Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
28. Anisa kembali ke panti


__ADS_3

"Ingat An, akan aku pastikan jika kamu akan kembali padaku." Dengan bangganya Dirga berbicara.


Saat Dirga tengah berbicara, Anisa sama sekali tidak menghiraukannya.


Beberapa saat kemudian.


"Sam, ini kesempatan kamu untuk mendekati Anisa!" kata Arum pada Samuel, yang mana wanita itu menginginkan Samuel harus bisa mendapatkan hati sahabatnya.


"Apa Anisa mau padaku?" sebuah pertanyaan konyol dari Samuel, membuat Arum menghela nafas.


"Mati saja kau!" sungut Arum karena tidak tahu lagi, cara menghadapi kebodohan Samuel.


Ckckck.


Samuel berdecak karena kali ini yang berdebat bukan lagi Anisa, tetapi dirinya dengan manusia planet seperti Arum.


Setelah menghampiri Samuel, lantas Arum pun kembali ke mobilnya. Dimana ada Anisa di dalam, karena ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Arumi. "An, kamu ikut Samuel ya. Mendadak aku ada urusan dan kamu pun tidak ingin terlibat bukan," kata Arumi dengan bola mata naik turun.


Huff.


Sesaat terdengar helaan nafas dari Anisa, ia tahu apa yang dikatakan Arumi, akan urusan apa. Jadi, lebih baik Anisa mengalah daripada pusing memikirkan masalah yang dihadapi oleh Arum, yang ia tahu hanyalah terima beres.


"Baiklah." Terdengar nada malas dari bibir Anisa, dan Arum pun tersenyum puas karena sudah berhasil mengelabui temannya itu.


"Aku mendukungmu An, mendukung jika kamu berpisah dari lelaki yang tidak benar-benar menerima kamu." Arum masih menatap Anisa keluar dari dalam mobilnya, hanya mampu berbicara dalam hati, dan sepertinya usaha yang sudah dijalankan Arum akan berhasil.


Tak berselang lama. Anisa dan Samuel sudah berada di panti, dan di sambut antusias oleh anak-anak panti. Sedangkan Bu Ning yang tengah melihat Anisa, menatap penuh kebingungan karena lelaki yang bersama anaknya bukanlah suami dari Anisa, melainkan lelaki. Dimana Bu Ning belum pernah melihatnya.

__ADS_1


Dengan langkah tertatih, Bu Ning datang menghampiri dengan tujuan menyambut dan bertanya, secara langsung siapa yang di bawa oleh Anisa.


"Bu, Assalamualaikum." Anisa menyapa Ibu panti dan tak lupa untuk mencium punggung tangan wanita tersebut penuh dengan rasa sopan.


"Waalaikumsalam, dia siapa An, dan kenapa kalian datang berdua? Mana Dirga?" karena Bu Ning tidak melihat adanya suami Anisa, justru yang datang bersama dengan Anisa adalah lelaki yang tak dikenalnya.


"Jangan bahas Mas Dirga Bu, aku ke sini hanya ingin menenangkan diri dari segala apa yang sudah terjadi." Jawab Anisa pada Bu Ning, dan berharap jika nantinya tidak akan mempertanyakan lelaki yang akan digugatnya saat ini.


"Baiklah, lalu dia siapa ... dan sepertinya belum pernah datang ke sini juga, kan?" ujar bu Ning, mengulang pertanyaan yang sama.


"Saya Samuel Bu, temannya Anisa dan kebetulan Arumi meminta saya untuk mengantar Anisa ke sini, karena baru saja pulang dari rumah sakit." Samuel akhirnya angkat bicara dan memperkenalkan namanya pada Ibu panti.


"Memangnya siapa yang pulang dari rumah sakit?" bu Ning bertanya, mengedarkan pandangannya ke arah mereka berdua secara bergantian. Menanti sebuah jawaban yang belum di jawab oleh Anisa maupun Samuel.


"An, Ibu bertanya! Siapa yang baru pulang dari rumah sakit?" tanya bu Ning sekali lagi dengan suara sedikit meninggi.


