itu tidak perlu," balas Yuda.
"Jangan bilang kalau kamu sedang sakit hati, karena belum bisa meraih hatinya?" goda Samuel.
"Anisa, sosok Anisa yang membuatku seperti ini—."
Pakh.
Bugh.
Bugh.
Sebuah bogeman mentah berulang laki mengenai wajah Yuda, tanpa aba-aba Samuel langsung menyerangnya saat terdengar nama 'Anisa' sosok wanita yang dipujanya.
"Jangan merebut wanita yang sudah aku perjuangkan, kamu mengerti!" seru Samuel dengan kedua tangan mencengkram baju Yuda.
__ADS_1
Tanpa mendengar Yuda berbicara, Samuel langsung memotong dengan melayangkan sebuah pukulan yang mendarat di wajah Yuda, tanpa tahu apa yang dibahas olehnya.
"Memangnya siapa yang ingin merebut Anisa darimu?" ujar Yuda karena tidak ada keniatan untuknya, sampai harus merebut wanita yang disukai oleh Samuel.
"Tutup mulutmu! Jangan sampai aku memukul wajahmu lagi," ucap Samuel dengan penuh kemarahan.
"Dengar dulu penjelasanku, Sam! Semua itu tidak ada kaitannya tentang perasaan, yang kamu miliki pada Anisa," tekan Yuda dengan sesekali mengusap bibirnya yang berdarah.
"Jangan munafik jadi pria! Apa belum cukup bukti bahwa kamu juga menyukainya? Apa kamu ingin bersaing denganku untuk mendapatkan hati Anisa?" ucap Samuel dengan wajah dipenuhi oleh aura dingin.
"Kamu salah paham Sam, karena tujuanku bukan itu. Ada hal yang membuatku merasa semua ini berkaitan dengan Anisa," suara lirih dari Yuda, seketika membuat Samuel dengan perlahan melepaskan cengkeramannya.
Tidak bisa menyalahkan Samuel dengan sepenuhnya. Mungkin orang lain akan berpikir sama dengan Samuel saat ada seseorang, yang tengah menyebut nama wanita yang ia perjuangkan. Sedangkan Yuda juga salah, tanpa sadar bibirnya menyebut nama wanita yang dicintai oleh sahabatnya. Jadi, tidak salah kalau Samuel sampai murka dan langsung menyerang Yuda dengan brutal.
"Pergilah, sebelum aku semakin kehilangan akal dan menghajarmu." Samuel berkata lirih dan menyuruh Yuda secepatnya pergi, tapi sama sekali tidak digubris oleh lelaki itu.
"Tidak Sam, sebelum aku mengatakannya padamu. Aku tidak mau ada kejadian salah paham di antara kita," ucap Yuda yang berusaha menyakinkan Samuel jika dirinya sedang salah paham.
"Jika kamu berani mendekatinya, maka aku tidak segan-segan akan membunuhmu." Samuel berbisik pada Yuda dengan nada ancaman.
"Percayalah," kata Yuda.
"Jangan banyak bicara, sekarang katakan!" ujar Samuel.
Akhirnya Yuda pun menceritakan kenapa dirinya memiliki perasaan tak biasa pada Anisa, perasaan yang selalu dekat dan rasa ingin melindungi kian begitu besar.
Tidak ada hubungan di antara dirinya dan juga Anisa. Namun, rasa ingin selalu ada untuk wanita tersebut. Rasanya tidal bisa ia tahan, rasa cemburu karena sering di abaikan membuatnya merasa sakit. Itulah yang dirasakan oleh Yuda dan tidak tahu rasa itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Beberapa saat kemudian, setelah Yuda mengatakan semuanya kepada Samuel, akhirnya masalah salah paham teratasi.
__ADS_1
"Maaf aku telah memukulmu," ucap Samuel kepada Yuda.
"Mungkin jika aku berada di posisimu akan melakukan hal yang sama. Tidak akan rela kalau wanita yang dicintainya direbut oleh orang," kata Yuda yang tidak mempermasalahkan semua ini.
"Kalau begitu kita tunggu hasil dari Arum, semoga saja secepatnya mendapat kabar." Samuel yang sudah mereda lantas ingin sekali membantu Yuda, untuk menguak kasus yang sedang ia selidiki.
Dua lelaki itu nampak berpelukan. Salah paham yang terjadi membuat Samuel harus bisa lebih mendengarkan lagi, karena ia tidak mau termakan oleh kata-kata yang tak sempat ia dengar.
Sedangkan di lain tempat.
Di rumah Dirga, ia masih sama. Berusaha untuk tidak ketergantungan pada kursi roda, meski harus jatuh bangun Dirga tidak peduli.
"Dirga, berhentilah!" pinta bu Marina yang tidak tega melihat anak satu-satunya terus berjuang, agar bisa berjalan lagi.
"Biarkan Dirga seperti itu, jika tidak dilatih mau sampai kapan dia bisa normal." Suara dari arah atas tangga, membuat Bu Marina seketika mendongakkan kepalanya.
Wanita itu mendengus kesal karena suaminya sama sekali tidak punya rasa simpati pada Dirga, anak kandungnya sendiri. "Mas, tapi kasihan. Apa kamu tidak bisa melihat jika anak kita jatuh bangun dari tadi," kata bu Marina.
"Dia bukanlah orang yang mengalami lumpuh total. Semua itu bisa pulih asal Dirga mau belajar berjalan dan juga terapi," ujar pak Yoga suami dari Bu Marina.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Benar apa yang dikatakan sama Ayah, kalau aku tidak belajar kapan bisa pulih. Tidak mungkin sampai nanti aku menyandang lelaki cacat," sahut Dirga karena tidak mau ada keributan lagi, jadilah ia harus penengah.
"Tuh denger, apa yang dibilang sama Dirga!" seru pak Yoga.
"Kamu memang dari dulu selalu begitu," dengus bu Marina.
"Jangan samakan aku dengan kamu. Aku selalu berpikir pakai otak, tapi tidak dengan kamu yang selalu menggunakan obsesi sebagai jalan utama." Pak Yoga pun menjawab dengan langkah menuruni anak tangga satu persatu.
"Kenapa pembahasannya jadi luas, bukannya aku cuma bilang agar tidak menekan Dirga, tapi sepertinya yang kamu bicarakan sudah lain." Bu Marina pun tak habis pikir kenapa masalah itu harus kembali di ungkit.
__ADS_1
"Bu, Yah, apa kalian tidak lelah setiap hari bertengkar?" Dirga bertanya dengan kedua tangan memegang bagian kursi roda dengan begitu erat, rasanya muak jika setiap hari harus di suguhkan dengan pemandangan seperti ini terus.
"Ingat Dir, sampai kapan pun aku tidak lupa bahwa semua ini terjadi karena Ibu kamu, sedangkan kamu selalu percaya dengan kebodohan dari wanita ini. Sekarang yang salah siapa dan yang disalahkan juga siapa!" ucap pak Yoga dengan hati yang dongkol, karena kehancuran dalam rumah tangga anaknya. Nyatanya dihancurkan oleh sang pemilik rumah , tapi sayangnya yan menjadi amukannya adalah orang lain.