"Ya Allah An, apa yang terjadi sebenernya? Sebaiknya kita masuk dulu dan sebentar lagi waktunya makan siang." Lantas bu Ning pun mengajak Anisa masuk, untuk membicarakan masalah yang terjadi.


Di lain tempat.


"Tumben rumah ini sepi? Ke mana istrimu pergi, dari tadi Ibu tidak melihatnya?" tanya bu Marina setelah sampai di rumah Anisa dan juga Dirga, tempat dimana mereka berdua telah menghabiskan lima tahun lamanya. Untuk bersua memadu kasih yang telah mereka bina, tapi kenyataannya rumah itu bak gubuk derita yang tak ingin disinggahi oleh Anisa lagi, dan memilih pergi dengan caranya sendiri.


"Anisa ada di panti. Anisa juga tidak akan pulang karena bersikeras meminta cerai," ucap Dirga membuat Bu Marina sedikit terkejut, walau semua itu sudah ia tutupi tetap saja kentara.


"Anisa adalah wanita bodoh, makanya lebih milih kembali miskin, daripada dimadu." Jawab bu Marina yang menanggapinya dengan santai.


"Bu, aku masih sangat mencintainya. Sedikit tidak rela jika Anisa pergi begitu saja," kata Dirga yang tak bisa terima jika Anisa benar-benar meminta cerai.

__ADS_1


"Apa bagusnya sih wanita itu juga sedang mandul, sebuah pilihan yang tepat untuk kamu menceraikan Anisa, Dirga!" ucap bu Marina penuh kemenangan karena telah berhasil menyingkirkan benalu yang selama ini menumpang hidup pada anaknya.


"Bu, tapi—."


Ucapan Dirga terputus karena Bu Marina langsung menyambarnya.


"Ingat Dir, kamu sudah punya Elsa dan sebentar lagi anak kamu akan lahir. Ibu berharap kamu cukup fokus pada istrimu yang bernama Elsa, bukan Anisa." Bu Marina sekali lagi menegaskan kalau menantunya cukup Elsa, tidak ada yang lain.


Mungkin untuk saat ini, sebutan yang cocok untuk Dirga adalah. Lelaki bodoh yang tak bisa membedakan antara berlian dan batu kerikil. Keinginan mempunyai keturunan begitu amat besar, hingga lupa pada sosok yang sudah membersamainya selama ini.


Sedangkan Anisa yang berada di panti, hanya diam tanpa kata. Entah sampai berapa jam Anisa akan menghabiskan waktu yang terbuang hanya untuk merutuki nasibnya.


Di bawah sinar rembulan, Anisa terus menatap bulan dan bintang di atas langit. Seakan dua sejoli yang tak pernah terpisahkan, dimana ada bulan maka di situ ada bintang. Sungguh pasangan serasi hingga Anisa membayangkan jika hidupnya tidaklah seberuntung apa yang ada di atas sana.


Tidak ingin larut dalam kesedihan karena mungkin inilah hidup, yang harus dijalani olehnya.


"An, apa kamu baik-baik saja?" bu Ning datang dan duduk di sebelah Anisa, lalu dengan hati-hati beliau bertanya.


"Mas Dirga sudah mengkhianati aku Bu, menikah diam-diam tanpa meninta persetujuan dariku." Jawaban yang diberikan Anisa membuat Bu Ning seketika ternganga. Menatap tidak percaya, bahwa lelaki yang dikenal baik nyatanya tidak seperti sifatnya.


Dimana dulu yang memohon untuk menikahi Anisa, di samping itu. Dirga yang baik, dan sholeh tega pada Anisa.


"Iya, Mas Dirga menikah karena ingin mendapatkan seorang keturunan, dan hal itu tidak bisa didapatkan dari aku Bu, itu alasan kenapa menikah diam-diam." Anisa menjelaskan lagi soal suaminya yang menikah tanpa meminta restu pada istri sah nya, dan hal itu sangat disayangkan.


"Kamu kuat sayang, dan Ibu yakin jika kamu bisa menghadapinya, semua keputusan ada di tangan kamu."


Anisa tersenyum sebelum memeluk orang yang sudah berjasa banyak, karena tanpa Bu Ning, tidak tahu nasibnya seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2